Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 : KUITANSI YANG TAK PERNAH LUNAS

“Pembayaran diterima. Kewajiban belum dinyatakan lunas.”

Chen mengucapkan kalimat itu hampir tanpa suara.

Shen Mo yang berdiri di samping meja langsung menoleh.

“Kau ingat sesuatu?”

Chen mengangguk, tetapi tidak segera menjawab. Ia sedang berusaha mengingat kuitansi yang pernah ditemukan di saku mantel ibunya.

Kertasnya berwarna kekuningan. Salah satu sudutnya terlipat, sementara bagian bawahnya terkena noda air. Chen ingat tulisan merah yang tercetak melintang di dekat tanda tangan.

Belum lunas.

Waktu itu ia mengira ibunya membeli sesuatu dengan cara mencicil.

“Ada kuitansi,” katanya akhirnya. “Aku menemukannya waktu membantu Ibu mencuci pakaian.”

“Kuitansi dari biro penagihan itu?”

“Sepertinya.”

“Sepertinya?”

“Aku tidak ingat seluruh namanya.”

Shen Mo tidak mendesak.

Ia justru menarik kursi dan menunjuk tempat duduk di seberang meja.

“Duduk dulu.”

“Aku tidak apa-apa.”

“Aku tahu. Tapi kita tidak perlu berdiri untuk membicarakan ini.”

Chen menurut.

Shen Mo mengambil segelas air dari meja kecil, lalu meletakkannya di hadapan bocah itu.

Di luar, hujan belum juga reda.

“Tiga,” panggil Shen Mo melalui alat komunikasi. “Kirimkan foto papan nama lama itu ke perangkatku.”

“Segera, Tuan.”

Beberapa detik kemudian, tablet di meja menyala.

Sebuah foto bangunan dua lantai muncul di layar. Cat dindingnya mengelupas. Di atas pintu masuk terpasang papan nama dengan beberapa huruf yang sudah pudar.

Biro Penagihan Hengda.

Chen mendekatkan wajah.

Jantungnya berdebar.

“Itu.”

Shen Mo memperhatikannya.

“Kau yakin?”

“Nama itu ada di kuitansi Ibu.”

“Kau ingat berapa jumlah uangnya?”

Chen menggeleng.

“Tidak. Tapi aku ingat Ibu marah waktu tahu aku menemukannya.”

“Dia mengatakan sesuatu?”

“Dia menyuruhku mengembalikannya.”

Chen menunduk, mengingat percakapan mereka di dapur sempit tempat tinggal lama.

Saat itu ibunya sedang memeras pakaian. Begitu melihat kuitansi di tangan Chen, perempuan itu langsung berhenti bekerja.

Wajahnya berubah.

Bukan marah seperti ketika Chen memecahkan mangkuk atau lupa mengerjakan tugas sekolah.

Ia terlihat takut.

“Setelah itu,” lanjut Chen, “Ibu menyimpan kuitansinya di kotak besi kecil.”

“Kotak itu masih ada?”

“Aku tidak tahu.”

Shen Mo menyandarkan punggung.

“Kapan terakhir kau melihatnya?”

“Beberapa hari sebelum kami pindah.”

Chen meremas ujung jaketnya.

“Ibu membawa kotak itu keluar rumah. Waktu pulang, dia tidak membawanya lagi.”

Shen Mo tidak langsung menanggapi.

Ia mengambil tablet dan memperbesar foto papan nama.

“Hengda,” gumamnya.

Nama itu tidak asing, tetapi ia belum bisa memastikan dari mana pernah mendengarnya.

“Tiga.”

“Ya, Tuan.”

“Periksa riwayat Biro Penagihan Hengda. Pemilik, izin usaha, dan kapan mereka berhenti beroperasi.”

“Sedang kami kerjakan.”

“Jangan menghubungkan nama ibu Chen dengan penyelidikan ini dulu. Aku tidak mau identitasnya tersebar di antara orang-orang yang belum kita periksa.”

“Dimengerti.”

Chen mengangkat kepala.

“Kenapa?”

Shen Mo menatapnya.

“Karena kita belum tahu siapa yang bisa dipercaya.”

