Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Amira masih berdiri di dekat meja ketika suara Ambar terdengar dari seberang telepon.

"Papi..." Hanya satu kata.

Setelah itu Ambar terdiam.

Amira mengernyit. "Bu?"

Tidak ada jawaban. "Bu, Papi kenapa?"

Amira mulai merasa tidak nyaman. Ia menoleh kepada Kaizar yang sejak tadi memperhatikannya dari kursi roda. Suasana yang beberapa detik lalu masih dipenuhi percakapan ringan tiba-tiba berubah.

"Amira..." Suara Ambar terdengar lagi, kali ini lebih pelan.

"Papi mengalami kecelakaan."

Amira membeku. Tangannya yang memegang ponsel langsung mengencang.

"Kecelakaan?"

"Iya."

"Di mana?"

"Di jalan. Sekarang Papi ada di rumah sakit."

Amira tidak langsung menjawab. Pikirannya seperti berhenti bekerja.Ganjar. Pria yang selama ini begitu sulit ia panggil ayah dengan sepenuh hati. Pria yang hampir tidak pernah memberinya pelukan bahkan pada hari pernikahannya sendiri memilih berdiri jauh seolah kehadiran Amira hanya sesuatu yang harus ditoleransi.

Sekarang pria itu sedang berada di rumah sakit.

Dalam kondisi kritis.

"Bagaimana keadaan Papi?"

Ambar terdiam beberapa saat. "Dokter bilang kondisinya cukup serius."

Dada Amira terasa sesak. "Apakah dia sadar?"

"Belum."

Amira menutup mata. Ada begitu banyak luka yang belum selesai antara dirinya dan Ganjar.

Ada begitu banyak pertanyaan yang belum pernah mendapatkan jawaban. Tetapi mendengar bahwa pria itu mungkin sedang berada di ujung hidupnya membuat semua kemarahan yang selama ini ia simpan terasa tidak berarti. Ia tetap anaknya. Bagaimanapun juga.

"Rumah sakit mana?"

Ambar menyebutkan nama rumah sakit. Amira mengangguk meskipun tahu ibunya tidak dapat melihat.

"Aku datang."

"Amira..."

Panggilan Ambar terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu. Tetapi Amira sudah lebih dulu berkata,

"Aku akan ke sana, Bu."

Panggilan berakhir. Amira masih memegang ponselnya. Tatapannya kosong. Kaizar yang sejak tadi diam akhirnya bertanya.

"Ganjar?"

Amira mengangguk. "Papi kecelakaan."

Kaizar memperhatikan perubahan wajah istrinya. "Tidak sadarkan diri?"

"Iya."

Amira menundukkan kepala. "Aku bahkan tidak tahu kenapa aku merasa seperti ini."

Kaizar tidak langsung menjawab. Amira tertawa kecil, tetapi terdengar getir.

"Seharusnya aku marah, kan?"

"Kenapa?"

"Karena selama bertahun-tahun dia tidak pernah benar-benar menjadi ayahku."

Amira memainkan cincin pernikahannya. "Bahkan kemarin saat aku menikah, dia hampir tidak melihatku."

Kaizar mendengarkan tanpa menyela.

"Aku punya banyak alasan untuk tidak peduli." Amira mengangkat wajah. "Tapi aku tetap tidak bisa membayangkan dia meninggal."

Kaizar menggerakkan kursi rodanya mendekat.

"Kau tidak perlu mencari alasan untuk merasa sedih."

Amira terdiam.

"Kalau dia tetap ayahmu, maka wajar kalau kau khawatir."

Amira menatap Kaizar. "Kamu tidak marah kalau aku pergi?"

"Kenapa aku harus marah?"

"Karena aku meninggalkanmu."

Kaizar mengangkat alis. "Kita baru menikah."

Amira menatapnya bingung. "Lalu?"

"Kau pikir setelah menikah denganku, kau tidak boleh pergi menemui keluargamu?"

Amira tersenyum kecil. "Aku cuma takut kamu tidak suka."

"Aku mungkin tidak menyukai banyak hal." Kaizar berhenti sebentar. "Tapi aku tidak akan membuatmu memilih antara aku dan ayahmu yang sedang sakit."

Kalimat itu membuat mata Amira terasa panas. Ia segera mengalihkan wajah.

"Kenapa kamu selalu tahu harus bilang apa?"

"Aku tidak tahu." Kaizar justru menjawab datar.

"Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar."

Amira tertawa kecil. "Tuan Dingin."

"Hm?"

"Terima kasih."

Kaizar menatapnya. "Jangan berterima kasih dulu."

"Kenapa?"

"Karena aku belum melakukan apa-apa."

Amira menggeleng. "Kamu sudah melakukan banyak hal."

Kaizar tidak membalas. Ia hanya menatap perempuan di hadapannya."Pergilah."

Amira masih di tempat kemudian Kaizar melanjutkan perkataannya. "Aku akan ikut."

Amira langsung menggeleng. "Jangan. Kamu tidak perlu."

"Aku tidak bertanya."

Amira menahan senyum. "Kenapa sih?"

"Karena aku suamimu."

Kaizar mengatakannya begitu saja. Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dada Amira terasa hangat.

"Baiklah."

Ia mengambil tasnya. "Tapi jangan mengeluh kalau nanti aku panik."

