Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Alexa Lily Jatuh Cinta
"Aku tidak kenal dia." batin pria pengantar mkanan itu. Ia menelan ludahnya dalam-dalam . "Mereka gerombolan orang seram." ia melihat dari kaca spion motornya. "Coba saja kejar aku!" peria itu langsung menancap gasnya. Motornya melaju dengan cepat.
Anak buah Wira membidik tembakannya, ia mengarahkan tepat kepada Alexa. ia menarik pelatuknya.
DOR.
Suara tembakan terdengar. pelurunya tepat mengenai bahu Alexa.
BUG.
"Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya pria itu. Ia melihat Alexa dari kaca spion motornya.
Pria itu membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Tidak butuh waktu lama. Mereka sudah sampai di kediaman pria pengantar makanan itu.
Pria itu mengangkat tubuh Alexa dan merebahkannya ke sofa. Alexa mengerutkan keningnya. Ia menahan sakit akibat tembakan tadi. Jarak Alexa dan pria itu sangat dekat. Alexa mengangkat pandangannya. Ia menatap tajam pria yang sedang ada di depannya itu.
"Lihat kemana lu? Awas ku cungkil bola mata lu!" Ketus Alexa.
"Bahu kamu terluka tuh." Pria itu menunjuk bahu Alexa yang terkena tembakan tadi.
"Cepat buka blazer mu!" ucap pria itu.
Plak.
"Dasar laki-laki mesum." Alexa menampar wajah pria itu. "Cari mati lu!" bentak Alexa.
"Kalau nggak buka baju, gue gimana bisa periksa luka mu?" jelas pria itu sambil memegangi pipinya.
"Kayaknya gue salah paham deh. Hmmhh, sialan. Dia ngomongnya nggak jelas. Sukurin." batin Alexa. Ia langsung membuka blazernya.
"Jangan lihat sembarangan."
"Janji, nggak lihat." ucapnya singkat. "Cewek ini galak banget. Siapa yang berani nikahi!" gumam pria itu.
Ia melihat peluru itu masih menancap di bahu Alexa. "Lukanya. Pelurunya dalam banget. Pendarahannya parah. Pelurunya harus segera di keluarin. Kalau tidak, kamu bisa mati!" pria itu menutup mulutnya takut salah ucap. Matanya membulat. Luka Alexa sangat parah.
Alexa masih menahan sakit. Ia mengeluarkan pisau pemantiknya. " Keluarin pelurunya!"
"Pakai belati? Kamu ada obat bius nggak?" tanya pria itu dengan wajah kaget.
"Nggak ada!" jawab Alexa santai.
Pria itu lagi-lagi membulatkan matanya. "Gimana ngeluarinnya kalau tanpa obat bius? Peluru nekan saraf, pasti bakalan sakit banget" ucapnya dan mengambil pisau pemantik itu dari tangan Alexa.
"Pakai belati buat belah dagingnya. Cari pelurunya terus keluarin." perintah Alexa.
Pria itu masih terdiam melihat pisau tajam yang dipegangnya. "Pasti sakit banget tuh. Orang biasa mana sanggup nahan sakit begitu?" ucapnya dengan wajah ngeri.
"Gue bakalan cari cara buat alihin rasa sakit." ucap Alexa singkat. Jelas di wajahnya ia berusaha menahan sakit.
Alexa tidak ingin menunggu lama. Ia kembali menatap tajam pria itu. "Kalau di suruh keluarin, ya keluarin! Jangan banyak ngomong!" bentak Alexa.
Pria itu mengernyitkan keningnya. "Belati kena peluruh, sakitnya bikin kamu mati. Kamu mau ngalihin perhatian pakai apa?" ucapnya dengan wajah tidak percaya.
Tiba-tiba saja Alexa menarik tubuh pria itu dan mencium bibirnya. Pria itu membulatkan matanya.
"Keluarkan sekarang juga!" perintah Alexa dan kembali mencium bibir pria itu.
Pria itu langsung membantu untuk mengeluarkan peluru itu dari bahu Alexa. Rasa sakit itu masih terasa, Alexa mencengkeram kedua bahu pria itu. Namun ciuman mereka masih belum lepas.
"Akhirnya keluar juga. Kalau masuk lebih dalam lagi pasti akan bahaya." pria itu mencabut peluru dengan alat seperti pinset. Luka di bahu Alexa sudah ia perban.
Dari balik pintu, muncul dua pria tinggi dan berbadan besar. Dua pria itu adalah pengawal setia Alexa.
