"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Setelah pengumuman Prof. Hadi, suasana gala berubah.
Orang-orang yang tadi berani menatap Naira dengan rasa ingin tahu murahan mulai mendekat dengan cara lain. Ada yang membawa kartu nama. Ada yang meminta bicara soal kolaborasi. Ada yang memanggilnya "Dokter" dengan tekanan terlalu jelas, seolah ingin memastikan semua orang mendengar mereka sudah berada di pihak yang benar.
Naira menjawab seperlunya.
Ia tidak tertarik pada rasa hormat yang datang karena takut salah posisi.
Di dekat panggung kecil, seorang pria muda melambaikan tangan terlalu semangat.
"Kak Naira!"
Naira menoleh.
Arman Wicaksono, dokter bedah muda dari tim Prof. Hadi, berjalan cepat ke arahnya. Dulu Arman masih mahasiswa kurus yang selalu membawa buku catatan ke mana pun. Sekarang ia sudah menjadi dokter dengan jas rapi, tapi cara matanya bersinar masih sama.
"Aku kira Kakak tidak akan datang."
"Aku juga kira begitu."
Arman tertawa. "Masih galak."
"Masih cerewet?"
"Sedikit."
Ia mengulurkan tangan, lalu ragu apakah harus salim, jabat tangan, atau memeluk. Naira menyelamatkannya dengan menjabat tangannya singkat.
"Kak, Prof minta kita ke ruang kecil setelah acara. Ada beberapa arsip yang..."
Kalimat Arman terhenti ketika ia melihat Clara berdiri tidak jauh.
Clara tersenyum. "Dokter Arman, kamu kenal Mbak Naira juga?"
Arman mengerutkan kening. "Mbak?"
Naira hampir tertawa.
Clara tampak menyesal. "Maksudku Dr. Naira."
Arman menatap Clara seperti baru memahami sesuatu. "Dr. Naira senior saya."
Kata senior membuat beberapa orang di sekitar mereka kembali memperhatikan.
Clara memucat sedikit.
"Senior?" ulang Tania yang masih belum pulih dari teguran Prof. Hadi.
Arman mengangguk polos. "Iya. Waktu saya masih koas, modul trauma yang dipakai Prof Hadi sebagian dari catatan Kak Naira. Kami dulu menyebutnya modul Arkana karena tidak boleh pakai nama asli."
Bisik-bisik naik lagi.
Naira menatap Arman.
Arman baru sadar ia bicara terlalu banyak. "Maaf."
"Kebiasaanmu belum berubah."
"Iya, Kak."
Dimas menyaksikan dari jarak beberapa meter.
Senior.
Modul.
Arkana.
Kata-kata itu menyusun dunia yang tidak pernah ia lihat. Ia dulu mengira hari-hari Naira dimulai dari dapur dan berakhir di kamar. Ternyata sebelum menjadi istrinya, Naira sudah punya ruang operasi, murid, profesor, dan nama yang sengaja disembunyikan demi alasan yang belum ia mengerti.
Clara berkata lembut, "Hebat sekali. Dr. Naira pasti sangat sibuk dulu. Aku jadi heran kenapa selama menikah tidak pernah praktik."
Kalimat itu terdengar kagum.
Tapi Naira tahu Clara sedang melempar pancing.
Kalau Naira menjawab karena ingin menjadi istri yang baik, ia terlihat menyedihkan.
Kalau Naira menjawab karena menyelidiki ibunya, ia membuka terlalu banyak.
Kalau ia diam, orang akan mengira ada masalah izin atau skandal.
Naira menatap Clara. "Karena ada hal yang lebih penting dari menjelaskan hidupku kepada orang yang tidak punya hak."
Clara menahan senyum. "Tentu. Aku hanya bertanya karena publik sedang..."
"Publik tidak sedang bertanya. Kamu yang sedang memberi mereka pertanyaan."
Tania melangkah mundur sedikit.
Arman menatap Clara dengan wajah tidak ramah lagi. "Dr. Clara, kalau Anda ingin diskusi profesional, silakan ajukan pertanyaan di forum. Kalau ingin menggiring opini, mungkin akun gosip lebih cocok."
Clara terkejut.
"Saya tidak..."
"Kamu tidak bermaksud," potong Naira. "Kami sudah dengar."
Wajah Clara benar-benar kehilangan warna.
Dimas akhirnya mendekat.
"Clara, cukup."
Clara menatapnya. "Mas?"
Dulu, Dimas akan berkata kepada Naira agar jangan mempermalukan Clara.
Malam ini, ia berkata kepada Clara agar berhenti.
Perubahan itu kecil, tetapi bagi Clara, itu seperti lantai bergeser.
"Aku hanya ingin membantu," katanya lirih.
Dimas menatapnya. "Tidak semua hal perlu kamu bantu."
Naira tidak memberi reaksi. Ia sudah selesai berharap Dimas membelanya.
Namun Clara melihat ketidakpedulian itu dan justru semakin sakit.
Kalau Naira marah, Clara bisa menangis. Kalau Naira menyerang, Clara bisa jadi korban. Tapi Naira tidak peduli. Itu membuat semua usahanya terlihat kecil.
Seorang staf acara mendekat ke Naira. "Dokter, Prof. Hadi menunggu di ruang rapat kecil."
Naira mengangguk.