"Aku sudah terbiasa denganmu."

Amira menatapnya. "Baru satu hari menikah."

"Rasanya sudah cukup lama."

Amira tertawa. Untuk beberapa detik, ketegangan di wajahnya sedikit menghilang. Mereka kemudian bersiap meninggalkan rumah.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Mobil Kaizar berhenti di depan rumah sakit. Begitu pintu terbuka, Amira turun lebih dulu.

Langkahnya tergesa menuju pintu masuk. Kaizar menyusul dengan kursi rodanya, ditemani salah seorang pengawal.

Amira baru beberapa meter masuk ketika melihat Ambar dan Alika di ujung lorong. Keduanya langsung menoleh. Tatapan Ambar bertemu dengan mata Amira. Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak.

Amira kemudian mendekat. "Bagaimana keadaan Papi?"

Ambar menatap putrinya. "Masih di dalam."

"Dokter bilang apa?"

"Kondisinya belum stabil."

Amira menarik napas panjang.

Alika tiba-tiba mendekat. "Amira..."

Nada suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.

Amira menatap kakaknya. "Apa?"

Alika menggigit bibir. "Terima kasih sudah datang."

Amira sedikit terkejut.Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari Alika.

"Aku datang karena Papi."

Alika mengangguk. "Aku tahu."

Ambar yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

"Dokter meminta kemungkinan donor dari keluarga."

Amira menatap ibunya. "Donor?"

"Iya."

"Untuk Papi?"

Ambar mengangguk. "Darahnya banyak keluar."

Amira langsung menjawab, Kalau darahku bisa membantu, aku akan donor."

Ambar membeku. Jawaban itu keluar begitu cepat. Tidak ada tuntutan. Tidak ada pertanyaan tentang apakah Ganjar pernah memperlakukannya sebagai anak atau tidak. Amira hanya ingin membantu.

"Amira..." Suara Ambar terdengar pelan.

Amira menatapnya. "Aku tidak tahu apakah selama ini Papi menganggapku anaknya atau tidak."

Ambar tidak berkedip.

"Tapi aku tetap tidak mau membiarkan dia pergi kalau aku masih bisa melakukan sesuatu."

Kaizar yang berada beberapa langkah di belakang memperhatikan istrinya dalam diam. Amira kemudian menoleh kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan.

"Dok, saya Amira Wijaya."

Dokter melihat catatan di tangannya. "Anda putri pasien?"

"Iya."

"Baik. Kami akan melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu."

Amira mengangguk. "Apa pun yang perlu diperiksa, silakan."

Dokter memberi isyarat kepada perawat. "Nona Amira bisa ikut ke ruang pemeriksaan."

Amira mengangguk lalu melangkah pergi. Sebelum masuk, ia sempat menoleh kepada Kaizar. Pria itu mengangguk kecil.

"Pergilah."

Amira kemudian menghilang di balik pintu. Begitu pintu tertutup, Ambar langsung mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

Alika menatap ibunya. "Mami kenapa?"

Ambar tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada pintu tempat Amira masuk.

"Mi?"

Ambar akhirnya menoleh. "Jangan terlalu banyak bertanya."

Alika mengerutkan kening. "Aku cuma ingin tahu."

Ambar menggeleng. "Tidak apa-apa."

Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Karena di dalam kepalanya hanya ada satu ketakutan. Bagaimana kalau darah Amira cocok?

Seharusnya itu menjadi kabar baik. Seharusnya ia merasa lega. Tetapi justru sebaliknya. Ambar takut. Sebab semakin jauh pemeriksaan itu dilakukan, semakin besar kemungkinan rahasia yang selama ini ia kubur ikut terseret ke permukaan.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perawat keluar membawa berkas.

Ambar langsung berdiri.

"Bagaimana?"

Perawat itu melihat lembar hasil di tangannya.

"Kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan awal."

Jantung Ambar berdegup lebih cepat. "Dan?"

Perawat menatapnya. "Kami perlu mengonfirmasi hasil ini dengan dokter terlebih dahulu."

Ambar merasa tenggorokannya mengering. "Ada masalah?"

Perawat tidak langsung menjawab. "Lebih baik dokter yang menjelaskan."

Perawat kembali masuk ke ruang pemeriksaan.

Ambar berdiri kaku. Alika menatapnya penuh tanda tanya. Sementara Kaizar memperhatikan wajah Ambar dari kejauhan.

Ada sesuatu yang salah. Ia tidak tahu apa.

Tetapi ia bisa melihat satu hal dengan jelas.

Wanita itu ketakutan. Dan kali ini, ketakutannya bukan hanya karena kondisi Ganjar.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di dalam ruang pemeriksaan, Amira masih duduk menunggu. Ia belum tahu bahwa darahnya baru saja membuka pintu menuju rahasia terbesar keluarga Wijaya sedangkan di luar sana, seorang wanita sedang berusaha mati-matian memastikan pintu itu tidak pernah terbuka.

Bersambung...

1
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
Oma Gavin
semoga pernikahan kalian bahagia dan aku sumpahin pernikahan alika dan ricki bagaikan neraka
Yasinta Niken
makanya gak usah hubungan lagi sama Alika karena Alika itu demit
Yasinta Niken
Ricky Alika kalian berdua memang cocok jadi pasangan gila semoga hidupmu akan lebih sengsara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!