Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Ayah, besok sekolah mengadakan kegiatan berkemah... bolehkah aku ikut, Ayah?" Keyna memandang ayahnya dengan wajah penuh permohonan.
"Tidak bisa. Bagaimana jika kesehatanmu terganggu?" jawab Bara tegas. Sebenarnya ia tak ingin bersikap demikian, namun berkas-berkas penting yang tertinggal mengharuskannya turun tangan sendiri.
"Tapi Ayah... aku belum pernah ikut kegiatan seperti itu. Sekali saja, kumohon," Keyna tak menyerah, kembali memohon kepada ayahnya.
"Izinkan saja, Ayah. Keyna hanya ikut sekali," turut membujuk Gina.
"Bagaimana jika ia jatuh sakit? Siapa yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi?" tanya Bara dingin.
"Aku janji akan baik-baik saja, Ayah. Kalau ayah khawatir, biarkan Keira yang menjagaku," ucap Segar.
"Aku tak yakin dia mampu menjaganmu," Bara masih ragu.
"Ayah, percayalah padaku... bolehkan, Ayah?"
Akhirnya Bara pun luluh. "Baiklah... jika begitu. Namun ingat, segera hubungi Ayah jika ada sesuatu yang terjadi, paham?" ucapnya melembut.
"Baik, Ayah! Terima kasih banyak!" Keyna tersenyum bahagia.
"Kau ini sungguh membuat hati gemas," Bara mengelus kepala putrinya dengan senyum yang tak mampu ia sembunyikan.
"Jagalah kesehatanmu, Adikku. Jika ada apa-apa, segera hubungi Kak Arya atau Kak Segar, paham?" Segar memeluk adiknya dengan erat. Ada rasa tak tenang menyelimuti hatinya membayangkan adiknya harus pergi jauh dari pengawasan keluarga.
"Siap, Kakak!" Keyna tersenyum riang.
"Segala keperluan sudah Ibu siapkan di dalam tas, termasuk obat-obatan. Jika merasa kurang sehat, segera minum. Ibu juga telah menyelipkan selimut tebal, jangan lupa dipakai ya," pesan Gina dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Ibu..." Keyna tampak tak sabar ingin segera berangkat. "Mengapa lambat sekali? Nanti aku tertinggal! Jangan rindu aku ya... apalagi merindukanku hingga tak tenang, seperti kata Dilan," ucapnya sambil berlari kecil menuju mobil, tak lupa melambaikan tangan kepada mereka semua.
"Adikku... jangan berlari-lari," seru Arya melihat tingkah adiknya yang riang.
"Jagalah dirimu baik-baik. Ini yang terakhir kalinya aku memaklumi, jangan sampai terulang lagi," pesan Bara kepada Keyna. Sementara itu, Keira berdiri diam memandang semuanya dari kejauhan.
"Ayah... bolehkah aku memelukmu?" Keira melangkah mendekat dengan penuh harap. Ia berharap jika ayahnya tak mengizinkan, setidaknya ibunya akan memeluknya. Namun tak ada satu pun yang menyambutnya.
"Tidak," jawab Bara singkat.
"Ayah.."
Belum sempat Keira menyelesaikan kata-katanya, Keyna memotong.
"Keira, ayo naik ke mobil! Nanti kita tertinggal!" panggil Keyna, hanya menyisakan wajahnya dari jendela mobil.
Keira pun menurut. Hatinya terasa sepi dan berat. Tak satu pun dari keluarganya menoleh kepadanya, meski ia berharap sekadar diingatkan untuk berhati-hati. Namun harapan itu pun kandas.
***
Malam pun tiba. Bulan perlahan muncul, didampingi bintang-bintang yang bersinar lemah di angkasa. Di tempat perkemahan, suasana terasa jauh lebih hidup.
Cahaya api unggun menyala, memancarkan kehangatan dan mengumpulkan mereka dalam lingkaran yang hangat.
"Anak-anakku, mari Kakak jelaskan aturan permainan yang akan kita mainkan bersama!" ucap pembina yang memimpin kegiatan itu dengan ramah.
"Kita akan menyanyikan sebuah lagu. Jika Kakak berhenti bernyanyi, kalian pun harus berhenti bersamaan. Siapa yang masih memegang balon saat lagu berhenti, dialah yang akan maju ke depan dan bercerita!"
