Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11.Hari minggu kita

Hari Minggu yang paling ditakuti Aira akhirnya tiba. Sejak membukakan mata di pagi hari, dadanya diliputi rasa gelisah yang teramat sangat. Ia membayangkan Lina atau Hendra akan nekat menerobos masuk ke ruang perawatan ibunya atau mengirimkan pesan ancaman yang mengerikan ke telepon genggamnya.

Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, tidak ada satu pun panggilan atau pesan masuk. Suasana di kediaman Danuartha justru terasa sangat tenang dan damai.

Aira duduk di meja makan sambil menyuapi Elano sereal buah. Sesekali matanya melirik ke arah ponselnya yang tergeletak bisu di samping piring.

Kebingungan mulai menggerogoti benak gadis itu. Kenapa Lina tidak menghubungi untuk menagih uang tiga ratus juta rupiah itu? Apakah mereka sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih jahat?

"Mama Aira, kok melamun?" suara cempreng Elano memecah lamunan Aira. Bocah itu menatapnya dengan pipi yang mengembung berisi sereal. "Serealnya jatuh tuh dari sendok."

Aira tersentak pelan, buru-buru membenarkan posisi sendoknya dan tersenyum canggung. "Ah, maaf ya Mas Elano. Mama cuma lagi mikirin lagu buat dipelajari nanti."

"Asyik! Nanti sore kita menyanyi lagi ya, Ma!" seru Elano riang.

Di ujung meja, Arka sedang duduk tenang membaca dokumen di tablet kerjanya seraya menyesap kopi hitam tanpa gula. Pria itu menyadari betul kegelisahan Aira. Ia bisa melihat bagaimana pandangan mata Aira yang terus-terusan tertuju pada ponselnya.

Arka meletakkan tabletnya di meja dengan ketukan halus, membuat Aira refleks menoleh dan menegang seketika.

"Aira," panggil Arka datar.

"I-iya, Mas Arka?" sahut Aira cepat, merapikan duduknya.

"Siang ini saya tidak ada jadwal pekerjaan. Raymond juga sudah mengatur agar tidak ada kunjungan tamu," ujar Arka tenang.

"Kalau kamu mau menjenguk ibumu di rumah sakit, kamu bisa pergi sekarang."

Aira tertegun, matanya membelalak pelan. "Hah? B-boleh, Mas? Tapi Mas Elano..."

"Elano ikut," potong Arka cepat.

"Sekalian saya juga akan ikut menemani."

Kata-kata Arka sukses membuat Aira terpaku di tempatnya. Mas Arka ikut menjenguk Mama? batin Aira tak percaya.

Selama ini Arka sangat menjaga jarak dan membatasi hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan tertulis. Kenapa tiba-tiba pria itu berniat ikut ke rumah sakit?

"Papa ikut?!" seru Elano heboh, menepuk-nepuk tangannya gembira.

"Huraaa! Elano mau jalan-jalan sama Papa dan Mama Aira! Elano mau jenguk Oma!"

Arka melirik putranya dengan kehangatan tipis yang jarang ia tunjukkan. "Mandi dan ganti baju dulu. Minta Bi Inah bantu."

"Siap, Papa!" Elano langsung melompat dari kursinya dan berlari riang menuju tangga.

Kini tinggal Aira dan Arka yang tersisa di meja makan. Suasana mendadak menjadi agak canggung. Aira meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba mencari keberanian untuk berbicara.

"Mas Arka... Mas tidak perlu repot-repot menemani saya," tutur Aira pelan dan penuh kehati-hatian.

"Saya bisa pergi sendiri naik mobil sama Mas Raymond. Mas Arka kan pasti capek setelah dari luar kota."

Arka menatap Aira lurus-lurus. Tatapannya tidak lagi tajam menakutkan seperti kemarin, melainkan teduh dan dipenuhi wibawa yang menenangkan.

"Saya suami kamu, Aira. Meskipun di atas kertas, menjenguk ibu mertua adalah hal yang wajar," balas Arka tegas, tanpa ada nada bantahan.

"Lagipula... bukankah kamu khawatir dengan keadaan ibumu hari ini?"

Aira tersentak. Kalimat Arka yang terakhir seolah mengisyaratkan sesuatu, tetapi cara Arka mengucapkannya begitu tenang hingga Aira tidak sanggup menebak apa maksud sebenarnya dari pria itu.

"B-baik, Mas. Terima kasih banyak," bisik Aira akhirnya, menundukkan kepala.

Satu jam kemudian, mobil sedan hitam milik Arka berhenti di area parkir khusus VIP Rumah Sakit Medika Prima. Suasana rumah sakit siang itu tampak cukup lengang.

Aira berjalan di koridor utama dengan perasaan campur aduk. Elano berjalan riang di tengah, menggandeng tangan kanan Aira dan tangan kiri Arka.

Pemandangan mereka bertiga yang berjalan berdampingan tampak begitu harmonis dari luar—seperti sebuah keluarga kecil yang sempurna, meski di dalam hati Aira ada badai kecemasan yang belum sepenuhnya mereda.

Setibanya di depan lorong menuju ruang perawatan VIP Ny. Wahyuni, langkah Aira mendadak terhenti.

Dua orang pria bertubuh tegap, mengenakan kemeja seragam hitam berlogo Danuartha Security, berdiri sigap di depan pintu kamar ibunya. Begitu melihat Arka dan Aira mendekat, kedua pengawal itu langsung membungkuk hormat.

