Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi

Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.

Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.

Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.

Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.

Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.

Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.

Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.

Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.

Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN KAISAR

Beberapa jam kemudian, aku akhirnya terbangun.

Cahaya matahari pagi menyinari wajahku. Perlahan aku membuka mata dan langsung terkejut melihat langit biru yang terbentang luas di atas sana.

Aku melihat ke kanan dan ke kiri.

Saat menoleh ke belakang, aku melihat Hayabusa sedang duduk santai sambil membersihkan kedua katananya.

"Hayabusa, kita ada di mana?"

Belum sempat Hayabusa menjawab, tiba-tiba tempat yang kududuki bergerak.

DUM...

Aku langsung tersadar.

Oh... iya.

Ternyata aku sedang berada di atas punggung Huloo.

Makhluk raksasa itu rupanya terus berjalan selama aku tertidur.

Huloo kemudian menoleh sedikit.

"Salam, Tuanku. Apakah Anda sudah sadar?"

Aku menjawab dengan tubuh yang masih terasa sedikit sakit.

"Uhhh... aku baik-baik saja. Kita sekarang berada di mana?"

Hayabusa menjawab,

"Kita berada di luar Benteng Keempat, Tuan."

Aku segera berdiri dan berjalan ke depan tubuh Huloo.

Dari sana, aku bisa melihat pemandangan yang cukup mengejutkan.

Ribuan Skeleton bekerja sejak pagi.

Sebagian mengumpulkan mayat-mayat Orc yang berserakan di medan perang.

Sebagian lainnya mulai membangun kembali Benteng Keempat.

Mereka bekerja tanpa lelah.

Tidak ada yang mengeluh.

Tidak ada yang meminta istirahat.

Aku tersenyum kecil.

"Bagus, Hayabusa."

Namun, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Aku menatap langit pagi.

"Hmm..."

Sepertinya ada sesuatu yang kelewatan.

"Apa, ya?"

Aku berpikir beberapa detik.

Kemudian mataku langsung membesar.

"Ah!"

Aku menepuk dahiku.

"Benar! Perjamuan Kaisar!"

Sial! Aku hampir lupa!

Aku segera kembali ke tubuh utamaku.

---

Aku membuka mata.

Ternyata tubuh utamaku masih berada di atas kasur.

Dan...

Selena masih memelukku sambil tertidur pulas.

Aku terdiam beberapa detik.

Untung saja belum terlambat.

Aku perlahan bangun dari tempat tidur.

Saat itulah Elisa masuk membawa pakaian bangsawan berwarna hitam.

Aku berdiri di depan Elisa dalam keadaan tanpa pakaian seperti biasanya.

Elisa langsung memalingkan wajah.

Aku menggerutu,

"Sialan... aku bahkan tidak memakai pakaian sehelai pun."

Aku kemudian melirik Selena yang masih tertidur.

Dia bisa tidur setenang itu?

Elisa akhirnya membantuku mengenakan pakaian bangsawan.

Wajahnya terlihat sedikit memerah.

Setelah selesai, aku berdiri di depan cermin.

Aku memperhatikan tubuhku sendiri.

Tubuh yang sekarang terlihat jauh lebih kuat dibandingkan saat pertama kali aku tiba di dunia ini.

Otot-otot tubuhku terbentuk dengan jelas, termasuk otot perut yang semakin kencang.

Aku tersenyum puas.

"Waoo..."

Aku menyentuh perutku.

"Ternyata latihan yang dilakukan clone-ku benar-benar berguna."

Setidaknya ada hasilnya.

---

Beberapa menit kemudian, aku menaiki kereta kuda bersama Elisa dan Jaron.

Sepuluh prajurit ditugaskan untuk mengawal kami.

Sementara sepuluh prajurit lainnya mendapat tugas untuk menjaga para budak yang akan kami bawa.

Selena juga ikut dalam perjalanan.

Namun, saat kami berangkat, ia masih tertidur.

Beberapa menit kemudian, Selena akhirnya terbangun.

Ia menggunakan sihir untuk mengubah penampilannya seperti sebelumnya.

