Indonesia
NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 4: KONSEKUENSI DAN DARAH

​Wuuushhhhh!

​Gumpalan asap hitam mendadak meledak di udara, menyingkap sosok Tetua Mo yang kembali berdiri di platform batu. Namun kali ini, pria tua itu tidak datang sendirian. Di sampingnya berdiri seorang murid wanita bertubuh anggun. Wanita itu mengenakan gaun merah darah bersulam benang hitam yang indah, memancarkan aura dingin sekaligus berbahaya.

​Namun, saat melangkah masuk ke area platform, mata murid wanita itu membelalak lebar. Langkah kakinya mendadak terhenti, napasnya tertahan di tenggorokan saat menyaksikan pemandangan di depannya.

​Xuan Chen sedang berdiri tegap, satu tangannya mencengkeram erat leher seorang murid luar yang tubuhnya sudah gemetar hebat.

​Xuan Chen mendongak pelan, menatap keberadaan Tetua Mo dan wanita asing di sampingnya tanpa rasa panik. Pandangannya yang dingin sempat mengunci mata murid wanita bergaun merah itu selama satu tarikan napas, sebelum akhirnya Xuan Chen mengalihkan matanya kembali pada mangsa di genggamannya.

​Krek!

​Dengan satu sentakan tangan yang begitu bertenaga dan tanpa ragu, Xuan Chen mematahkan leher pria itu di depan mata mereka berdua.

​Tubuh murid luar itu seketika melemas, kehilangan seluruh vitalitasnya, lalu ambruk menghantam lantai batu dengan dentuman teredam. Xuan Chen melepaskan cengkeramannya santai, seolah-olah dia baru saja membuang sampah yang tidak berguna.

​"Kejam dan efisien," puji Tetua Mo, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman puas.

​Sementara itu, murid wanita di sebelah Tetua Mo sampai menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa kering seketika. Awalnya, saat Tetua Mo memintanya datang untuk menjemput murid baru, dia berpikir murid dari kota luar ini hanyalah seekor domba gemuk yang bisa dia manfaatkan dan peras sumber dayanya. Namun, kenyataan di hadapannya justru sebatang pilar es yang mematikan.

​Tanpa membuang waktu atau mempedulikan tatapan terkejut wanita itu, Xuan Chen langsung berlutut di samping mayat. Jarinya bergerak cepat dan terampil menggeledah jubah hitam korbannya, menarik keluar sebuah kantung semesta berukuran kecil yang terikat di pinggang mayat tersebut.

​Xuan Chen memeriksa isinya sekilas melalui Indra Spiritualnya, lalu tanpa ragu memasukkan kantung semesta itu ke balik jubah abu-abunya sendiri.

​"Kau tampak sudah memahami aturan tidak tertulis di sekte ini, bocah," ucap Tetua Mo. Matanya memancarkan rasa kagum yang makin dalam melihat bagaimana Xuan Chen bertindak cepat tanpa belas kasih sedikit pun. Di dunia demonic, rasa kasihan adalah kelemahan mematikan yang menghancurkan Hati Dao, dan Xuan Chen jelas tidak memiliki kelemahan itu di dalam darahnya.

​Xuan Chen berdiri tegak, menyapu debu dari jubahnya, lalu berbalik menghadap Tetua Mo dengan wajah tenang. "Terima kasih atas pujiannya.

​Pandangan Xuan Chen kemudian beralih, menatap lurus ke arah wanita cantik bergaun merah di sebelah sang tetua.

​Tetua Mo berdehem pelan, melirik murid wanitanya. "Perkenalkan dirimu."

​Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, berusaha menutupi sedikit getaran cemas yang sempat muncul di dadanya. Matanya menyempit menatap Xuan Chen dengan tingkat kewaspadaan maksimal.

​"Su Ling," ucap gadis itu singkat, padat, dan penuh rasa curiga.

​Sebuah senyum tipis terukir di bibir Xuan Chen. Dia mengangguk pelan dengan nada bicara yang ramah namun menyimpan jarak. "Xuan Chen. Senang berkenalan denganmu, Nona Su."

​"Cih, aku yang tidak senang," sahut Su Ling ketus, memalingkan wajahnya ke arah lain.

​Tetua Mo tertawa terkekeh melihat interaksi dingin tersebut. "Hahaha! Jangan pedulikan dia, Bocah Xuan. Aku membawanya ke sini khusus untuk memperkenalkan area zona luar sekte kepadamu."

​"Merepotkan..." gumam Su Ling pelan dengan nada malas.

​Xuan Chen sama sekali tidak tersinggung oleh sikap dingin atau kata-kata ketus Su Ling. Bagi Xuan Chen, selama tindakan seseorang tidak mengancam keselamatan nyawanya, hal itu bukanlah sebuah ancaman yang perlu dipikirkan.

​Tetua Mo mengibaskan lengannya. "Su Ling, aku serahkan Xuan Chen kepadamu. Pastikan dia sampai di kediaman murid luar dengan selamat."

​Aura hitam mulai menyelimuti tubuh Tetua Mo. Perlahan-lahan, wujud fisik sang tetua mulai memudar dan menyatu kembali dengan kegelapan malam. Namun, tepat sebelum wujudnya benar-benar menghilang sepenuhnya dari tempat itu, mata Tetua Mo melirik ke arah Xuan Chen.

​"Bocah..." panggilan Tetua Mo membuat langkah Xuan Chen terhenti.

​Pria tua itu memandang mayat murid luar yang terbujur kaku di lantai batu, lalu mengalihkan pandangannya kembali menembus mata Xuan Chen.

​"Setiap perbuatan memiliki konsekuensinya," suara Tetua Mo terdengar sangat tenang, tanpa sedikit pun nada kemarahan atau teguran.

