Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Dentang musik klasik bergema anggun di dalam ballroom hotel berbintang lima malam itu. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung mewah, membiaskan pendar cahaya keemasan yang menerangi dekorasi bunga-bunga segar bernilai ratusan juta rupiah. Pesta pernikahan Bian dan Salma digelar dengan sangat megah, jauh melebihi bayangan sebuah pernikahan kedua.
Husna melangkah masuk melalui pintu utama ballroom. Langkah kakinya tenang, ritmis, dan dipenuhi anggapan keanggunan yang mutlak. Pagi ini ia tampil menawan dengan gaun sutra simpel berwarna champagne yang dipadu hijab senada sebuah penampilan berkelas tanpa kesan ingin menyaingi pengantin, namun cukup untuk menyedot perhatian seluruh mata di ruangan tersebut.
Husna tidak datang untuk menangis. Ia datang sebagai tamu kehormatan.
Memandang sekeliling dekorasi yang megah itu, benak Husna sempat berspekulasi. Biaya pernikahan ini jelas fantastis. Padahal untuk bulan ini, seluruh gaji resmi, tunjangan, dan bonus posisi Manajer milik Bian sudah otomatis masuk utuh ke rekening Husna sesuai surat perjanjian legal mereka.
Pasti dari tabungan simpanan Bian yang selama ini ia sembunyikan, atau nekat mengeruk kas hasil swalayan, batin Husna dingin seraya menyunggingkan senyum tipis. Bian tampaknya rela menguras sisa-sisa benteng finansial pribadinya demi memuaskan gengsi dan menyenangkan istri mudanya.
Kehadiran Husna seketika menciptakan riak kasak-kusuk di antara para tamu undangan yang didominasi oleh kalangan pebisnis, rekan pejabat, dan relasi kelas atas. Namun, tidak ada tatapan kasihan yang tertuju pada Husna. Orang-orang di lingkaran ini tahu betul siapa Husna seorang pengusaha wanita yang memegang kendali atas jaringan distribusi besar dan memiliki pengaruh kuat di belakang layar.
"Lihat itu, Bu Husna datang..." bisik salah satu istri pengusaha ritel di sudut ruangan. "Kelihatannya tenang sekali ya?"
"Kamu pikir Bu Husna bakal nangis?" timpal rekan di sebelahnya dengan senyum bermakna. "Wanita sekelas dia tidak mungkin datang tanpa persiapan. Bian itu cuma merasa di atas angin. Kita tunggu saja bomba apa yang sudah disiapkan Bu Husna buat suaminya."
Di lingkaran sosial mereka, reputasi Husna sebagai ahli strategi yang dingin sudah sangat dipahami. Mereka tahu, keheningan Husna bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda bahwa pemicu peledak sudah terpasang rapi.
Husna terus melangkah melewati kerumunan tamu yang memberi jalan dan menyapa dengan rasa hormat. Ia membalas setiap anggukan dan sapaan dengan senyuman teduh.
Hingga akhirnya, langkah Husna tiba di depan pelaminan megah yang dihiasi ukiran emas.
Di atas sana, Bian berdiri tegap mengenakan setelan jas mewah, didampingi Salma yang tampak begitu mencolok dengan gaun pengantin bertabur kristal dan riasan tebal. Di sisi lain pelaminan, duduk ibu kandung Bian ibu mertua Husna.
Wanita tua itu tampak tertawa lebar, berbincang penuh kehangatan dengan Salma seraya memamerkan perhiasan baru di tangannya. Hubungan Husna dan keluarga Bian memang tidak pernah benar-benar dekat. Ibu mertuanya sejak dulu kurang menyukai sikap Husna yang terlalu mandiri, berpendidikan tinggi, dan tegas. Bagi sang ibu mertua, sosok Salma yang manja, penurut, dan selalu memujinya terasa jauh lebih menyenangkan untuk dijadikan menantu.
Saat mata Salma menangkap presensi Husna yang sedang menaiki tangga pelaminan, senyum wanita muda itu makin melebar. Salma sengaja menegakkan kepalanya, menyunggingkan senyum kemenangan yang memamerkan deretan giginya. Tatapan matanya seolah-olah mengejek, berbisik tanpa suara. Lihat, aku yang menang malam ini. Aku mendapatkan suamimu dan kasih sayang ibunya.
