Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akankah Rahasia Terungkap

 

"Baiklah, segera pulang kalau Kak Naumi sudah datang" ucap Rina tegas, lalu tanpa menoleh kembali, ia berbalik badan dan meninggalkan Yuna dan Amira yang masih berdiri di ambang pintu itu.

Langkah kakinya terdengar berat menjauh, seakan setiap langkah yang diambilnya adalah perjuangan antara kerinduannya dan kewajibannya untuk menyembunyikan kebenaran.

Yuna mematung di tempatnya, menatap punggung wanita yang baru saja pergi itu hingga hilang di ujung lorong.

"Wajahnya..." gumamnya pelan, alisnya berkerut samar, merasa semakin penasaran sekaligus bingung.

Ada sesuatu yang begitu akrab, sesuatu yang membuat hatinya berdebar tak menentu, namun ia tak mampu menunjuk dengan pasti apa itu.

Yuna terdiam sejenak, lalu menatap Amira yang masih berdiri di sampingnya dengan wajah polos dan mata yang berbinar. Perlahan ia tersenyum, berusaha menepis segala keraguan yang mengganggu pikirannya.

"Ayo, kita masuk lagi ya" ucapnya lembut sambil mengusap kepala gadis kecil itu.

Ia membawa Amira kembali masuk ke dalam kamar, menutup pintu perlahan, lalu mendudukkannya di atas kasur yang empuk dan berwarna lembut.

Setelah memastikan Amira duduk dengan nyaman, Yuna merogoh tas kecil yang ia bawa di bahunya, tangannya meraba isi tas itu hingga menemukan benda yang dicarinya. Ia mengambil ponsel dari sana, lalu duduk di tepi kasur, tepat di samping Amira.

"Amira..." panggilnya pelan, menatap wajah polos gadis kecil itu dengan tatapan yang penuh harap sekaligus cemas.

"Iya, Tante" sahut Amira dengan suara cadelnya yang menggemaskan, kepalanya sedikit miring menatap Yuna.

"Eemmh... Tante boleh tanya sesuatu?" tanya Yuna ragu-ragu, jari-jemarinya menari pelan di tepi ponsel itu.

Amira mengangguk mantap, rambutnya yang dikepang bergoyang riang. "Boleh, Tante!"

Yuna menghela napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Perlahan ia menyodorkan ponselnya ke dekat wajah Amira, layar ponsel itu menyala menampilkan sebuah foto, foto seorang gadis yang tersenyum lebar dengan wajah yang begitu tulus dan cerah.

"Amira sayang... coba lihat kakak ini" ucap Yuna pelan, matanya tak lepas dari wajah gadis kecil itu, menunggu reaksi apa pun yang akan muncul.

Amira terdiam sejenak, matanya menatap layar ponsel itu lekat-lekat, memperhatikan sosok yang ada di dalamnya dengan saksama. Bibirnya yang mungil sedikit terbuka, seakan sedang mencoba mengingat-ingat. Lalu, tiba-tiba matanya berbinar terang, jari telunjuknya mungil menunjuk layar itu dengan antusias.

"Tante Nia!" seru Amira riang, mengenali siapa yang ada di foto itu yang tak lain adalah Rania.

Yuna tertegun di tempatnya. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan, hampir tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

  Yuna terdiam mematung, seketika segala sesuatu yang sempat terpisah dan tak berhubungan mulai menyusun kepingan-kepingan teka-teki di dalam kepalanya satu per satu.

Wajah Rina yang begitu mirip dengan Rania, cerita-cerita Rania sahabatnya sendiri yang dulu sering ia ceritakan tentang keluarganya di kota, tentang kakak perempuannya yang memilih tinggal bersama bu tirinya, tentang rumah yang terasa dingin dan penuh rahasia, lalu apa yang dikatakan Naumi sebelumnya, dan kini ucapan Amira barusan... Semuanya menyatu menjadi satu kesimpulan yang begitu mengejutkan, namun begitu masuk akal hingga membuat jantungnya berdegup kencang tak menentu.

"Tante..." panggil Amira pelan, menarik lengan baju Yuna lembut, membuyarkan lamunan gadis itu.

Yuna tersentak kaget, seakan terbangun dari mimpi yang panjang. Ia segera menunduk menatap gadis kecil itu, berusaha menyembunyikan kekagetan di wajahnya, lalu tersenyum tipis.

"Iya, Sayang?" ucapnya lembut, meski suaranya terdengar sedikit bergetar.

"Tante kenal Tante Nia?" tanya gadis kecil itu polos, matanya bundar menatap Yuna dengan penuh rasa ingin tahu.

Yuna mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah.

"Iya... Tante kenal sekali dengan Tante Nia" jawabnya pelan, hati kecilnya semakin yakin bahwa sesuatu yang besar sedang tersembunyi di sini.