​"Ketika kau mengangkat pedang untuk mengambil nyawa seseorang, kau juga harus siap menerima akibat dari pedangmu sendiri," lanjut Tetua Mo, suaranya bergema samar di tengah hembusan angin malam. "Di dunia kultivasi, tidak ada tindakan yang benar-benar tanpa harga."

​Tetua Mo menatap Xuan Chen dalam-dalam, seolah hendak mengukir kata-kata tersebut ke dalam jiwa calon muridnya.

​"Jika suatu hari perbuatanmu membawa kematian, kebencian, atau bahkan bencana kepadamu, jangan menyalahkan dunia."

​Tetua Mo berhenti sejenak saat tubuhnya makin memudar menjadi asap.

​"Karena sejak awal... kau sendirilah yang memilih jalan itu."

​Wusss!

​Asap hitam meledak pelan, dan wujud Tetua Mo menghilang sepenuhnya dari platform batu, meninggalkan keheningan yang mencekik di antara Xuan Chen dan Su Ling.

​Xuan Chen berdiri diam selama beberapa tarikan napas, mencerna setiap kata dari peringatan Tetua Mo. Matanya menatap mayat di bawah kakinya, lalu perlahan menarik napas panjang.

​“Konsekuensi? Sejak aku melangkah ke panggung Hanyou, aku sudah siap membayar harga apa pun demi kekuatan.”

​Su Ling mendesis gusar, memecahkan keheningan saat dia berbalik melangkah meninggalkan platform.

​"Hei, Anak Baru. Kalau kau tidak ingin menjadi mayat kedua di tempat ini, cepat ikuti aku," panggil Su Ling tanpa menoleh ke belakang.

​Xuan Chen tersenyum dingin, merapikan kantung semesta hasil jarahannya di balik jubah, lalu melangkah mengikuti jejak Su Ling menembus kegelapan malam Sekte Jurang Jiwa.

​Jalan setapak batu di zona luar terasa sangat curam dan berbahaya. Di kanan dan kiri mereka, lentera minyak berwarna ungu bergantung pada rantai besi yang berkarat, memancarkan cahaya redup yang bergoyang ditiup angin malam. Su Ling melangkah cepat di depan, jubah merah darahnya melayang anggun, meninggalkan aroma samar bunga batu keabadian eksotis yang menguar di udara.

​Xuan Chen tetap menjaga jarak tiga langkah di belakangnya. Matanya yang tajam tidak pernah berhenti memindai area sekitar, mengamati bangunan-bangunan kayu bernuansa gelap yang berdiri berdampingan di sepanjang tebing gunung. Dari jendela-jendela paviliun yang tertutup rapat, Xuan Chen bisa merasakan puluhan pasang mata tersembunyi yang sedang mengawasi pergerakan mereka. Tatapan-tatapan itu dipenuhi oleh keserakahan, kelaparan, dan haus darah yang tak terselubung.

​“Tempat ini benar-benar sangkar binatang buas,” batin Xuan Chen, jemarinya secara refleks mendekati gagang senjata tersembunyi di balik lengan baju abu-abunya. “Setiap pasang mata di kegelapan ini sedang menunggu kesempatan saat lawannya lengah.”

​Su Ling mendadak menghentikan langkahnya di ujung tangga batu yang menghadap langsung ke sebuah lembah luas. Lembah itu dipenuhi ratusan pondok kayu kecil yang sederhana, tempat para murid luar tinggal dan bertahan hidup. Su Ling berbalik menghadap Xuan Chen, menyilangkan tangan di dada seraya menatap pemuda itu dengan tatapan menilai.

​"Area di bawah sana adalah Lembah Murid Luar," ucap Su Ling seraya menunjuk ke arah jajaran pondok dengan dagunya. "Setiap murid baru diberikan satu pondok standar. Tapi jangan senang dulu, di sekte ini pondok yang lebih dekat dengan sumber energi Qi selalu diperebutkan setiap malam. Kalau kau lemah, kau akan diusir dan terpaksa tidur di tanah berbatu."

​Xuan Chen melirik ke arah lembah tersebut, melihat beberapa figur berpakaian hitam sedang bertarung sengit di sudut lembah demi memperebutkan akses pondok yang lebih layak. Suara dentangan senjata dan caci maki terdengar samar dari kejauhan, tetapi tidak ada satu pun pengawal atau pengawas sekte yang peduli untuk melerai pertikaian tersebut.

​"Pondokmu ada di nomor 407, wilayah paling luar dan paling tipis energi Qi," lanjut Su Ling dengan nada datar. "Saran dariku, sembunyikan kantung semesta hasil jarahanmu tadi dengan baik. Jika murid tingkat senior mengetahui kau membawa barang jarahan di malam pertama, tidurmu tidak akan pernah tenang."

​"Terima kasih atas peringatannya, Nona Su," jawab Xuan Chen tenang tanpa ada raut kepanikan sedikit pun.

​Su Ling hanya mengibaskan tangannya malas, lalu melompat ringan ke atas benteng batu di samping mereka sebelum akhirnya menghilang ke dalam kegelapan zona dalam sekte.

​Xuan Chen berdiri sendirian di puncak tangga batu, menatap lembah yang penuh persaingan berdarah di bawahnya. Dia memegang erat kantung semesta di balik jubahnya, merasakan hangatnya dua buah Pil Pemurni Qi Peringkat Rendah yang sempat dia rasakan saat menggeledah isi kantung tadi.

​“Lembah Murid Luar... tempat pertamaku untuk memicu Dantian dan membangkitkan mata ini sepenuhnya.”

​Dengan langkah mantap dan tanpa ragu, Xuan Chen melangkah turun menelusuri tangga batu, menyongsong kegelapan malam yang siap menyambut kehadiran sang iblis baru.

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!