Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Dari Dalam

Tiga minggu setelah pertemuan dewan investor yang menjadi titik balik besar dalam menghadapi Raina, kehidupan keluarga Subroto perlahan mulai kembali ke ritme yang lebih tenang — meski kewaspadaan tetap terjaga, mengingat Raina sendiri masih belum tertangkap, bersembunyi entah di mana setelah jaringannya runtuh.

Namun, ketenangan itu terusik oleh sebuah temuan kecil yang, pada awalnya, tampak seperti detail administratif biasa.

"Tuan, ada sesuatu yang aneh dalam catatan akses sistem kita," lapor kepala divisi keamanan siber dalam rapat rutin mingguan. "Beberapa dokumen internal yang sangat sensitif — termasuk detail strategi hukum yang kita gunakan melawan Raina — sepertinya diakses oleh seseorang di dalam organisasi kita sendiri, beberapa hari sebelum kita menyerahkan bukti ke pihak berwajib."

Luki menegakkan punggungnya, perhatian penuh langsung tertuju pada laporan itu. "Maksudmu, seseorang di dalam tim kita membocorkan informasi kepada Raina?"

"Kami belum bisa memastikan bocor kemana, Tuan," jawab kepala divisi itu hati-hati. "Tapi pola aksesnya mencurigakan. Seseorang dengan level otorisasi tinggi membuka dokumen-dokumen itu di luar jam kerja normal, menggunakan kredensial yang sah, tapi dengan pola penggunaan yang berbeda dari kebiasaan biasa pemilik akun tersebut."

"Siapa pemilik akun itu?" tanya Bram, suaranya tegang, menyadari implikasi serius dari temuan ini.

Kepala divisi keamanan siber ragu sejenak sebelum menjawab, seolah kata-kata berikutnya terasa berat untuk diucapkan. "Akun itu terdaftar atas nama Pak Wijaya, kepala divisi keuangan kita."

Ruangan itu hening, semua orang menyerap informasi itu dengan berbagai reaksi — Pak Wijaya adalah salah satu eksekutif senior yang telah bekerja dengan Luki selama lebih dari delapan tahun, seseorang yang selama ini dipercaya penuh, terlibat dalam hampir semua keputusan finansial penting organisasi.

"Itu tidak mungkin," kata Luki, meski suaranya sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin. "Wijaya sudah bersama kita sejak awal aku membangun kembali bisnis ini pasca kejatuhan Antasena. Dia salah satu orang paling loyal yang pernah kukenal."

"Saya mengerti keraguan Tuan," jawab kepala divisi keamanan siber, "tapi bukti digitalnya cukup jelas. Kami perlu menyelidiki lebih lanjut sebelum mengambil tindakan apa pun, tapi saya rasa penting bagi Tuan untuk mengetahui ini secepatnya."

Malam itu, Luki tidak bisa tidur, pikirannya berputar memikirkan kemungkinan pengkhianatan dari orang yang telah ia percaya selama bertahun-tahun. Ia duduk di ruang kerja bersama Alena, menceritakan seluruh temuan itu dengan wajah penuh kebingungan dan kekecewaan yang mendalam.

"Aku tidak percaya ini," katanya, menggosok wajahnya dengan lelah. "Wijaya bahkan pernah menolak tawaran gaji lebih tinggi dari perusahaan pesaing beberapa tahun lalu, memilih tetap bersama kami. Kenapa dia tiba-tiba berkhianat sekarang?"

"Mungkin ada penjelasan lain," kata Alena hati-hati, mencoba memberikan perspektif yang lebih seimbang. "Mungkin akunnya diretas, atau mungkin ada tekanan dari luar yang memaksanya melakukan ini."

"Atau mungkin dia memang berkhianat," jawab Luki, suaranya penuh dengan kepahitan yang jarang ia tunjukkan. "Aku sudah terlalu sering dikhianati dalam hidup ini, Alena. Bawahanku dulu, bahkan—" ia berhenti sejenak, mengingat kembali eksekusi yang pernah ia lakukan bertahun-tahun lalu, sebuah kenangan yang selalu mengingatkannya betapa rapuhnya kepercayaan dalam dunia yang ia jalani.

Alena meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Kita akan mencari tahu kebenarannya, Luki. Tapi jangan langsung menghakiminya sebelum kita punya bukti yang lebih pasti. Kamu selalu mengajarkan pada Indra pentingnya bukti sebelum mengambil kesimpulan. Terapkan prinsip yang sama di sini."

Kata-kata itu menenangkan sebagian dari kemarahan dan kekecewaan Luki, mengingatkannya bahwa pendekatan yang telah berhasil mereka gunakan melawan Raina — bukti, kesabaran, strategi — seharusnya juga diterapkan dalam menghadapi kemungkinan pengkhianatan ini.

Keesokan harinya, Luki memanggil Wijaya ke ruang kerjanya, sebuah pertemuan yang, meski disamarkan sebagai rapat rutin biasa, sebenarnya adalah kesempatan bagi Luki untuk mengamati reaksi orang yang telah ia percaya selama bertahun-tahun.

Wijaya masuk dengan sikap yang tampak normal, membawa laporan keuangan bulanan seperti biasa, tidak menunjukkan tanda-tanda kegugupan yang mencolok — sesuatu yang, bagi Luki yang sudah bertahun-tahun terlatih membaca bahasa tubuh orang lain, entah menandakan ketidakbersalahan sejati, atau kemampuan menyembunyikan kebohongan yang sangat terlatih.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Wijaya, duduk di kursi seberang meja Luki, ekspresinya tampak setenang biasa.

Luki mengamatinya lama sebelum menjawab, mencoba membaca setiap detail kecil dari ekspresi dan bahasa tubuh pria yang telah menjadi bagian penting dari timnya selama delapan tahun terakhir.

"Aku ingin membahas soal keamanan data internal kita," katanya akhirnya, memilih pendekatan tidak langsung untuk mengamati reaksi Wijaya. "Ada beberapa kekhawatiran soal potensi kebocoran informasi sensitif belakangan ini."

Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata Wijaya — begitu cepat sehingga Luki hampir tidak yakin apakah ia benar-benar melihatnya atau hanya imajinasinya sendiri yang dipicu oleh kecurigaan.

"Kebocoran, Tuan?" tanya Wijaya, suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda dalam nadanya. "Apa yang perlu saya ketahui soal ini?"

Luki menatapnya lama, menyadari bahwa percakapan ini baru permulaan dari sebuah penyelidikan yang jauh lebih rumit dan personal dari apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya — bukan lagi menghadapi musuh dari luar, melainkan kemungkinan pengkhianatan dari dalam lingkaran kepercayaan yang paling dekat dengannya.

"Aku akan memberitahumu semuanya pada waktunya," jawab Luki akhirnya, memutuskan untuk tidak mengungkapkan kecurigaannya secara langsung sampai bukti lebih lanjut terkumpul. "Untuk sekarang, aku hanya ingin memastikan semua orang tetap waspada terhadap potensi ancaman keamanan."

Wijaya mengangguk, mengucapkan kata-kata yang sopan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan, meninggalkan Luki dengan pikiran yang semakin dipenuhi keraguan — antara kepercayaan bertahun-tahun dan kecurigaan yang baru saja ditanamkan oleh bukti digital yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!