Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sejak meninggalkan rumah sakit, Ricki tidak bisa berhenti memikirkan percakapannya dengan Alika. Ada sesuatu yang tidak beres.
Alika mengatakan pemeriksaan itu hanya berkaitan dengan data keluarga. Namun ekspresi wajahnya terlalu tegang untuk sebuah kesalahan administrasi biasa.
Apalagi Ricki sempat melihat bagaimana Ambar bereaksi ketika pembicaraan tentang pemeriksaan itu muncul. Ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan. Ricki merasa dirinya berada di luar kehidupan perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Malam itu, Ricki tidak menceritakan kecurigaannya kepada siapa pun. Ia justru menghubungi seseorang yang selama ini jarang ia gunakan untuk urusan pribadi.
Pemilik rumah sakit tempat Ganjar dirawat. Hubungan keluarganya dengan pemilik rumah sakit sudah berlangsung cukup lama. Karena itu, Ricki tahu ada beberapa hal yang bisa ia tanyakan tanpa harus melalui prosedur biasa.
Panggilan tersambung.
"Pak."
Suara pria di seberang terdengar tenang. "Ricki? Ada apa?"
"Aku ingin meminta bantuan."
"Kalau masih dalam batas yang bisa kubantu, katakan."
Ricki terdiam sebentar.
"Aku ingin tahu tentang pemeriksaan yang dilakukan terhadap Alika Wijaya."
Pria itu langsung memahami bahwa permintaan tersebut bukan perkara biasa. "Alika?"
"Iya."
"Kenapa?"
Ricki mengembuskan napas. "Aku ingin tahu apakah benar ada pemeriksaan hubungan biologis."
Hening beberapa detik. "Ricki, itu data medis."
"Aku tahu."
"Dan kau tahu aku tidak bisa sembarangan memberikan informasi pasien."
"Aku tidak meminta Bapak menyerahkan berkasnya."
Ricki menatap kosong ke depan. "Aku hanya ingin memastikan apakah memang ada pemeriksaan tersebut."
Pria itu terdiam. "Aku bisa meminta seseorang mengecek prosedurnya," jawabnya akhirnya. "Tapi jangan minta aku mengubah data atau memengaruhi hasil."
"Aku tidak akan meminta itu."
Ricki menutup mata. "Aku hanya ingin tahu kebenarannya."
Keesokan harinya, seseorang datang menemui Ricki di sebuah tempat yang jauh dari rumah keluarganya.
Seorang pria paruh baya duduk di hadapannya.
"Nama saya sudah cukup dikenal di rumah sakit itu," katanya. "Saya bisa mencari informasi dari bagian administrasi dan laboratorium."
Ricki mengangguk.
"Aku tidak ingin ada yang tahu aku yang meminta."
"Baik."
"Aku juga tidak ingin kau mengambil dokumen."
Pria itu menatap Ricki.
"Lalu apa yang Anda inginkan?"
"Pastikan apakah Alika memang menjalani pemeriksaan hubungan biologis."
Pria itu mengangguk.
"Dan kalau memang ada?"
Ricki terdiam.
"Jangan katakan apa pun sebelum kau memastikan hasilnya."
Ia tidak tahu mengapa jantungnya terasa berat ketika mengucapkan kalimat itu.
Mungkin karena sebagian dirinya masih berharap bahwa kecurigaannya salah.
Mungkin karena ia tidak siap menerima kemungkinan bahwa perempuan yang selama ini dipilih keluarganya sebagai calon istrinya menyimpan sesuatu yang begitu besar.
Dua hari berlalu. Ricki tetap bersikap biasa di hadapan Alika. Ia masih mengirim pesan. Masih menanyakan keadaan Ganjar.
Bahkan masih datang ke rumah sakit. Namun semuanya berubah di balik ketenangan itu.
Ia memperhatikan. Setiap kali Alika keluar dari ruang dokter, Ricki mencatat waktunya.
