Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Kepergian Xiu Ying dari Kediaman Utama Keluarga Xiu ternyata tidak membawa ketenangan yang diharapkan oleh Tuan Besar Xiu maupun Nyonya Besar. Justru, atmosfer di dalam kediaman megah itu berubah menjadi sangat tegang dan dipenuhi kegelisahan.
Di ruang kerja Tuan Besar Xiu, tumpukan dokumen istana memajang laporan yang tidak mengenakkan. Tuan Besar Xiu—Xiu Zhen—duduk di kursi kayunya dengan dahi berkerut dalam. Harapannya untuk mengamankan posisi politik setelah mengorbankan putri buangannya ke Istana Pangeran Ke-7 sama sekali tidak membuahkan hasil.
Bukannya dipuji atas "kepatuhannya" menyerahkan putri untuk dinikahkan dengan pangeran yang dibuang, Tuan Besar Xiu justru menjadi bahan sindiran halus di antara para pejabat papan atas saat rapat dewan kerajaan.
"Sialan..." umpat Tuan Besar Xiu pelan, menghempaskan kuas lukisnya ke atas meja hingga tinta hitam memercik kotor.
Langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan ruang kerja. Nyonya Besar melangkah masuk dengan wajah merah padam, matanya menyalang penuh kecemasan yang tak lagi bisa ditutupi.
"Suami! Apakah kau sudah mendengar kabar terbaru dari ibu kota?!" seru Nyonya Besar tanpa menyapa, mengibaskan sapu tangan sutranya dengan histeris.
Tuan Besar Xiu mengurut pelipisnya yang berdenyut. "Kabar apa lagi, Istriku? Jangan menambah bebanku hari ini."
Nyonya Besar menggebrak tepi meja kerja suaminya. "Kabar tentang jalang kecil itu! Rumor tentang Xiu Ying sudah menyebar ke mana-mana! Para pejabat dan kasim istana membicarakan bagaimana Nona Kesembilan dari Kediaman Xiu dengan berani menundukkan Kasim Lian utusan kepercayaan Ibu Suri! Mereka bilang dia memiliki aura permaisuri yang sangat luar biasa!"
Tuan Besar Xiu menghela napas berat. "Aku sudah mendengarnya. Kasim Lian kembali ke istana dengan dahi memar dan membawa laporan bahwa Xiu Ying sangat protektif terhadap Pangeran Zhen Yu."
"Dan bukan hanya itu!" potong Nyonya Besar dengan suara meninggi, getaran iri dan ketakutan menyusup dalam nadanya. "Kaisar Yang Mulia... mendengar kejadian itu! Yang Mulia konon tersenyum saat mendengar bagaimana Xiu Ying membela nama baik Pangeran Ke-7. Bahkan, Kaisar mulai mengirimkan beberapa hadiah kain sutra dan obat-obatan mahal ke Istana Zhen!"
Mendengar hal tersebut, mata Tuan Besar Xiu membelalak. "Kaisar memberikan hadiah?!"
"Ya!" jerit Nyonya Besar histeris. "Pangeran Ke-7 yang selama ini dibuang dan dilupakan, tiba-tiba kembali mendapatkan perhatian Kaisar hanya karena tindakan anak selir rendahan itu! Bagaimana bisa putri buangan yang kita anggap 'sampah' justru berpotensi naik daun dan membawa harum namanya sendiri?!"
Tuan Besar Xiu mengepalkan tangannya di atas meja. Otak politiknya bergulat hebat. Ia baru menyadari betapa bodohnya dirinya telah membiarkan Xiu Ying lepas dari genggamannya begitu saja. Bakat, keberanian, dan kecerdasan tajam yang ditunjukkan Xiu Ying harusnya bisa ia manfaatkan untuk mengangkat harkat Keluarga Xiu di bawah kendalinya. Namun kini, Xiu Ying telah berdiri di atas kakinya sendiri di Istana Zhen, menjadi perisai bagi Pangeran Ke-7 yang tidak bisa lagi dipengaruhi oleh Kediaman Xiu.
"Kita telah salah menilai anak itu," gumam Tuan Besar Xiu penuh penyesalan. "Dia bukan lagi alat yang bisa kita kendalikan."
"Salah menilai?!" Nyonya Besar tertawa sumbang, matanya memancarkan rasa benci yang mendalam. "Aku tidak peduli seberapa hebat dia bersilat kata! Yang kuingat, dia adalah ancaman besar bagi masa depan anak-anakku! Terutama Mei-er!"
Nyonya Besar melangkah mendekati suaminya, berbisik sengit. "Kau tahu betul, Suami... tujuan utama kita sejak awal adalah meyakinkan Pangeran Ke-4—Putra Mahkota—agar mau meminang Mei-er menjadi Istri Sahnya! Tapi gara-gara hukuman kurungan yang kau jatuhkan pada Mei-er, dan rumor pembunuhan di kolam yang dibocorkan oleh Xiu Ying, nama baik Mei-er terancam hancur di mata keluarga istana!"
"Lantas, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Tuan Besar Xiu dengan suara dingin.
Nyonya Besar menyunggingkan senyum licik yang teramat kejam. Wajah cantiknya terdistorsi oleh dengki. "Mei-er harus segera dibebaskan dari hukuman kurungan. Kita harus membersihkan nama baiknya dengan mengadakan Perjamuan Musim Gugur di kediaman ini. Kita akan mengundang para bangsawan, termasuk Pangeran Ke-4."
