Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH TUJUH
"Kalau kamu berpikir posisi stabilitas kampus bisa melindungi tindakan sewenang-wenangmu, kamu salah besar, Bu Amanda."
Suara bernada dingin dan menusuk itu memecah keheningan ruangan pengurus rektorat. Jaya, yang di hadapan publik bertindak sebagai pengurus jurusan, namun sebenarnya adalah perpanjangan tangan kepercayaan Zain, menatap Manda dengan tatapan intimidatif dari balik meja kerjanya.
Manda berdiri kaku di depan meja Jaya, mencengkeram tas tangannya erat-erat. Wajahnya yang biasa terlihat anggun kini memucat pasi.
"Maksud Bapak apa?" cetus Manda, berusaha mempertahankan wibawanya meski suaranya bergetar tipis. "Saya hanya menjalankan aturan akademis sebagaimana mestinya. Presensi Amara itu—"
"Jadi dia benar-benar mengadu?"
"Menyalahgunakan wewenang untuk menekan mahasiswa, itulah yang kamu lakukan!" potong Jaya tegas, memukul pelan permukaan meja kayu di hadapannya. "Amara tidak hadir dalam beberapa pertemuan perkuliahan karena menjalankan tugas kampus sebagai penyanyi utama paduan suara. Surat izin resmi dari direktorat itu adalah dispensasi mutlak yang sah secara hukum internal universitas!"
Jaya bersandar pada kursi kerjanya, menyunggingkan senyuman sinis yang menyentil. "Lagipula, kalau nanti ada acara resmi kampus atau kegiatan paduan suara yang membutuhkan penyanyi vokal utama, apa kamu mau maju menggantikan posisi Amara? Atau kamu mau menyuruh mahasiswa lain yang tidak punya kualifikasi vokal sepertinya?"
Amanda mengepalkan jarinya kencang, bibirnya terkunci rapat.
"Sebagai sanksi atas tindakan subjektifmu ini," lanjut Jaya tanpa kompromi, "kamu dijatuhi pemotongan bonus selama tiga bulan ke depan. Ingat baik-baik, Manda... Jika kamu melakukan kesalahan atau intimidasi seperti ini sekali lagi kepada mahasiswa mana pun, kamu akan langsung dipecat secara tidak hormat tanpa kompensasi sepeser pun."
"Pak Jaya, ini tidak adil!" protes Manda dengan napas memburu.
"Keputusan ini mutlak dari rektorat," pangkas Jaya kaku. "Silakan keluar dari ruangan saya."
Manda membalikkan badan dengan hembusan napas kasar, melangkah keluar ruangan rektorat dengan hentakan sepatu hak tingginya yang memukul lantai keramik. Amarah membakar seluruh jalan pikirannya. Sebenarnya Jaya ingin memecat Manda detik itu juga sesuai amarah Zain, namun Manda masih terikat kontrak kerja resmi. Kampus harus membayar pinalti besar jika memecatnya secara langsung tanpa tahapan sanksi tertulis.
Begitu tiba di ruang kerjanya di gedung fakultas, Manda membanting pintu dengan sangat keras. Ia menarik kursi kerjanya dan nyaris melampiaskan amarahnya dengan melemparkan kursi itu ke dinding, sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya kasar di atas busa dudukan.
Silvia yang sedang menata berkas di meja sebelahnya kaget setengah mati. Ia menoleh dengan mata membelalak. "Aduh, Manda! Kamu ini kenapa sih? Masuk-masuk langsung marah-marah begitu! Ada apa di rektorat?"
Manda menatap Silvia dengan kilat amarah yang menyala-nyala. "Ini semua gara-gara Kamu, Mbak Silvia! Gara-gara bisikan dan provokasimu untuk mengusik Amara, aku yang terkena sialnya!"
Silvia terperanjat, memajukan tubuhnya. "Lho, kok jadi menyalahkan aku? Memangnya kenapa dengan anak itu?"
"Aku baru saja dipanggil ke rektorat oleh Pak Jaya dan dijatuhi sanksi pemotongan bonus tiga bulan!" seru Manda dengan nada melengking penuh frustrasi. "Aku dituduh menyalahgunakan wewenang untuk mempersulit mahasiswa! Gila tidak?"
Silvia membisu sejenak, matanya berkedip-kedip tak percaya. "Apa? Anak itu... apa Amara mengadu langsung ke pihak rektorat?"
"Aku tidak tahu!" pekik Manda serak. "Yang jelas Pak Jaya memberikan teguran keras dan membawa-bawa surat izin dari direktorat!"
Silvia menyandarkan punggungnya, raut wajahnya berubah curiga dan penuh prasangka. "Aneh... Sangat aneh, Manda. Amara itu kan cuma mahasiswi tingkat dua biasa. Bagaimana mungkin rektorat sampai turun tangan secepat ini hanya karena masalah presensi satu mahasiswa?"
Silvia memiringkan kepalanya, berbisik misterius. "Jangan-jangan... Amara itu bukan mahasiswa biasa. Mungkinkah dia anak dari salah satu pejabat rektorat? Atau jangan-jangan... dia simpanan rektor atau dekan kita?"
