Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHEBOHAN BOCAH SMA MEMBUKA GERBANG SIMPATI
Pukul empat sore, matahari kota mulai condong ke barat. Semburat jingga terpancar di atas atap bengkel showroom lama tempatku bekerja dulu.
Di saat para montir sedang sibuk mengelap sisa-sisa pekerjaan hari itu, suara deru mesin mobil sport merah yang teramat akrab mendadak memecah keheningan.
Ckiitt!
Mobil mewah itu terparkir sedikit melenceng di depan lobi, menunjukkan betapa terburu-burunya sang pengemudi. Pintu mobil terbuka.
Maikel keluar dari sana dengan seragam putih-abu-abu yang untungnya kali ini terpasang rapi, bukti bahwa dia benar-benar menuruti syaratku untuk masuk sekolah. Wajahnya tampak luar biasa cerah, dipenuhi semangat yang menggebu-gebu.
Sambil menyampirkan tas ransel di sebelah bahu, matanya langsung celingukan menyusuri setiap kolong mobil.
"Kak Jemaaa. Gue udah pulang sekolah nih. Lihat, baju gue rapi, kan?!" teriaknya lantang tanpa urat malu. Beberapa pelanggan yang sedang menunggu servis langsung menoleh heran.
Namun, yang menyambut kedatangannya bukanlah sosok wanita berbaju montir kedodoran yang biasa ia usili. Bang Ferdi lah yang muncul dari balik mesin kompresor.
Beliau berjalan santai dengan kain majun tersampir di bahu, lengkap dengan senyum ramah bercampur jail khas bapak-bapak kompleks.
"Waduh, nyari siapa nih, Bocah? Datang-datang langsung teriak kayak di lapangan bola aja," tegur Bang Ferdi sengaja memancing, sembari bersedekap dada.
Maikel langsung menghampiri Bang Ferdi dengan langkah lebar.
"Eh, Bang Ferdi. Kak Jema mana, Bang? Di kolong mobil mana dia? Biasanya jam segini lagi sibuk megang kunci pas, kan?"
Bang Ferdi terkekeh geli melihat binar cemas sekaligus antusias di mata remaja itu. Beliau melambaikan tangannya enteng.
"Wah, telat lu, Bocah. Lu cari Jema? Dia udah enggak kerja di sini lagi mulai hari ini."
"Hah?! Enggak kerja di sini?!" Mata Maikel langsung membelalak kaget. Mulutnya sampai sedikit menganga. Wajah cerianya luntur seketika, digantikan oleh raut panik bercampur sedih yang teramat ketara.
"Bang, jangan bercanda deh. Kemarin kan dia masih kerja. Apa dia dipecat gara-gara gue ajak bolos waktu itu? Atau gara-gara Pak Danu?!"
"Hahaha! Kagak, sembarangan aja lu kalau ngomong!" Bang Ferdi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Maikel yang seperti orang kehilangan dompet.
Beliau menepuk bahu Maikel dengan keras sampai bocah itu sedikit terdorong.
"Adik gue si Jema itu pinter, Bocah. Dia udah dapet kerjaan yang jauh lebih bagus di perusahaan manufaktur otomotif besar di pusat kota. Sesuai sama ijazah sarjananya. Ya... istilahnya, dia udah naik kasta, enggak belepotan oli bareng kami lagi di sini."
Mendengar penjelasan itu, bahu Maikel langsung merosot lemas. Dia menunduk menatap sepasang sepatu ketsnya dengan gurat kecewa yang mendalam.
"Yah... kok dia enggak bilang-bilang sih sama gue? Padahal gue udah bela-belain masuk sekolah dengan rajin demi dia..." gumamnya lirih, terdengar sangat patah hati.
Melihat wajah Maikel yang mendadak melow seperti kerupuk tersiram kuah soto, jiwa jahil sekaligus perhatian Bang Ferdi langsung bangkit.
Beliau sudah tahu betul kalau bocah SMA ini setengah mati menyukai Jema. Maka, beliau memutuskan untuk menghiburnya.
