Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ULAR DI BALIK PINTU

        Reana bangkit dan menarik Alesya kembali ke tempat duduk semula.

“Kamu gila, ya?” Suara Reana terdengar frustrasi.

“Kamu tadi hampir aja kehilangan nyawa!”

Alesya hanya duduk dengan tenang. Ia bahkan tidak terlihat terguncang sedikit pun oleh apa yang baru saja terjadi.

“Aku baik-baik saja.”

“Baik-baik saja dari mana?!” Reana menunjuk ke arah koridor tempat Kael pergi.

“Orang itu hampir menghancurkan Dragos di depan mata kita! Dan kamu malah memanggilnya seperti tidak terjadi apa-apa!”

Alesya terdiam, Matanya masih tertuju pada koridor tersebut. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, Cara Kael menatapnya, Cara Kael mengabaikan panggilannya. Semuanya terasa aneh. Apa mungkin dia salah orang? Ahh tidak mungkin, wajah kael sama sekali tidak berubah selama 5 tahun ini, Atau...terlihat sedikit menyeramkan.

“Reana…”

“Apa lagi?”

“Kamu pernah merasa…”

Alesya berhenti sejenak.

“…kalau seseorang sengaja menjauh dari kita?”

Reana mengerutkan kening.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

“Entahlah.”

Alesya menundukkan wajahnya.

“Tatapan matanya…”

Reana langsung memotong.

“Jangan bilang kamu mulai tertarik pada orang itu.” Alesya menoleh tajam.

“Dia mirip sama orang yang aku kenal”

“Lalu?”

Alesya kembali melihat ke arah koridor.

“Aku hanya perasaan ku saja.” Reana terdiam.

“Kael?”

Alesya mengangguk pelan.

“Entah kenapa… aku merasa begitu.”

***

Di sisi lain, Kael sudah kembali menuju bloknya, Langkahnya tetap tenang.

Namun begitu ia melewati sudut koridor dan memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikannya, ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi…Kael terlihat gelisah, Bukan karena Dragos, Bukan karena para sipir, Melainkan karena satu orang.

ALESYA...

Ia berhenti sebentar, Memejamkan mata, Kenangan lama tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Seorang gadis kecil yang selalu berlari mengejarnya.

Seorang anak laki-laki yang selalu berdiri di depannya ketika anak-anak lain mengganggunya. Masa ketika mereka belum mengenal dunia seperti sekarang. Masa ketika nama Kael belum dikenal sebagai sesuatu yang harus ditakuti.

Kael membuka mata.

“Jangan…”

gumamnya pelan.

“Jangan sampai kau mengingatku.”

Ia kembali berjalan, Ia tahu satu hal. Selama berada di penjara ini, ia harus tetap menjadi Jendrall Kael—pria yang dingin, berbahaya, dan tidak mengenal siapa pun.

Bukan Kael yang dulu, Bukan sahabat masa kecil Alesya.

Dan terutama…

bukan seseorang yang masih peduli padanya. Namun Kael tidak menyadari satu hal. Dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikannya. Darren berdiri bersandar di dinding koridor, kedua tangannya terlipat di dada. Ketika Kael mendekat, Darren hanya berkata pelan,

“Bos.”

Kael berhenti.

“Jangan panggil aku begitu di sini.”

Darren mengangguk.

“Baik.”

Kael menatapnya sebentar.

“Kau melihatnya?”

“Alesya?”

Tatapan Kael langsung berubah tajam.

Darren tersenyum tipis.

“Tenang. Tidak ada yang mendengar.”

Beberapa detik kemudian, Dante muncul dari balik lorong.

Ia memandang Kael dan Darren bergantian.

“Masalahnya bukan cuma Dragos.”

Kael menatap Dante.

“Apa maksudmu?”

Dante menghela napas.

“Perempuan itu mulai curiga.”

"Sepertinya memang dia mengenal mu" Lanjut dante, Kael terdiam.

Darren kemudian bertanya,

“Kalau dia benar-benar mengingatmu…”

Kael langsung memotong.

“Dia tidak boleh tahu.”

Nada suaranya tegas.

“Tidak seorang pun boleh tahu.”

Dante mengangguk.

“Termasuk dia?”

Kael tidak menjawab, Ia hanya berjalan melewati keduanya. Namun sebelum pergi, Kael berkata pelan,

“Terutama dia.”

Darren dan Dante saling berpandangan. Mereka tahu satu hal. Selama ini Kael tidak pernah takut pada siapa pun di ADX Florence.