Setiap kali Ambar berbicara dengan dokter, ia mengingatnya. Setiap kali nama Amira disebut, ia memperhatikan reaksi Alika. Dan semakin banyak yang ia lihat, semakin kuat keyakinannya.
Keluarga itu memang sedang menyembunyikan sesuatu. Sampai akhirnya, pada malam ketiga, pria yang ia suruh menyelidiki datang kembali.
Wajahnya serius. "Pak Ricki."
Ricki langsung berdiri. "Ada apa?"
"Benar."
Hanya satu kata. Tetapi cukup membuat dada Ricki terasa sesak.
"Benar apa?"
"Memang ada pemeriksaan hubungan biologis."
Ricki terdiam. "Antara siapa?"
Pria itu membuka catatan kecil yang dibawanya.
"Alika Wijaya dan Ganjar Wijaya." Ricki menelan ludah.
"Kenapa pemeriksaan itu dilakukan?"
"Karena ada ketidaksesuaian pada data keluarga."
Ricki mengepalkan tangan. "Dan hasilnya?"
Pria itu tidak langsung menjawab. "Anda yakin ingin tahu?"
Ricki menatapnya. "Aku sudah sampai sejauh ini."
Pria itu mengangguk. "Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada hubungan biologis ayah dan anak antara Alika dan Ganjar."
Ricki membeku. Seolah seluruh suara di sekitarnya menghilang. Ia menatap kosong ke depan. Alika bukan anak Ganjar.
Perempuan yang akan menjadi istrinya bukan putri kandung pria yang selama ini membuat keluarganya begitu yakin memilihnya.
Ricki duduk perlahan. Tangannya menutup wajah. Bukan karena ia tidak percaya. Justru karena ia percaya. Dan kenyataan itu menghantamnya jauh lebih keras daripada yang ia bayangkan.
Selama ini keluarganya memilih Alika karena satu alasan besar. Dia adalah putri sah Ganjar Wijaya. Perempuan dari keluarga terpandang.
Perempuan yang dianggap memiliki kedudukan jelas.
Sementara Amira... Ricki teringat bagaimana beberapa anggota keluarganya pernah membicarakan Amira.
Anak gundik.
Anak dari perempuan yang bukan istri Ganjar.
Tidak pantas dibandingkan dengan Alika. Ricki mengepalkan tangan.
"Ternyata..." Suaranya bergetar.
"Selama ini kami salah."
Pria di hadapannya diam. Ricki berdiri.
"Apakah hasil itu sudah dikonfirmasi?"
"Sudah."
"Dokumennya ada?"
"Ada."
Ricki menggeleng. "Jangan bawa ke sini."
Ia menarik napas panjang. "Aku ingin melihatnya langsung di rumah sakit."
Panggilan berakhir, namun Ricki masih belum bisa mencerna, hatinya terlalu hancur bahkan ia ingat bagaimana reaksi Amira dulu ketika ia memutuskan untuk berpisah, padahal gadis itu tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
☘️☘️☘️☘️
Malam semakin larut. Setelah melewati hari yang panjang di rumah sakit, Amira akhirnya berdiri di hadapan Kaizar dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Sejak menikah, mereka memang belum benar-benar menjalani kehidupan sebagai suami istri. Selalu ada saja sesuatu yang menghalangi.
Amira menundukkan wajah. "Kaizar..."
"Hm?"
"Aku ingin malam ini berbeda."
Kaizar terdiam. Tatapannya perlahan berubah ketika memahami maksud perkataan Amira.
"Amira, kau tidak perlu melakukan apa pun hanya karena merasa harus menjadi istri yang baik."
"Aku tahu."
Amira mengangkat wajah. "Aku melakukan ini karena aku memang ingin."
Kaizar menatapnya beberapa saat, ada getaran di dalam hati yang sulit untuk dijelaskan. "Kau yakin?"
Amira mengangguk. "Yakin."
