Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Di Bawah Tekanan

Pintu sedan hitam mewah itu terbuka dari dalam. Suara engselnya yang halus terdengar bagaikan vonis eksekusi di telinga Cassandra. Udara sore di sekitar pelataran sekolah yang mendadak terasa menyengat tak sanggup mengusir rasa dingin yang menjalar dari telapak kakinya hingga ke tengkuk.

Baskoro—pria yang wajahnya pernah menghiasi ratusan surat kabar nasional terkait skandal akuisisi paksa dan kebangkrutan perusahaan ayah Cassandra—kini duduk hanya dua meter darinya. Pengusaha berkulit bersih dengan rambut menyapu abu-abu di pelipisnya itu menatap Cassandra tanpa emosi. Sebuah tatapan predator yang sudah terbiasa memangsa lawannya di meja negosiasi.

"Saya tidak punya banyak waktu, Cassandra," suara Baskoro dalam dan tegas. Tidak meninggi namun memiliki bobot tekanan yang luar biasa.

"Masuk, atau saya panggil Narendra ke sini sekarang juga untuk mendengar dongeng masa lalu keluarga kita?"

Cassandra mengepalkan tangannya di samping rok seragam. Ibu jarinya meremas kain licin itu hingga kusut. Ini adalah bahaya tingkat tinggi.

Anggita dan Rizal hanyalah anak-anak SMA yang bermain drama dangkal, tapi pria di hadapannya ini adalah iblis kelas berat yang sesungguhnya. Orang yang bertanggung jawab atas jatuhnya ekonomi keluarganya dan alasan kenapa orang tua Cassandra harus terus-menerus bekerja di luar kota demi melunasi sisa utang.

Dengan langkah kaku, Cassandra melangkah masuk dan duduk di kursi belakang, berjarak satu meter dari Baskoro. Pintu mobil tertutup otomatis dengan bunyi klik yang solid. Seketika itu pula, kebisingan luar terpangkas habis. Menggantikannya dengan suasana kedap udara yang diisi aroma parfum maskulin mahal bernuansa leather dan tobacco.

Mobil meluncur halus membelah jalanan sore.

"Saya cukup terkesan," buka Baskoro tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada berkas tablet di pangkuannya.

"Saya pikir putri seorang Dananjaya akan hancur dan menjadi beban masyarakat setelah ayahnya gulung tikar. Tapi kamu... kamu justru tumbuh jadi gadis yang sangat cerdik. Mengusir Anggita, putri dari rekan bisnis penting saya dan membuat putra tunggal saya menjadi pelindungmu. Impressive."

"Mau Bapak apa?" pangkas Cassandra cepat. Ia menolak memperlihatkan rasa gentarnya. Dagu Cassandra terangkat, mempertahankan gaya dominan yang selama ini menjadi tamengnya.

"Kalau Bapak mau menyuruh saya menjauhi Narendra, Bapak salah besar. Narendra bukan barang yang bisa Bapak atur seenaknya."

Baskoro terkekeh pelan. Sebuah tawa tanpa nada humor yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia mematikan layar tabletnya lalu memutar tubuh menghadap Cassandra sepenuhnya.

"Narendra memang putra saya yang paling keras kepala. Dia mewarisi sifat idealis ibunya yang naif," kata Baskoro dingin.

"Tapi kamu... kamu tidak idealis, Cassandra. Kamu bertindak atas dasar perhitungan dan balas dendam. Jangan kira saya tidak tahu kenapa kamu mendadak pindah ke SMA Garuda dan mendekati Narendra."

Jantung Cassandra berdegup kencang secara tidak teratur. Apakah Baskoro tahu kalau ia sengaja mengincar Narendra sejak awal?

"Bapak cuma asal tebak," kilah Cassandra dingin.

"Benarkah?" Baskoro menyandarkan punggungnya, memiringkan kepala.

"Empat bulan lalu, kamu meretas sistem data siswa SMA Garuda hanya untuk memastikan Narendra berada di kelas yang sama dengan targetmu. Kamu mengatur pertemuan 'tidak sengaja' di minimarket dekat rumah sakit tempat kakeknya dirawat. Kamu mempelajari semua kebiasaan Narendra, hobinya, hingga masalah hubungannya dengan Anggita."

