Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Bayangan yang Menolak Padam
Derap langkah sepatu pantofel menetak keras di atas lantai semen gudang tua yang berdebu, memecah kesunyian pelabuhan utara dengan ritme yang mematikan. Udara lembap berbau karat dan air laut mendadak terasa semakin menipis, digantikan oleh gelombang tekanan psikologis yang membuat para penculik bergidik ngeri seketika. Dari balik puing-puing pintu besi yang hancur berkeping-keping, sesosok bayangan tegap berjas kelabu gelap melangkah mantap memasuki ruangan, membawa serta aura dominasi mutlak yang tidak terbantahkan.
Di belakangnya, Sekretaris Han bersama selusin pasukan pengawal khusus bergerak sigap menyebar dalam formasi presisi, mengunci setiap jalur pelarian tanpa memberi celah sedikit pun bagi musuh. Namun, bukan kehadiran pasukan bersenjata itu yang membuat napas di dalam ruangan mendadak tercekat; melainkan sosok yang berjalan tepat di samping Sekretaris Han—pria berbalut mantel panjang hitam dengan aroma mahoni yang begitu pekat menguar di udara. Sosok yang seharusnya telah meluruh menjadi partikel cahaya keemasan di lorong gang beberapa waktu lalu, kini berdiri tegak menatap tajam ke arah panggung penyanderaan dengan sorot mata sedingin es.
Lin Meiying membelalakkan matanya lebar-lebar, seluruh otot di tubuhnya menegang kaku seolah disambar petir di siang bolong. Ia menatap punggung tegap pria itu, lalu beralih pada wajah yang sangat ia kenali—wajah Lu Jingyan, atau lebih tepatnya, esensi jiwa suaminya yang kembali hadir menembus batas keabadian. Tenggorokannya terasa kering, tidak mampu mengeluarkan suara di antara kebingungan dan keajaiban yang teramat nyata. Apakah ia sedang ditarik ke dalam halusinasi keputusasaan, ataukah takdir benar-benar menolak membiarkan cinta mereka dipisahkan oleh kematian?
"Kau...!" seru pria bungkuk bertubuh bahayanya dengan suara bergetar panik, mencengkeram kerah baju kecil Chen Anqi semakin erat hingga bilah pisau tipisnya hampir menggores kulit leher bocah malang itu. "Bagaimana bisa... kau... kau seharusnya sudah musnah! Sisa-sisa faksi kita memastikan bahwa kontrak jiwa itu telah kedaluwarsa!"
Lu Jingyan tidak langsung menjawab. Ia mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar pasukan pengawal di belakangnya menahan posisi. Langkah kakinya terus mendekat perlahan, mengabaikan ancaman pisau yang mengarah pada putrinya, namun sorot matanya menyiratkan kemarahan seorang predator puncak yang siap merobek-robek siapa saja yang berani menyentuh keluarganya. Aroma mahoni dan kayu manis berhembus semakin kuat, menyelimuti seluruh ruangan gudang yang kelam itu dengan kehangatan pelindung yang mutlak.
"Kalian mengira aturan waktu semesta bisa dibeli dengan kelicikan?" suara berat dan dingin Jingyan menggema di setiap sudut dinding gudang, menghantam mental musuh tanpa ampun. "Selama masih ada jiwa yang berniat merusak kedamaian rumahku, raga ini tidak akan pernah sudi menyerah pada kematian."
Chen Anqi yang ketakutan setengah mati di atas kursi kayu berusaha menahan tangisnya, melirik sekilas ke arah pria berjas hitam yang berdiri di hadapannya. Meskipun usianya masih sangat muda, insting bocah itu mengenali aroma dan kehangatan yang sama—aroma pelindung yang kerap hadir dalam mimpi-mimpi indahnya. "Paman... tolong aku..." bisik Anqi lirih dengan air mata yang menetes deras membasahi pipinya.
Mendengar rintihan kecil putrinya, rahang Jingyan mengeras sempurna. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut kencang. Ia menatap tajam ke arah tangan bungkuk yang memegang pisau di leher Anqi, lalu melangkah satu langkah lagi ke depan. "Lepaskan anak itu sekarang juga," ucapnya penuh penekanan, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar bagaikan vonis mati yang tidak dapat diganggu gugat. "Atau aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari terbenam di luar pelabuhan ini."
