Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona
Ranaya berdiri di depan jendela kamar, melihat rintik-rintik hujan yang mulai turun diiringi dengan tiupan angin. Ingin rasanya Ranaya berlari di bawah rintikan hujan itu, membiarkan alam membasuh tubuhnya dari sisa-sisa sakit dan luka yang ia rasakan selama ini. Yang kini secara perlahan mulai terobati.
Namun, keinginan Ranaya terhenti saat ia mengalihkan pandangannya. Menatap Arka yang masih terpejam di atas ranjang rumah sakit. Entah mengapa, Ranaya merasa ia memiliki tanggung jawab untuk menemani pria itu.
Jujur, Ranaya merasa kasian, karena di saat kondisinya seperti ini, tidak seorang pun yang datang untuk menjaganya. Mungkin orangtuanya tidak bisa karena tidak dikabari, tapi setidaknya teman atau mungkin pasangan?
Ranaya mendekat. Selama ini ia merasa hidupnya lah yang paling menderita, tapi nyatanya? Ada banyak orang yang jauh lebih menderita darinya, tapi tidak seberisik dia.
Cukup lama Ranaya termenung sembari menatap wajah Arka, hingga mata pria itu terbuka secara perlahan.
"Lu ngapain ngeliat gue kayak gitu?" Arka mengusap wajahnya. Kini tubuhnya terasa jauh lebih baik, kepalanya juga tidak sepusing sebelumnya. Hanya masih sedikit lemas saja.
"Dih, pede banget lu." Ranaya mengalihkan pandangan, melayang mundur lalu duduk di ujung kasur, dekat kaki Arka. "Gimana? Lu udah ngerasa mendingan?"
"Lumayan." Arka berusaha untuk bangun dan duduk bersandar, lelah juga kalau tubuhnya terus-terusan diajak tiduran.
Pria itu terlihat sedikit kesusahan. Spontan, Ranaya melayang mendekat, membantunya dan merapikan bantal sebagai sandaran.
"Gengsi banget si lu buat minta tolong." Sindir Ranaya yang kembali duduk di ujung kasur. Namun, seperti biasa, Arka tak memberikan jawaban apapun. Ia malah menatap Ranaya dengan tatapan yang Ranaya tidak bisa artikan.
"Kenapa? Lu naksir ya sama gue?" Ranaya mengibaskan rambut pirangnya. Kalau soal percaya diri, dia ratunya.
"Dih, ya kali gue naksir sama setan." Arka membuang muka, menatap jendela kamar. Ada senyum yang tertahan di ujung bibirnya. "Hujan, ya," ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tapi Ranaya yang tidak terima disebut setan, langsung angkat suara. "Wah, lu jangan salah. Gue jadi setan gini aja lu bisa naksir, apalagi nanti gue siuman dan balik jadi manusia! Lu pasti cinta mati sama gue!"
"Gila." Arka masih berusaha untuk tidak melanjutkan topik itu, tapi sepertinya Ranaya malah sebaliknya.
"Gila-gila gini, tapi gue cantik, kan?" Ranaya kembali mengibaskan rambut pirangnya. Membuat Arka kehabisan kata-kata, hingga memilih untuk tutup mulut saja, gengsi harus mengakui kenyataan yang Ranaya katakan.
"Gue tau, lu terlalu terpesona kan? Sampai kehabisan kata-kata dan enggak tau harus ngomong apa?" ucap Ranaya tepat sasaran. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
Arka masih tak menjawab, pandangannya juga masih menatap ke arah luar jendela. Tapi kondisi jantungnya? Sialnya malah berdebar kencang tak karuan!
"Gue liat-liat. Muka lu lumayan juga, lu enggak punya gebetan atau apa kek, HTS, crush gitu?" tanya Ranaya, jiwa penasarannya mulai muncul.
Arka menoleh beberapa detik, menatap Ranaya, lalu kembali melihat ke arah luar jendela. "Enggak."
"Kenapa? Lu suka cewek, kan? Atau jangan-jangan lu suka—"
"Gue normal!" potong Arka yang paham ke mana arah pikiran Ranaya.
"Ya, terus? Masa enggak ada yang lu suka? Temen deket deh?"
"Enggak ada." Arka masih kekeh dengan jawabannya. Memang faktanya juga begitu. Untuk sekarang tidak ada yang spesial dalam hidupnya. Tidak tau beberapa waktu ke depan.
Ranaya menyipitkan kedua matanya. Masih tidak percaya. "Kenapa?"
Arka kali ini menoleh dan benar-benar menatap wajah penasaran Ranaya, lekat. Ia menarik napas panjang lalu berkata, "Cowok kayak gue belum pantas buat suka sama cewek. Ngurus diri sendiri aja berantakan gini. Lu liat sendiri kan? Gue cuman anak rantau yang enggak punya apa-apa, dekatin anak orang mau modal apa? Modal muka doang? Entar yang ada gue malah dicap MOKONDO!"
Jleb. Jawaban Arka berhasil membungkam mulut nyerocos Ranaya.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️