Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi bagian dari keluarga Narendra, Serina dan Farel menikmati sarapan bersama di ruang makan utama Mansion Narendra. Ruangan luas dengan interior klasik bernuansa putih dan emas itu tampak begitu elegan. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi, menerangi meja makan panjang yang telah dipenuhi berbagai hidangan lezat.

Serina duduk berdampingan dengan Jovan, sementara Farel berada di sisi pria itu. Di seberang mereka, Tuan Marcell dan Nyonya Marcella telah lebih dahulu duduk. Tak lama kemudian, Darren pun muncul dengan pakaian santai yang tetap terlihat rapi.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Darren sembari menarik kursi dan duduk di tempatnya.

"Selamat pagi, Om Darren!" seru Farel dengan wajah ceria.

Darren tersenyum tipis. "Wah, Farel sudah bangun pagi rupanya. Tidurnya nyenyak?"

"Nyenyak, Om Darren! Kamar Farel besar sekali. Ada banyak mainan, terus tempat tidurnya juga seperti mobil balap!" jawab bocah itu penuh semangat.

"Baguslah kalau kamu suka," balas Darren, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Serina. "Bagaimana denganmu, Serina? Apa kamu bisa tidur dengan nyaman?"

Serina tersenyum sopan. "Bisa, Kak. Terima kasih. Kamar yang disiapkan untuk kami sangat nyaman."

"Syukurlah. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, jangan sungkan untuk mengatakannya."

"Baik, Kak Darren."

Percakapan sederhana itu berlangsung di tengah suasana pagi yang hangat. Namun, bagi Darren, duduk di meja makan yang sama dengan Serina dan Jovan bukanlah perkara mudah. Terlebih ketika pandangannya tanpa sengaja tertuju pada pasangan pengantin baru yang duduk berhadapan dengannya.

Jovan tengah menuangkan susu hangat ke dalam gelas Farel, sementara Serina sibuk menyiapkan beberapa potong roti untuk putranya. Sesekali, keduanya saling bertukar pandang. Ada senyum kecil yang muncul di wajah Jovan setiap kali Serina berbicara, dan ada rona merah yang menghiasi pipi wanita itu ketika menyadari suaminya sedang memperhatikannya.

Darren terdiam.

Ia mengenal tatapan itu.

Tatapan yang sama yang selama ini diam-diam ia simpan untuk Serina. Tatapan penuh perhatian, kelembutan, dan keinginan untuk selalu berada di dekat wanita yang dicintai. Namun, kini tatapan tersebut justru menjadi milik adiknya sendiri.

Darren menunduk, berpura-pura sibuk mengaduk kopi di dalam cangkirnya. Akan tetapi, dari sudut matanya, ia masih dapat melihat Jovan yang sesekali tersenyum kepada Serina.

"Apakah Serina juga menyukai Jovan?"

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya, menusuk bagian terdalam hatinya.

"Sadarlah, Darren! Serina sekarang adalah adik iparmu. Dia sudah menjadi istrinya Jovan. Jangan pernah berharap lebih kepadanya. Kau harus melupakan perasaanmu sendiri dan belajar menerima kenyataan ini."

Rahang Darren mengeras. Tangannya yang berada di bawah meja perlahan mengepal kuat, berusaha menahan gejolak perasaan yang kembali mengusik hatinya.

Ia tahu, sejak awal seharusnya dirinya tidak membiarkan perasaan itu tumbuh terlalu jauh. Namun, bagaimana mungkin ia melupakan wanita yang telah lama menjadi cinta pertamanya?

Terlebih ketika ia melihat Serina tersipu setiap kali Jovan menatapnya.

"Sayang, minum susunya pelan-pelan, ya. Masih hangat," ujar Jovan sambil membantu Farel memegang gelas kecil berisi susu.

Farel mengangguk patuh. "Iya, Om Jovan."

Jovan tersenyum. "Coba pegang sendiri. Om bantu dari bawah, supaya tidak tumpah."

Bocah itu mengeratkan kedua tangannya pada gelas, sementara Jovan menopang bagian bawahnya dengan hati-hati. Farel kemudian meniup permukaan susu sebelum menyesapnya sedikit demi sedikit.

"Enak, Om!" serunya riang.

"Kalau begitu, dihabiskan, ya. Setelah sarapan, kamu boleh bermain di taman bersama Om."

"Benarkah? Farel boleh bermain mobil-mobilan di taman?"

"Boleh. Tapi sarapan dulu sampai habis."

Farel langsung mengangguk bersemangat. "Farel mau habiskan semuanya! Biar nanti bisa balapan sama Om Jovan!"

Jovan terkekeh mendengar ucapan polos itu. "Wah, calon pembalap rupanya. Tapi kalau balapan, harus tetap mengikuti aturan, ya. Tidak boleh sembarangan seperti Om dulu."

"Om Jovan dulu nakal, ya?" tanya Farel dengan mata membulat penuh rasa ingin tahu.