Baskoro mengambil sebuah map tipis dari saku depan kursi dan melemparnya ke pangkuan Cassandra.

"Itu jejak digitalmu, Cassandra. Sangat rapi untuk ukuran anak SMA, tapi sangat amatir di mata tim keamanan siber perusahaan saya."

Cassandra membeku. Map di pangkuannya terasa seperti bara api. Seluruh strategi rahasia yang ia susun berbulan-bulan—rencana matang untuk menggunakan Narendra sebagai jalan masuk menghancurkan keluarga Baskoro dari dalam—telah dibongkar sepenuhnya oleh pria ini hanya dalam hitungan menit.

"Kenapa?" bisik Cassandra, suaranya kini bergetar menahan amarah yang membakar dada. "Kenapa Bapak harus hancurin keluarga saya beberapa tahun lalu? Ayah saya cuma rekan bisnis yang jujur!"

"Dalam bisnis besar tidak ada tempat untuk kejujuran yang naif, Cassandra. Ayahmu terlalu lemah, makanya dia tergilas," jawab Baskoro tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dan sekarang, kamu mencoba menggunakan putra saya sebagai alat pembalasan dendam? Kamu pikir Narendra bakal tetap mencintaimu kalau dia tahu bahwa dari detik pertama kamu menyapanya, dia hanyalah pion di papan caturmu untuk menghancurkan ayahnya sendiri?"

Kata-kata Baskoro menancap tepat di titik paling beracun dalam jiwa Cassandra. Itulah ketakutan terbesarnya. Di awal, Narendra memang hanyalah pion—sebuah alat yang dirancangnya untuk membalas dendam pada keluarga Baskoro.

Namun seiring berjalannya waktu, kehangatan tulus Narendra, perlindungannya di bawah hujan, dan dekapannya di atap sekolah telah merusak pertahanan dingin Cassandra. Ia telah jatuh cinta pada alat permainannya sendiri.

"Narendra... enggak akan percaya sama Bapak," bisik Cassandra, mencoba mencari celah untuk bertahan meski suaranya terdengar makin serak.

"Dia akan percaya jika saya yang menunjukkan buktinya," potong Baskoro mantap.

"Narendra mungkin benci dengan sikap kontrol saya, tapi dia tidak bodoh. Jika dia melihat bukti jejak digital ini dan fakta bahwa kamu adalah putri dari Dananjaya, orang yang dulu bersumpah akan membalas dendam pada keluarga kami, Narendra akan hancur. Dan orang yang paling dia benci di dunia ini bukan lagi saya... melainkan kamu."

Mobil sedan hitam itu mendadak melambat dan berhenti di tepi taman kota yang sepi, beberapa ratus meter dari gerbang sekolah. Baskoro melirik jam tangan mewahnya.

"Narendra saat ini sedang menunggumu di gerbang sekolah dengan motornya. Dia pasti panik karena kamu belum muncul."

Baskoro menatap Cassandra tepat di manik matanya. Takanan yang diberikan pria tua itu terasa menghimpit paru-paru Cassandra.

"Saya berikan kamu dua pilihan, Cassandra." Baskoro mengacungkan satu jarinya. "Pilihan pertama: Kamu tinggalkan kota ini minggu ini juga. Pindah ke luar negeri, putuskan semua kontak dengan Narendra tanpa penjelasan. Saya akan menanggung seluruh biaya hidup dan pelunasan sisa utang ayahmu hingga tuntas. Keluarga Dananjaya bersih dari beban finansial."

Baskoro kemudian mengacungkan jari keduanya. "Pilihan kedua: Kamu tetap bertahan di samping Narendra. Nanti malam, saya sendiri yang akan menyerahkan seluruh dokumen jejak digitalmu dan identitas aslimu kepada Narendra di meja makan. Kamu bisa menyaksikan sendiri bagaimana pandangan cinta di mata putra saya berubah menjadi rasa jijik dan benci yang sangat mendalam."

Baskoro tersenyum tipis. "Pilihlah. Menyelamatkan keluargamu dan menjaga bayangan indah tentangmu di kepala Narendra selamanya... atau tetap egois lalu hancur bersama-sama?"

Cassandra mengepalkan jemarinya hingga kuku-kukunya memutih menembus kulit telapak tangannya. Darah terasa berhenti mengalir di wajahnya. Ini bukan lagi permainan drama sekolah; ini adalah buah simalakama yang dirancang oleh seorang maestro manipulator.

