Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I'm Here For You
Day 12
"Sayang?"
Bara mengelus surai hitam pekat milik Ara sambil berusaha membangunkan wanitanya yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.
"Sayang, aku harus menjalani pemeriksaan rutin sekaligus kemo dulu. Dokternya udah nunggu kamu bangun dari tadi."
Sayup-sayup Ara mendengar suara Bara menyebut kata dokter. Ia pun perlahan membuka mata. Begitu pandangannya mulai jelas, Ara langsung terperanjat.
Seorang dokter berdiri di samping ranjang sambil menahan tawa melihat Ara yang sedari tadi tidur sambil memeluk Bara.
"Ini calon istrinya? Apa kalian sudah menikah? Kenapa saya tidak tahu?"
"Calon istri saya, Dok."
Bara tersenyum santai.
"Saya memang yang menyuruh dia tidur di samping saya karena saya bisa tidur lebih nyenyak kalau ada dia di samping saya."
Dokter itu mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak masalah. Justru bagus. Kehadiran orang tersayang memang bisa memberikan energi positif bagi pasien."
Bara mengangguk sambil terkekeh pelan.
Sementara Ara buru-buru turun dari ranjang dengan wajah memerah. Ia segera merapikan rambutnya dan mengusap sudut matanya, takut masih ada kotoran yang menempel.
Ia sudah cukup malu karena ketahuan tidur sambil memeluk Bara oleh dokter. Ia tidak mau menambah rasa malunya dengan penampilan yang berantakan.
"Saya akan memeriksa calon suami Anda di sini saja. Untuk kemoterapinya, nanti obat akan diberikan melalui infus oleh suster."
Ara mengangguk dan mempersilakan dokter tersebut memeriksa kondisi Bara. Setelah selesai, dokter itu pun keluar dari ruangan sambil mengatakan bahwa kondisi kesehatan Bara terlihat semakin membaik.
Ara sontak mengembuskan napas lega. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencium pipi Bara.
"Aku belum mandi, Sayang."
"Aku juga."
Ara tersenyum jahil.
"Apa sekarang aku harus bantuin kamu mandi?"
"Nggak!"
Bara langsung menolak.
"Kita belum sah, Ara. Mending aku nunggu Yuvin daripada harus dibantu kamu. Aku malu."
Ara terkekeh.
"Tapi mungkin aku mandinya nanti agak siang aja. Mending sekarang kita ke taman dulu. Ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Siap, Kapten."
Bahkan untuk urusan mandi pun Bara kini selalu meminta bantuan Yuvin. Ia merasa malu jika harus dibantu oleh suster, terlebih lagi oleh Ara. Karena itu, ia lebih memilih merepotkan Yuvin meskipun sebenarnya ia juga merasa tidak enak hati.
aramoana_:
...
Kamu kuat!!! Kamu anak biskuat!!! @barasamudera 😘❤️...
Comments:
yohan.dewa:
Mau mewek tapi gak jadi!!!
yuvindipt:
Captionnya apa banget dah, sempet-sempetnya bercanda!
sorazura_:
Ara!!! 😭
marissabrn:
😍😍😍
biru_namaku:
Najis banget dah lama-lama 😑
...---...
"Aku berat, ya, Sayang?"
Ara menggeleng sambil membantu Bara bangun dari ranjang.
"Enggak."
Ia membantu Bara berpindah ke kursi roda, kemudian menyeka peluh yang mulai muncul di sekitar kening laki-laki itu. Setelah memastikan posisi duduknya nyaman, Ara menaikkan kedua kaki Bara ke atas pijakan kursi roda.
Sesuai permintaan Bara kemarin, Ara membawanya ke taman rumah sakit. Sesampainya di sana, Ara memosisikan kursi roda Bara menghadap bangku taman agar mereka bisa berbicara sambil saling berhadapan.
"Beneran aku nggak berat?"
"Enggak, Bara. Kamu malah kelihatan kurus sekarang."
Ara memperhatikan tubuh Bara sejenak.
