Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar istana?
Lucien perlahan menurunkan tangan Rosalie, lalu menaruh kembali sendok perak itu ke dalam mangkuk dengan gerakan yang sangat tenang namun tegas. Suara denting tipis perak beradu dengan porselen terdengar begitu nyaring di ruangan yang mendadak hening.
"Maafkan aku, Rosalie," ujar Lucien dengan suara datar yang tertata rapi, menyembunyikan getaran guncangan di dalam dadanya. "Perutku sedang merasa kurang nyaman pagi ini. Aku akan memakannya nanti setelah pekerjaanku selesai."
Raut wajah Rosalie sempat menegang. Hanya dua detik sebuah jeda mikro yang sangat singkat, namun kini tidak luput dari pengamatan tajam manik mata biru Lucien. Kilat kekecewaan dan sedikit kecurigaan melintas di mata wanita itu, sebelum akhirnya ia menyunggingkan senyum manisnya kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Baiklah kalau begitu, Pangeran. Tapi janji harus dimakan, ya? Aku membuatnya khusus untukmu," tutur Rosalie lembut, menepuk pelan punggung tangan Lucien. Ia lalu merapikan gaun sutranya dan melanjutkan, "Oh iya, hari ini aku tidak bisa menemanimu sampai sore. Aku harus segera pergi ke kantor pusat keluarga."
"Ada urusan apa?" tanya Lucien, pura-pura tidak acuh.
"Hari ini ada acara pelantikan direktur baru di perusahaan perhiasan keluargaku," jawab Rosalie penuh keanggunan.
Di pojokan ruangan, Lina yang sedang mengelap pinggiran bingkai lukisan mendadak menghentikan gerakannya. Matanya membelalak lebar saat ingatan tentang bab penting di novel Tahta & Darah Valdoria mendadak berputar cepat di kepalanya.
"Pelantikan direktur baru?!" jerit Lina heboh di dalam hatinya, dan suara batin itu kembali meluncur mulus tanpa hambatan ke dalam pikiran Lucien. "Gila! Di acara itu kan dia bakal ketemu sama mantan pacar sekaligus selingkuhannya si Marquis Muda Gerald! Pria bangsawan licik yang jadi sekutu utamanya buat nyusun rencana penyerangan!"
Lina menelan ludahnya yang terasa pahit. Jantungnya berdebar kencang saat menyadari betapa krusialnya peristiwa hari ini.
"Di acara pelantikan itu, Rosalie bakal ngebujuk Gerald buat mulai menyelundupkan racun dosis tinggi dan senjata ke dalam lingkungan istana lewat jalur pasokan barang mewah. Anjir, nggak bisa dibiarin! Gue harus cari cara buat keluar dari istana hari ini dan ngehalangin rencana pertemuaan mereka!"
Lina meremas kain lap di tangannya, matanya memancarkan kepanikan yang amat sangat.
"Gue juga gak mau mati konyol, gila! Kalau rencana penyerangan Rosalie dan Gerald berjalan lancar sampai Pesta Dansa Musim Panas nanti, bukan cuma Pangeran Lucien yang tewas... tapi seluruh pelayan di kediaman ini bakal dibantai tanpa sisa buat menghilangkan jejak! Amit-amit jabang bayi! Duit tabungan gue belum cukup buat kabur, masa gue harus mati mengenaskan di sini?!"
Dibantai tanpa sisa?
Lucien menatap lurus ke arah Rosalie yang sedang berpamitan padanya, namun seluruh perhatian otaknya terpusat penuh pada gadis pelayan di sudut ruangan. Nama 'Gerald' Marquis Muda dari wilayah barat yang selama ini memang tampak terlalu dekat dengan kelompok oposisi mendadak mencuat bagaikan bukti penguat.
Selama ini Lucien mengira Gerald hanyalah bangsawan biasa yang ambisius di bidang bisnis. Namun, jika ucapan dalam hati pelayan ini benar bahwa Rosalie dan Gerald memiliki hubungan rahasia untuk menyelundupkan senjata... maka Kerajaan Valdoria benar-benar berada di tepi jurang kehancuran.
"Aku pergi dulu ya, Sayang," ucap Rosalie lembut, mengecup pelan pipi Lucien sebelum berbalik dan melangkah anggun keluar dari ruangan.
Begitu pintu ganda tertutup rapat dan langkah kaki Rosalie menjauh, Lucien berdiri dari kursi kerjanya. Tubuh tegapnya berbalik, mengikis jarak dan berdiri tepat di hadapan Lina.
Mata biru Pangeran Mahkota itu menatap Lina dengan intrik yang begitu dalam dan berbahaya. Apakah yang dikatakan wanita ini... semuanya benar? batin Lucien, mencoba membaca setiap raut wajah ketakutan yang terpancar dari pelayan cantiknya itu.
"Anu... Saya mau permisi keluar dulu, Pangeran. Misi..." cicit Lina cepat, menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil membungkuk terburu-buru. Tanpa menunggu jawaban dari Lucien yang masih menatapnya lekat, ia langsung melangkah mundur dan meluncur keluar dari ruang kerja itu bagaikan belut yang licin.