“Termasuk orang-orangmu?”

“Termasuk orang-orangku.”

Jawaban itu membuat Chen terdiam.

Ia sudah menduga Shen Mo tidak sepenuhnya mempercayai bawahannya sejak kasus Wang muncul. Namun mendengarnya secara langsung tetap terasa berbeda.

“Kalau begitu, kenapa kau percaya padaku?”

Shen Mo mengangkat alis.

“Siapa bilang aku mempercayai semua kesimpulanmu?”

Chen mendengus.

“Aku tidak bilang kesimpulanku.”

“Aku percaya kau sedang mengatakan apa yang kau ingat. Itu berbeda dengan menganggap setiap ingatanmu pasti tepat.”

Chen memandangnya beberapa saat.

Lalu ia mengangguk.

Jawaban tersebut bisa diterimanya.

Dua puluh menit kemudian, Tiga menghubungi mereka kembali.

Shen Mo mengaktifkan pengeras suara.

“Kami menemukan data dasar Biro Penagihan Hengda, Tuan.”

“Lanjutkan.”

“Perusahaan itu terdaftar sebelas tahun lalu dan berhenti beroperasi secara resmi empat tahun lalu. Pemilik terdaftarnya bernama Gao Wen.”

Shen Mo mengerutkan kening.

“Gao Wen?”

“Benar.”

“Apa hubungannya dengan Wang?”

“Belum ditemukan hubungan langsung. Tetapi ada satu perusahaan perantara yang pernah menerima pembayaran dari Hengda. Perusahaan yang sama muncul dalam daftar pemasok lama salah satu anak usaha Crown Tower.”

Chen langsung mengangkat kepala.

“Perusahaan perantara?”

“Ya,” jawab Tiga.

“Masih aktif?”

“Status izinnya aktif, tetapi alamat kantornya sudah berubah dua kali.”

Shen Mo mengetukkan jari ke meja.

“Jangan menyimpulkan apa pun dulu. Cocokkan tanggal dan dasar pembayarannya. Aku ingin tahu apakah hubungan itu benar-benar transaksi bisnis atau hanya kebetulan nama perusahaan yang sama.”

“Baik, Tuan.”

Chen memandangi foto gedung Hengda.

“Ada yang aneh.”

Shen Mo menoleh.

“Apa?”

“Kalau biro itu tutup empat tahun lalu, kenapa alamatnya dipakai perusahaan pengiriman sekarang?”

“Bangunan kosong bisa disewa siapa saja.”

“Aku tahu.”

Chen menunjuk papan nama lama di layar.

“Tapi kenapa kuitansi Ibu masih disimpan setelah biro itu tutup?”

Shen Mo terdiam.

Pertanyaan tersebut masuk akal, tetapi belum cukup untuk membuktikan apa pun.

“Mungkin utangnya belum selesai.”

“Kalau begitu, kepada siapa Ibu harus membayar setelah perusahaannya tutup?”

“Itulah yang perlu kita cari tahu.”

Chen menatap tangannya sendiri.

Selama ini ia mengira kesulitan ibunya hanya berasal dari pekerjaan yang tidak tetap dan biaya hidup yang terus meningkat.

Ia tahu ibunya pernah meminjam uang.

Namun ia tidak pernah membayangkan ada penagihan yang terus membayangi mereka selama bertahun-tahun.

“Berapa banyak utang yang bisa membuat seseorang terus dikejar?” tanyanya.

Shen Mo menatap bocah itu.

“Tidak selalu soal jumlahnya.”

“Lalu?”

“Kadang masalahnya ada pada orang yang memegang surat utangnya.”

Chen tidak menyukai jawaban itu.

Ia teringat ibunya selalu memeriksa jalan dari balik tirai sebelum membuka pintu rumah.

Dulu Chen menganggapnya kebiasaan yang berlebihan.

Sekarang ingatan itu terasa mengganggu.

Pukul sebelas lewat, hujan mulai melemah.

Shen Mo menyuruh pengawal menyiapkan kamar istirahat untuk Chen, tetapi bocah itu belum mau pergi.