Dengan wajah sangar, ia masuk ke ruangan itu. "Lepaskan Kak Alexa!" pria itu menodongkan pistol ke arah pria itu.
Pria itu langsung berdiri dengan pisau di tangannya. Wajahnya kaget.
"Pembunuhnya datang!" Pria itu menoleh kepada Alexa yang masih berbaring di sofa. "Kamu cepat lari."
"Dia tidak kenal aku, tapi dia rela belain aku. Cowok ini harus jadi milikku." Batin Alexa dan tersenyum kecil.
Alexa berdiri dan menyuruh kedua pengawalnya itu untuk menurunkan pistolnya.
"Dia sudah nyelamatin aku!" ucap Alexa dengan wajah datar.
Kedua pengawal itu langsung berlutut di depan pria itu.
"Maafin kami." ucapnya serentak.
Alexa menoleh ke arah pria itu. "Namamu siapa?"
"Austin Lukas."
"Hallo, aku Alexa Lily." Alexa menjabat tangan Austin dan tersenyum kepada pria itu.
"Alexa Lily? Kamu anak dari Theodore? Yang katanya suka bunuh orang? Dan kejam banget itu? Yang menguasai bisnis gelap perbatasan Barat. Alexa Lily dari serikat Bleiz?" ucap Austin dengan wajah kaget. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Alexa seperti orang ketakutan.
"Iya benar. Kamu sudah menolongku dua kali. Aku mau balas budi. Bilang saja, kamu mau apa. Emas?" tanya Alexa.
Kedua pengawal Alexa menepuk tangannya. seorang pria berjas hitam berjalan masuk ke dalam rumah itu dengan membawa dua peti yang berisi amas batang.
Austin kembali membulatkan matanya. Ia mengerutkan keningnya. "Nggak usah. Aku hanya kebetulan lewat saja. Hadiahnya kemahalan." ucapnya dengan wajah masih tidak percaya.
"Kalau begitu, kamu mau cewek cantik?" ucap Alexa lagi.
pengawal itu kembali menepukkan tangannya. Lima orang wanita cantik masuk kedalam ruangan itu. Austin membulatkan matanya.
"Nggak mau. Nggak mau. Soal peluru itu. Kamu yang kuat. aku hanya bantu sedikit saja." Austin terus-terusan menolak.
Alexa melangkah mendekat ke arah Austin. Ia mengelus wajah pria itu dengan tangannya. "Nggak mau emas, nggak mau cewek juga. Sifatmu lumayan. Aku sudah mutusin. kamu bakal jadi cowokku." ucapnya sambil tersenyum manis di depan Austin.
"Hah?" Austin kaget. Ia menelan ludahnya dalam-dalam.
"Kenapa?" Alexa mendorong tubuh Austin. Pria itu terjatuh tepat di sofa. "Kamu nggak mau?" Alexa menaikkan satu kakinya di sofa itu dan menatap tajam kepada Austin.
Austin gugup. "Bu-bukan begitu. A-aku ini. Aku nggak punya rumah. Hanya kurir makanan miskin. Aku nggak pantas buatmu." jelas Austin. Ia menundukkan pandangannya.
Alexa membenarkan posisinya. ia memberi kode kepada kedua pengawal yang berdiri di belakangnya.
Kedua pengawal itu mengambil satu buah peti dan beberapa sertifikat rumah.
Alexa kembali menatap Austin. "Uang ini cukup nggak?" ia menunjuk uang yang ada di dalam peti itu. "Rumah ini cukup nggak?" Alexa berjalan ke arah pengawal yang memegang beberapa sertifikat rumah di kedua tangannya.
Alexa membungkukkan tubuhnya ke arah Austin. Ia menarik tangan pria itu dan meletakkan satu kunci mobil di tangan Austin. "Mobil mewah ini cukup buat dipakai?" tanyanya lagi.
"Aku,,, aku masih punya kekurangan." ucap Austin terbata-bata.
Austin melihat kedua pria berbadan kekar yang sedang berdiri di belakang Alexa. Kedua pria itu mengepalkan tangannya. Terlihat ingin memukul dirinya.
Austin dengan wajah ketakutan. Ia takut kedua pria itu akan menghajarnya jika ia menolak wanita itu. "Aku mau,,, aku mau." ucapnya dengan nada ketakutan.
"Bagus." Alexa menepuk-nepuk lembut pipih Austin.
"Kalian berdua keluar. Jaga di depan pintu. Malam ini juga, aku mau malam pertama." Perintah Alexa kepada kedua pengawalnya itu.
***
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...