Arman berjalan di sisinya. Dimas ingin mengikuti, tapi Naira berhenti.
"Ini rapat arsip medis."
"Aku tahu."
"Kamu tidak termasuk."
Dimas menahan napas. "Aku ingin tahu soal ibumu."
Naira menatapnya lama.
"Kamu ingin tahu karena peduli, atau karena baru sadar namanya bisa menjatuhkan perusahaanmu?"
Dimas seperti ditampar.
Ia tidak menjawab cukup cepat.
Naira berjalan pergi.
Di ruang rapat kecil, Prof. Hadi sudah duduk bersama tiga dokter senior dan seorang pengacara yayasan kampus. Di meja ada dua kotak arsip lama yang segelnya masih utuh.
Naira duduk.
Prof. Hadi mendorong satu amplop cokelat kepadanya.
"Ini salinan surat terakhir ibumu kepada komite etik. Aku menyimpannya karena waktu itu ada yang meminta semua dokumen dimusnahkan."
Naira membuka amplop.
Tangan ibunya tampak di halaman pertama.
Kepada Komite Etik,
Saya menolak melanjutkan uji klinik sponsor Cakradinata Farma karena ditemukan penyimpangan pemilihan subjek, manipulasi informed consent, dan indikasi penggunaan sampel tanpa izin keluarga.
Naira membaca tanpa berkedip.
Setiap kata seperti pisau lama yang akhirnya ditemukan gagangnya.
Prof. Hadi berkata pelan, "Tiga minggu setelah surat itu, ibumu hilang."
Arman yang duduk di sebelah Naira menahan napas.
Pengacara yayasan menambahkan, "Secara resmi, kasus itu ditutup karena Dr. Sari disebut membawa data dan dana sponsor. Tapi arsip ini menunjukkan sebaliknya."
"Kenapa baru dibuka sekarang?" tanya Naira.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Prof. Hadi menatap meja. "Karena kami takut."
Kejujuran itu berat.
Naira menatap para dokter senior di ruangan itu. Beberapa menunduk. Orang-orang ini bukan musuhnya, tetapi diam mereka dulu memberi ruang bagi musuh.
"Saya tidak butuh rasa bersalah," kata Naira. "Saya butuh semua dokumen."
Prof. Hadi mengangguk. "Kamu akan mendapatkannya."
Ponsel pengacara yayasan bergetar. Ia membaca pesan, lalu wajahnya berubah.
"Ada permintaan dari pihak Cakradinata Farma. Mereka meminta penundaan pembukaan arsip dengan alasan sengketa kerahasiaan sponsor."
Naira menutup surat ibunya perlahan.
"Bagus."
Arman menatapnya bingung. "Bagus?"
Mata Naira dingin.
"Berarti mereka masih takut pada sesuatu di dalam arsip."
Di luar ruang rapat, Clara berdiri dekat pintu darurat, menggenggam ponselnya.
Ia baru saja mendengar nama Cakradinata terlalu sering malam ini.
Dan ia tahu satu hal.
Kalau ingin menjatuhkan Naira, ia tidak bisa lagi melakukannya dengan air mata saja.
Ia menelepon Tania begitu sampai di toilet hotel.
"Kamu punya kenalan di Cakradinata Farma?" tanya Clara.
Tania terkejut. "Untuk apa?"
"Aku hanya ingin bertanya soal arsip lama. Jangan dibuat dramatis."
"Clar, setelah Prof Hadi tadi, menurutku kita jangan ikut-ikut."
Clara menatap bayangannya di cermin. Riasannya masih sempurna, tapi matanya tidak setenang tadi.
"Kamu takut?"
"Aku realistis. Naira itu ternyata dekat dengan semua orang besar."
Kalimat itu membuat dada Clara panas.
Semua orang besar.
Dimas dulu orang besar di hidupnya. Sekarang bahkan Dimas mulai ragu.
"Justru karena itu," kata Clara pelan, "kalau tidak ada yang membongkar kebohongannya, dia akan mengambil semuanya."
"Kebohongan apa?"
Clara tidak menjawab.
Karena untuk pertama kali, ia sendiri belum menemukan kebohongan itu.
Tapi ia yakin pasti ada.
Orang seperti Naira tidak mungkin sebersih itu.
Di ruang rapat, Naira menyimpan salinan surat ibunya ke dalam map khusus.
Arman menatapnya ragu. "Kak, kalau Clara benar-benar menghubungi Cakradinata?"
"Maka dia memilih pintu yang salah."
"Dimas tahu?"
Naira menutup map. "Dimas selalu tahu setelah semuanya terlambat."
Arman tidak berani tertawa.
Prof. Hadi yang mendengar itu berkata, "Kamu masih marah."
"Saya masih waras, Prof. Itu beda."
Prof. Hadi tersenyum lelah. "Bagus. Kemarahan bisa padam. Kewarasan membuatmu tetap hidup."
Naira memegang map itu lebih erat. Ia tidak hanya ingin hidup. Ia ingin ibunya kembali dari fitnah, meski hanya lewat nama yang dibersihkan.
Di luar, suara musik gala masih terdengar samar. Dunia tetap menari, seolah tidak ada arsip lama yang baru saja membuka luka.
Naira menutup map itu rapat, lalu menyimpannya di dekat dada, seperti janji lama.