Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Takut untuk Merasa
POV Ana Paula
Kalau ada satu hal yang kupelajari dalam hidup... itu adalah bahwa tak ada yang datang dengan mudah. Sama sekali tak ada.
Tapi, meski begitu, aku selalu jadi tipe yang berani menghadapi. Yang menatap langsung. Yang tak lari.
Mungkin karena itulah... ketika Pietro mengajakku bicara, aku sudah tahu bahwa ini bukan hal sederhana. Terlihat dari tatapannya. Serius. Tegas. Tapi, di saat yang sama... sarat oleh sesuatu yang belum bisa kudefinisikan.
Kami masuk ke mobil dalam diam. Aku mencoba bercanda.
"Kamu bikin aku gugup, nih."
Ia melepas senyum kecil. Tapi bukan senyum ringan yang pernah kulihat sebelumnya. Ini berbeda. Lebih tertahan.
"Bukan itu maksudku."
"Kalau begitu, cepat katakan."
Kusilangkan lengan, mencoba tampak tenang. Tapi, di dalam... aku penasaran. Dan sedikit cemas juga.
Ia menghentikan mobil. Memutar tubuh ke arahku. Dan menatapku. Lurus. Tanpa mengelak.
"Aku perlu memberitahumu sesuatu."
Kuangkat sebelah alis.
"Kedengarannya kayak masalah."
"Bisa jadi."
Itu membuatku makin memusatkan perhatian.
"Tapi sebelumnya... kamu perlu tahu satu hal."
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Aku tertarik padamu, Ana."
Jantungku melonjak. Aku tak menyangka ia akan sebegitu terus-terang. Tanpa berbelit. Tanpa main-main. Cuma... langsung.
Dan, sejujurnya? Aku suka. Sangat.
"Tertarik... bagaimana?" tanyaku, walau sudah punya bayangan.
Ia tak ragu.
"Sungguhan."
Hening.
"Ini bukan main-main. Bukan pengisi waktu. Bukan seperti diriku yang dulu."
Ia bersungguh-sungguh. Terlihat jelas. Dari tatapannya. Dari cara ia bicara. Itu bukan pria yang terbiasa membuka diri seperti itu.
Dan, meski begitu... ia ada di sana. Melakukan persis hal itu. Untukku.
"Lalu apa?" tanyaku, lebih pelan.
Ia menahan tatapanku.
"Aku menginginkanmu."
Sederhana. Lugas. Berat.
Dan jantungku... membalas dengan intensitas yang sama.
Tapi lalu ia mengubah nada. Menjadi lebih serius. Lebih hati-hati.
"Dan justru karena itulah aku perlu memberitahumu siapa aku sebenarnya."
Ah.
Jadi ini soal itu.
Kutahan senyumku.
"Silakan bicara."
Ia mengamatiku sedetik. Seolah mencoba menebak reaksiku.
"Keluargaku... tidak biasa."
"Itu sudah kusadari," godaku.
Ia tak tersenyum.
"Bukan, Ana... bukan sekadar begitu."
Hening.
"Aku bagian dari keluarga... mafia."
Jeda.
"Kakakku adalah Dom. Dan aku... bagian dari itu."
Aku tetap tenang. Aku tersenyum. Tipis.
Dan itu... membuatnya benar-benar bingung.
"Kamu... mengerti yang kukatakan?"
Aku tertawa pelan.
"Mengerti."
Ia mengerutkan dahi.
"Lalu kenapa kamu setenang ini?"
Kumiringkan kepala.
"Karena aku sudah tahu."
Hening.
Sekarang giliran ia yang tak bisa bereaksi.
"Maksudmu 'sudah tahu'?"
Aku mengangkat bahu.
"Luna mengigau kalau tidur."
Ia mengerjap.
"Apa?"
Aku mulai tertawa.
"Serius! Ia sering banget menginap di rumah. Dan mengoceh hal-hal yang... agak mencurigakan."
Ia mengusap wajah, tak percaya.
"Nggak nyangka..."
"Percaya deh."
Aku melanjutkan.