Kaizar mengulurkan tangan. Amira menyambutnya. Jemari mereka bertaut, membuat jantung perempuan itu berdetak semakin cepat.
"Kenapa tanganmu dingin?" tanya Kaizar.
"Karena gugup."
"Kau takut?"
Amira menggeleng. "Justru karena aku tidak takut."
Kaizar terdiam. Kalimat itu membuat jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Ia kemudian menarik tangan Amira perlahan hingga perempuan itu berdiri tepat di hadapannya.
"Kalau begitu, malam ini jangan pikirkan apa pun."
Amira menatap mata pria itu. "Termasuk masalah keluarga?"
"Termasuk semuanya."
Kaizar mengusap rambut Amira sebelum mengecup keningnya. Amira memejamkan mata, malam itu, ia merasa benar-benar aman.
Ia membuka mata ketika Kaizar kembali menatapnya. "Masih ingin melanjutkan?"
Amira mengangguk. "Iya."
Kaizar kemudian mendekat. Amira menahan napas ketika jarak mereka semakin dekat. Namun kali ini ia tidak mundur. Tangannya justru perlahan melingkar di bahu Kaizar.
Hembusan angin terasa dingin ketika Amira duduk di atas pangkuan Kaizar. Tubuh pria itu memang tidak lagi mampu berdiri seperti kebanyakan lelaki. Kakinya tidak dapat menopang tubuhnya, dan satu tangannya pun masih memiliki keterbatasan. Tetapi malam itu, Amira tidak melihat kekurangan tersebut.
Ia hanya melihat suaminya. Kaizar mengangkat tangannya perlahan. Gerakannya tidak sempurna, tetapi cukup untuk menyentuh pinggang Amira.
Sentuhan itu membuat Amira menundukkan wajah. Jemari Kaizar bergerak pelan di sisi tubuhnya, seolah memastikan perempuan yang berada dalam pelukannya benar-benar ada.
Amira kemudian menyandarkan tubuhnya lebih dekat. Tangan Kaizar berpindah ke punggungnya. Ia menarik Amira perlahan hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Amira memejamkan mata, ia membiarkan dirinya benar-benar menjadi seorang istri di hadapan pria yang telah menerimanya tanpa pernah mempermasalahkan masa lalunya.
Kaizar menyentuh rambutnya, lalu mengusap sisi wajah Amira dengan lembut. Sentuhannya begitu hati-hati, seolah Amira adalah sesuatu yang sangat berharga.
Amira menggenggam tangan itu. Ia mencium telapak tangan suaminya sebelum kembali menyandarkan kepalanya di dada Kaizar.
Kaizar menundukkan wajah. Kening mereka bertemu. Tidak ada kata-kata. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih dalam daripada percakapan panjang.
Tangan Kaizar kembali bergerak di punggung Amira. Kali ini lebih erat Amira membalas pelukannya. Dadanya terasa sesak oleh haru.
Selama ini ia selalu merasa dirinya tidak cukup baik untuk dicintai. Anak yang salah. Anak yang tidak diinginkan.
Perempuan yang pernah ditinggalkan demi perempuan lain. Tetapi malam itu, di dalam pelukan seorang pria yang bahkan harus berjuang melawan keterbatasan tubuhnya sendiri, Amira merasa dirinya akhirnya benar-benar diterima.
Kaizar mengecup keningnya sekali lagi. Amira mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. Kemudian Amira mendekat, membiarkan malam itu menjadi milik mereka berdua.
Lampu kamar perlahan meredup. Dan untuk mereka, tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara suami dan istri itu. Namun malam itu belum selesai. Karena ketika Amira hendak menarik selimut, Kaizar tiba-tiba menahan tangannya.
Amira menoleh. Tatapan Kaizar berubah.
Ada sesuatu di mata pria itu yang belum pernah Amira lihat sebelumnya. Dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, Kaizar menariknya kembali ke dalam pelukannya.
Bersambung .....
top lah