"Eits, santai dong, Bos Muda. Muka jangan ditekuk begitu, ngeri gue lihatnya. Ntar gantengnya ilang," goda Bang Ferdi sambil menyenggol lengan Maikel.
"Daripada lu sedih meratapi nasib di sini, mending ikut gue makan bakso di depan kompleks yuk? Gue yang traktir deh, tapi lu yang bayar parkirnya, gimana?"
Maikel mendengus, namun sudut bibirnya sedikit terangkat mendengar lelucon garing itu.
"Ah, Abang mah bisa aja. Gue lagi patah hati nih, Bang. Masa ditawarin bakso."
"Yaelah, patah hati kok sama Jema. Jema mah orangnya keras kayak baja, musti digedor terus pakai cara halus," ujar Bang Ferdi penuh gaya seolah-olah dia adalah pakar cinta nomor satu.
Beliau kemudian meraba kantong celananya, mengeluarkan ponselnya sendiri.
"Nih, karena gue tahu lu anak baik yang udah bantu biaya rumah sakit ibunya Jema... gue kasih sesuatu yang berharga banget buat masa depan lu."
"Apaan, Bang?" tanya Maikel bingung.
"Gue kasih nomor WhatsApp pribadinya Jema. Mau kagak? Tapi awas ya, jangan lu teror malam-malam, ntar gue yang diamuk sama dia," bisik Bang Ferdi misterius, sembari menunjukkan layar ponselnya.
Mata Maikel yang tadinya redup langsung berbinar cerah seketika, persis seperti lampu sen mobil baru.
"Wah! Beneran, Bang?! Mau bangetlah. Sini-sini, gue catet!" serunya kegirangan. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel mahalnya dengan tangan yang sedikit gemetar karena saking senangnya.
Setelah berhasil menyalin nomor kontakku, Maikel berkali-kali membungkuk hormat kepada Bang Ferdi dengan wajah benderang.
"Bang Ferdi. Sumpah, Abang adalah montir paling keren dan paling baik se-Indonesia raya. Makasih banyak ya, Bang!"
Saking bahagianya, Maikel merogoh dompet kulitnya, menarik dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah, lalu menyodorkannya ke tangan Bang Ferdi dengan paksa.
"Nih, Bang. Buat uang rokok atau jajan bakso Abang di sini. Anggap aja uang jasa perantara cinta!"
Bang Ferdi tersentak, buru-buru memundurkan tangannya menolak uang tersebut.
"Eh, eh. Apa-apaan nih? Kagak usah, Bocah. Gue ngasih ikhlas, bukan karena pengen duit lu. Ambil lagi, ambil!"
Maikel justru tertawa jail, mengedipkan sebelah matanya menirukan gaya liar yang biasa ia pamerkan padaku. Dengan gerakan cepat, dia langsung menyelipkan dua lembar uang seratus ribuan itu ke dalam saku baju montir Bang Ferdi yang agak longgar.
"Udah, ambil aja, Bang. Jangan sok nolak deh, ntar rokoknya habis nangis lagi!"
"Hahaha. Sialan lu ya, berani-beraninya ngerjain yang lebih tua!" Bang Ferdi akhirnya pasrah dan tertawa renyah, menepuk saku bajunya yang kini berisi uang dari Maikel.
"Ya udah, gue terima nih ya buat modal beli kopi item. Makasih, Bos Muda!"
"Sama-sama, Bang. Gue cabut dulu ya, mau langsung kirim pesan ke montir kesayangan gue!" teriak Maikel sembari berlari kencang kembali ke mobil sport-nya, melambaikan tangan dengan penuh kemenangan.
Bang Ferdi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib anak muda itu.
"Dasar bocah gila... tapi seru juga nih kalau beneran jadi sama Jema," gumam beliau sembari tersenyum lebar, kembali melangkah menuju meja kerjanya dengan hati gembira.
Malam harinya, setelah melewati hari pertama yang melelahkan namun memuaskan di workshop baru, aku duduk di samping ranjang Ibu. Kondisi Ibu sudah jauh lebih stabil, dan kami sempat mengobrol ringan sebelum beliau tertidur lelap.