"Aku dan Cissa mulai menyusun kepingan-kepingannya. Lalu, tanpa sengaja, kami mendengar percakapannya dengan orang tuanya. Setelah itu... ya sudah. Kami rangkai semuanya."
Ia masih menatapku, mencoba mencerna.
"Dan kalian... begitu saja menerimanya?"
Aku memberi senyum lebih lembut.
"Luna teman kami. Saudari kami. Di atas segalanya."
Jeda.
"Dan, sejujurnya?"
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Hidup yang kualami... tidak mudah. Jadi soal itu..."
Aku mengangkat bahu.
"Tidak menakutiku."
Hening. Tapi bukan keheningan yang buruk. Melainkan... pengertian.
Tiba-tiba... ia tertawa. Pelan. Seolah lega.
"Kamu sungguh tak masuk akal."
"Aku tahu," godaku.
Ia menggeleng.
"Bukan... kamu luar biasa."
Itu menangkapku lengah.
"Kamu tak sadar betapa luar biasanya."
Jantungku berpacu. Tapi, kali ini... dengan cara yang baik.
Ia mendekat. Perlahan. Seolah memberiku ruang untuk mundur. Tapi aku tak mundur. Tidak sedetik pun.
Dan ketika ia menciumku... aku membalasnya. Tanpa takut. Tanpa ragu. Tanpa berpikir.
Ciumannya menggetarkan. Mantap. Mendominasi. Tapi, di saat yang sama... penuh kelembutan. Seolah ia sedang... merasakanku. Dan itu menyelimutiku sepenuhnya.
Kubawa tanganku ke wajahnya. Menariknya lebih dekat. Memperdalam. Dan, pada saat itu... tak ada lagi yang penting.
Ketika kami saling menjauh... aku masih kehabisan napas. Tapi tersenyum.
"Jadi..." kataku, agak terengah. "Ini bagian dari pendekatan standarmu?"
Ia tertawa.
"Jelas tidak."
"Sayang sekali."
Ia menarikku kembali, dari pinggang.
"Aku jatuh cinta padamu."
Kata-kata itu datang tanpa peringatan. Tanpa persiapan. Lugas. Dan menghantam keras.
Tapi... tak menakutiku. Karena, jauh di dalam hati... aku sudah merasakannya.
"Kamu cepat juga, ya?" godaku, mencoba mencairkan suasana.
Ia menggeleng.
"Ini bukan soal waktu. Ini soal intensitas."
Hening.
"Dan apa yang kurasakan padamu... tidak ringan."
Aku menelan ludah. Karena aku pun merasakannya. Mungkin belum dengan nama yang sama. Tapi dengan kekuatan yang sama.
"Aku datang ke Italia untuk hidup..." kataku pelan.
Ia menatapku lekat.
"Menjalani segala hal baik yang bisa diberikan hidup."
Jeda.
"Dan itu termasuk... cinta."
Tatapannya berubah. Mendalam.
Dan, sebelum sempat kukatakan sesuatu lagi... ia menciumku lagi. Lebih menggetarkan. Lebih mantap. Seolah menandai itu. Memateraikannya.
Ketika kami saling menjauh... ia merogoh saku. Dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Jantungku berpacu.
"Pietro..."
Ia membukanya. Sebuah cincin. Sederhana. Tapi indah. Bermakna.
"Aku tak pandai dengan hal-hal yang lembut," katanya, "tapi aku pandai bersikap lugas."
Ia menggenggam tanganku.
"Dan aku menginginkanmu. Bukan cuma sekarang. Bukan cuma karena dorongan sesaat. Aku menginginkanmu bersamaku. Sungguhan."
Ia menyematkan cincin itu di jariku. Jantungku... berpacu.
"Mulai sekarang..."
Suaranya merendah. Makin mantap.
"Kau milikku."
Aku menatap cincin itu. Lalu ke arahnya. Dan tersenyum.
Karena, untuk pertama kalinya sejak lama... aku tak takut pada apa yang menanti di depan.
Justru sebaliknya. Aku sudah siap. Untuk merasa. Untuk hidup.
Dan, kalau itu bersamanya... maka biarlah menggelora. Seperti segala hal dalam hidupku yang selalu begitu.