Mendengar itu, mata Amira perlahan beralih ke arah pintu kamar yang tertutup rapat itu, seakan takut seseorang akan mendengar dari baliknya. Perlahan ia mengangkat jari telunjuk mungilnya, lalu meletakkannya di bibirnya dengan gerakan yang begitu mengerti, seakan ia sudah terbiasa melakukan hal itu.

"Tante..." bisiknya pelan, suaranya diturunkan hingga hampir berbisik.

"Kata Tante Rina... jangan sebut nama Tante Nia di sini"

"Kenapa?" tanya Yuna spontan, matanya membelalak, semakin bingung sekaligus semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

"Kenapa tidak boleh, Sayang?"

Amira hanya menggeleng pelan, rambutnya yang dikepang bergoyang lembut. Wajahnya tampak bingung namun patuh, seakan itu adalah perintah yang tidak boleh dilanggar.

"Tidak tahu... Tante Rina bilang begitu. Kalau ada yang dengar, nanti Tante Nia sedih"

Yuna terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar itu. Semakin banyak hal yang terungkap, semakin ia merasa ada sesuatu yang janggal, ada rahasia besar yang sengaja ditutup-tutupi di rumah ini rahasia yang melibatkan sahabatnya, Rania, dan wanita yang baru saja pergi, Rina. Ia menggenggam tangan mungil Amira erat, berjanji dalam hati untuk mencari tahu kebenaran itu, apa pun yang terjadi.

 

Di tempat lain, Laras tampak tidak suka dan tak setuju karena Rina membiarkan gadis itu berada di rumahnya. Wajahnya menampakkan kekesalan dan ketidaksukaan yang tak bisa ia sembunyikan, kedua alisnya berkerut rapat, dan tangannya berkali-kali dikepalkan di sisi tubuhnya.

Rina berjalan perlahan mendekati ibunya yang berdiri di balkon kamarnya, menatap punggung wanita itu yang tampak tegak namun penuh amarah. Tanpa berkata apa-apa lebih dulu, ia melangkah mendekat dan memeluk bahu ibunya itu dengan lembut, layaknya seorang putri yang sangat menyayangi ibunya, berusaha meredakan kemarahan yang sedang meluap-luap itu.

"Bu... Ibu kan tahu bagaimana Kak Naumi dan gadis itu orang yang dipercaya olehnya" ucap Rina lembut, berusaha menenangkan nada bicaranya sehalus mungkin.

"Tapi Rina..." potong Laras, nada bicaranya masih meninggi, penuh ketidakpuasan.

"Bu, aku bukannya takut sama dia" ucap Rina, perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah ibunya lekat-lekat.

"Tapi aku hanya malas berurusan dengan kakak ipar satu itu"

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit berubah, penuh ingatan yang masih terasa perih.

"Ibu ingat saat ia baru datang ke rumah ini? Bagaimana ia mempermalukanku dan menuduh Ibu?" tanyanya setengah bertanya, seakan ingin memastikan bahwa luka itu sama-sama masih teringat.

"Tentu Ibu tidak akan lupa" sahut Laras singkat, bibirnya terkatup rapat menahan rasa kesal yang kembali muncul.

"Nah... dan hal seperti itu bukan satu dua kali, bukan?" ucap Rina. Ia berjalan perlahan ke sisi lain balkon, merentangkan tangannya di atas pagar balkon yang dingin itu, matanya menatap lurus ke arah halaman rumah yang luas dan tertata rapi di bawah sana. Angin sore menerpa rambutnya, namun ia tak berusaha menatanya.

"Bukankah Ibu pernah bilang padaku ...Rina, jangan pernah macam-macam dengannya, ayahnya itu seorang konglomerat yang banyak berinvestasi di perusahaan ayahmu... Ibu sendiri yang bilang begitu, bukan?" ucap Rina pelan, namun setiap kata itu terdengar jelas dan tegas.

Laras terdiam. Kata-kata itu kembali menghantui ingatannya, dan perlahan wajahnya berubah menjadi penuh kepahitan dan penyesalan.

"Ini semua salah Ibu..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar, matanya menerawang jauh tanpa arah.

Rina memasang wajah cemberut, rasa kesal yang sedari tadi ia tahan akhirnya tersalurkan.

"Andai waktu itu Ibu mendengarkanku... untuk menikahkan Kak Rian dengan temanku, kan hal begini tidak akan terjadi" gerutunya, suaranya terdengar penuh kekecewaan yang mendalam.

Laras menunduk, bahunya perlahan turun naik menahan emosi yang bercampur aduk. "Iya... Ibu salah. Dan Ibu menyesal akan hal itu"ucapnya lirih, air mata penyesalan hampir jatuh di pelupuk matanya.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!