Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-hari di Studio Arsitek
Suara ketukan jemari di atas papan ketik dan derit halus penggaris siku yang bergeser di atas kertas kalkir mengisi keheningan studio arsitektur milik Mas Danang di daerah Sleman. Bangunan berkonsep industrial dua lantai itu beraroma khas, perpaduan uap kopi hitam, kertas cetakan cetak biru, dan debu kayu dari maket-maket bangunan yang berderet di rak.
Di sudut meja kerja terbelakang, Vino duduk tegak menatap layar monitor komputer yang memantulkan garis-garis rumit rancangan denah rumah tinggal.
Ini adalah minggu pertamanya bekerja sebagai drafter junior. Bagi seorang pemuda yang biasanya memegang sodet dan wajan di dapur kedai, beradaptasi dengan skala milimeter, ketebalan garis teknik, serta perintah-perintah rumit pada perangkat lunak arsitektur adalah ujian yang menguras fisik dan mental.
"Vino, garis potong A-A di potongan fondasi ini kurang tebal. Notasi bahan dindingnya juga masih tertukar," tegur Mas Danang seraya berdiri di belakang kursi Vino, menunjuk layar dengan ujung penanya.
"Baik, Mas. Segera saya perbaiki," sahut Vino cepat, tanpa ada nada membela diri.
Beberapa staf senior berijazah S1 yang duduk di meja depan sempat bertukar pandang kaku. Mereka tahu Vino hanya lulusan SMA tanpa latar belakang pendidikan tinggi arsitektur, dan sempat mempertanyakan alasan Mas Danang membawa pemuda itu langsung dari Surabaya. Namun, dalam lima hari terakhir, prasangka itu perlahan luruh. Vino adalah orang pertama yang datang membuka studio di pagi hari dan orang terakhir yang mematikan lampu saat larut malam demi mempelajari dasar-dasar teknik arsitektur secara otodidak.
Vino tahu betul posisi dirinya. Di kota pelajar ini, ia tidak punya kemewahan untuk bersikap manja. Setiap garis yang ia tarik di atas layar adalah batu bata pertama yang sedang ia susun untuk membangun harkat dan harga dirinya dari nol.
Sore harinya, Vino diutus oleh Mas Danang untuk mengantar berkas dokumen pengukuran tapak ke sebuah kantor proyek kecil yang berlokasi di dekat kompleks Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Udara Jogja yang teduh mengiringi langkah kakinya yang mantap. Vino mengenakan kemeja kain gelap yang rapi, gulungan kertas kalkir terikat rapi di dalam tabung gambar yang tersampir di bahunya.
Usai menyerahkan berkas di kantor proyek, Vino melangkah menyusuri trotoar di area lingkar kampus yang rindang oleh pohon-pohon angsana. Langkahnya mendadak terhenti saat seorang mahasiswi yang mengenakan jas laboratorium putih melangkah keluar dari gerbang gedung praktikum, berjalan lurus ke arahnya seraya merapikan tumpukan buku tebal di dekapan tangannya.
Vino terpaku di tempatnya. Matanya membelalak lebar. "Yunita?" bisik Vino, keterkejutan menjalar hebat di dadanya.
Berbeda dengan Vino yang terperanjat, Yunita justru menghentikan langkahnya dengan tenang. Sebuah senyuman hangat dan anggun terukir di wajah gadis itu, senyuman dari seseorang yang memang telah mengetahui bahwa takdir akan mempertemukan mereka di kota ini.
"Hai, Vin," sapa Yunita renyah, seolah-olah pertemuan di tepi trotoar kampus ini adalah hal paling alami di dunia. "Lagi ada tugas lapangan dari studiomu?"
Vino mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba menguasai kembali keterkejutannya. "Kamu... kamu kuliah di sini? Di Kedokteran UGM?"
Yunita terkekeh pelan melihat ekspresi polos kawan lamanya itu. "Iya, Vin. Aku baru masuk semester ini. Aku sudah tahu kamu ada di Jogja dari Pak Wijaya waktu aku pamitan di Surabaya kemarin. Cuma kamu aja yang nggak tahu kalau aku kuliah di sini."
