Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Angin malam yang berembus melintasi jembatan kota seolah sengaja memiliki dendam pribadi, menusuk langsung hingga ke sumsum tulang. Namun bagi Alea, gadis yang baru saja menyelesaikan shift delapan jam di kafe dengan senyum yang membuat rahangnya nyaris kram, udara dingin hanyalah urusan nomor sekian.
Ada hal yang jauh lebih mendesak di kepalanya malam ini, ia menghitung lembaran uang tip lecek di saku jaketnya, jumlah yang nyaris tak cukup untuk sekedar bayar ongkos angkot ke sekolah besok pagi, apalagi untuk membeli koyo pereda nyeri otot punggungnya.
Langkah kakinya yang terseret pelan di atas aspal jembatan yang sepi mendadak terhenti. Deru air sungai di bawah sana terdengar ganas, menghantam bebatuan dengan pusaran yang mematikan. Namun bukan suara alam itu yang membuat napas Alea tercekat.
Tepat di luar pembatas beton, hanya berjarak satu inci dari kematian, sesosok pemuda berselubung mantel hitam pekat berdiri mematung. Tinggi, tegap, namun separuh tubuhnya sudah condong ke arah sungai. Pemuda itu tak bergerak sedikit pun, seolah patung malaikat maut yang sengaja dipahat di tepi jembatan.
Insting bertahan hidup Alea menyala. Lelahnya menguap seketika, digantikan adrenalin yang melonjak. Tanpa berpikir dua kali, ia menjatuhkan kantong bawaannya ke aspal, berlari sekuat tenaga menembus angin malam, dan mencengkeram erat ujung mantel yang dikembangkan angin.
"Heh! Turun nggak lo?!" teriaknya melengking, suaranya membelah keheningan malam.
Pemuda itu hanya menoleh sekilas. Tangannya tetap di dalam saku, menyembunyikan noda merah pekat yang sudah mengering sisa urusan berdarah klan yang dipimpinnya sepuluh menit lalu.
"Lo budek ya?! Buruan turun dari situ jir!" omel Alea sambil menarik mantelnya makin kencang.
Sang pemuda perlahan memutarkan wajahnya, seakan setiap gerakan dihitung dengan ketepatan mematikan. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, Alea bisa melihat jelas wajah itu: tulang rahang tegas, hidung bangir, kulit terlalu pucat.
Tapi yang membuat siapa pun seharusnya ciut adalah matanya yang setajam elang, sehitam obsidian, namun sekosong palung laut terdalam. Tak ada kehidupan di sana. Ia menatap Alea seolah gadis itu hanyalah embusan angin lalu.
Bagi orang lain, tatapan itu adalah sinyal bahaya untuk lari sejauh mungkin. Tapi bagi Alea, kepanikan justru membuat logikanya korsleting.
"Gue tau dunia ini emang kejam, apalagi buat rakyat jelata kayak gue," sergahnya ngegas, "Tapi lompat ke sungai malam-malam gini tuh ide paling tolol sedunia, tau gak sih?!"
Pemuda itu mengerjap sangat pelan, nyaris tak terlihat.
"Lo pikir mati itu gratis, hah?!" lanjut Alea makin berapi-api, jari-jarinya nyengkeram mantel itu makin brutal.
"Biaya makam sekarang naik seratus persen! Inflasi nggak cuma ngaruh ke harga beras, tapi juga ke kain kafan, keranda, dupa, sampe tanah kuburan! Lo tau nggak permeter aja sekarang harganya udah pakai kurs dolar! Lo mau bikin repot keluarga buat nyicil kuburan lo?!"
Keheningan yang tercipta itu tak menghentikan ocehan Alea sama sekali. Justru memberi napas baru untuk rentetan argumen yang lebih tak masuk akal.
"Lagian lo tau nggak, air sungai pas malam gini dinginnya gak ngotak?! Kalau lo kram terus tenggelamnya delay, apa gak nyiksa?! Abis itu lo mati gitu di sungai? Bikin polusi air aja, jir, apalagi gara-gara pomade lo itu. Udah mati bundir, eh malah bikin ikan keracunan masal pula, nyusahin tau nggak! Lo mau tanggung jawab?! Enggak, lah, kan lo udah mati! Mikir makanya, mumpung otak lo masih berfungsi!"
Sang pemuda yang nyatanya seorang penguasa dunia bawah tanah, membeku sesaat. Selama ini dia hidup di pusaran penyiksaan, pembunuhan, dan pengkhianatan. Dia cuma terbiasa ngadepin orang yang sujud mohon ampun atau ngumpat sebelum mati.