"Baik, mari kita mulai!"
Suara lagu pun terdengar memenuhi tempat itu. Balon berpindah dari tangan ke tangan dengan cepat. Keyna pun ikut bernyanyi dengan riang, begitu pula Keira yang berdiri tak jauh dari sana.
Lagu berhenti seketika. Balon itu kini berada di tangan seorang gadis dengan wajah yang tampak manis dan lembut.
"Siapa namamu, Nak? Dari kelas berapa?" tanya pembina kepada gadis itu.
"Nama saya Naisa, dari kelas IPA Satu," jawab gadis itu sopan.
"Baiklah Naisa, ceritakanlah pengalamanmu yang paling membuatmu merasa malu," pinta pembina.
Naisa pun mulai bercerita dengan tenang. "Pengalaman yang paling membuatku merasa malu adalah saat aku menunggu jemputan di depan gerbang sekolah bersama temanku. Di sana terlihat seorang anak kecil yang tertidur di atas sepeda motor. Kepalanya terkulai ke samping, seolah setiap saat akan jatuh. Karena tak ada yang menjaganya, aku dan temanku pun berusaha menopang kepala anak itu agar tak jatuh. Namun tiba-tiba anak itu terbangun dan menangis keras. Aku merasa sangat malu saat banyak orang menoleh kepada kami, padahal niatku tulus ingin menolong. Aku pun bingung harus berbuat apa, lalu berpura-pura tak tahu apa-apa. Tak lama kemudian ibunya datang. Untungnya ia tak marah kepada kami..."
"Terima kasih, Naisa. Kebajikan hatimu patut kita teladan. Sekarang mari kita lanjutkan," ucap pembina memuji gadis itu.
Permainan pun berlanjut. Waktu berlalu, dan kini balon itu berhenti tepat di tangan Keyna.
"Siapa namamu? Dari kelas berapa?" tanya pembina sambil tersenyum.
"Nama saya Keyna. Izinkan saya bercerita tentang ibuku kepada semua orang," ucap Keyna dengan mata yang berbinar penuh kagum.
"Ibuku bernama Gina. Bagiku, beliau adalah orang yang paling mulia di dunia. Jika tidak ada beliau, mungkin aku tak akan berdiri di sini saat ini. Tak ada kata terima kasih yang cukup untuk membalas segala pengorbanan yang beliau berikan kepadaku. Aku sangat menyayangi Ibu dan Ayah. Kelak jika aku telah dewasa dan berdiri sendiri, aku berjanji akan selalu mengutamakan Ibu dalam segala hal."
Suasana pun terdiam sejenak, terharu mendengar ucapan tulus itu.
"Terima kasih, Keyna. Silakan duduk kembali," ucap pembina lembut. "Kini giliran yang terakhir... yang duduk di sebelahmu itu tampak begitu pendiam. Siapa namamu, Nak?"
Pembina pun menatap gadis yang duduk tak jauh dari Keyna.
"Nama saya Keira," jawabnya singkat. Ia tak menyebutkan kelasnya.
"Baiklah, Keira. Ceritakanlah kepada kami seperti apa keluargamu menurut pandanganmu," pinta pembina dengan lembut.
Keira terdiam sejenak, lalu menjawab lurus dari hatinya. "Tak ada yang dapat kuceritakan."
Suasana yang semula hangat pun seketika menjadi hening dan canggung.
"Maksudmu tak ada apa-apa yang bisa kau ceritakan?" tanya pembina masih tak paham.
"Memang tak ada hal yang patut diceritakan tentang mereka," jawab Keira dengan jujur. Keyna yang duduk di sampingnya pun tertegun mendengar jawaban itu.
"Benarkah... seolah-olah kau tak memiliki orang tua sama sekali?" terdengar suara seseorang memecah keheningan. Tawa pun terdengar di sana-sini.
"Ia ingin bercerita tentang keluarganya, namun tak punya orang tua yang layak dibanggakan," sindir yang lain.
"Orang tuanya entah berada di mana..." bisik mereka saling melempar pandang.
Keira hanya menunduk diam, membiarkan kata-kata itu menghujam hatinya tanpa berusaha membela diri.