“Aku ingin melihat satu hal lagi.”

“Apa?”

“Data alamat tempat tinggal lama kami.”

Shen Mo mengernyit.

“Untuk apa?”

“Kalau Ibu menyimpan kotak besi itu di suatu tempat sebelum pindah, mungkin ada orang yang melihatnya.”

“Sudah bertahun-tahun berlalu, Chen.”

“Aku tahu.”

“Dan kita tidak tahu apakah kotak itu masih ada.”

“Aku juga tahu.”

Shen Mo menghela napas.

“Lalu kenapa kau tetap ingin mencarinya?”

Chen menatap foto gedung Hengda.

“Karena itu satu-satunya benda yang Ibu sengaja sembunyikan dariku.”

Shen Mo tidak langsung menjawab.

Ia memahami keinginan bocah itu, tetapi mengirim orang ke lingkungan lama Chen pada malam yang sama justru bisa menarik perhatian.

“Kita cari lewat catatan dulu,” katanya. “Kalau perlu memeriksa lokasi, orangku yang akan melakukannya.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Shen Mo—”

“Tidak untuk malam ini.”

Chen mengatupkan bibir.

Shen Mo mencondongkan tubuh.

“Kau boleh marah. Tapi aku tidak akan membawa anak sepuluh tahun ke tempat yang mungkin sedang diawasi orang-orang berbahaya hanya karena kita menemukan satu kuitansi.”

Chen menatapnya kesal.

“Aku bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.”

“Kau memang mengerti banyak hal. Itu tidak membuatmu kebal terhadap pisau.”

Kalimat tersebut menghentikan bantahan Chen.

Beberapa saat kemudian, ia mengalihkan pandangan.

“Baiklah.”

Shen Mo sedikit terkejut.

“Kau menyerah semudah itu?”

“Aku tidak menyerah. Aku cuma tidak mau membuang waktu berdebat.”

“Bagus.”

“Tapi besok aku mau melihat hasil pemeriksaannya.”

Shen Mo hampir tersenyum.

“Kita bicarakan besok.”

Chen akhirnya meninggalkan ruang kerja dengan pengawalan.

Shen Mo menunggu sampai pintu lift tertutup sebelum kembali ke meja.

Ia membuka laporan lama Crown Tower, mencari nama perusahaan perantara yang disebut Tiga.

Beberapa menit berlalu.

Ponsel internalnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Tiga.

Pemilik terdaftar Biro Penagihan Hengda, Gao Wen, dilaporkan meninggal lima tahun lalu.

Shen Mo membaca pesan itu dua kali.

Biro tersebut baru ditutup secara resmi empat tahun lalu.

Berarti perusahaan itu masih tercatat beroperasi setidaknya setahun setelah kematian pemiliknya.

Hal itu mungkin memiliki penjelasan administratif. Namun dengan munculnya nama Hengda dalam ingatan Chen, Shen Mo tidak ingin mengabaikannya.

Ia menelepon Tiga.

“Siapa yang menjalankan perusahaan setelah Gao Wen meninggal?”

“Kami masih menelusurinya, Tuan. Ada perubahan penanggung jawab operasional, tetapi dokumen yang kami peroleh belum lengkap.”

“Cari dokumen peralihannya.”

“Baik.”

Shen Mo hendak memutus sambungan ketika Tiga kembali berbicara.

“Ada informasi lain.”

“Apa?”

“Kami menemukan catatan pengaduan lama terhadap Hengda.”

“Pengaduan apa?”

“Penagihan dengan ancaman. Ada beberapa laporan, tetapi sebagian besar tidak berlanjut.”

Shen Mo menegakkan punggung.

“Siapa pelapornya?”

“Identitas lengkapnya belum bisa kami pastikan. Namun ada satu pengaduan yang dibuat seorang perempuan, beberapa hari sebelum biro itu resmi berhenti beroperasi.”

Shen Mo memandang pintu tempat Chen tadi keluar.

“Namanya?”

Tiga menyebutkan nama pelapor.

Shen Mo terdiam.

Ia mengenali nama itu dari berkas keluarga Chen.

“Ibu Chen?”

“Ya, Tuan.”