Baru malam ini, habis ngeksekusi pengkhianat klan, dia dapet ancaman paling membingungkan dari cewek bawel yang lebih peduli sama nasib ikan di sungai.
"Dan yang paling penting nih ya!" Alea nunjuk tepat ke depan hidung cowok itu, matanya melotot galak.
"Arwah penasaran itu nggak kedaftar di Dukcapil! Artinya lo gak bisa daftar ujian nasional! Nggak punya ijazah, gak punya KTP alam baka, lo mau ngelamar kerja jadi apa di sana?! Penunggu pohon beringin yang digaji pake kemenyan kiloan?!"
Pemuda itu menatap tajan jari telunjuk yang bergetar di depan hidungnya, lalu dengan perlahan tatapannya turun ke tangan mungil yang masih setia mencengkram mantelnya.
Sebenarnya, dari awal dia sama sekali gak niat lompat. Dia cuman lagi nikmatin sensasi berdiri di ambang batas, sampai Alea mendadak muncul dan ngacauin semuanya.
Pemuda itu mendekatkan wajahnya, jarak mereka sisa beberapa sentimeter. Alea otomatis nahan napas, saat nyium aroma mint campur bau logam tajam yang asing.
Lalu suara bariton yang tenang, dalam, dan serak terdengar pelan.
"Udah kelar ngomongnya?"
Jantung Alea serasa berhenti berdetak sesaat. Tapi defense mechanism-nya emang udah rusak dari pabriknya. Wajahnya merah nahan emosi, dia ngelepasin cengkeramannya dan ngibasin tangan di depan dada.
"Belum!" sahutnya nyaring, sengaja jinjit biar bisa nantang tatapan datar pemuda dihadapanya.
"Lo pikir gue playlist Spotify yang bisa di-pause sembarangan?! Gue lagi nyelamatin nyawa lo, jir! Harusnya lo tu ngucapin makasih, Nona cantik udah nyelamatin saya.' Bukannya nanya udah apa belum pakai muka datar kayak tembok Semen Tiga Roda gitu!"
Pemuda itu hanya bisa ngehela napas tipis, sama sekali gak niat debat. Matanya malah turun, ngelirik kantong cokelat yang tergeletak mengenaskan di atas aspal.
Alea ngikutin arah pandangnya, dan matanya langsung melotot horor. Dunianya runtuh detik itu juga. Dia buru-buru jongkok, mungut kantong itu dengan ekspresi paling tragis sedunia, seolah baru aja kehilangan harta karun kerajaan.
"Sumpah! Sempurna banget nasib gue!" gerutunya meratap, lalu berdiri lagi dan menatap pemuda itu dengan tajam.
"Sebagai kompensasi atas croissant keju gue yang gugur di medan perang ini, lo harus janji gak bakal lompat dari sini! Paling nggak tunda rencana bodoh lo itu sampe bulan depan, nunggu gue libur shift! Gue ogah banget jadi saksi mata terakhir orang bundir, apalagi kalau harus repot diinterogasi polisi! Waktu gue tuh terlalu berharga buat ngurusin cowok galau kurang kerjaan kayak lo! Paham?!"
Tanpa nunggu jawaban, Alea langsung balik badan dan jalan ngejauh, mulutnya masih komat-kamit ngedumel. Gak sadar sama sekali kalau dia baru aja munggungin salah satu eksekutor paling ditakuti di dunia bawah.
Di belakangnya, sang pewaris masih berdiri diam. Angin semakin kencang, mengacak-ngacak rambut gelapnya. Pelan-pelan dia mundur, balik ke trotoar yang aman.
Tangannya nyentuh gagang pistol di saku mantelnya, tapi matanya gak pernah lepas dari siluet mungil yang perlahan ditelan kabut malam.
Dan sesuatu berubah di wajahnya. Sudut bibir yang bertahun-tahun kekunci rapat oleh kebencian dan dendam, perlahan keangkat sedikit. Sebuah senyum tipis yang mematikan.
"Menarik," gumamnya pelan, suaranya lenyap ditelan deru angin dan arus sungai.
Bersambung...
🤗🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🤗
Assalamu'alaikum semua, ayo mampir di karya baru author semoga menghibur ya! jika suka jangan lupa support dan tinggalkan jejak kalian ya. Happy reading gaya!🤗😍
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