Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KILAU DI BALIK KACA DAN JANJI TERSEMBUNYI
Tiga hari berlalu dengan begitu cepat. Hari-hari yang kulewati bersama Kaito kini terasa jauh lebih berwarna, dipenuhi kehangatan kecil yang terus memanjakan hatiku. Rasa canggung di antara kami perlahan meluluh, berganti menjadi ritme hubungan kekasih yang begitu alami.
Sore itu, gurat warna jingga membias di langit Tokyo. Angin musim dingin berembus pelan menyapu selasar jalanan kota saat aku dan Kaito berjalan berdampingan menuju stasiun kereta untuk pulang bersama.
Saat kami melintasi deretan pertokoan di dekat stasiun, langkah kakiku mendadak terhenti secara tak sengaja.
Di balik kaca etalase sebuah toko perhiasan kecil yang tampak hangat, pandanganku terpaku pada sebuah kalung perak yang dipajang di atas bantalan beludru hitam. Bandul kalung itu berbentuk kelopak bunga kecil yang amat anggun, dengan permata kecil di tengahnya yang memantulkan pendar cahaya begitu indah.
Mataku berbinar-binar. Ada rasa kagum yang membuncah di dalam dadaku saat menatap perhiasan cantik itu. Untuk beberapa detik, aku mematung di depan etalase kaca, terpesona oleh keindahannya sampai-sampai tak menyadari bahwa Kaito sudah ikut terhenti di sampingku.
Merasakan aku tak lagi berjalan di sisinya, Kaito memutar badan. Ia menatap ke arahku dengan heran, lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk punggungku secara lembut.
Begitu aku menoleh, Kaito mengangkat jemarinya ke udara, menyusun bahasa isyarat dengan raut wajah penasaran:
[Ada apa, Hana? Kamu sedang melihat apa?]
Aku tersentak pelan dari lamunanku. Menyadari bahwa aku baru saja ketahuan memandangi perhiasan yang tampak mahal itu, rasa malu mendadak menyergapku. Kedua pipiku terasa menghangat. Aku dengan cepat memalingkan pandangan dari etalase kaca, lalu jemariku bergerak membalas isyaratnya secara terburu-buru:
[Ah... tidak ada apa-apa, Kaito.]
Kaito memiringkan kepalanya sedikit, menatap mataku lekat-lekat seolah berusaha membaca kebenaran di balik penolakanku. Namun, ia tidak mendesak lebih jauh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat, lalu jemarinya membalas:
[Ya sudah kalau tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang, sebentar lagi kereta kita sampai.]
Aku menganggukkan kepala pelan. Kaito meraih telapak tangan kananku, lalu menautkan jari-jemarinya di antara jemariku. Ia memeluk tanganku dengan genggaman yang teramat erat sebuah genggaman posesif namun lembut yang seolah enggan dilepaskan.
Sepanjang jalan menuju peron, naik ke dalam gerbang kereta yang ramai, hingga kami tiba di gang perumahan tempat tinggal kami, Kaito terus menggenggam tanganku rapat-rapat. Rasa hangat dari telapak tangannya menembus dinginnya udara sore, membuat dadaku terus berdesir oleh kebahagiaan.
Langkah kami akhirnya terhenti tepat di depan pagar rumahku.
Baru pada saat itulah Kaito perlahan melonggarkan genggaman tangannya dan melepaskan jemariku. Ia berbalik memutar tubuhnya, berdiri tegap tepat di hadapanku.
Kaito menatap wajahku dengan sorot mata yang amat teduh. Ia mengulurkan tangan kanannya, mengelus puncak kepalaku dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang—sebuah sentuhan yang selalu berhasil membuat duniaku terasa tenang.
Setelah jemarinya selesai mengelus rambutku, Kaito merenggangkan jarak sedikit. Kedua tangannya terangkat ke udara, membentuk gerakan bahasa isyarat yang amat telaten dan bermakna dalam:
[Selamat malam, Sayang... Tidur yang nyenyak ya.]
Melihat bentuk isyarat kata 'Sayang' yang keluar langsung dari jemari Kaito, hatiku seketika bergetar hebat. Rasa bahagia yang begitu luar biasa meletup di dalam dadaku, hingga membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di seluruh dunia. Senyuman lebar dan manis terkembang secara alami di wajahku.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena rasa haru, aku membalas pesan isyaratnya:
[Selamat malam juga, Sayang... Sampai jumpa besok.]
Kaito tersenyum tampan melihat balasanku. Ia mengangguk pelan, melambaikan tangannya, lalu berbalik melangkah menuju rumahnya yang terletak beberapa rumah dari tempatku berdiri.
Aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Aku tetap berdiri di depan pintu pagar, menatap punggung Kaito yang makin jauh menyusuri jalanan malam, mengawasinya hingga sosoknya benar-benar menghilang di belokan gang rumahnya. Baru setelah memastikan Kaito tiba dengan selamat, aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang tak kunjung padam dari bibirku.
Sementara itu, di dalam kamarnya yang hangat di lantai dua, Kaito baru saja meletakkan tas kuliah tebalnya di atas meja belajar.
Suasana kamar terasa hening. Kaito menarik kursi kayunya lalu duduk menatap ke arah meja.
Namun, pikiran Kaito sama sekali tidak tertuju pada buku-buku hukum atau tugas kuliahnya. Bayangan kejadian sore tadi di stasiun terus berputar kembali di dalam kepalanya.
Kaito teringat betapa terpesonanya Hana saat terpaku di depan etalase toko perhiasan. Ia mengingat binar mata Hana yang berkaca-kaca sebuah binar kagum yang teramat murni saat memandangi kalung perak berbandul kelopak bunga itu. Kaito menyadari betul bahwa Hana menyukai kalung itu, meski gadis itu memilih menyembunyikannya karena tidak ingin merepotkannya.
Kaito mengalihkan pandangannya ke dinding kamar. Matanya mendarat pada sebuah kalender meja yang berdiri di dekat tumpukan buku.
Jemari Kaito terangkat, meraba angka-angka di kalender tersebut. Sorot matanya tertuju pada sebuah tanggal di minggu depan—sebuah tanggal yang sudah ia tandai dengan lingkar merah sejak jauh-jauh hari.
Hari ulang tahun Hana.
Sebuah senyuman tipis dan penuh tekad terukir di wajah tegas Kaito. Rasa hangat melingkupi dadanya saat sebuah niat tulus terbentuk rapat di dalam batinnya.
Ia tahu pasti apa yang harus ia lakukan. Kalung cantik yang dilihat Hana di balik kaca etalase toko tadi sore... akan menjadi kado ulang tahun paling berkesan yang akan ia persembahkan untuk gadis yang teramat sangat dicintainya itu.