Shen Mo berdiri.

“Apa isi pengaduannya?”

“Kami baru mendapatkan ringkasannya. Pelapor menyatakan sudah melakukan pembayaran sesuai jumlah yang diminta, tetapi penagihan terus berlanjut.”

Shen Mo mengepalkan tangan.

“Apakah ada bukti pembayaran?”

“Ada keterangan mengenai kuitansi. Namun salinannya tidak terlampir dalam data yang kami peroleh.”

“Lalu kenapa pengaduannya berhenti?”

Tiga menarik napas.

“Menurut catatan, pelapor mencabut laporannya sendiri.”

Shen Mo memejamkan mata sebentar.

Ia teringat cerita Chen tentang ibunya yang pulang tanpa membawa kotak besi.

“Cari tahu tanggal pencabutan laporan itu.”

“Sudah ada, Tuan.”

“Kapan?”

Tiga menyebutkan tanggalnya.

Shen Mo membuka berkas riwayat tempat tinggal Chen dan ibunya.

Tanggal tersebut hanya berselisih satu hari dari kepindahan mereka.

Ia menatap layar cukup lama.

Kebetulan itu terlalu penting untuk diabaikan, meski belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tiga, jangan hubungi siapa pun yang pernah bekerja di Hengda sebelum kita memastikan identitas mereka.”

“Baik, Tuan.”

“Dan amankan salinan pengaduan itu melalui jalur yang sah. Aku ingin membaca keterangan lengkapnya.”

Sambungan terputus.

Shen Mo kembali duduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa persoalan Wang mungkin hanya sebagian kecil dari masalah yang lebih lama.

Namun ia belum punya bukti bahwa Hengda, Wang, dan Black Dragon berada dalam satu jaringan.

Ia harus berhati-hati.

Satu kesimpulan yang terlalu cepat bisa membuatnya kehilangan jejak yang sebenarnya.

Di kamar tamu, Chen belum tidur.

Ia duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel lamanya.

Ada satu foto ibunya yang masih tersimpan.

Foto itu diambil di dapur rumah kontrakan mereka. Ibunya tersenyum sambil memegang mangkuk mi, sedangkan Chen yang lebih kecil duduk di belakang meja dengan wajah kesal karena tidak mau difoto.

Chen memperbesar gambar tersebut.

Bukan wajah ibunya yang sedang ia perhatikan.

Melainkan sudut lemari di belakangnya.

Sebuah kotak besi kecil tampak terselip di antara tumpukan kain.

Chen langsung duduk tegak.

“Itu dia...”

Ia memperbesar gambar lagi.

Kotaknya berwarna biru tua, dengan pengunci perak di bagian depan.

Namun ada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan.

Di tutup kotak itu tertempel secarik kertas putih.

Tulisan di atasnya terlalu kecil untuk dibaca dengan jelas.

Chen mencoba memperbesar sekali lagi, tetapi gambar mulai pecah.

Ia menghela napas kesal.

Kemudian memperhatikan tanggal foto.

Foto itu diambil dua hari sebelum mereka pindah.

Berarti kotak tersebut masih berada di rumah saat itu.

Chen membuka daftar foto berikutnya.

Ada tiga gambar yang diambil pada hari kepindahan.

Gambar pertama memperlihatkan koper.

Gambar kedua memperlihatkan tumpukan kardus.

Gambar ketiga membuat Chen berhenti bernapas sejenak.

Ibunya berdiri di depan pintu rumah, berbicara dengan seorang laki-laki berjaket abu-abu.

Wajah laki-laki itu hanya terlihat sebagian.

Namun tangannya tampak jelas.

Ia sedang membawa kotak besi biru milik ibu Chen.

Chen memperbesar foto tersebut.

Pada pergelangan tangan laki-laki itu terdapat tato kecil berbentuk naga hitam.

Chen menatap layar tanpa berkedip.

Ia belum tahu apakah tato itu benar-benar berkaitan dengan sindikat Black Dragon.

Namun ia tahu satu hal.

Kotak besi ibunya tidak hilang saat mereka pindah. Seseorang telah membawanya pergi.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!