Indonesia
NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 — Reaksi Ren

Dua hari setelah bocoran forum itu nyebar, sebuah pesan personal masuk ke inbox Kaito, dari nama yang bikin dia berhenti sejenak begitu ngeliatnya.

Todoroki Ren: Kita perlu ngobrol. Bukan soal guild war, bukan soal rivalitas. Ini personal. Ketemu di Kedai Senja, besok jam tujuh malem!

Kaito natap pesan itu lama, nggak yakin harus curiga atau enggak. Dia forward ke Rin yang balesannya nggak kalah waspada.

Rin: Aneh. Tapi mungkin worth buat didatengin. Gue temenin standby dari jauh aja, biar nggak keliatan kayak lo bawa "pengawal."

Kaito: Oke.

Kedai Senja ternyata tempat yang cukup tenang, di sudut Vale Aurora yang jarang dilewatin pemain lain, dengan pencahayaan temaram dan musik pelan yang ngalun dari sudut ruangan.

Kaito dateng tepat waktu, dan Ren udah duduk di meja pojok, sendirian, tanpa dua anggota timnya yang biasa nemenin.

Kaito berdiri sebentar di ambang pintu, ngeliatin Ren dari kejauhan lalu duduk santai tapi ada sesuatu yang beda dari posturnya dibanding waktu di arena atau di plaza dulu, kurang tegang, lebih... manusiawi.

"Makasih udah mau dateng," kata Ren, begitu Kaito duduk di seberangnya.

"Lo bilang ini personal, jadi gue penasaran." kata Kaito langsung ke inti.

Ren diem sebentar, natap gelas minumannya sendiri sebelum akhirnya buka suara. "Gue denger soal 'Dialog Terbuka' yang bakal lo lakuin sama developer."

"Dari bocoran forum?"

"Dari sana, sama dari beberapa sumber lain, gue nggak tau siapa yang bocorin, tapi itu bukan alasan gue ngajak lo ketemu." Ren ngangguk.

"Terus apa?"

Ren narik napas panjang, ekspresinya berubah, lebih rentan dari yang pernah Kaito liat sebelumnya. "Gue mau minta maaf. Buat cara gue nyikapin lo waktu pertandingan dulu, buat rumor-rumor yang mungkin nggak sepenuhnya gue cegah nyebar dari orang-orang deket gue."

Kaito kaget, nggak nyangka bakal denger permintaan maaf dari orang yang selama ini dia anggep rival.

"Kenapa sekarang?" tanya Kaito hati-hati.

"Karena," Ren berhenti sebentar, kayak lagi nyusun kata-kata yang udah lama dia pikirin, "gue sadar, apa yang lo lakuin sekarang, berani buka diri ke publik soal sesuatu yang bisa aja bikin lo dihakimi habis-habisan, itu butuh keberanian yang jujur aja gue sendiri nggak yakin punya."

"Maksud lo?"

"Selama ini gue selalu di posisi yang 'aman.' Keluarga gue kaya, gue dapet akses ke pelatih terbaik, peralatan terbaik, sejak awal main game ini. Prestasi gue, walau nyata, selalu ada bayang-bayang keraguan, apa itu emang murni bakat gue, atau karena gue punya modal yang orang lain nggak punya." lanjut Ren.

Kaito diem dengerin dengan seksama.

"Terus lo muncul, dari nol, tanpa modal apa pun, bahkan katanya dari hidup yang penuh kesialan. Dan lo naik secepat itu. Gue nggak bakal bohong, awalnya gue benci itu. Kerasa kayak semua kerja keras gue jadi nggak berarti, dikalahin sama 'keberuntungan.'" lanjut Ren.

"Tapi?"

"Tapi setelah World Event itu, gue liat gimana lo maju ke inti retakan itu, gimana lo nggak mikirin dampak ke diri lo sendiri, cuma mikirin gimana caranya nyelametin situasi. Itu bukan keberuntungan doang. Itu keberanian. Dan sekarang, lo mau buka diri lo secara terbuka, tau resikonya, tau bisa aja publik nyerang lo abis-abisan." Ren geleng kepala pelan. "Itu bukan sesuatu yang bisa dibeli sama modal keluarga gue." kata Ren.

Kaito ngerasa dadanya berat, campuran antara terharu dan nggak nyangka.

"Gue nggak tau harus jawab apa," kata Kaito jujur.

"Lo nggak perlu jawab apa-apa, gue cuma mau lo tau, gue nggak lagi jadi musuh lo. Kalo emang 'Dialog Terbuka' itu jadi berantakan, kalo publik mulai nyerang lo, gue bakal angkat suara buat dukung lo. Reputasi gue, walau lo mungkin nggak suka gimana gue dapetinnya, masih cukup berpengaruh buat bantu ngebalikin opini publik." kata Ren.

"Kenapa lo mau ngelakuin itu? Kita bahkan baru sekali doang beneran ngobrol kayak gini." tanya Kaito.

Ren tersenyum tipis, senyum yang beda dari senyum kompetitifnya di pertandingan dulu. "Karena gue capek jadi orang yang selalu ngerasa harus buktiin diri lewat menjatuhkan orang lain. Mungkin ini kesempatan gue buat jadi orang yang lebih baik dari itu."

Mereka duduk diem sejenak, suasana yang tadinya tegang perlahan berubah jadi lebih tenang, hampir kayak dua orang yang baru aja lepas dari beban yang mereka pikul terlalu lama.

"Makasih, Ren, buat jujur soal semua ini." kata Kaito akhirnya.

"Jangan berterima kasih dulu, gue masih pengen ngalahin lo di pertandingan berikutnya, buat rekor. Tapi di luar arena, gue rasa kita bisa saling dukung." Ren nyengir, kembali ke nada yang lebih ringan.