"Selamat siang, Pak Arka, Nyonya Aira," sapa salah satu pengawal dengan nada sangat sopan.

Aira melotot bingung. "Lho... kalian siapa? Kenapa ada di depan kamar Mama saya?"

Raymond yang berjalan di belakang mereka langsung maju satu langkah dan menjelaskan.

"Nyonya Aira, mulai kemarin sore, Pak Arka telah menugaskan tim keamanan pribadi untuk menjaga kamar Ny. Wahyuni selama dua puluh empat jam penuh. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa izin langsung dari Pak Arka atau Anda."

Darah Aira terasa berdesir hangat. Matanya beralih menatap Arka yang berdiri tenang di sampingnya.

Pengawal pribadi? Sejak kemarin sore? batin Aira terpana. Itu artinya... Arka sudah menyiapkan perlindungan ini sejak ia pulang dari luar kota!

"Mas Arka..." bisik Aira, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Ini... kenapa Mas Arka sampai menyewa pengawal?"

Arka menatap Aira dengan raut wajah yang tetap datar, namun matanya memancarkan ketegasan yang mutlak.

"Ibumu sedang dalam masa pemulihan yang kritis. Saya tidak mau ada orang luar—siapa pun itu—yang datang mengganggu atau membuat keributan di sini," jawab Arka tenang.

"Masuklah. Ibumu pasti sudah menunggumu."

Aira menelan ludah. Rasa haru yang luar biasa mendadak membuncah di dalam dadanya. Ancaman Lina yang membayangi pikirannya tentang orang luar yang bisa menyusup dan mencabut selang infus ibunya seketika menguap tanpa bekas.

Arka telah membangun benteng perlindungan yang begitu kokoh di sekeliling ibunya, bahkan tanpa Aira perlu mengemis atau meminta bantuan.

Dengan tangan bergetar, Aira mendorong pintu kamar VIP tersebut.

Di dalam ruangan yang harum dan sejuk itu, Ny. Wahyuni sedang berbaring di atas tempat tidur medis. Wajah ibunya tampak jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Seorang suster pribadi yang disewa khusus tampak sedang merapikan selimutnya.

"Mama..." panggil Aira dengan suara bergetar tahan tangis. Ia segera melangkah mendekat dan menggenggam tangan ibunya.

Ny. Wahyuni membuka matanya perlahan. Ketika melihat Aira, senyum lemah terkembang di bibir sang ibu. Jemari tangan kanannya yang mulai bisa bergerak perlahan meremas balik jemari Aira.

"Omauuu!" seru Elano riang, mendekati sisi tempat tidur dengan dibantu Arka yang mengangkat tubuh kecilnya agar bisa sejajar dengan tempat tidur.

"Oma, ini Elano! Elano bawain gambar bunga warna kuning buat Oma!"

Elano menunjukkan kertas gambarnya dengan antusias. Ny. Wahyuni menatap bocah kecil itu dengan mata berkaca-kaca, lalu pandangannya beralih pada sosok Arka yang berdiri tegap di samping tempat tidur.

Arka membungkukkan badannya sedikit, mengangguk hormat pada wanita setengah baya yang terbaring lemah itu.

"Selamat siang, Ibu Wahyuni," sapa Arka dengan suaranya yang berat dan sangat sopan.

"Saya Arka. Maaf baru sempat menjenguk Ibu secara langsung hari ini. Ibu tidak usah mengkhawatirkan apa pun lagi. Fokus saja pada pemulihan Ibu. Aira dan Elano ada bersama saya, dan saya pastikan mereka dalam keadaan aman."

Mendengar ucapan Arka yang begitu tegas, tenang, dan penuh tanggung jawab, air mata Ny. Wahyuni menetes perlahan melintasi pelipisnya. Ibunya mengangguk pelan, memancarkan rasa terima kasih yang teramat dalam melalui tatapan matanya.

Sang ibu kini tahu bahwa putri tunggalnya berada di tangan pria yang tepat dan mampu melindunginya.

Aira menundukkan kepalanya, mengusap air mata haru yang menetes di pipinya. Beban berat seberat gunung yang mengimpit dadanya selama beberapa hari terakhir mendadak terangkat sepenuhnya.

Saat Aira sibuk mengusap air matanya, ia merasakan sebuah sentuhan hangat di bahunya. Aira mendongak dan menemukan tangan besar Arka mendarat pelan di bahunya, memberikan remasan lembut yang sarat akan dukungan dan perlindungan.

"Jangan menangis di depan ibumu," bisik Arka sangat pelan di dekat telinga Aira.

"Semuanya sudah aman."

Aira menatap mata Arka dari jarak yang begitu dekat. Untuk pertama kalinya, Aira tidak melihat Arka sebagai sosok pria asing yang dominan dan menakutkan. Di balik sikap dingin dan kaku pria berusia 39 tahun itu, Aira melihat sosok pelindung yang begitu kokoh dan dapat diandalkan.

Rasa takut, keraguan, dan dinding pertahanan di hati Aira perlahan-lahan mulai terkikis. Meski pernikahan ini berawal dari transaksi bisnis dan ikatan kontrak, keberadaan Arka di sisinya siang itu memberi kenyamanan baru yang membuat jantung Aira berdesir makin hangat. Perjalanan mereka masih sangat panjang dan penuh teka-teki, namun Aira tahu... ia tidak lagi berjalan sendirian di tengah kegelapan.

_Bersambung..

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!