"Dan bagaimana dengan Xiu Ying?"
"Xiu Ying?" Nyonya Besar terkekeh dingin. "Sebagai 'anak yang berbakti', tentu saja kita harus mengundangnya dan Pangeran Ke-7 untuk hadir dalam perjamuan tersebut, bukan? Kita tunjukkan pada seluruh ibu kota betapa 'harmonisnya' keluarga kita."
Tuan Besar Xiu menyipitkan matanya, langsung mengetahui ada niat busuk di balik usul istrinya. "Kau berencana melakukan sesuatu pada Xiu Ying saat perjamuan?"
"Tentu saja!" desis Nyonya Besar dengan mata berkilat jahat. "Aku tidak akan membiarkan anak selir itu menikmati perhatian Kaisar lebih lama lagi. Di perjamuan nanti, di hadapan Pangeran Ke-4 dan seluruh pejabat tinggi, aku akan menjebak Xiu Ying! Aku akan membongkar bahwa dia menggunakan sihir hitam atau obat terlarang untuk mengendalikan Pangeran Ke-7, atau membuatnya melakukan kesalahan fatal yang akan membuat Kaisar murka dan mengeksekusinya!"
Nyonya Besar meremas sapu tangan sutranya erat-erat, seolah meremas leher Xiu Ying. "Jika Xiu Ying hancur dan Pangeran Ke-7 terbukti benar-benar tidak berguna, perhatian Kaisar akan kembali tertuju pada pangeran lain. Dan di saat itulah, Mei-er milik kita akan bersinar sebagai calon Permaisuri Kekaisaran!"
Sementara itu, di halaman dalam Kediaman Xiu, tepatnya di kamar terisolasi milik Nona Ketiga, suara barang pecah bergema keras.
PRANG!
Sebuah vas keramik mahal hancur berkeping-keping di lantai. Xiu Mei berdiri di tengah ruangan dengan wajah sembap, tangannya yang masih terbebat kain kassa menunjuk-nunjuk pelayan seniornya yang gemetaran.
"Gadis jalang itu! Mengapa dia belum mati juga?!" jerit Xiu Mei histeris. Rambutnya berantakan dan matanya dipenuhi urat-urat merah karena dendam yang membakar selama masa kurungan.
"N-Nona Ketiga, harap tenang..." pelayan itu memohon sambil merayap mengambil pecahan keramik. "Nyonya Besar sedang mengurus semuanya. Nyonya Besar berjanji akan membalaskan dendam Nona!"
"Mengurus apa?!" pekik Xiu Mei. "Aku dikurung di kamar busuk ini selama satu bulan penuh, sedangkan Xiu Ying... si pematah tanganku itu... sekarang disanjung-sanjung di ibu kota sebagai Istri Pangeran yang berani?! Bahkan Pangeran Ke-7 yang idiot itu melindunginya?!"
Pintu kamar mendadak terbuka, dan Nyonya Besar melangkah masuk dengan anggun.
"Hentikan teriakanmu, Mei-er. Kau bertindak seperti wanita tak berpendidikan," tegur Nyonya Besar lembut namun tegas.
Xiu Mei langsung berlari mendekati ibunya, menangis histeris di pelukan Nyonya Besar. "Ibu! Ibu harus membunuh Xiu Ying! Tanganku sakit, hatiku lebih sakit lagi! Dia telah merebut segalanya dariku!"
Nyonya Besar mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang, namun matanya memancarkan kedengkian yang sangat dingin. "Hapus air matamu, Putriku. Ibu baru saja berbicara dengan Ayahmu. Hukuman kurunganmu akan segera dicabut."
Xiu Mei mendongak dengan mata berbinar. "Benarkah, Ibu?!"
"Ya," jawab Nyonya Besar sambil menyunggingkan senyum mematikan. "Ibu akan menggelar Perjamuan Musim Gugur terbesar di kediaman ini. Ibu sudah menyiapkan gaun terindah dan perhiasan tercantik untukmu agar Pangeran Ke-4 terpikat padamu."
"Lalu... bagaimana dengan Xiu Ying?" tanya Xiu Mei dengan napas memburu penuh dendam.
Nyonya Besar mengusap pipi putrinya yang lembut. "Xiu Ying juga akan datang. Tapi jangan khawatir... perjamuan itu tidak akan menjadi ajang pamer baginya, melainkan akan menjadi panggung pemakamannya. Ibu sudah menyusun jebakan yang sangat rapi. Kali ini, tidak akan ada kolam air yang menyelamatkannya. Ibu akan memastikan Xiu Ying kehilangan nyawa dan kehormatannya di depan seluruh pejabat istana!"
Xiu Mei tersenyum lebar, tawa renyah penuh kebencian keluar dari bibirnya. "Terima kasih, Ibu! Aku tidak sabar melihat si sampah itu berlutut dan memohon ampun di bawah kakiku!"
Di balik keheningan malam Kediaman Xiu, sebuah konspirasi kejam mulai dirajut rapat-rapat. Mereka tidak menyadari bahwa Xiu Ying yang sekarang bukanlah lagi gadis lemah yang bisa mereka jebak dengan mudah, melainkan sosok Chen Zuyi yang selalu berada sepuluh langkah di depan musuh-musuhnya.
(Bersambung)