Tuan Marcell yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum. "Dulu Om Jovan memang cukup sulit diatur. Kakek sampai sering dibuat pusing olehnya."

"Daddy!" protes Jovan, membuat semua orang tersenyum.

"Memangnya salah?" Tuan Marcell terkekeh. "Dulu, siapa yang sering pulang larut malam? Siapa yang lebih memilih menghabiskan waktu di garasi daripada menghadiri acara keluarga? Bahkan, Daddy harus berkali-kali menghubungimu hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja."

Jovan menggaruk tengkuknya, sedikit salah tingkah. "Sudahlah, Dad. Itu cerita lama."

"Memang cerita lama. Tapi Daddy senang melihat kamu sekarang."

Ucapan Tuan Marcell membuat Jovan menoleh. Pria paruh baya itu memandang putranya dengan tatapan penuh kebanggaan.

"Dulu Daddy sering khawatir melihat sikapmu yang begitu keras kepala. Kamu selalu menganggap balapan dan mobil-mobilmu sebagai hal paling penting. Daddy bahkan sempat berpikir kamu tidak akan pernah mau menjalani kehidupan yang lebih tenang."

Jovan terdiam sejenak. Ia tahu, ada penyesalan yang terselip di balik ucapan ayahnya. Selama bertahun-tahun, hubungan mereka memang tidak selalu berjalan dengan baik. Jovan pernah merasa kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, hingga akhirnya memilih mencari kesibukan sendiri di luar rumah.

Namun, kini semuanya mulai berubah.

Tuan Marcell mengalihkan pandangannya kepada Serina, kemudian kembali menatap putranya.

"Ternyata, Daddy salah. Sejak Serina dan Farel hadir dalam hidupmu, kamu menjadi jauh lebih dewasa. Daddy bisa melihat sendiri bagaimana kamu memperlakukan istri dan anakmu dengan penuh perhatian."

Serina langsung tersipu mendengar ucapan tersebut. Ia menunduk, menyibukkan diri dengan mengambil sepotong roti di piringnya.

Sementara itu, Jovan tersenyum kecil. "Aku hanya sedang berusaha menjadi lebih baik, Dad. Aku tidak mau membuat Serina dan Farel kecewa."

"Dan Daddy bangga karena kamu memiliki keinginan itu."

Tuan Marcell kemudian menatap Farel yang masih duduk rapat di sisi Jovan.

"Farel, kamu senang tinggal di rumah Kakek?"

"Senang sekali, Kek!" jawab Farel spontan. "Di sini ada kamar besar, banyak mainan, terus Om Jovan juga selalu menemani Farel!"

"Kalau begitu, kamu harus rajin makan dan belajar, ya. Nanti Kakek juga akan mengajakmu bermain."

"Asyik! Farel punya banyak teman sekarang!"

Tawa kecil Farel membuat suasana ruang makan semakin hangat. Jovan mengusap lembut kepala bocah itu, kemudian mengambilkan sepotong telur dadar ke piringnya.

"Ini juga dimakan. Biar kamu sehat dan kuat."

Farel membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menyantap potongan telur yang diberikan Jovan. Setelah mengunyah, ia menoleh kepada Serina.

"Bunda, Om Jovan baik sekali, ya?"

Serina tersenyum lembut. "Iya, Sayang. Om Jovan memang baik."

"Farel sayang Om Jovan!"

Ucapan polos itu membuat Jovan terdiam sesaat. Senyum hangat perlahan menghiasi wajahnya. Ia kemudian mengusap pipi Farel dengan penuh kasih sayang.

"Om juga sayang Farel."

"Sayang banget?"

"Sayang banget."

Farel langsung merangkul lengan Jovan, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Jovan membiarkannya, bahkan sedikit memiringkan tubuh agar Farel dapat bersandar dengan lebih nyaman.

Serina memperhatikan keduanya dengan senyum yang sulit disembunyikan. Ada kehangatan yang memenuhi dadanya saat melihat putranya begitu bahagia. Selama ini, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Farel, tetapi ia tahu ada ruang kosong dalam hati bocah itu setelah kepergian Riki.

Kini, Jovan hadir bukan untuk menggantikan sosok Riki, melainkan memberikan kasih sayang dan perlindungan dengan caranya sendiri.

"Kenapa melihatku seperti itu?" bisik Jovan ketika menyadari Serina sedang memperhatikannya.

Serina tersentak kecil. "Tidak apa-apa."

"Yakin?"

Serina mengangguk, lalu tersenyum malu. "Aku hanya senang melihat Farel bahagia."

Jovan membalas senyum itu. "Aku juga."

Tatapan mereka kembali bertemu selama beberapa detik. Serina segera menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya. Jovan hanya tersenyum tipis, tidak berniat menggodanya lebih jauh.

Namun, pemandangan sederhana itu kembali tertangkap oleh mata Darren.

Ia melihat bagaimana Jovan menatap Serina dengan begitu tulus. Ia juga melihat bagaimana Serina kini mulai terbiasa membalas perhatian adiknya, meskipun terkadang masih tampak malu-malu.