Tetapi untuk pertama kalinya…

ada seseorang yang mampu membuat ketua mafia itu takut kehilangan kendali. Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri sejak kecil.

“Cari tahu kenapa dia bisa berakhir di sini.”

Ucap Kael kepada Darren, Darren hanya mengangguk.

“Baik.”

Setelah itu, ketiganya berpisah.

Kael berjalan dan menyusuri koridor menuju taman tempat para napi biasanya berkumpul ataupun berolahraga.

Begitu sampai, suasana di sana cukup ramai. Namun melihat kedatangan kael, mereka mengecilkan suaranya. tau kael sangat membenci kebisingan. Beberapa napi sedang duduk santai di kursi-kursi panjang yang tersebar di beberapa sudut. Sebagian lainnya sibuk berolahraga menggunakan barbel yang terbuat dari semen dan besi seadanya.

Di salah satu sisi taman, terdapat sebuah palang besi yang digunakan para napi untuk melakukan pull-up. Bentuknya sederhana, bahkan terlihat seperti dibuat sendiri oleh para penghuni penjara.

Kael berjalan melewati mereka semua tanpa banyak memperhatikan. Namun sesaat kemudian, pandangannya berhenti. Di sudut paling jauh dari kerumunan, Alesya sedang duduk bersama Reana. Tempat itu memang jauh dari para napi yang biasanya mencari masalah.

Kael hanya melirik sekilas, Kemudian segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin terlihat memperhatikannya.

Kael memilih salah satu kursi panjang yang kosong lalu duduk dengan santai. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana nya.

Wajahnya terlihat tenang, Namun matanya sesekali kembali mencuri pandang ke arah Alesya. Perempuan itu sedang berbicara dengan Reana, Sesekali tersenyum. Kael memperhatikannya dalam diam, Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Cara Alesya berbicara.

Cara dia tersenyum.

Bahkan tatapan matanya.

Semuanya masih terasa familiar…

tetapi sekaligus terasa asing.

Lima tahun.

Sudah lima tahun mereka tidak bertemu, Kael menundukkan kepalanya.

'Entah apa yang terjadi kepadamu selama lima tahun ini…'

Pikirannya kembali pada masa kecil mereka. Dulu Alesya selalu berada di dekatnya. Dan dulu, hanya di depan Kael-lah Alesya bersikap seperti gadis yang lembut dan manja. Kebiasaan kecil yang sudah mereka lakukan sejak masih anak-anak.

Namun sekarang…

lima tahun telah berlalu.

Kael tidak tahu apa yang telah dialami Alesya selama mereka terpisah. Begitu pula Alesya tidak tahu seperti apa kehidupan Kael selama lima tahun terakhir. Kael kembali meliriknya, Alesya tiba-tiba menoleh. Mata mereka hampir bertemu. Kael langsung membuang pandangannya ke arah lain, Alesya hanya mengerutkan kening.

Ada sesuatu yang membuatnya semakin penasaran terhadap pria itu. Sementara Kael menarik napas pelan.

Jangan mengenaliku, Alesya.

Lebih baik seperti ini.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu pertanyaan yang terus mengganggunya.

Kenapa kau bisa sampai berada di tempat ini?

Di kursi paling ujung, Alesya kembali menoleh ke arah Kael. Pria itu masih duduk dengan wajah datar, lurus menatap ke depan seolah tidak memperhatikan apa pun.

Padahal Alesya tidak tahu… tatapan Kael sesekali masih tertuju kepadanya.

“Jangan memandangi dia terus.”

Ujar Reana, memperingatkan. Alesya mengalihkan pandangan kepadanya.

“Aku mau menemuinya.”

“Jangan.”

Reana langsung mencegahnya dengan memegang tangan Alesya.

“Dengarkan aku kali ini saja.”

Alesya terdiam.

Tatapannya kembali mengarah kepada Kael. Beberapa saat kemudian, ekspresinya melunak. Ia menghela napas kecil lalu menganggukkan kepala.

“Baiklah.”

Reana terlihat sedikit lega, Namun kemudian Alesya berkata,

“Temani aku ke toilet.”

Reana mengangguk.

“Ayo.”

Keduanya pun bangkit dari tempat duduk mereka dan berjalan meninggalkan taman.

Tanpa mereka sadari…

tatapan tajam Kael tidak pernah benar-benar lepas dari pergerakan Alesya. Kael mengikuti setiap langkahnya dengan sudut matanya. Sampai akhirnya sosok Alesya menghilang di balik pintu.

Kael masih diam.

Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Namun jemarinya perlahan mengepal di dalam saku celananya. Ia tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti ini. Lima tahun lalu, Alesya adalah gadis yang selalu berada di sampingnya. Sekarang mereka bertemu kembali di tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

ADX FLORENCE

Lirikan mata Kael kian menajam kala melihat Aldra datang bersama gerombolannya. Mereka tidak menuju ke arah Kael, Tidak juga memperhatikan keberadaannya. Tujuan mereka jelas—lorong menuju toilet, tempat Alesya dan Reana baru saja pergi. Kael tetap diam di bangkunya.

Tatapannya hanya bergerak sedikit, mengikuti ketiganya dari kejauhan. Tidak ada perubahan pada wajah dinginnya. Seolah apa yang dilihatnya sama sekali tidak menarik perhatian.

Namun matanya terus mengikuti. Sampai Aldra dan kedua anak buahnya menghilang dari pandangan. Barulah Kael mengalihkan pandangannya. Ia hanya melirik sekilas ke arah Darren yang duduk sedikit jauh di depannya. Tatapan mereka bertemu.

Darren tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya mengangguk pelan, seolah sudah memahami maksud Kael. Kemudian Darren segera bangkit dan bergegas pergi, entah menuju ke mana.

SEMENTARA ITU...

Di toilet

Alesya baru saja selesai menggunakan toilet. Ia berdiri di depan wastafel, lalu membasuh kedua tangannya.

“Kenapa kotor banget sih, Re?”

Ucap Alesya sambil memperhatikan keadaan toilet yang jauh dari kata bersih. Reana hanya menghela napas.

“Mau gimana lagi. Semua orang di sini sama aja.”

Alesya mengeringkan tangannya seadanya. Reana tiba-tiba teringat sesuatu.

“Kamu lihat nggak tadi, orang yang lagi berhubungan seks di sel rusak itu?”

Alesya hanya berdehem pelan.

“Hm.”

“Mereka kadang ada yang dipaksa,” lanjut Reana dengan suara lebih rendah.

“Ada juga yang rela digituin demi dilindungi dari napi-napi brengsek.”

Alesya menoleh kepadanya.

“Kenapa kamu nggak nyari aja pelindung buat jaga diri?”

Reana sudah selesai dari toilet. Ia berdiri di samping Alesya sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.

“Aku nggak tahu harus nyari siapa.” Nada suaranya terdengar pasrah.

“Semua orang di sini kayak sama semua. Sama-sama binatang.”

Alesya tertawa kecil.

“Terus?”

Reana mengernyit.

“Apanya?”

“Ya berarti kamu nggak punya seseorang yang bisa diandelin, dong.”

Reana hanya mengembuskan napas.

Memang cukup sulit baginya untuk berinteraksi dengan orang lain di penjara ini selain Alesya.

“Untung ada lo, Al. Jadi bisa sedikit tenang.”

Reana merangkul erat lengan Alesya, Alesya hanya terkikik kecil.

“Ayo pergi.”

Keduanya kemudian berbalik, Namun baru beberapa langkah... Mereka langsung terdiam.

Tiga orang sudah berdiri di depan pintu toilet

Tatapan mereka buas.

Dan menjijikkan.

Aldra berdiri di tengah bersama dua orang anak buahnya. Salah satunya pria berkepala botak dengan tato ular yang melingkar di bagian tubuhnya. Alesya mengenal wajah itu. Ia pernah melihat pria tersebut saat pertama kali masuk ke ADX.

Pria lainnya memiliki rambut yang diikat, tetapi sangat berantakan. Sementara Aldra sendiri hanya memiliki sedikit rambut di kepalanya. Ketiganya memiliki satu kesamaan, Tato ular.

Reana langsung membeku, Wajahnya seketika pucat. Ia tau betul siapa yang kini berada di depan mereka. yang selama ini berusaha dia hindari mati matian.

Berbeda dengan Alesya yang masih terlihat santai, Namun di balik ketenangan itu, kewaspadaannya meningkat.

Pria botak itu melangkah masuk perlahan, Ia memasukkan jarinya ke dalam mulut, lalu mengeluarkannya lagi berulang kali dengan gerakan yang membuat Reana semakin mual. Senyumnya membuat suasana toilet terasa semakin menjijikkan.

“Mau ke mana, cantik?”

Reana mundur setengah langkah, Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan Alesya. Alesya tetap berdiri di tempat, Tatapannya tenang. Tapi kali ini, tidak ada lagi senyum di wajahnya. Ia tahu mereka tidak datang untuk sekadar berbicara.

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!