Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gantung

Pelajaran Seni Budaya hari itu ditutup dengan pengumuman yang menggelegar di dalam kelas. Bu Rani berdiri di depan papan tulis seraya menyesuaikan letak kacamatanya, mengulas senyum bangga yang teramat lebar.

"Setelah mengalkulasi seluruh komponen penilaian, kelompok Sera, Dea, Kania, Celine, Dini, dan Irma berhasil meraih nilai tertinggi di kelas," tutur Bu Rani mantap. "Penampilan kalian sungguh luar biasa."

Keriuhan tepuk tangan kembali memenuhi ruangan. Dea dan Celine langsung bersorak kegirangan, sementara Kania menepuk-nepuk pundakku penuh rasa bangga. Namun, di dalam dadaku, rasa gembira itu seperti tamat sebelum sempat dirayakan. Bayangan foto Adrian dan Sabrina yang baru saja diunggah siang itu di Facebook masih menancap kuat, menyerap habis seluruh binar kebahagiaan yang seharusnya kupeluk erat-erat. Aku hanya sanggup memaksakan sebuah senyum tipis untuk membalas pelukan hangat teman-temanku.

Sepulang sekolah, aku langsung memacu Scoopy merahku membelah jalanan kota. Rumah dalam keadaan sepi ketika aku melangkah masuk. Begitu sampai di dalam kamar, kurebahkan tubuhku yang terasa teramat lelah di atas tempat tidur.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel di dalam saku seragamku bergetar. Aku merogohnya gontai, lalu menyapu layarnya. Sebuah pesan WhatsApp dari Adrian bertengger di baris paling atas.

"Selamat ya, Sera! Kania baru aja cerita kalau kelompok kamu dapet nilai paling tinggi di kelas."

Aku menatap barisan kata itu dengan dada yang berdenyut nyeri. Ucapan selamat yang begitu hangat dan penuh perhatian. Namun kini, kehangatan itu justru terasa bagai lelucon yang pahit. Di kepalaku, sosoknya yang mengusap kepalaku kemarin sore berbenturan keras dengan foto jemarinya yang menggenggam erat jemari Sabrina tadi siang.

Dengan jemari yang dingin dan ketukan ketikan yang berat, aku membalasnya singkat:

"Iya, Mas. Makasih."

Tak butuh waktu lama hingga tanda dua centang biru berubah dan balasan darinya kembali muncul:

"Kok singkat banget balesnya? Kamu capek ya, Ser?"

Aku menghela napas panjang, enggan meladeni perhatiannya yang selalu terasa membingungkan ini. Kuabaikan pesan terakhir itu tanpa berniat membalasnya lagi. Kutaruh ponsel itu di atas meja samping tempat tidur, lalu memejamkan mata rapat-rapat. Rasa kecewa, cemas, dan kelelahan mental yang menumpuk selama beberapa hari terakhir akhirnya berhasil menguras seluruh energiku, membawaku terlelap dalam tidur yang gelap dan sunyi.

Saat aku terbangun, warna langit di balik tirai kamarku sudah berubah menjadi jingga keemasan. Suasana rumah terasa begitu lengang; tak ada suara apa pun selain dengung halus kipas angin di sudut kamar. Sore itu tidak ada kegiatan atau janji latihan apa pun yang harus kujalani.

Perutku menyuarakan rasa lapar yang mendesak. Aku bangkit berdiri, merapikan rambutku yang berantakan, lalu melangkah gontai menuju dapur di bagian belakang rumah.

Di atas meja dapur, kuambil satu bungkus mie instan rasa kaldu ayam dari dalam lemari penyimpanan. Kuisi panci kecil dengan air bersih, menyalakan kompor gas, lalu menunggu hingga gelembung-gelembung air mendidih menyapa permukaannya. Suara gemercik air mendidih dan aroma gurih bumbu mie yang menyeruak pelan sedikit memberi ketenangan pada pikiranku yang riuh.

Aku meracik mie itu di dalam mangkok keramik putih, lalu menikmatinya seorang diri di meja makan. Setiap suapan hangat mie itu kucerna perlahan, mengamati uap tipis yang membumbung tinggi sebelum akhirnya menguap tanpa bekas di udara—sama persis seperti harapanku pada Adrian yang perlahan ikut menguap oleh kenyataan.

