"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Pasien semalam selamat.
Setelah dua belas jam pemantauan ketat, tekanan intrakranialnya turun. Keluarga pasien menangis di depan ruang ICU, bergantian mencium tangan Naira sampai ia harus menarik diri dengan halus.
"Terima kasih, Dok. Kalau bukan dokter..."
"Terima kasih kepada tim," kata Naira. "Saya tidak bekerja sendiri."
Dokter Bagus yang berdiri di sampingnya tersenyum kecil. Ia tahu kalimat itu bukan basa-basi. Naira tidak pernah suka menjadi pusat panggung terlalu lama. Ia akan masuk saat hidup seseorang dipertaruhkan, lalu keluar sebelum tepuk tangan selesai.
Tapi pagi itu, ia tidak bisa keluar cepat.
Di depan lift, Dimas menunggunya.
Rendi berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya tegang. Kali ini tidak ada Clara.
"Aku perlu bicara," kata Dimas.
Naira menatap jam di ponsel. "Lima menit."
"Di sini?"
"Aku tidak punya alasan pergi ke tempat tertutup denganmu."
Dimas menahan napas. "Aku tidak akan menyakitimu."
"Kamu sudah."
Kalimat itu tidak keras.
Justru karena tidak keras, Dimas kehabisan bantahan.
Dokter Bagus memberi isyarat akan pergi, tetapi Naira menggeleng. "Tidak perlu."
Ia ingin saksi.
Dimas melihat itu dan wajahnya berubah. "Kamu sampai perlu orang lain untuk bicara denganku?"
"Aku belajar dari lima tahun. Kalau tidak ada saksi, nanti yang salah tetap aku."
Rendi menunduk.
Dimas menatap lantai beberapa detik, lalu berkata, "Aku ingin meminta bantuanmu."
Naira tidak terkejut. "Untuk Bu Ratna?"
"Untuk Mama dan... untukku."
Ia terdengar malu mengucapkannya.
"Migrainku memburuk. Obat yang biasa kamu siapkan habis. Dokter sarafku minta riwayat racikan yang kamu pakai. Aku tidak bisa menjelaskan."
"Karena kamu tidak pernah bertanya."
"Iya." Dimas menatapnya. "Karena aku tidak pernah bertanya."
Pengakuan itu mungkin kemajuan kecil.
Tapi kemajuan tidak selalu berarti pintu terbuka.
Naira berkata, "Aku bisa kirim ringkasan obat ke dokter sarafmu. Setelah itu, tanggung jawabnya bukan padaku."
"Kamu tidak bisa menanganinya langsung?"
"Aku bisa."
Mata Dimas menyala sedikit.
"Tapi aku tidak mau."
Nyala itu padam.
"Naira..."
"Dimas, aku tidak menolak karena ingin balas dendam. Aku menolak karena kamu tidak lagi punya hak menuntut tenagaku sebagai sesuatu yang otomatis."
Dimas menggenggam kunci mobil. "Aku akan bayar."
Naira menatapnya lama.
Dulu, ia mungkin terluka mendengar Dimas menjadikan uang sebagai jawaban. Hari ini ia hanya merasa lelah.
"Beberapa hal tidak bisa kamu beli setelah kamu membuangnya."
Rendi bergerak gelisah. "Bu Naira, Pak Dimas benar-benar sakit. Kalau terjadi apa-apa..."
"Bawa ke IGD."
"Tapi Anda yang paling tahu kondisinya."
"Dan kalian baru menganggap itu penting setelah aku pergi."
Rendi diam.
Dimas menarik napas dalam. "Baik. Kalau kamu tidak mau untukku, setidaknya untuk Mama. Dia takut. Hasil pemeriksaannya..."
"Saya sudah kirim catatan medis Bu Ratna ke dokter penyakit dalam yang menangani. Dengan izin tertulis dari Bu Ratna, tentu saja. Semua sesuai prosedur."
Dokter Bagus melirik Naira dengan mata sedikit bangga.
Dimas menyadari sesuatu. Bahkan saat marah, Naira tidak membiarkan ibunya terlantar. Ia hanya menolak kembali menjadi perempuan yang bisa diperintah.
Rasa bersalah itu datang terlambat dan buruk.
"Terima kasih," katanya pelan.
Naira mengangguk singkat.
Percakapan seharusnya selesai.
Namun Dimas masih berdiri.
"Apa benar kamu Arkana?"
Dokter Bagus langsung menatap Dimas tajam.
Naira tidak bereaksi. "Siapa yang bilang?"
"Orang rumah sakit membicarakannya."
"Orang rumah sakit juga membicarakan banyak hal."
"Jawab aku."
"Kamu tidak sedang di posisi meminta jawaban seperti itu."
Dimas tersentak. Dulu ia sering berkata begitu kepada Naira. Saat ia menanyakan Clara. Saat ia menanyakan rapat malam. Saat ia menanyakan kenapa Dimas tidak pulang.
Sekarang kalimat itu kembali kepadanya.
Rasanya pahit.
Pintu lift terbuka.
Raka keluar dari dalam.
Hanif di belakangnya membawa map. Kehadiran Raka membuat lorong berubah. Beberapa staf rumah sakit langsung memberi jalan tanpa diminta. Bukan karena ia berteriak. Justru karena ia tidak perlu.
Dimas menegang.
"Kamu lagi," katanya.
Raka menatapnya sebentar, lalu mengabaikan.
Ia menyerahkan map kepada Naira. "Dokumen dari komite etik lama. Ada nama Cakradinata di halaman tujuh."