Jika ia memilih bertahan, Narendra akan tahu bahwa seluruh awal hubungan mereka adalah kebohongan sistematis. Rasa percaya yang baru saja dibangun akan hancur lebur, dan Narendra akan memandangnya sebagai monster yang jauh lebih licik daripada Anggita. Namun jika pergi, ia harus mengorbankan perasaan nyata yang baru saja tumbuh di hatinya. Membiarkan Narendra membencinya karena menghilang tanpa alasan.

"Saya beri waktu sampai tengah malam ini," kata Baskoro dingin seraya memberi isyarat pada supir untuk membuka kunci pintu. "Jika sebelum pukul 24.00 kamu tidak mengirimkan surat pengunduran diri dari sekolah, saya anggap kamu memilih pilihan kedua."

Cassandra mendorong pintu mobil dengan tangan yang gemetar hebat. Ia melangkah keluar ke trotoar. Sedan mewah itu langsung melaju pergi, meninggalkannya berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang baru menyala remang-remang.

Angin malam mulai berembus dingin, menerpa wajah Cassandra yang pucat pasi.

Ponsel di sakunya bergetar tanpa henti. Cassandra merogohnya dengan jemari kaku. Nama Narendra tertera di layar, disertai dengan sepuluh panggilan tak terjawab dan belasan pesan singkat:

Narendra: "Cas, lu di mana? Gue masih di gerbang sekolah."

Narendra: "Cas, tolong angkat. Gue khawatir."

Narendra: "Lu enggak apa-apa, kan? Kasih tahu gue posisi lu sekarang, gue samperin."

Membaca pesan-pesan tulus itu, dada Cassandra terasa dihantam oleh beban bernilai ton-tonan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes basah, menimpa layar ponselnya.

Narendra benar-benar peduli padanya.

Narendra adalah satu-satunya cahaya terang di tengah kegelapan dan dendam yang menyelimuti hidupnya selama bertahun-tahun. Dan kini, cahaya itu terancam padam oleh kebenaran yang mengerikan.

Dengan langkah gontai dan napas menahan isak, Cassandra berjalan kembali menuju area gerbang sekolah.

Dari kejauhan, di bawah remang lampu gerbang SMA Garuda, sosok Narendra terlihat jelas. Cowok itu berdiri di samping motor matic-nya, berjalan bolak-balik dengan raut wajah yang sangat cemas, memegangi ponselnya yang terus mencoba menghubungi Cassandra.

Ketika mata Narendra menangkap sosok Cassandra yang berjalan mendekat, raut cemas di wajah cowok itu seketika sirna. Berganti dengan lega luar biasa. Narendra langsung berlari menghampirinya.

"Cas! Lu dari mana aja?!" tanya Narendra panik seraya memegang kedua bahu Cassandra. "Gue cariin ke mana-mana, gue pikir lu diculik atau diintimidasi lagi sama orang suruhan Anggita—"

Narendra menghentikan kalimatnya saat menyadari wajah Cassandra yang pucat tanpa warna dan matanya yang sembap basah oleh air mata.

"Cas... lu kenapa?" suara Narendra mendadak turun pelan, penuh kelembutan dan kekhawatiran yang mendalam. Tangannya terulur mengusap pipi Cassandra yang dingin. "Ada yang menyakiti lu lagi? Kasih tahu gue, Cas. Siapa orangnya?"

Cassandra menatap manik mata Narendra yang bening dan tulus. Di dalam mata itu, tidak ada sedikit pun keraguan atau kebohongan. Cassandra bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta dan keinginan cowok ini untuk melindunginya. Dan kenyataan bahwa seluruh kehangatan ini berawal dari rencana jahatnya sendiri membuat hati Cassandra terasa dirajam sembilu.

"Gue enggak sanggup kalau harus lihat mata ini menatap gue dengan rasa benci," batin Cassandra merintih.

Cassandra memaksakan sebuah senyuman tipis. Senyuman paling rapuh yang pernah ia buat sepanjang hidupnya. Ia menggeleng pelan.

"Enggak ada apa-apa, Ren," bohong Cassandra halus, menahan agar suaranya tidak pecah. "Gue cuma... tadi agak pusing dan ketiduran di ruang UKS, lupa kasih tahu lu."

