“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Satu minggu setelah kejadian malam itu, Lucia belum bertemu lagi dengan Alessandro.
Lucia bekerja seperti biasa sebagai seorang pelayan di mansion megah itu. Kehidupan di sini terasa seperti mimpi bagi gadis desa yang biasanya menyalakan lampu minyak setiap malam.
Mila, yang mengarahkan gadis polos itu, menjadi satu-satunya orang yang paling bersabar menghadapinya.
Sesekali Lucia melakukan kesalahan, seperti mengira mesin cuci sebagai kotak ajaib pemakan baju atau mengira vakum pembersih debu adalah monster penyedot lantai, Mila selalu memakluminya.
Sikap polos dan lugu Lucia mengingatkan Mila pada keponakan kesayangannya yang sudah tiada.
“Lucia, ingat ya, sakelar ini ditekan ke atas untuk menyalakan lampu, bukan ditiup seperti membakar lilin,” ujar Mila penuh kehangatan saat mengajari Lucia di lorong utama.
Lucia mengangguk.
“Wah, ajaib sekali! Tinggal tekan, lampunya langsung menyala terang tanpa bau minyak tanah?”
Mila hanya terkekeh pelan sambil mengelus rambut Lucia. Kehadiran gadis itu seperti membawa setitik warna cerah di dalam mansion sang mafia yang dingin
Malam menjelang, Alessandro akhirnya kembali ke mansion. Seperti biasa, setiap satu minggu tidak pulang dan saat kembali, Alessandro selalu membawa luka baru.
Di tubuhnya bertambah satu lagi luka tembak di area bahu, lengkap dengan beberapa luka sayatan di lengannya. Entah apa yang dikerjakan mafia dingin itu di luar sana, yang jelas nyawanya selalu dipertaruhkan setiap hari.
“Aku mau minum,” gumam Lucia sembari mengusap tenggorokkannya.
Di saat yang sama, Lucia merasa haus di tengah malam. Karena belum terbiasa dengan denah mansion yang sangat luas, ia terpaksa berjalan perlahan menuju dapur untuk mencari air minum.
Saat melewati ruang tengah dengan sedikit pencahayaan itu, langkahnya terhenti. Betapa terkejutnya Lucia melihat sosok Alessandro tergeletak pasrah duduk di sofa dengan tubuh berlumuran darah.
“Aaaaa! Paman! Apa yang terjadi padamu?!” jerit Lucia tertahan.
Mata Lucia membelalak lebar. Ia cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Alessandro tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin Lucia dengan matanya yang tajam. Napasnya pun terdengar naik turun menahan nyeri yang menusuk dada.
“Tunggu sebentar ya, Paman. Biar aku obati lukamu!” seru Lucia panik.
Bukannya langsung menolong, gadis itu malah tampak mondar-mandir di depan sofa sambil memegangi dagunya.
Lucia berjalan tiga langkah ke kiri, berbalik dua langkah ke kanan, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan raut wajah berpikir keras.
Alessandro mengernyitkan dahi. Ia tidak mengerti kenapa gadis di hadapannya malah mondar-mandir tidak jelas seperti orang linglung di saat blood pressure-nya makin menurun.
“Kau sedang apa?” bisik Alessandro serak seraya menyatukan alisnya bingung.
Lucia menghentikan langkahnya, lalu menatap Alessandro dengan wajah tanpa dosa.
“Em, Paman, dimana letak kotak obatnya? Mila belum memberitahuku,” tanya Lucia sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal.
“Di desa, bibi biasanya menyimpan kunyit dan daun sirih di lemari dapur. Tapi di sini aku tidak menemukan tanaman herbal sama sekali.”
Alessandro membuang napas kasar. Rasa sakit di bahunya mendadak terkalahkan oleh rasa frustrasi menghadapi betapa minimnya pengetahuan gadis ini. Dengan sisa tenaganya, Alessandro menunjuk sebuah lemari berukir yang terletak tak jauh dari sofa mereka.
“Di lemari itu. Kotak putih.”
“Ah! Baik, Paman! Tunggu ya!” Lucia berlari kecil menuju lemari tersebut.
Lucia membuka pintu lemari dan mengambil sebuah kotak plastik putih berlogo palang merah. Saat kembali ke sofa, bukannya langsung membuka kotak obat, Lucia malah menaruh kotak itu di atas lantai dan mengusapnya perlahan.
”Paman, kotaknya kaku sekali. Bagaimana cara mengeluarkan mantra penyembuhnya?” tanya Lucia polos sambil membolak-balikkan kotak P3K modern itu dengan wajah kebingungan.
Alessandro memejamkan mata sebentar, mengelus dadanya yang terasa makin sesak.
Bukan karena luka tembak, tapi karena kepolosan Lucia yang benar-benar di luar nalar manusia modern.
“Tarik pengait klip di sampingnya,” instruksi Alessandro dengan suara yang hampir habis.
“Oh! Ditarik seperti ini?”
Klik! Kotak itu terbuka.
Lucia tersenyum bangga seolah baru saja memenangkan perlombaan.
“Hore! Berhasil!”
“Cepat, obati aku,” geram Alessandro menahan sakit.
Lucia segera mengambil botol alkohol dan kapas. Tanpa ragu sedikit pun, Lucia berlutut di sebelah sang tuan. Jemari halusnya yang hangat memegang bahu pria itu untuk menahan posisinya.
Seketika, Alessandro menahan napas. Kontak fisik itu terjadi lagi.
Tidak ada rasa gatal yang membakar. Tidak ada ruam merah yang menyebar di kulitnya.
Hawa dingin dari tubuh sang mafia mendadak mencair saat sentuhan lembut Lucia merayap di kulitnya.
“Paman tahan sebentar ya. Kata bibi di desa, kalau luka diolesi cairan bening ini rasanya seperti digigit semut merah.”
Lucia mencelupkan kapas ke alkohol, lalu dengan sangat hati-hati mengusap darah di sekitar luka tembak Alessandro.
Lucia mengusapnya sambil meniup-niup luka itu secara perlahan.
“Puh... puh... Angin pembakar rasa sakit, terbang lah ke awan,” gumam Lucia dengan wajah serius.
Lucia seolah sedang menyanyikan mantra pengobat luka ala desanya tepat di depan dada Alessandro.
Alessandro terpaku. Jarak mereka begitu dekat, hingga ia bisa menghirup aroma alami tubuh Lucia, campuran wangi sabun mandi murah dan aroma gandum yang menenangkan.
Mata kelabunya memperhatikan bagaimana bibir merah muda gadis itu bergerak meniup lukanya dengan penuh ketulusan.
“Kau tidak takut pada lukaku?” tanya Alessandro pelan, menatap lekat wajah jernih tanpa noda di hadapannya.
Lucia mendongak, matanya yang polos beradu pandang dengan manik mata Alessandro.
“Kenapa harus takut? Paman kan sedang sakit. Ini kedua kalinya aku membantu Paman kan? Paman terlihat galak karena perutnya lapar. Sama seperti sapi milik tetangga di desa kalau belum diberi makan rumput.”
Alessandro membeku. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang iblis bawah tanah Italia yang paling ditakuti, ia disamakan dengan seekor sapi desa?
Bukannya marah, sudut bibir Alessandro yang dingin itu justru terangkat tipis. Gadis polos ini benar-benar membahayakan kewarasannya. Dan yang paling berbahaya adalah, Alessandro sadar ia mulai tidak ingin melepaskan sentuhan gadis ini lagi.
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,