Kaito ketawa kecil ngerasa lega. "Deal."

Mereka ngobrol lebih lama setelah itu, suasananya jauh lebih santai dari yang Kaito bayangin sebelumnya, Ren cerita dikit soal tekanan keluarganya, soal ekspektasi yang selalu dia rasa harus dia penuhin, dan Kaito, di sela obrolan itu, cerita balik soal hidupnya yang penuh kesialan sebelum semua ini dimulai.

"Keluarga gue tuh, sukses semua, generasi demi generasi. Kakek gue pendiri perusahaan gede, bokap gue lanjutin, sekarang giliran gue yang harus 'nunjukin' sesuatu, entah di bidang apa. Main game ini awalnya cuma pelarian, tapi lama-lama jadi satu-satunya tempat gue ngerasa bisa buktiin diri, walau tetep aja, dengan segala privilage yang gue punya." kata Ren sambil natap gelasnya.

"Itu berat juga ya ekspektasi kayak gitu." gumam Kaito.

"Nggak seberat hidup lo dulu mungkin, tapi tetep beban dengan caranya sendiri." Ren ketawa kecil.

"Gue nggak pernah mikirin dari sudut pandang gitu, gue kira orang kayak lo nggak punya masalah apa-apa." kata Kaito.

"Semua orang punya masalahnya sendiri, cuma bentuknya beda-beda." kata Ren.

Begitu mereka akhirnya pamit, Ren berdiri, natap Kaito sebentar sebelum ngomong lagi.

"Satu hal lagi, hati-hati sama siapa yang lo percaya di balik layar developer. Gue denger beberapa hal soal Kirishima yang bikin gue nggak sepenuhnya nyaman." katanya.

Kaito ngerasa waspada langsung. "Hal apa?"

"Nggak ada yang konkret, cuma gosip dari orang-orang yang pernah kerja sama tim developer. Katanya, dia orang yang 'terlalu tertarik' sama anomali sistem, sampe kadang bikin orang lain nggak nyaman. Ada juga yang bilang dia sempet dipindahin dari proyek lain gara-gara terlalu obsesif ngejar satu topik penelitian tertentu, walau nggak ada yang tau persis topiknya apa. Mungkin cuma gosip. Tapi mending lo tau." kata Ren.

Kaito ngangguk, nyimpen informasi itu baik-baik, ngerasa makin banyak potongan puzzle yang perlu dia rangkai soal siapa sebenarnya Kirishima. "Makasih infonya."

"Sampai jumpa di pertandingan berikutnya Kaito," kata Ren, senyum kompetitif yang khas balik lagi ke wajahnya, walau kali ini tanpa nada permusuhan sama sekali.

"Sampai jumpa Ren."

Begitu Ren pergi, Rin muncul dari arah lain, udah nunggu dari jauh kayak yang mereka rencanain.

"Gimana?" tanya Rin penasaran.

Kaito cerita semuanya, dari permintaan maaf Ren sampe peringatan soal Kirishima. Rin dengerin dengan seksama, ekspresinya makin serius di bagian terakhir, sesekali nanya detail kecil yang mungkin keliatan sepele tapi penting buat dianalisis lebih lanjut nanti.

"Itu ngedukung kecurigaan kita, kita perlu makin hati-hati mendekati hari-H. Mungkin Amagi bisa coba gali lebih dalam soal riwayat kerja Kirishima sebelum ini." gumamnya.

"Yeah, tapi buat sekarang, gue seneng minimal satu musuh lama gue jadi... yah, bukan musuh lagi." kata Kaito, natap langit malam virtual di atas mereka.

Rin senyum, ngegenggam tangannya. "Progress kecil yang bagus di tengah semua kekacauan ini."

Mereka jalan pulang bareng, langit malam penuh bintang buatan menemani mereka, dan Kaito, di tengah semua ketidakpastian yang masih ngambang soal hari besar yang makin deket, ngerasa sedikit lebih tenang, setidaknya satu beban di pundaknya udah berkurang malam itu.

"Lo nggak nyangka ya, Ren bisa berubah sejauh itu?" tanya Rin, di sela jalan mereka.

"Sama sekali enggak, gue kira dia bakal tetep jadi rival yang nyebelin selamanya." kata Kaito.

"Orang bisa berubah, kadang butuh momen yang tepat buat nyadarin mereka." kata Rin.

"Kayak gue? Seminggu lalu masih parno banget soal semuanya, sekarang malah dapet dukungan dari mantan rival paling gigih di server." Kaito nyengir.

"Banyak hal berubah cepet belakangan ini, tapi gue rasa itu bukan hal buruk sama sekali." Rin ngangguk dengan senyum kecil.

Kaito ngangguk setuju, ngerasa hangat ngeliat gimana perjalanan ini terus ngasih dia hal-hal yang nggak pernah dia bayangin sebelumnya, termasuk persekutuan yang nggak disangka-sangka dari orang yang dulu dia anggep ancaman terbesar di luar dirinya sendiri.

1
Aisyah Suyuti
menarik
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ku lanjutkan baca nanti
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
saling support 👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat trus k
Tio Buki
Lanjut ya bro🙏🙏🙏🙏🙏👍👍👍👍
Tio Buki
Semangat bro
Tio Buki
Sosok lain ya
Tio Buki
Sukses ya
Tio Buki
Lanjutkan
Tio Buki
Resiko ya
Tio Buki
Ya benar
Tio Buki
Muncul ya
Tio Buki
ya benar nyata
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki
Semangat ya💪💪💪💪
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Oke, aku coba
Tio Buki
Mikir gue. Untuk apa?
Tio Buki
Emang
Tio Buki
Aku ngak tau, soalnya ngak pernah main
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!