Narendra menghela napas panjang, memasangkan helm ke kepala Cassandra dengan sangat hati-hati. Membenarkan tali penguncinya seolah-olah Cassandra adalah barang pecah belah yang sangat berharga.

"Lain kali jangan bikin gue panik kayak gini lagi, ya? Gue beneran takut terjadi apa-apa sama lu, Cas."

"Iya, Ren... maafin gue ya," bisik Cassandra seraya menunduk.

Selama perjalanan pulang di atas motor, Cassandra memeluk pinggang Narendra dengan sangat erat. Menyandarkan pipinya di punggung hangat cowok itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum kayu manis yang ia cintai. Menikmati setiap detik yang mungkin akan menjadi momen terakhir mereka berdua di bawah langit malam.

Pukul 23.30 WIB.

Kamar Cassandra remang-remang. Dua koper besar sudah terbuka di atas karpet, terisi penuh dengan pakaian dan barang-barang pribadinya. Cassandra telah mengambil keputusannya.

Ia tidak bisa membiarkan Narendra tahu betapa kotor dan liciknya dia di awal pertemuan mereka. Ia lebih baik menghilang dan dibenci sebagai cewek yang tidak bertanggung jawab, daripada melihat Narendra hancur saat tahu bahwa sosok 'korban rapuh' yang dilindunginya adalah dalang yang mengincarnya sejak awal. Pilihan ini juga akan membebaskan orang tuanya dari utang finansial yang menjerat mereka bertahun-tahun.

Dengan jemari yang gemetar, Cassandra menulis sebuah surat pengunduran diri dari SMA Garuda di atas meja belajarnya. Di samping surat itu, terletak sebuah amplop cokelat kecil berisi gantungan kunci kayu, pasangan dari gantungan kunci yang dulu ia berikan untuk kakek Narendra.

Ponselnya di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari Baskoro.

Baskoro: "Mobil penjemputan ke bandara sudah stanby di depan rumahmu pukul 05.00 pagi. Tiket penerbangan ke London sudah diterbitkan. Pilihan yang bijak, Cassandra."

Cassandra mematikan ponselnya. Ia meremas tepi meja. Menahan tangis yang hampir pecah meraung di kamarnya yang sepi.

Namun, di saat Cassandra sedang mengemas sisa barang-barang di mejanya, tiba-tiba suara lemparan kerikil kecil terdengar mengetuk kaca jendela kamarnya di lantai dua.

TUK! TUK!

Cassandra terperanjat. Ia mengusap air matanya buru-buru. Melangkah perlahan mendekati jendela. Lalu menyibak gorden hitamnya.

Mata Cassandra membelalak kaget.

Di bawah sana, berdiri di tengah kegelapan pekarangan rumahnya di bawah guyuran gerimis malam yang dingin. Sosok Narendra berdiri tanpa jas hujan.

Cowok itu basah kuyup, memegang sebuah kotak kue kecil dan buket bunga favorit Cassandra. Narendra mendongak, menatap ke arah jendela kamar Cassandra. Ketika melihat wajah Cassandra di balik kaca, Narendra menyunggingkan senyumnya yang paling hangat, lalu melambaikan tangannya.

Ponsel Cassandra yang berada di atas meja kembali bergetar. Cassandra berlari menyambar ponselnya dan menghidupkannya. Sebuah pesan masuk dari Narendra.

Narendra: "Gue tahu lu lagi ada masalah besar dan sembunyiin sesuatu dari gue, Cas. Waktu gue antar lu pulang tadi, mata lu enggak bisa bohong. Gue enggak bakal pulang sebelum lu buka pintu dan cerita semuanya ke gue. Gue bakal ada di sini, Cas... semalaman kalau perlu."

Cassandra terpaku di depan jendela. Air matanya menetes makin deras melihat Narendra yang berdiri kedinginan di bawah gerimis malam, bersikeras menjadi pelindungnya hingga akhir.

Sementara itu, jam dinding di kamar Cassandra terus berdetak tanpa ampun, menunjukkan pukul 23.45 WIB.

Hanya tersisa lima belas menit sebelum Baskoro mengeksekusi buktinya ke seluruh sekolah jika Cassandra tidak segera membalas surat pengunduran dirinya.

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!