Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita di Balik Nama Wirawan
Wanita itu melangkah masuk ke ruang makan dengan aura yang membuat seisi rumah seketika hening. Usianya sekitar lima puluhan, namun kecantikannya yang anggun masih terpancar jelas, dibalut busana formal berwarna hitam pekat yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Matanya — mata yang sama persis dengan Raka — menyapu ruangan dengan tatapan dingin dan menilai, berhenti tepat pada sosok Alya yang berdiri canggung di samping suaminya.
"Ibu," kata Raka, suaranya berubah kaku, jauh berbeda dari nada lembut yang baru saja dia gunakan pada Alya beberapa menit sebelumnya. "Kenapa Ibu tidak memberi kabar dulu sebelum datang?"
"Apakah aku butuh izin untuk mengunjungi rumah anakku sendiri?" jawab wanita itu, suaranya tajam namun tenang, matanya masih terpaku pada Alya. "Aku mendengar kabar mengejutkan dari kenalan lama di media. Anakku menikah tanpa memberi tahu ibunya sendiri. Kupikir aku pantas mendapat penjelasan langsung, bukan dari gosip media."
Alya merasakan tatapan menusuk itu, seolah sedang dinilai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia berusaha berdiri tegak, mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia bukan lagi wanita yang sama seperti beberapa minggu lalu, yang hancur berkeping-keping di tengah hujan.
"Selamat siang, Bu," sapa Alya sopan, mengulurkan tangannya. "Saya Alya. Senang bisa bertemu dengan Ibu."
Wanita itu menatap uluran tangan Alya sejenak, tidak menyambutnya, hanya mengangguk singkat sebelum berbalik menatap Raka lagi. "Jadi benar. Kau menikah dengan seorang dokter yang, kudengar, baru saja dipecat dari pekerjaannya. Sungguh pilihan yang... menarik, Raka."
"Kasus pemecatan itu sudah terbukti fitnah, Bu," jawab Raka, suaranya mulai menajam mempertahankan Alya. "Komite etik independen sudah mengeluarkan klarifikasi resminya minggu ini."
"Aku tidak peduli soal klarifikasi itu," potong wanita itu tegas, duduk di kursi utama meja makan seolah rumah itu masih sepenuhnya miliknya. "Yang aku peduli adalah, kau menikahi orang asing dalam hitungan hari, tanpa restu ibumu, sementara sudah ada perjanjian lama antara keluarga kita dengan keluarga Handoko."
Ruangan itu mendadak sunyi. Alya menoleh cepat ke arah Raka, melihat rahangnya mengeras, matanya menghindar sejenak reaksi yang belum pernah dia lihat sebelumnya dari pria yang biasanya selalu tenang dan terkendali.
"Perjanjian apa?" tanya Alya pelan, lebih kepada Raka daripada wanita di depannya.
Sebelum Raka sempat menjawab, ibunya sudah lebih dulu bicara, matanya berkilat penuh perhitungan saat menatap Alya. "Rupanya anakku belum sempat menceritakan ini padamu, Nak. Sejak lima tahun lalu, sudah ada kesepakatan antara Wirawan Group dan keluarga Handoko pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di negeri ini bahwa Raka akan menikah dengan putri tunggal mereka, Aurora Handoko, demi menyatukan dua kekuatan bisnis besar. Pernikahan itu seharusnya berlangsung tahun depan."
Alya merasa dadanya berdenyut aneh, campuran antara terkejut dan sesuatu yang lebih dalam rasa tidak percaya bahwa selama ini ada bagian penting dari kehidupan Raka yang tidak pernah dia ketahui sama sekali.
"Raka," Alya menoleh menatapnya, suaranya bergetar menahan emosi, "apakah ini benar?"
Raka menghela napas panjang, matanya menatap Alya dengan sorot penuh penyesalan. "Itu benar, tapi"
"Tapi apa?" potong ibunya tajam, sebelum Raka sempat menjelaskan lebih lanjut. "Tapi kau memutuskan menikahi wanita asing ini secara mendadak, hanya beberapa minggu sebelum pertunangan resmimu dengan Aurora seharusnya diumumkan? Apakah kau sadar skandal apa yang akan meletus kalau keluarga Handoko tahu soal ini? Mereka mitra bisnis paling penting kita, Raka. Kesepakatan itu bukan sekadar janji lisan ada kontrak kerja sama senilai triliunan rupiah yang tergantung pada pernikahan ini."
Kata-kata itu menghantam Alya seperti tamparan telak. Segala kehangatan dan momen manis yang baru saja dia rasakan bersama Raka beberapa menit lalu di ruang kerja, kini terasa jauh lebih rapuh dari yang dia kira.
"Jadi..." suara Alya melemah, "pernikahan kita ini bukan cuma soal permintaan Oma, kan? Ada alasan lain yang kau sembunyikan dariku."
Raka menatap Alya, wajahnya campur aduk antara rasa bersalah dan sesuatu yang lebih rumit. "Alya, aku janji akan menjelaskan semuanya, tapi tidak di depan—"
"Tidak," potong ibunya lagi, berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun namun tegas. "Aku pikir sudah waktunya semuanya dijelaskan sekarang, di hadapanku langsung. Karena aku tidak akan membiarkan pernikahan konyol ini menghancurkan masa depan perusahaan yang sudah dibangun keluarga kita selama tiga generasi."
Dia menatap Alya lekat-lekat, suaranya melunak sedikit namun tetap dingin, seperti sedang berbicara pada seorang anak kecil yang belum mengerti dunia orang dewasa. "Aku tidak bermaksud kasar, Nak. Kau mungkin memang baik dan cukup kompeten sebagai dokter. Tapi dunia bisnis kami jauh lebih rumit dari yang bisa kau bayangkan. Dan aku akan melakukan apa pun yang diperlukan, untuk memastikan pernikahan ini dibatalkan sebelum menghancurkan segalanya."
Alya berdiri terpaku, kata-kata itu terasa seperti pengulangan dari masa lalu yang baru saja dia lewati sekali lagi, dia merasa dirinya dianggap tidak cukup baik, tidak cukup pantas. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda: rasa sakit itu bercampur dengan tekad baru yang mulai tumbuh di dadanya.
Raka melangkah mendekat, menggenggam tangan Alya erat-erat, menatap ibunya dengan tatapan yang tidak pernah Alya lihat sebelumnya penuh keteguhan yang jelas mengejutkan wanita di depannya.
"Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini, Bu," katanya tegas, suaranya bergetar namun mantap. "Apa pun risikonya."