"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Keributan terjadi setelah makan siang.
Kongres memasuki sesi poster ketika seorang peserta pingsan di dekat stan sponsor. Awalnya semua orang mengira kelelahan biasa. Lalu seseorang berteriak karena hidung pria itu berdarah.
Darah menetes ke lantai marmer.
Tidak banyak.
Cukup untuk membuat Raka berhenti bergerak.
Naira sedang berbicara dengan Prof. Hadi di ujung lorong saat suara panik naik. Ia menoleh, melihat peserta pingsan, lalu melihat Raka.
Wajah pria itu berubah.
Pucat.
Matanya kehilangan fokus.
Hanif langsung menyadari. "Pak."
Raka tidak menjawab.
Seorang peserta lain yang panik menabrak bahunya. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat tubuh Raka menegang seperti kawat ditarik.
Naira berjalan cepat.
"Jangan sentuh dia," katanya kepada Hanif.
"Dok, kalau kambuh..."
"Aku bilang jangan."
Di lantai, peserta yang pingsan sudah ditangani dokter lain. Perdarahannya ringan, kemungkinan pecah pembuluh karena tekanan darah. Tapi bagi Raka, jumlah darah tidak penting. Otaknya tidak membaca ukuran. Otaknya membaca bahaya.
Raka mundur satu langkah.
Lalu satu lagi.
Punggungnya hampir menabrak meja kaca.
Naira berdiri di depannya, menghalangi pandangan ke lantai.
"Raka."
Tidak ada respons.
"Lihat aku."
Matanya bergerak, tetapi tidak menetap.
"Hitung."
Raka tertawa kasar. "Jangan..."
"Hitung."
Suaranya tidak keras, tetapi tegas.
Beberapa orang mulai memperhatikan. Hanif langsung memposisikan tubuh untuk menutup pandangan. Bagas yang baru datang ikut berdiri di sisi lain.
Clara melihat semua itu dari dekat stan farmasi.
Matanya menyipit.
Pria seperti Raka Wiratama, yang membuat seluruh lobi menahan napas hanya dengan berdiri, ternyata bisa runtuh karena darah.
Dan Naira tahu cara mengendalikannya.
Clara merasakan ide buruk muncul seperti api kecil.
Ia mengambil ponsel.
Merekam.
Naira tidak melihatnya. Fokusnya hanya pada Raka.
"Satu," kata Raka akhirnya.
"Lagi."
"Dua."
"Bagus. Tarik napas dari hidung. Tahan. Lepas."
Raka mengikuti. Tangannya masih mengepal. Naira melihat kuku-kukunya hampir melukai telapak sendiri.
"Hanif, beri aku kain."
Hanif menyerahkan sapu tangan bersih.
Naira menyelipkannya ke tangan Raka tanpa menyentuh kulit terlalu lama. "Genggam ini, bukan tanganmu."
Raka menatap kain itu, lalu menurut.
Di lantai, pasien pingsan sudah diangkat ke ruang medis. Darah dibersihkan cepat oleh petugas. Naira tetap tidak bergerak sampai napas Raka stabil.
"Kamu kembali?" tanyanya.
Raka menatapnya. Kali ini benar-benar melihat.
"Aku tidak pergi."
"Tadi hampir."
"Kamu kasar sekali kepada pasien."
"Pasien sulit perlu instruksi jelas."
Sudut bibir Raka bergerak sedikit.
Hanif menghela napas pelan, seperti baru selamat dari sesuatu.
Naira hendak memanggil tim medis untuk memeriksa peserta pingsan ketika Clara mendekat.
"Mbak Naira, hebat sekali. Ternyata Pak Raka benar-benar bergantung padamu."
Nada itu terlalu manis.
Naira menoleh.
Raka juga.
Clara tersenyum seolah tidak mengatakan apa-apa yang salah. "Maksudku, dalam situasi medis seperti ini, kemampuan Mbak sangat berguna."
"Hapus videonya," kata Naira.
Senyum Clara retak. "Video apa?"
"Yang kamu rekam sejak tadi."
Beberapa orang menoleh.
Clara menggenggam ponsel. "Aku hanya merekam suasana kongres. Tidak ada yang..."
Raka bergerak.
Naira mengangkat tangan. "Diam."
Raka berhenti.
Clara melihat itu lagi. Rasa iri seperti racun naik ke tenggorokannya.
Naira mendekat satu langkah. "Clara, kondisi medis seseorang bukan bahan konten."
"Aku tidak akan menyebarkan."
"Bagus. Hapus sekarang."
"Mbak tidak punya hak memeriksa ponselku."
"Benar. Aku tidak punya. Tapi kalau video pasien atau kondisi medis seseorang tersebar, pengacara saya dan pengacara Pak Raka punya hak bertanya kepada orang yang terlihat merekam."
Clara memucat.
Hanif sudah mengangkat ponsel, tampaknya memotret posisi Clara dan kamera CCTV di belakangnya.
Dimas yang datang terlambat melihat adegan itu.
"Clara," katanya. "Hapus."
Clara menoleh dengan mata terluka. "Mas, kamu bahkan belum tahu apa yang terjadi."
"Aku tahu kamu memegang ponsel saat orang lain sedang dalam kondisi medis."
Clara menggigit bibir.
Dimas menatapnya. "Hapus."
Untuk pertama kali, Clara merasa benar-benar sendirian di ruangan penuh orang.