Selesai makan dan membersihkan mangkok bekas pakai, aku bergegas menuju kamar mandi. Kucuran air dingin yang membasahi tubuhku berhasil mengikis sisa-sisa kantuk dan rasa lesu yang menggelayut. Aku berganti pakaian santai menggunakan kaos rumahan yang nyaman dan celana kain panjang.

Memasuki waktu malam, aku memilih mengurung diri di meja belajar. Kuambil beberapa buku catatan tebal dan buku paket Fisika dari dalam tas sekolah. Materi tentang gerak lurus dan hukum Newton yang diajarkan minggu ini belum sepenuhnya kukuasai. Rumus-rumus yang berderet di atas kertas putih itu menjadi pelarian yang sempurna; menguras otakku dengan angka dan perhitungan terasa jauh lebih masuk akal daripada harus mengurai benang kusut perasaanku sendiri.

Jemariku sibuk mencoret-coret kertas buram, memecahkan soal demi soal hingga larut malam menenggelamkan riuhnya hari itu.

Hari berganti minggu, dan minggu perlahan merambat menjadi bulan.

Sejak peristiwa hari itu, tak ada perubahan berarti dalam hubungan kami. Adrian masih tetap menjadi sosok yang sama, seorang pria yang teramat perhatian, hangat, dan selalu ada di sekitar kehidupanku. Ia masih rajin mengirimkan pesan singkat sekadar menanyakan apakah aku sudah makan atau mengingatnkanku agar tidak begadang. Sesekali, di akhir pekan atau sore hari yang senggang, ia akan muncul di depan teras rumahku dengan motor besarnya.

Kami akan duduk di ruang tamu atau teras depan, mengobrolkan banyak hal ringan, atau sekadar memainkan gitar bersama-sama. Adrian kerap kali mengajariku lekuk-lekuk teknik memetik gitar yang baru, menatapku dengan binar mata teduh yang selalu sanggup membuat jantungku berdesir kencang. Sentuhan lembutnya di puncak kepalaku masih sering hadir sebagai penutup setiap kali ia hendak berpamitan pulang.

Namun, di balik semua kehangatan dan kedekatan intens yang berlangsung hampir satu tahun lamanya itu, tak pernah ada kejelasan status di antara kami. Adrian tidak pernah menuntut ikatan, tidak pernah mengaitkan rasa sayangnya pada komitmen resmi, dan tidak pernah lagi menyebut-nyebut nama Sabrina di hadapanku. Begitu pula denganku; aku memilih untuk mengunci mulutku rapat-rapat, menikmati setiap serpihan perhatiannya sambil terus memelihara benteng pertahanan di dalam dada agar tidak hancur sewaktu-waktu.

Kami terjebak dalam lingkaran tanpa kepastian—terlalu dekat untuk disebut sekadar teman, namun terlalu jauh dan samar untuk dinamakan sepasang kekasih.

Tak terasa, masa-masa awal SMA berputar dengan begitu cepat. Ujian akhir semester telah usai kujalani, dan lembar kalender di dinding kamarku kini menunjukkan momen kenaikan kelas.

Hari itu, pengumuman hasil belajar dibagikan. Langkah kakiku menyusuri koridor sekolah yang riuh oleh sorak-sorai siswa kelas 12 yang merayakan kelulusan mereka. Aku pun naik ke kelas sebelas.

Aku berdiri di dekat pagar sekolah, menatap bangku-bangku kayu di bawah pohon rindang tempat dulu aku, Kania, dan teman-teman sering menghabiskan waktu bersama. Hampir satu tahun sudah berlalu sejak pertama kali aku mengenal Adrian lewat petikan gitar dan senyum hangatnya. Satu tahun yang diwarnai oleh debaran manis, harapan yang membumbung tinggi, sekaligus keraguan tajam yang tak pernah benar-benar padam.

Ponsel di genggamanku bergetar pelan. Sebuah pesan baru masuk dari Adrian:

"Selamat naik kelas 11 ya, Sera! Mas bangga banget sama kamu. Nanti sore Mas ke rumah ya, ada hadiah kecil buat perayaan kenaikan kelas kamu."

Aku memandangi layar ponsel itu dengan tatapan yang menerawang jauh. Setahun telah berlalu, dan aku bukan lagi gadis kelas sepuluh yang mudah terbuai oleh manisnya perkataan tanpa kepastian. Saat melangkah memasuki jenjang kelas sebelas ini, sebuah pertanyaan besar mendadak menggantung tajam di relung hatiku: sampai kapan aku sanggup bertahan di dalam lingkaran yang hangat namun tak bertuan ini?

1
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!