"Badanmu jadi terasa ringan banget. Mungkin aku sekarang juga bisa kuat gendong kamu."
Bara tertawa kecil.
"Oh, iya. Emangnya kamu mau ngomong apa sama aku?"
Senyum Bara perlahan menghilang.
"Kamu pasti paham kalau waktuku udah nggak banyak, kan?"
Ara terdiam.
"Jadi, aku pengin sedikit bersikap egois sama kamu."
"Hah? Maksudnya gimana?"
Bara melepaskan maskernya. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku pengin ngelamar kamu."
Ara membeku.
"Meskipun kemungkinan terburuknya aku bisa meninggal dalam waktu dekat. Meskipun umurku mungkin tinggal menghitung hari, aku tetap pengin ngelamar kamu buat jadi istriku."
Bara menatap Ara lekat-lekat. Namun, ada sesuatu yang tidak ia ucapkan.
Sebenarnya aku yakin kita bisa bertemu lagi di masa depan. Jadi, tolong terima lamaranku, Ara. Kamu juga ingin kita terus bersama, kan? Aku memang nggak bisa jujur sama kamu. Karena kalau aku jujur, aku takut semua ini bakal jadi sia-sia. Aku masih ingin hidup bahagia sama kamu sampai tua nanti. Jadi, tolong... jangan tolak lamaranku.
Bara kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Ia membukanya di hadapan Ara. Di dalamnya terdapat sepasang cincin.
"Will you marry me?"
Suara Bara terdengar bergetar.
"Aku akan menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan di sini. Di rumah sakit ini. Besok pagi."
Ara mulai berkaca-kaca.
"Aku memang nggak seperti laki-laki lain yang bisa terus menemani kamu sampai akhir."
Bara tersenyum getir.
"Maaf kalau aku egois. Tapi..."
Ia menarik napas.
"Apakah kamu bersedia menjadi istri dari seorang penderita leukemia stadium akhir seperti aku, Ara Moana?"
Bara menggenggam kotak cincin itu semakin erat.
"Dan apakah kamu berjanji akan selalu merawatku? Nggak meninggalkan aku meskipun nantinya aku sudah nggak bisa melakukan apa-apa lagi?"
Air mata Ara akhirnya jatuh. Ucapan Bara benar-benar mengiris hatinya. Ia bahkan tidak tahu harus memberikan respons seperti apa.
Lamaran ini begitu mendadak. Namun, jauh di dalam hatinya, Ara merasa bahwa mungkin inilah salah satu permintaan terakhir Bara yang harus ia kabulkan. Ia tersenyum di tengah air matanya.
"Okay, I will."
Ara mengusap air matanya.
"Aku bersedia menjadi istri dari seorang lelaki baik bernama Bara Samudera. Karena kamu adalah cinta pertama sekaligus terakhirku."
Bara terdiam.
"Jadi, apa pun yang terjadi, aku bakal tetap menikah sama kamu dan menjadi istrimu."
Ara menggenggam tangan Bara.
"Aku juga nggak akan pernah ninggalin kamu meskipun ada hal buruk yang terjadi nantinya. Aku siap."
Air matanya kembali jatuh.
"Aku udah siap sejak awal, karena aku udah melabuhkan seluruh hatiku cuma buat kamu."
Bara menunduk. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengambil cincin dari dalam kotak tersebut, kemudian memasangkannya di jari manis Ara.
Ara menangis semakin deras. Ia lalu mengambil cincin untuk Bara dan memasangkannya di jari manis laki-laki itu.
Keduanya terdiam. Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan perasaan mereka saat ini.
Ara kemudian berdiri dan menangkup kedua pipi Bara. Ia menundukkan wajahnya dan memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Bara.
Bara membalasnya. Tangannya terulur untuk menarik Ara lebih dekat hingga gadis itu duduk di pangkuannya. Mereka kembali berpelukan erat setelah melepaskan ciuman singkat tersebut.
Ara menyembunyikan wajahnya di dada Bara sambil menangis. Tangisannya akhirnya pecah.