Naira langsung mengambil map. Matanya berubah fokus.
"Dari mana kamu dapat ini?"
"Tempat yang tidak akan kamu suka kalau aku jelaskan di lorong rumah sakit."
"Raka."
Nada itu peringatan.
Raka mengangkat kedua tangan sedikit. "Legal. Untuk kali ini."
Dokter Bagus mendengar nama Cakradinata dan wajahnya memucat. "Keluarga Cakradinata?"
Naira membuka halaman tujuh.
Di sana ada notulen rapat komite etik sebelas tahun lalu. Nama Dr. Sari Anggraini tercatat sebagai pihak yang menolak uji klinik tertentu. Di bawahnya, ada nama perusahaan sponsor: Cakradinata Farma.
Naira merasakan dadanya mengetat.
Ini bukan sekadar skandal akademik.
Ini jejak.
Dimas melihat wajah Naira dan tanpa sadar bertanya, "Ada apa?"
Naira menutup map.
"Bukan urusanmu."
"Naira, kalau ini berhubungan dengan ibumu..."
Raka menoleh.
Tatapan dinginnya langsung menahan Dimas.
"Dia bilang bukan urusanmu."
Dimas melangkah maju. "Dan kamu siapa sampai bicara untuknya?"
Raka tersenyum tipis.
Udara lorong berubah berbahaya.
Naira memotong sebelum keduanya saling menabrak ego. "Tidak ada yang bicara untukku."
Raka langsung diam.
Dimas melihat itu.
Satu kalimat Naira membuat pria seperti Raka berhenti.
Dulu, satu kalimat Naira tidak pernah cukup membuat Dimas membela dirinya.
Perbandingan itu menghantamnya diam-diam.
Naira menatap Raka. "Terima kasih untuk dokumennya. Setelah ini jangan ambil arsip tanpa koordinasi denganku."
"Baik."
Jawaban Raka terlalu cepat.
Hanif menunduk menyembunyikan ekspresi.
Dimas hampir tidak percaya pria itu menurut begitu saja.
Naira lalu menatap Dimas. "Aku akan kirim catatan obatmu lewat Maya. Setelah itu, hubungi doktermu, bukan aku."
"Kita belum selesai."
"Kita sudah selesai sejak kamu memilih tidak datang."
Ia berjalan menuju lift.
Raka tidak menyentuhnya, hanya menekan tombol dan berdiri di samping pintu agar tidak ada orang lain masuk terlalu dekat. Naira menyadarinya, tapi tidak berkata apa-apa.
Saat pintu lift hampir tertutup, Dimas berkata, "Aku tidak tahu kamu punya hidup sebesar ini."
Naira menatapnya dari celah pintu.
"Aku tahu."
Pintu tertutup.
Dimas berdiri di lorong.
Untuk pertama kali, ia mengerti bahwa ketidaktahuannya bukan alasan.
Itu bukti.
Rendi mendekat pelan. "Pak, kita jadi ke kantor?"
Dimas tidak langsung menjawab. Ia masih menatap pintu lift yang sudah tertutup.
"Rendi."
"Ya, Pak?"
"Selama ini, kamu pernah melihat Naira masuk laboratorium?"
Rendi tampak bingung. "Laboratorium?"
"Di rumah."
"Rumah kita punya laboratorium, Pak?"
Dimas menoleh. Jawaban itu seharusnya membuatnya lega. Kalau Rendi saja tidak tahu, berarti Naira memang menyembunyikan semuanya dengan sangat rapi.
Tapi rasa lega tidak datang.
Yang datang justru malu.
Ia suaminya. Dan ia sama tidak tahunya dengan pegawai.
Di dalam lift, Naira membuka map dari Raka lagi. Nama Cakradinata Farma tampak tajam di halaman tujuh. Ia memotret halaman itu dan mengirimkannya kepada Maya.
Raka berdiri di samping, diam.
"Kamu tidak bertanya?" kata Naira.
"Aku menunggu kamu memilih bagian mana yang boleh kutahu."
Naira menatapnya sekilas. Jawaban itu terdengar hampir benar. Dan karena itu, ia lebih berbahaya.
Lift berhenti di lantai dasar.
Sebelum pintu terbuka, Raka berkata, "Aku tidak akan memintamu percaya padaku sekarang."
"Bagus. Aku memang tidak berencana."
"Tapi kalau Cakradinata bergerak, kabari aku."
"Aku punya ayah, pengacara, dan polisi."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Raka menatap angka lantai yang turun. "Kadang orang-orang legal datang setelah darah tumpah."
Naira menoleh. "Dan kamu datang sebelum?"
"Aku berusaha."
Pintu lift terbuka. Naira keluar lebih dulu.
Ia tidak menjawab, tetapi untuk pertama kali ia tidak menyuruh Raka pergi.
Di luar gedung, mobil Raka dan mobil Naira menunggu berdampingan. Hanif membuka pintu belakang untuk Raka, tetapi Raka tidak langsung masuk. Ia menunggu sampai Naira duduk di mobilnya sendiri.
"Pak?" Hanif memanggil.
Raka melihat mobil Naira bergerak lebih dulu. "Ikuti dari jarak jauh."
"Dokter bisa marah."
"Aku tahu."
"Tetap diikuti?"
"Dari jarak yang membuat dia tidak perlu melihatku."
Hanif mengangguk tanpa komentar lagi.
kadang harus skip baca dulu krn gk kuat/takut mungkin hehe