Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Di Depan Ruang IGD Rumah Sakit Medika Utama
Bau karbol dan suara dengung alat medis menyambut Ranti dan Raya yang berlari terengah-engah menelusuri koridor rumah sakit.
Begitu sampai di depan pintu IGD yang tertutup rapat dengan lampu merah menyala, seorang dokter pria keluar sambil melepas sarung tangan latex-nya yang bernoda darah.
"Dokter! Dokter! Bagaimana keadaan suami saya?!" jerit Ranti langsung memegang lengan baju dokter tersebut. "Suami saya Andi, Dok!"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Ranti dengan raut wajah prihatin sekaligus tegang.
"Nyonya Ranti, harap tenang," kata Dokter mencoba meredakan kepanikan. "Tuan Andi saat ini sudah berhasil kami stabilkan masa kritisnya. Namun... lukanya sangat parah."
"B-bagaimana lukanya, Dok?!" tanya Ranti dengan bibir gemetar hebat.
"Tangan kiri Tuan Andi mengalami patah tulang yang cukup remuk, kemungkinan membutuhkan paku platinum dan terapi panjang untuk bisa digerakkan kembali. Dan..." Dokter itu terdiam sejenak, melirik Raya yang bersembunyi di balik pinggang Ranti. "...jari manis dan jari kelingking di kaki kanannya terpotong rapi. Kami tidak menemukan potongan jari tersebut, jadi kami harus langsung menjahit dan menutup lukanya agar tidak infeksi."
Brak!
Ranti menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor yang dingin, menangis histeris sambil memukuli dadanya sendiri.
"Siapa yang sudah melakukan hal itu! Siapa yang kejam itu!" kat Ranti dengan penuh marah dan ketakutan.
Seorang perawat menghampiri dan menyerahkan kantong plastik transparan berisi pakaian kotor Andi yang bersimbah darah.
Di dalam kantong itu, ada secarik kertas kecil yang terlipat rapi.
"Nyonya Ranti, surat ini ditemukan di dalam saku kemeja Tuan Andi saat beliau diantar ke sini," kata perawat tersebut.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang terus menetas, Ranti membuka lipatan kertas lusuh itu.
Di dalamnya, tertulis satu kalimat pendek dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
'Ini baru peringatan awal untuk dua jarinya. Jika kalian berani menggangguku lagi... berikutnya bukan cuma jari yang hilang.'
Ranti membaca pesan itu dengan napas yang makin tercekat.
"Si-siapa yang melakukan ini?" tanya Ranti dengan tangan gemetaran sambil memegang kertas tersebut.
Tiba-tiba saja air matanya jatuh ketakutan. Ranti melangkah mendekati kaca pintu kamar perawatan, melihat Andi yang masih belum siuman dengan selang-selang medis menempel di tubuhnya.
"Ranti..." panggil sebuah suara bariton dari arah belakang.
Ranti membalikkan badan dengan terkejut. Di sana berdiri Hendra, pengacara kepercayaan keluarga Gunawan yang biasanya selalu bersikap manis dan penuh hormat.
Namun kali ini, raut wajah pria berjas itu sangat dingin dan datar.
"Pak Hendra? Baguslah kamu datang!" seru Ranti panik seraya menunjukkan kertas ancaman di tangannya. "Lihat ini! Suamiku disiksa sampai cacat begini! Kamu harus laporkan ini ke polisi sekarang juga! Tangkap pelakunya!"
Pengacara Hendra hanya menatap Ranti dengan tatapan kasihan.
Ia tidak menggeledah tasnya untuk mengambil dokumen laporan, melainkan mengeluarkan amplop putih tebal.
"Saya tidak akan melapor ke mana pun, Nyonya Ranti," kata Hendra tegas. "Pihak kepolisian bahkan tidak akan berani menyentuh kasus ini. Dan saya ke sini bukan sebagai pengacara Tuan Andi lagi."
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...