Melihat itu, teman-temannya, Biru, bahkan Marissa yang sedari tadi diam-diam mengawasi dari tempat persembunyian langsung keluar dan menghampiri mereka.
Mereka semua ikut menangis dan memeluk Ara serta Bara.
Hari ini, hati Ara benar-benar dibuat campur aduk. Ada rasa sakit. Ada kebahagiaan. Ada ketakutan. Semuanya bercampur menjadi satu dan menggerogoti batinnya.
Terlebih ketika ia menyadari bahwa teman-temannya, kakaknya, bahkan Marissa ternyata sudah mengintip mereka sejak tadi.
"Kenapa kalian semua ada di sini?"
Mereka melepaskan pelukan ala Teletubbies itu dan serentak menoleh kepada Marissa. Ara ikut menatap kakak Bara tersebut. Posisinya masih duduk di pangkuan Bara.
"Karena Bara cerita sama Kakak."
Marissa tersenyum.
"Jadi, kami semua mengadakan rapat diam-diam waktu kalian udah tidur lelap semalam."
Ara membulatkan mata.
"Dan untuk acara besok, semuanya juga sudah siap. Jadi Ara tenang aja."
"Hmm, Dek."
Biru menyilangkan kedua tangannya.
"Itu kamu mau duduk di atas paha pasien sampai kapan? Kamu nggak kasihan sama Bara?"
Ara baru menyadari posisinya. Ia langsung hendak berdiri. Namun, Bara menahannya. Laki-laki itu justru menarik Ara kembali ke dalam pelukannya sambil tersenyum lebar.
"Nggak apa-apa."
Bara mengusap punggung Ara.
"Aku senang bisa meluk Ara senyaman ini."
"Apa kamu nggak sakit?"
Ara menatapnya khawatir.
"Aku ini berat, loh."
"Enggak, Sayang."
Bara tersenyum.
"Kayak gini dulu aja untuk beberapa saat, ya?"
Tangannya semakin erat memeluk Ara.
"Aku pengin meluk kamu dalam waktu yang lama. Mumpung aku masih punya tenaga buat meluk kamu."
Ara hanya bisa pasrah. Ia menelusupkan wajahnya ke dada Bara. Aroma tubuh Bara yang begitu familiar kembali memenuhi indra penciumannya. Aroma yang entah sejak kapan sudah membuatnya candu.
Jantung Ara kembali berdebar. Sepertinya ia memang sudah benar-benar tergila-gila pada segala sesuatu tentang Bara.
"Sayang."
"Hmm?"
"sekarang kabulin permintaan keduaku."
Ara mengangkat wajah.
"Apa?"
"Besok, tolong nyanyiin sebuah lagu buat aku."
Bara tersenyum.
"Lagu apa pun, terserah kamu. Aku cuma pengin dengerin kamu nyanyi lagi secara langsung."
Ara mengangguk.
"Oke. Aku bakal minta bantuan Yuvin buat ngiringin musiknya."
Bara terlihat sangat bahagia. Ia kembali mengeratkan pelukannya pada Ara yang sampai hampir kehabisan napas.
"Kita semua yang jomblo bisa apa?"
Yohan menghela napas panjang.
"Cuma bisa bersabar lihat adegan kayak gini tiap hari."
Teman-temannya yang lain hanya bisa mendengus kesal sambil menundukkan wajah. Mereka memang iri. Bukan karena tidak memiliki pasangan, tetapi karena cinta dua orang yang ada di hadapan mereka terlihat begitu tulus.
Kisah cinta Ara dan Bara mungkin terdengar sedikit dramatis. Bahkan terlalu dramatis. Namun, untuk saat ini, mereka hanya ingin menikmati kebahagiaan keduanya.
Sebab mereka tahu, tidak ada yang bisa menjamin berapa lama kebahagiaan itu akan bertahan. Dan untuk sementara, mereka memilih menjadi penonton. Menonton kisah cinta mereka secara gratis.