Darren meremas gagang sendoknya.

"Jadi, memang benar. Serina mulai membuka hatinya untuk Jovan." batinnya

Dadanya terasa sesak. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyangkal kenyataan tersebut, tetapi ia tahu tidak ada gunanya. Serina kini telah menjadi istrinya Jovan. Kebahagiaan wanita itu seharusnya menjadi hal yang paling penting, sekalipun kebahagiaan tersebut harus ia saksikan dari kejauhan.

" Darren, kopinya sudah dingin. Apa kamu tidak ingin menambahnya?" Suara Marcella membuyarkan lamunan Darren.

Darren tersadar, lalu meletakkan sendoknya. "Tidak perlu, Mom. Kopi ini masih cukup."

Marcella melirik putranya sekilas, kemudian mengikuti arah pandangan Darren yang sempat tertuju kepada Jovan dan Serina. Namun, wanita itu segera mengalihkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang sulit ditebak.

"Jovan memang terlihat berbeda sekarang," ucap Marcella dengan senyum tipis. "Sepertinya kehidupan rumah tangga benar-benar membuatnya lebih bertanggung jawab."

Jovan menoleh kepada ibu tirinya. "Aku masih belajar, Mom."

"Baguslah. Semoga saja kamu bisa mempertahankan sikap seperti ini."

"Jovan pasti bisa, Mih," sahut Tuan Marcell dengan nada mantap. "Aku yakin dia akan menjadi suami yang baik untuk Serina dan sosok yang bisa diandalkan Farel."

Serina tersenyum sopan mendengar ucapan mertuanya. "Terima kasih, Pah. Jovan sudah banyak membantu saya dan Farel."

"Jangan sungkan, Serina. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Anggap saja rumah ini sebagai rumahmu sendiri."

"Baik, Pah."

Darren kembali menunduk. Ia tidak ingin siapa pun melihat kesedihan yang berusaha ia sembunyikan di balik wajah tenangnya.

Sarapan pagi itu berlangsung dengan penuh kehangatan bagi sebagian besar orang yang duduk di meja makan. Tuan Marcell tampak bahagia melihat perubahan putranya. Marcella tetap mempertahankan senyum sopannya, sementara Farel terus bercerita tentang kamar dan mainan barunya.

Jovan pun sesekali membantu Serina mengambilkan makanan, menuangkan air putih, atau memastikan Farel tidak meminum susu yang masih terlalu panas.

Bagi Darren, semua perhatian kecil itu terasa begitu menyakitkan. Ia menyaksikan adiknya melakukan hal-hal sederhana yang selama ini diam-diam ingin ia lakukan untuk Serina.

Namun, pada akhirnya Darren hanya mampu menarik napas panjang dan memaksakan senyum.

"Selamat berbahagia, Serina. Semoga Jovan bisa menjagamu jauh lebih baik daripada yang pernah kubayangkan." batinnya

Ia kemudian mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan, berusaha menelan seluruh perasaan yang tidak mungkin lagi ia ungkapkan.

Sebab, mulai hari ini, ia harus belajar menerima bahwa wanita yang selama ini dicintainya telah menemukan tempat untuk bersandar.

Dan tempat itu bukanlah dirinya, melainkan Jovan Narendra, adik kandungnya sendiri.

Bersambung....

1
vania larasati
lanjut kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Semoga itu jodohnya Daren 👍
Nar Sih
jodoh mu sdh otw ya daren
Nar Sih
seperti nya ini awal kisah cinta daren
Sri Angga
semoga menjadi jodoh mu y pak polisi Daren
Lucy
ini jodohnya Daren🤣🤣biar dia GK trlalu memikirkan Serina lagi👍👍👍
Oma Gavin
jodoh Darren ini
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
ahir nya kbnr terungkap ,semoga gk ada mslh lgi yg sulit dlm rmh tangga jovan serina
Nar Sih
ahir nya ketangkap oleh ank sendiri🤣
Nadja 🎀
waah sebentar lagi terbongkar misteri knp ibunya jovan died? alasannya...
Lucy
mampus kau Marcella ketakutan juga kan,KLO Daren dah bertindak jgn kau berharap akan lolos ttp mendekam di jeruji besi😃😃😃
Lucy
Daren terus semngat bantu Jovan jgn sampai ibumu dan Jenifer berhasil menghancurkan Jovan 👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
main lo kalian kurang bersih say... 😏
Oma Gavin
ngga perlu berputar putar masalah marcella dan jovan segera aja dibongkar Darren kamu jgn ngulur" waktu keburu marcella kabor dia sudah feeling kamu yg selidiki otomatis dia akan cari aman sendiri tanpa peduli sama jenifer
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
tunggu bntr lgi kedok kejhtn mu terbongkar oleh putra mu sendiri ,marcela🤣🤣
Nar Sih
semagat dareen💪usut tuntas kasus adik mu walau tersangka nya mungkin ibu mu sendiri
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!