Vino menghela napas panjang, lalu terkekeh canggung seraya menggaruk tengkuknya. "Aku beneran nggak tahu, Yun. Aku pikir kamu kuliah di Surabaya atau Jakarta."
"Jogja itu tidak seluas yang kamu bayangkan, Vin," sahut Yunita lembut. Matanya memperhatikan penampilan Vino dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada lagi sisa-sisa pemuda kedai yang serba canggung. Vino di depannya kini berdiri tegap, memancarkan keseriusan dan ketenangan seorang calon profesional. "Kamu kelihatan beda banget. Lebih matang."
"Lingkungan yang memaksa aku harus cepat dewasa, Yun," balos Vino dengan nada jujur namun rendah hati. "Kamu sendiri gimana? Kuliah kedokteran pasti berat banget, kan?"
"Berat, tapi menyenangkan," jawab Yunita seraya mengibaskan sedikit rambutnya yang tertiup angin sore. "Sama seperti kamu yang lagi memperjuangkan impianmu di studio arsitektur, aku juga lagi berjuang di sini."
Keduanya melangkah perlahan menyusuri trotoar, menyelaraskan tempo jalan di bawah naungan dedaunan hijau. Tidak ada lagi ketegangan masa lalu, tidak ada lagi topik tentang penolakan atau luka hati. Di antara mereka, kini terbentang rasa saling menghormati yang amat mendalam antar dua insan yang sama-sama sedang menata masa depan.
"Mbak Vita... tahu kamu kuliah di sini?" tanya Vino pelan, menyebut nama itu dengan sangat natural tanpa getar emosi yang berlebihan.
Yunita menoleh tipis. "Mbak Vita tahu. Tapi dia nggak tahu kalau kita berdua berada di kota yang sama." Yunita jeda sejenak, menatap Vino lurus-lurus. "Mbak Vita masih di Surabaya, sibuk sama butiknya. Tapi... suasananya beda sejak kamu pergi, Vin."
Vino tidak mengejar penjelasan itu lebih jauh. Ia hanya mengangguk paham, lalu mengulas senyum tipis yang matang. "Setiap orang punya jalannya masing-masing, Yun. Tugas kita sekarang cuma memastikan kalau jalan yang kita pilih ini nggak sia-sia."
Yunita menatap sahabatnya itu dengan rasa bangga yang membuncah. Ia menyadari bahwa perasaan cintanya yang dulu sempat bertepuk sebelah tangan kini telah bertransformasi menjadi rasa kagum yang murni. Hati Vino mungkin masih tertambat pada kakaknya di Surabaya, namun pemuda itu kini tidak lagi meratapi nasib; ia sedang menempa dirinya menjadi pria sejati.
"Nanti kalau kamu ada waktu luang, kabari aku ya, Vin," ujar Yunita saat mereka sampai di persimpangan jalan menuju asramanya. Ia mengeluarkan ponselnya. "Tukar nomor telepon barumu. Biar kalau aku butuh bantuan desain tempat praktekku masa depan, aku tahu arsitek mana yang harus aku hubungi."
Vino tertawa halus, tawa renyah yang sudah lama tidak terdengar. Ia menyebutkan digit nomor barunya pada Yunita.
"Siap, Dokter Yunita. Nanti saya kasih harga teman," seloroh Vino.
Mereka berdua berpisah di persimpangan jalan sore itu. Vino berdiri sejenak, memperhatikan Yunita yang melangkah menjauh menuju kompleks asrama kedokteran.
Matahari sore Yogyakarta perlahan tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga yang hangat di langit. Vino merapikan tali tabung gambarnya di bahu, lalu memutar tubuhnya melangkah kembali menuju studio. Rasa canggung dan keterkejutan sore itu telah berganti menjadi tambahan energi yang baru. Di kota pelajar ini, roda takdirnya telah resmi berputar, dan Vino siap melangkah makin jauh tanpa ragu.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