Jantung Lina berdegup kencan saat menyusuri koridor. Ia harus bergerak cepat sebelum Rosalie bertemu dengan Gerald. Langkah kakinya membawa Lina lurus menuju ruang Kepala Pelayan di lantai dasar.
Di dalam ruangan beraroma kertas tua itu, Kepala Pelayan menatap Lina dari balik kacamata tipisnya dengan pandangan menilai.
"Mau izin keluar? Hari ini?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada dingin dan alis terangkat.
Lina memasang raut wajah paling pucat dan lemas yang bisa ia manipulasi, sambil sesekali memegang perutnya. "Saya benar-benar kurang enak badan dari tadi pagi, Nyonya. Kepala saya pusing luar biasa dan perut saya rasanya mual sekali. Saya mau periksa ke rumah sakit di luar bentar saja, janji nanti sore langsung balik kerja lagi."
Kepala Pelayan menghela napas malas, menatap piring kotor yang tadi pagi diselesaikan Lina dengan sangat bersih. Mengingat kinerja Eliana yang mendadak rajin, ia akhirnya mengibas-ibaskan tangannya. "Ya sudah, pergi sana. Jangan lama-lama, dan pastikan kamu kembali sebelum jam makan malam."
"Terima kasih banyak, Nyonya!"
Begitu surat izin di tangannya terbit, Lina buru-buru berganti pakaian dengan baju kasual milik Eliana—sebuah sweter rajut longgar dan celana kain sederhana. Ia melangkah keluar melewati gerbang besi raksasa Kediaman Adipati.
Saat kakinya menyentuh trotoar luar, mata Lina membelalak takjub.
Di hadapannya membentang pemandangan kota Kerajaan Valdoria yang sangat memesona. Tidak ada tumpukan sampah di pinggir jalan, tidak ada asap knalpot yang pekat, apalagi kemacetan horor seperti yang biasa ia temui saat berangkat kuliah di dunia nyata. Jalanan bersih berkilauan, pepohonan tertata rapi di sepanjang trotoar marmer, dan arsitektur bangunannya menggabungkan kesan klasik Eropa dengan gaya modern yang serba canggih.
"Gila... negara ini benar-benar surgawi banget," gumam Lina terpana, menghirup udara pagi yang begitu segar. "Gak ada macet, gak ada polusi, jalanannya mulus banget lagi!"
Sadar waktunya terbatas, Lina melambai memanggil taksi sedan mewah bernuansa perak yang sedang melintas. Ia masuk ke dalam dan menyebutkan nama gedung perusahaan perhiasan milik keluarga Rosalie yang pernah disebutkan di novel.
Selama perjalanan, Lina menempelkan wajahnya di kaca jendela. Pandangannya dimanjakan oleh deretan gedung-gedung pencakar langit berdesain futuristik namun tetap memancarkan aura kebangsawanan yang mahal. Mobil meluncur sangat mulus tanpa goncangan sedikit pun, membuat Lina makin betah.
Sekitar dua puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit megah bertuliskan nama perusahaan Rosalie. Lina membayar ongkosnya dengan sisa uang tunai di dompet Eliana, lalu melangkah keluar.
"Oke... sekarang gimana caranya nemuin tuh dua orang ya?" Lina mengetuk-ngetuk dagunya, berjalan pelan menyusuri trotoar di samping gedung megah tersebut. Jujur saja, ia sama sekali tidak tahu denah dalam gedung itu. Jadi, ia memutuskan untuk berjalan melipir ke area samping sekalian menikmati pemandangan kota.
Namun, saat Lina baru saja melangkah melewati belokan sebuah gang kecil di samping gedung utama—
SRET!
Sebuah cengkeraman kuat dan hangat mendadak menarik pergelangan tangannya dari dalam kegelapan gang!
"Aaa—!" Lina terpekik tertahan, namun suara jeritannya langsung terpotong saat tubuhnya dihempaskan pelan menyandar ke dinding tembok bata yang dingin.
Sebelum Lina sempat melayangkan pukulan refleks, tubuh tegap seorang pria jangkung sudah mengikis habis jarak di antara mereka. Pria itu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Lina, mendekap pinggang gadis itu dengan sangat erat hingga aroma parfum maskulin berkayu cendana yang sangat familiar langsung memenuhi indera penciuman Lina.
"Aku mohon... bantu aku bersembunyi sebentar," berbisik pria itu tepat di samping telinga Lina, napas hangatnya yang terengah-engah menyapu kulit lehernya.
Lina membeku total. Dari posisi luar gang, siapa pun yang melintas pasti berpikir mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berciuman panas di balik bayangan tembok.
Sensasi dada tegap pria itu yang menempel lekat pada dadanya, serta pelukan protektif yang begitu mendesak, membuat jantung Lina berdegup kencang bagaikan maraton. Dan saat Lina melirik sedikit lewat sudut matanya menuju wajah pria yang sedang menyembunyikan diri di bahunya itu... matanya mendadak membelalak sempurna.