Saat aku sedang merapikan selimut Ibu, ponsel di atas meja nakas tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nomor tidak dikenal yang mengirimkan pesan melalui aplikasi WhatsApp. Karena penasaran, aku langsung membukanya.
Aku mengernyitkan dahi. Jantungku berdesir aneh. Gaya ketikan tanpa urat malu seperti ini hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini.
"P" tulis nomor tidak dikenal itu.
"P"
"Sombong banget ya sekarang, udah jadi anak kantoran langsung lupa sama pelanggan setianya. Untung intel gue di bengkel lama sangat terpercaya 😎"
Aku segera mengetik balasan,
"Maikel? Kamu dapat nomor HP-ku dari mana?!"
Pesan langsung dibalas dalam hitungan detik. Tampaknya bocah itu memang sedang mendekam di depan layar ponselnya.
"Hahaha... Akhirnya dibalas juga sama Montir Kesayangan Gue. Rahasia dong, intinya intel gue itu sangat menyukai uang rokok dua ratus ribu. Makanya jangan macem-macem sama kuasa seorang Maikel Sebastian Bach."
Aku memutar bola mata malas, namun tak bisa menahan senyum tipis yang mendadak terbit di bibirku.
Dasar Bang Ferdi pengkhianat, rutukku dalam hati. Aku langsung tahu siapa 'intel' yang dimaksud bocah gila ini. Uang rokok dua ratus ribu dari Maikel pasti langsung membuat iman Bang Ferdi runtuh seketika di bengkel tadi sore.
"Bang Ferdi benar-benar ya, awas aja besok kalau aku mampir kesana. Terus ngapain kamu chat malam-malam begini? Gak belajar? Katanya mau perbaiki nilai merah," balasku panjang lebar.
"Idih, perhatian banget nanyain gue belajar apa kagak. Tenang aja, Kak. Gue udah buka buku matematika tadi, tapi baru liat angka satu sama dua langsung pusing, makanya gue chat lu aja biar pusingnya ilang 😝"
"Alasan terus. Kalau nilai kamu gak berubah biru, jangan harap aku mau maafin kamu ya."
"Siap, Bos. Demi jalan-jalan bareng Kak Jema, jangankan rumus matematika, rumus kehidupan juga bakal gue pelajarin. Oh iya, selamat ya buat kerjaan barunya di perusahaan manufaktur otomotif besar itu. Keren banget sih lu, Kak."
Aku tertegun menatap layar ponsel. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam dadaku membaca pujian tulusnya, meski dibalut dengan gaya bercanda yang menyebalkan.
"Iya, makasih. Sudah ya, aku mau istirahat. Kamu juga buruan tidur, besok sekolah jangan telat lagi," ketikku menyudahi obrolan.
"Oke, Kak Jema. Selamat tidur, mimpiin gue ya! Jangan mimpiin mesin mobil terus! 🏎️💨
Aku tidak membalas lagi pesan terakhirnya, hanya meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja dengan perasaan yang campur aduk. Hidupku yang semula hanya berisi kekhawatiran tentang uang dan penyakit Ibu, kini mendadak terasa sedikit lebih berwarna, atau mungkin lebih berisik karena kehadiran remaja keras kepala itu.
Namun, satu hal yang masih kurahasiakan rapat-rapat darinya adalah nama perusahaan tempatku bekerja sekarang. Aku sengaja tidak menyebutkan nama PT Purna Jaya Otomotif Bach kepadanya karena aku takut bocah itu akan kembali nekat menyusulku ke tempat kerja dan membuat kehebohan.
Author Note's
Hai, semuanya!
Terima kasih banyak sudah membaca Bab 10 ini! 🫶
Akhirnya Jema resmi pindah kerja, tapi dia masih merahasiakan nama perusahaannya dari Maikel.
Kira-kira apa yang bakal terjadi kalau Maikel tahu Jema kerja di PT Purna Jaya Otomotif Bach? Pasti bakal heboh banget, kan? 😂
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komentar kalian ya!
Pendapat kalian sangat berarti buat kelanjutan cerita ini. Sampai jumpa di bab berikutnya! 🏎️💨