Pria bungkuk itu tertawa histeris untuk menutupi rasa takutnya yang luar biasa besar. Ia menekan bilah pisau itu sedikit lebih dalam, menciptakan luka gores tipis berdarah di leher Anqi, membuat Meiying menjerit histeris dan hendak menerjang maju. "Jangan mendekat! Jika kau melangkah lagi, aku gorok leher anak ini sekarang juga!" ancam pria bungkuk itu dengan mata melotot merah penuh keputusasaan.
Namun, sebelum ancaman itu sempat diselesaikan oleh gerakan fisik, sebuah pergerakan kilat terjadi di luar perkiraan komplotan penculik tersebut. Sekretaris Han yang berdiri di sisi kiri mendadak mengangkat tangan kanannya, melepaskan tembakan pelumpuh berkecepatan tinggi dari pistol silencer terselubung yang mengarah tepat ke arah lengan kanan pria bungkuk itu.
Cepat! Suara desingan peluru merobek udara dalam sepersekian detik.
Bum! Peluru itu menghantam tepat pergelangan tangan si pria bungkuk dengan akurasi sempurna. Pisau tajam di tangannya terpental jauh ke lantai semen, disusul oleh lolongan kesakitan yang memekakkan telinga saat darah segar memuncrat dari pergelangan tangannya yang remuk. Pegangannya pada tubuh Anqi terlepas seketika.
Melihat celah sepersekian detik itu, Lu Jingyan melesat bagaikan bayangan badai. Kecepatannya melampaui batas mata telanjang manusia biasa; dalam satu kedipan mata, ia sudah berada tepat di hadapan kursi penyanderaan. Tangannya yang kokoh menangkap tubuh kecil Anqi, melepaskan ikatan tali di kursi dengan gerakan cekatan, lalu menyerahkan putrinya yang menangis histeris langsung ke dalam pelukan Lin Meiying yang berlari menerjang menyambut mereka.
"Anqi! Oh, Tuhan... anakku!" tangis Meiying pecah sejadi-jadinya, mendekap tubuh putrinya erat-erat ke dadanya, mencium seluruh wajah Anqi dengan rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa besar. Ia mengangkat kepalanya, menatap pria berjas hitam yang berdiri melindungi mereka berdua. "Kau... kau benar-benar kembali..." bisik Meiying lirih, air matanya tumpah menderu membasahi pipinya.
Jingyan menoleh sekilas ke arah Meiying, memberikan senyuman paling hangat dan menenangkan di tengah kekacauan tersebut. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian," ucapnya lembut, sebelum kembali membalikkan badan menghadapi sisa-sisa anak buah komplotan yang kini berhamburan hendak menyerang dengan batang besi.
Dua orang pengawal berbadan kekar dari kubu musuh berlari kalap mengayunkan senjata ke arah Jingyan dari belakang. Tanpa menoleh, Jingyan menangkap hantaman besi itu dengan tangan kosong, memelintirnya dalam satu gerakan memutar yang mematahkan pergelangan tangan penyerang dengan suara gemeretak yang mengerikan. Dalam hitungan detik, pertarungan satu arah terjadi; pasukan pengawal khusus Lu Group melumpuhkan seluruh sisa anggota komplotan penculik tanpa ampun, merobohkan mereka satu per satu ke atas lantai gudang yang berdebu.
Pria bungkuk yang tangannya terluka parah berusaha merangkak mundur menuju sudut ruangan, wajahnya pucat pasi ketakutan melihat kedigdayaan pria di hadapannya. Ia meraih sebuah detonator remote kecil dari sisa kantong mantelnya, tersenyum lebar dengan ekspresi kegilaan yang memuncak. "Kalian pikir kalian menang?! Aku sudah memasang bahan peledak di seluruh pilar utama gudang ini! Kita semua akan mati bersama di sini!" teriaknya histeris sambil bersiap menekan tombol pemicu merah di tangan kirinya.
Meiying yang mendengar teriakan itu membelalakkan matanya ngeri, mendekap Anqi semakin erat ke dadanya. Sekretaris Han bersiap melepaskan tembakan susulan, namun jarak terlalu jauh untuk menghentikan gerakan jari pria bungkuk tersebut yang sudah menempel di atas tombol detonator.
Tanpa keraguan sedikit pun, Lu Jingyan melompat menerjang maju menembus jarak beberapa meter dalam satu kedipan mata, menghantam tubuh pria bungkuk itu tepat saat jari musuh menekan tombol merah peledak.
Bum!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan gudang pelabuhan utara. Percikan api merah menyembur dari tiang-tiang pilar beton, debu tebal dan runtuhan atap seng beterbangan memenuhi udara, menutupi pandangan mata dalam kepulan asap hitam yang pekat dan menyesakkan dada.