Bian sendiri sempat membeku saat Husna berdiri di hadapannya. Ada kilat rasa bersalah dan canggung yang berusaha ia tutupi dengan deheman keras.
"Selamat atas pernikahan kalian, Mas Bian, Salma," ucap Husna dengan suara yang begitu halus, jernih, dan tidak bergetar sedikit pun.
Salma langsung menyambut uluran tangan Husna, menggenggamnya dengan sedikit penekanan seraya memasang wajah paling manis yang dibuat-buat.
"Terima kasih banyak ya, Mbak Husna," ujar Salma dengan nada suara yang sengaja dicenderungkan manja. "Salma senang sekali Mbak Husna mau datang dan merestui kami. Salma janji akan bantu Mas Bian dan bikin Ibu makin bahagia di rumah."
Salma melirik ke arah ibu mertuanya, seolah meminta penegasan. Ibu mertua Husna hanya melirik Husna sekilas dengan pandangan dingin, lalu kembali tersenyum manis pada Salma seraya mengelus bahu menantu barunya itu.
Husna tidak tersinggung sedikit pun oleh pameran kasih sayang yang dangkal itu. Ia menarik tangannya dari genggaman Salma dengan gerakan yang sangat halus.
"Sama-sama, Salma," balas Husna, menatap lurus ke dalam mata wanita muda itu dengan pendar mata yang teramat tenang. "Nikmatilah malam indah ini. Semoga kamu sanggup menanggung semua dinamika dan kejutan di masa depan."
Salma sempat mengerutkan keningnya tipis, merasa ada makna tersembunyi yang ganjil di balik kalimat itu, namun gengsi dan euforia pernikahan pesta mewah segera menghapus rasa curiganya.
Husna kemudian beralih menatap suaminya. Bian memaksakan senyum, mencoba menunjukkan bahwa ia masih memegang kendali.
"Terima kasih sudah datang, Na," ujar Bian dengan nada yang dicoba dipersuasi agar terdengar bijaksana. "Mas menghargai kedatanganmu di hari bahagia kami."
"Tentu, Mas. Ini momen penting buatmu," jawab Husna anggun. "Selamat menikmati pesta kalian."
Husna memberikan anggukan hormat yang sangat terukur kepada ibu mertuanya sekadar menjaga adab lalu berbalik arah dan melangkah turun dari pelaminan. Ia tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk drama atau perdebatan di atas panggung itu.
Saat berjalan kembali membelah ruangan pesta, beberapa pengusaha besar rekanan bisnis Husna menghampirinya untuk menyapa dan memberikan penghormatan. Husna melayani obrolan mereka dengan sangat profesional, berbincang ringan soal proyek dan perkembangan pasar seolah tidak baru saja mendatangi pernikahan suaminya sendiri.
Dari atas pelaminan, Salma terus memperhatikan Husna yang dikelilingi oleh orang-orang penting di ballroom tersebut. Ada rasa iri yang mendadak menyusup di dada Salma melihat bagaimana Husna disegani tanpa perlu berusaha keras, sementara dirinya dan Bian harus mengeluarkan uang tabungan dalam jumlah fantastis hanya untuk mendapatkan pengakuan semalam.
Sementara itu, Husna meraih segelas minuman dingin dari nampan pelayan yang melintas. Ia menyesapnya pelan, menatap kilatan lampu-lampu dekorasi yang memantul di kaca pelaminan.
"Pesta yang sangat indah", batin Husna seraya menyunggingkan senyum paling dingin dalam hidupnya. Puas-puaskanlah malam ini, Mas Bian, Salma... Karena besok pagi, saat tirai pesta ini ditutup, pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai.
Husna menghabiskan minimannya, menyerahkan gelas kosong itu kembali ke pelayan, lalu melangkah keluar dari ballroom mewah tersebut dengan kepala tegak. Sang Ratu telah memberikan restu panggungnya, dan kini saatnya menarik ulur tali pelakunya hingga seluruh istana pasir itu runtuh tanpa sisa.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?