Ia membuka galeri dan menghapus video itu. Hanif meminta agar folder recently deleted juga dibuka. Clara hampir meledak, tetapi Raka hanya menatapnya satu kali, dan ia menurut.
Naira kembali kepada Raka. "Kamu perlu diperiksa."
"Tidak."
"Jangan mulai."
"Aku benci ruang medis."
"Aku tidak peduli."
Raka menatapnya, lalu menyerah. "Baik."
Dimas menyaksikan pria itu menuruti Naira dengan perasaan aneh. Bukan hanya cemburu. Ada sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa selama lima tahun, ia membuat Naira berjuang untuk didengar, sementara orang lain belajar mendengar dalam hitungan minggu.
Di ruang medis kecil hotel, Naira memeriksa tekanan darah Raka, pupil, respons napas, dan riwayat obat darurat yang dibawa Hanif.
"Kamu punya obat penenang?"
"Ada, tapi jarang dipakai."
"Karena kamu keras kepala?"
"Karena efek sampingnya mengganggu kerja."
"Kambuh di ruang publik juga mengganggu kerja."
Raka tidak menjawab.
Naira membaca ringkasan medis digital yang diberikan Hanif. Ada catatan trauma masa kecil, hemophobia berat, episode disosiatif, dan beberapa hasil genetik yang ditandai terbatas.
Matanya berhenti di satu kode.
"Ini siapa yang memeriksa?"
Hanif menjawab, "Dokter keluarga Wiratama di Singapura. Lima tahun lalu."
"Ada kelainan marker vaskular."
Raka menatapnya. "Itu penting?"
Naira tidak langsung menjawab.
Marker itu mirip dengan jalur yang diteliti ibunya.
Tidak sama.
Tapi cukup dekat untuk membuat tengkuknya dingin.
"Aku perlu melihat hasil lengkap."
Hanif ragu, menatap Raka.
Raka berkata, "Berikan."
"Pak, itu arsip keluarga."
"Dia memintanya."
Hanif terdiam.
Naira menatap Raka. "Jangan memberikan sesuatu hanya karena aku meminta."
"Untuk urusan ini, aku ingin kamu tahu."
Naira membaca wajahnya.
Di luar ruang medis, Clara berdiri di lorong, mendengar sebagian percakapan melalui celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
Marker vaskular.
Arsip keluarga.
Naira perlu hasil lengkap.
Clara tidak tahu artinya, tetapi ia tahu satu hal.
Jika Raka punya kelemahan medis yang hanya Naira pahami, maka posisi Naira di hidup pria itu jauh lebih kuat daripada sekadar rumor kekasih.
Ia mengetik pesan kepada nomor Cakradinata.
Raka Wiratama punya kondisi genetik. Naira tahu.
Balasan datang cepat.
Cari tahu detailnya.
Clara menyimpan ponsel.
Kali ini, ia tidak akan gagal hanya karena menangis.
Di ruang medis, Naira menyimpan salinan awal rekam medis Raka ke tablet terenkripsi.
"Aku butuh izin tertulis untuk mengakses data genetik lengkap," katanya.
Hanif segera mengeluarkan formulir digital. "Sudah disiapkan."
Naira menatapnya. "Kalian sangat yakin aku akan setuju?"
Raka menjawab sebelum Hanif. "Tidak. Kami hanya berharap."
"Harapan keluarga Wiratama selalu berbentuk dokumen siap tanda tangan?"
"Biasanya berbentuk tekanan. Ini versi yang sudah diperbaiki."
Naira menahan senyum. "Perbaikan kecil."
"Aku akan mencatatnya sebagai kemajuan."
Ia menandatangani persetujuan pasien dengan sidik jari digital. Naira memeriksa setiap klausul, lalu menambahkan catatan bahwa akses dapat dicabut kapan pun oleh pasien atau dokter.
Raka membaca catatan itu. "Kamu juga bisa pergi kapan pun."
"Itu bukan klausul medis. Itu fakta."
"Aku tahu."
Di luar pintu, Clara mendengar sebagian kecil dan menggigit bibir. Mereka bicara seperti dua orang yang sedang menyusun aturan dunia sendiri.
Ia tidak mengerti kenapa itu membuatnya lebih takut daripada kemarahan Raka.
Dimas menunggu di luar ruang medis sampai Naira keluar.
"Raka sakit?" tanyanya.
"Itu bukan informasi untukmu."
Dimas mengangguk pelan. "Maaf. Aku lupa batas."
Naira menatapnya sebentar. Jawaban itu tidak menghapus apa pun, tetapi setidaknya tidak menambah luka baru.
"Clara mendengar sesuatu?" tanya Naira.
Dimas menoleh ke lorong. Clara sudah tidak ada.
Wajahnya berubah.
Naira tidak perlu penjelasan lagi.
"Kalau dia menyebarkan kondisi medis Raka, itu bukan sekadar drama."
"Aku akan cari dia."
"Jangan cari untuk membela. Cari untuk menghentikan."
Dimas mengangguk.
Kali ini ia berlari sebelum terlambat, meski mungkin tetap tidak cukup cepat.
Naira melihat punggungnya menjauh, lalu kembali ke tablet medis Raka.
Tidak ada waktu untuk menilai penyesalan orang lain.
Tubuh Raka menyimpan teka-teki yang terlalu mirip dengan jejak ibunya.
Dan jika jejak itu benar, maka hubungan Raka dengan penelitian Sari bukan kebetulan.
Itu kemungkinan baru.
Kemungkinan yang membuat kasus ini jauh lebih berbahaya.