"Mbak Silvia kalau bicara jangan sembarangan!" tembak Manda jengkel, meski di dalam hatinya ia merasakan keraguan yang sama.
"Aku bicara fakta yang masuk akal, Manda!" sahut Silvia tak mau kalah. "Coba kamu pikirkan! Waktu itu dia ada di ruangan Profesor Zain, lalu siang ini rektorat langsung membela dia mati-matian setelah kamu membuatnya tidak bisa mengikuti ujian semester ini. Kalau anak itu sampai berhasil memikat Profesor Zain juga dengan pesonanya, bisa makin bertingkah dia di fakultas ini!"
"Tidak akan kubiarkan!" desis Manda penuh kebencian, meremas pulpen di tangannya hingga memutih.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Suasana pelataran parkir belakang kampus Universitas Candrakirana mulai sepi dan temaram. Lampu-lampu jalan membiaskan cahaya kekuningan di antara rimbunnya pepohonan.
Di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di sudut tersembunyi, Zain duduk tegap di balik kemudi. Pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan sengaja menunggu Amara yang hari ini ada jadwal praktikum Bakteriologi hingga malam.
Dari kejauhan, sosok Amara terlihat melangkah keluar dari koridor laboratorium. Gadis itu tampak tergesa-gesa melipat dan memasukkan jas laboratorium putihnya ke dalam tas. Amara celingak-celinguk memastikan koridor benar-benar sepi, lalu berlari-lari kecil menuju mobil sedan hitam milik suaminya.
Set! Glek!
Amara membuka pintu penumpang depan, lalu menyusup masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
"Hah... Hah... Maaf, Kak Zain, menunggu lama," ucap Amara dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun memburu.
Zain melirik ke arah Amara. Melihat leher mulus dan dada istrinya yang kembang kempis mengambil oksigen dari jarak sedekat ini, Zain refleks menelan ludahnya kasar. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Pria itu dengan cepat memalingkan wajahnya ke depan, berusaha keras menutupi gejolak aneh di dalam dadanya.
Guna mengalihkan kecanggungannya, Zain merogoh kotak dasbor mobil. Ia mengeluarkan sebungkus camilan gandum sehat dan mengulurkannya pada Amara dengan raut wajah yang usahakan tetap datar dan cuek.
"Makan ini," ujar Zain kaku. "Jangan sampai kamu sakit maag lagi dan membuat repot semua orang."
Amara menerima bungkus camilan itu, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Terima kasih, Kak Zain."
Ia membuka kemasannya lalu memakan biskuit gandum itu perlahan untuk mengganjal perutnya yang mulai lapar.
"Bibi Ayu sudah selesai memasak di rumah," tambah Zain seraya memutar kunci kontak dan melajukan mobil membelah kegelapan malam. "Ayo kita segera pulang."
"Iya, Kak," angguk Amara menuruti.
Setibanya di rumah, mereka menyantap makan malam yang telah disiapkan Bibi Ayu dalam keheningan yang hangat. Selepas makan dan meminum obatnya, Amara kembali ke kamarnya di lantai dua untuk membersihkan diri.
Namun, saat malam kian larut, ada rasa penasaran dan keinginan yang tak bisa ditahan di dalam dada Amara. Ia teringat kembali pada keinginannya untuk menemukan pemicu agar bisa mendengar gema suara batin Zain lagi.
Dengan langkah pelan dan ragu, Amara melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri koridor lantai dua menuju pintu kamar utama milik Zain.
Klek.
Pintu kamar Zain ternyata tidak terkunci rapat. Amara mendorongnya pelan dan menyelinap masuk. Suara kucuran air shower berdesing halus dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, menandakan pria itu sedang membersihkan diri.
Amara menghembuskan napas lega, lalu mengedarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru kamar Zain. Ruangan itu sangat luas, bersih, bernuansa amat maskulin dengan balutan cat tembok berwarna abu-abu elegan dan dominasi furnitur kayu gelap. Beraroma khas kayu cendana yang sangat menenangkan.
Saat Amara melangkah mendekati meja kerja Zain, matanya tak sengaja menangkap pintu lemari pakaian besar di sudut ruangan yang sedikit terbuka.
Didorong oleh rasa ingin tahu, Amara mendekati lemari tersebut. Namun, detik berikutnya, langkah kaki Amara terhenti seketika. Matanya membelalak lebar, mematung menatap sepotong pakaian kain katun berwarna merah muda lembut yang terlipat amat rapi di selipan rak paling atas pakaian Zain.
Amara mengulurkan tangannya yang gemetar, mengambil pakaian itu.
"Loh..." bisik Amara tak percaya, dadanya berdesir hebat. "Ini... ini kan baju tidur beruang kesayanganku yang kata Kak Zain hilang di tempat laundry dua tahun yang lalu?"
Amara meremas kain lembut baju tidur itu di dadanya, otaknya berputar cepat mencari jawaban.
Kenapa baju tidurku yang hilang bisa ada di dalam lemari pribadi Kak Zain?
...****************...
...Besok aku double up ya.. harus stay loohhhh......
ni masalah mu sendri🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk