Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Ciuman itu terasa begitu dalam dan menuntut, seolah Damian sedang menyerap seluruh kehangatan yang dimiliki Cindy ke dalam tubuhnya yang dingin. Tangan besar pria itu di tengkuk Cindy sedikit meremas lembut, menahan kepala gadis itu agar tidak menjauh, sementara tangan satunya lagi beralih mendekap pinggang Cindy, menarik tubuh mungil itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Cindy mencengkeram kemeja rajut abu-abu Damian dengan erat. Rasa mint yang tajam berpadu dengan hawa sedingin es dari bibir Damian perlahan membuat kepala Cindy pening, namun dalam artian yang memabukkan. Setiap sentuhan Damian mengirimkan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya seperti sebuah kombinasi antara kenyamanan yang int** dan gair*h yang sedikit dominan.
Ketika Damian akhirnya menarik bibirnya perlahan, ia tidak langsung menjauhkan wajahnya. Dahinya menempel pada dahi Cindy, membiarkan napas mereka yang kontras antara napas Cindy yang memburu hangat dan napas Damian yang tipis juga dingin berbaur di udara pagi.
“Damian…” bisik Cindy dengan mata yang masih setengah terpejam, bibirnya yang sedikit basah tampak memerah. Jantungnya masih berdegup kencang di rongga dadanya.
Damian membuka matanya, menatap manik coklat terang Cindy yang kini tampak sayu penuh damba. Senyuman tipis kembali terukir di wajah pucatnya. “Napasmu begitu hangat, Cindy. Itu membuat saya... merasa sangat hidup,” ujarnya dengan suara serak yang begitu rendah, hampir seperti bisikan angin di tengah malam.
Cindy perlahan membuka matanya, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat terbang melayang. Ia menatap lekat-lekat gumpalan uap tipis yang keluar dari mulut Damian saat pria itu berbicara, padahal matahari pagi ini sudah semakin meninggi dan menghangatkan teras.
“Kamu... dingin sekali, Damian,” gumam Cindy polos, tangannya yang masih berada di dada Damian dan ia bisa merasakan kain kemeja pria itu yang terasa seperti habis disimpan di dalam lemari es. “Tapi... aku suka.”
Damian terkekeh rendah, suara tawanya bergema lembut di dada bidangnya yang kaku. Ia mengecup dahi Cindy sekilas sebelum akhirnya melonggarkan pelukannya, membiarkan Cindy duduk kembali dengan tegak, meskipun salah satu tangan pucatnya tetap menggenggam jemari Cindy di atas meja.
“Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi merasa sepi di rumah ini,” ucap Damian, jemarinya mengelus punggung tangan Cindy dengan gerakan memutar yang ritmis. “Saya akan selalu ada di dekatmu. Kapan pun kamu memanggil, saya akan datang.”
Cindy tersenyum manis, merasa hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan yang utuh setelah dua tahun dirundung kedukaan akibat kehilangan orang tuanya. “Terima kasih, Damian. Janji ya? Jangan tiba-tiba menghilang atau kembali ke Belanda tanpa memberi tahu aku.”
Mendengar kata 'kembali ke Belanda', kilatan hitam yang pekat kembali melintas cepat di mata biru Damian, namun ia segera menyembunyikannya di balik kedipan mata yang tenang. “Saya tidak akan pernah kembali ke sana, Cindy. Tempat saya sekarang ada di sini... tepat di sebelah rumahmu. Di tanah ini.”
Cindy mengangguk percaya, lalu melirik ke arah dua mangkuk soto ayam di atas meja yang uapnya kini sudah mulai menipis karena terabaikan cukup lama. “Ah, sotonya sampai hampir dingin! Ayo dihabiskan dulu, nanti keburu gak enak kuahnya.”
“Tentu,” jawab Damian patuh. Ia kembali meraih sendoknya, sementara matanya tetap sesekali melirik ke arah Cindy yang mulai menyuap makanannya sendiri dengan wajah yang masih menyisakan rona kemerahan.
Di tengah suasana sarapan yang penuh bunga itu, angin Muson timur tiba-tiba berembus sedikit kencang dari arah halaman belakang. Gesekan dedaunan pohon beringin tua milik Damian terdengar seperti bisikan-bisikan lirih yang saling bersahutan. Wangi kenanga yang pekat mendadak melintas lagi, memotong aroma kuah soto yang gurih.
Cindy sempat menjeda kunyahannya, menatap ke arah pagar pembatas rawa-rawa di belakang rumahnya yang tertutup rimbunnya pepohonan liar. Entah mengapa, sesaat ia merasa seperti ada ratusan pasang mata yang sedang menatap lapar ke arahnya dari balik kegelapan rawa itu, namun ketika ia melirik ke arah Damian, pria itu hanya menatapnya dengan tatapan teduh yang seolah meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Di bawah perlindungan Damian, Cindy merasa aman. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di luar pagar sana, Ki Renggo sedang menancapkan pasak gaib terakhir ke dalam tanah rawa yang berair, menahan puluhan makhluk berwajah cacat yang melolong tanpa suara, ketakutan setengah mati oleh energi hitam dari sang Iblis Belanda yang sedang kasmaran di teras sebelah.
Usai menghabiskan sarapan bersama, Cindy mengajak Damian untuk masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu ingin menunjukkan sesuatu. Di mana sebuah lukisan lama yang terpajang di dinding rumah Cindy. Lukisan yang entah kenapa membuat Damian tertegun dan menatap Cindy untuk memberi kejelasan.
“Kamu dapat lukisan ini dari mana?“ tanya pria itu seperti ada sesuatu dalam dirinya yang ketrieger.
Cindy menatap Damian yang terkejut lantas gadis itu melangkah ke depan menatap lukisan itu cukup lama. “Sebenarnya aku gak tau lukisan itu di dapat dari mana. Tapi kata ayahku itu lukisan lama penginggalan kakek ku.“
Cindy melangkah mendekati lukisan berbingkai kayu jati ukir yang ukurannya cukup besar tersebut. Kanvasnya sudah memudar dimakan usia, mengubah warna-warna aslinya yang mungkin dulu sangat megah menjadi gradasi hitam, kelabu, dan putih kusam yang tampak antik.
Lukisan itu menggambarkan sebuah keluarga bangsawan Eropa abad ke-19 yang berpose formal di depan sebuah bangunan kolonial megah, bangunan yang struktur atap dan pilarnya sangat mirip dengan rumah yang kini dihuni oleh Damian. Di bagian tengah lukisan, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam militer Hindia Belanda, di dampingi seorang wanita anggun bergaun malam bervolume besar. Dan di depan mereka, berdiri seorang pemuda jangkung dengan tatapan mata yang tajam, mengenakan setelan jas berkancing ganda.
Meskipun warnanya telah meluntur, guratan wajah pemuda di dalam lukisan itu sama sekali tidak bisa membohongi siapapun yang melihatnya. Garis rahangnya, hidung bangirnya, bahkan sorot matanya yang dingin... itu adalah Damian. Sempurna tanpa ada perbedaan sedikit pun. Ki
Damian masih berdiri mematung di tempatnya. Langkah kakinya yang biasanya tak bersuara kini terasa sangat berat. Tatapannya terkunci pada sosok pemuda di kanvas itu, lalu perlahan beralih ke sudut kanan bawah lukisan, di mana terdapat sebuah simbol keluarga berbentuk cap singa dan inisial samar yaitu inisial V.d.V.
"Ayahku bilang," Cindy melanjutkan tanpa menyadari badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam diri pria di sebelahnya, "kakekku dulu adalah seorang perawat atau semacam abdi dalem yang mengurus rumah ini setelah pemilik aslinya pergi atau... meninggal, aku kurang tahu pastinya. Lukisan ini ditemukan tersimpan di dalam peti tua di loteng bawah tanah rumah ini, lalu ayahku membersihkannya dan memajangnya di sini."
Cindy menoleh ke arah Damian, mendapati pria itu masih terdiam dengan wajah yang tampak lebih kaku dari biasanya. "Damian? Kamu oke? Kok mukanya tegang banget?"
Damian menarik napas perlahan sebuah gestur kebiasaan manusia yang sebenarnya tidak ia butuhkan, lalu ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang halus untuk menutupi gejolak di dadanya. Ingatannya mendadak ditarik mundur ke masa ratusan tahun lalu, ke malam berdarah di mana keluarganya dibantai dan jiwanya terikat pada tanah ini. Dan fakta bahwa kakek Cindy adalah orang yang merawat peninggalannya... membuat takdir di antara mereka terasa semakin mengikat.
"Saya tidak apa-apa, Cindy," suara Damian mengalun rendah, kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa. "Saya hanya... sangat kagum. Lukisan ini luar biasa cantik. Teknik arsirannya, detail pakaiannya... ini adalah karya seni yang sangat bernilai tinggi dari era kolonial."
"Benar kan?" Cindy tersenyum bangga, ia melangkah setapak lagi lalu menyentuh pinggiran bingkai jati yang berdebu tipis. "Aku selalu merasa aneh setiap kali melihat pemuda di lukisan ini. Entah kenapa, jauh sebelum aku bertemu denganmu malam itu, aku merasa wajahnya terasa familier. Dan sekarang setelah dipikir-pikir... kalian berdua agak mirip ya? Potongan rambut dan tatapan matanya itu loh. Apa mungkin orang Belanda zaman dulu punya standar ketampanan yang mirip semua?" seloroh Cindy diakhiri kekehan geli.
Damian melangkah maju, kini berdiri tepat di belakang Cindy. Aura dinginnya yang pekat kembali menyelimuti tubuh gadis itu, memberikan sensasi protektif yang int**. Damian menatap pundak Cindy, lalu beralih ke lukisan keluarganya sendiri.
"Mungkin saja," jawab Damian misterius. "Dunia ini penuh dengan kebetulan yang tidak terduga, Cindy. Atau mungkin... ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang menuntun saya untuk kembali ke tempat di mana saya seharusnya berada."
Cindy berbalik, mendongak untuk menatap mata biru Damian yang kini tampak berkilau diterpa cahaya lampu ruangan. "Maksudmu, takdir yang membawa kamu kembali ke Indonesia dan jadi tetanggaku?"
"Ya," Damian mengulurkan tangan pucatnya, merapikan anak rambut Cindy yang menjuntai di dahi dengan gerakan yang sangat lembut. "Takdir yang mempertemukan saya dengan pemilik rumah ini. Seseorang yang menyimpan masa lalu saya dengan begitu rapi."
Cindy tersenyum manis, mengira kalimat Damian hanyalah sebuah untaian kata romantis yang puitis. "Aku senang kalau lukisan ini gak membuatmu merasa aneh. Aku sempat takut kamu bakal tersinggung atau menganggap kompleks ini terlalu menyeramkan karena menyimpan banyak barang kuno."
"Sama sekali tidak," bisik Damian, matanya kembali menggelap sesaat, memancarkan kepemilikan yang mutlak. "Justru saya merasa... saya sudah benar-benar pulang ke rumah."
Di luar rumah, langit pagi yang cerah mendadak sedikit meredup karena sekelompok awan hitam melintas cepat. Dari arah halaman belakang, sayup-sayup terdengar suara ketukan palu Ki Renggo yang sedang memperkuat pasak gaibnya, seolah menyegel rahasia besar yang tersimpan di dalam dinding-dinding rumah kuno itu agar tidak pernah terendus oleh logika manusia hidup milik Cindy.