Tanduk dan sayapnya menghilang.

Kini ia kembali terlihat seperti wanita manusia biasa.

Aku meliriknya.

Semoga saja wanita ini tidak terlalu mencolok saat berada di perjamuan nanti.

Aku masih sedikit khawatir.

Bagaimanapun juga, kecantikan Selena jauh di atas manusia biasa.

---

Saat perjalanan mulai mendekati ibu kota, aku kembali membuka hologram sistem.

Aku menghubungi clone-ku yang berada di Benteng Keempat.

"Segera panggil Serof dan beberapa prajuritnya."

Aku memberikan perintah.

"Bantu Hayabusa dan Huloo membangun kembali Benteng Keempat."

Aku kemudian menambahkan,

"Dan sampaikan kepada mereka bahwa dua minggu lagi kita akan mengerahkan ribuan pasukan untuk menyerang Benteng Kelima, Keenam, dan Ketujuh."

Clone-ku mengangguk.

"Baik."

"Kalau dalam dua minggu Benteng Keempat belum selesai diperbaiki, kita mundurkan rencana serangan menjadi satu bulan lagi."

Clone-ku menerima perintah tersebut.

Ia kemudian pergi menuju Benteng Ketiga untuk menemui Serof.

Aku menghela napas.

Sayangnya, aku masih belum bisa menggunakan telepati dalam jarak yang sangat jauh.

Mungkin lain kali aku harus membeli item yang bisa membuat kami saling berkomunikasi secara langsung.

Aku menutup hologram sistem.

---

Ibu Kota Kekaisaran Varellion

Beberapa jam kemudian, kami akhirnya memasuki ibu kota Kekaisaran Varellion.

Aku langsung terpana.

"Waoo..."

Kota ini jauh lebih besar dan megah dibandingkan apa yang kubayangkan.

Bangunan-bangunan tinggi berdiri di sepanjang jalan.

Jalanan dipenuhi pedagang, bangsawan, dan rakyat dari berbagai wilayah.

Namun, ada sesuatu yang membuatku merasa aneh.

Aku hampir tidak melihat gelandangan.

Hampir semua orang yang berada di pusat kota terlihat hidup dengan cukup baik.

Bahkan aku tidak melihat budak berkeliaran di jalanan.

Aku mengerutkan kening.

Kenapa wilayah ibu kota terlihat begitu teratur?

Padahal di luar ibu kota, terutama di pedesaan, aku melihat begitu banyak rakyat miskin dan budak.

Perbedaan antara pusat Kekaisaran dan wilayah luar benar-benar mencolok.

Aku juga melihat banyak prajurit Kekaisaran berjaga di berbagai tempat.

Mereka berdiri di gerbang kota.

Sebagian menjaga jalan utama.

Bahkan ada prajurit yang berjaga di atas tembok kastil.

Keamanannya benar-benar ketat.

---

Beberapa jam kemudian, kami akhirnya tiba di kastil utama Kekaisaran Varellion.

Aku kembali dibuat terpukau.

Kastil tersebut sangat besar dan megah.

Dindingnya menjulang tinggi.

Menara-menara berdiri di berbagai sisi.

Bahkan dari luar saja, bangunan tersebut sudah menunjukkan betapa besar kekuasaan Kekaisaran Varellion.

"Waoo..."

Aku menatapnya dengan kagum.

"Indah sekali."

Seumur hidup, baru kali ini aku melihat istana sebesar ini.

Kami kemudian turun dari kereta.

Aku melihat Jaron dan para prajurit yang ikut bersamaku.

Mereka semua mengenakan pakaian yang cukup keren, serba hitam seperti pakaian yang kukenakan.

Kami kemudian memasuki istana.

Para prajurit berjaga dengan sangat ketat.

Di dalam, sudah terdapat banyak bangsawan yang berkumpul.

Mereka mengenakan pakaian mahal dengan berbagai perhiasan yang menunjukkan status mereka.

Aku masuk bersama Selena dan Elisa menuju tempat para bangsawan berkumpul.

Sementara Jaron memilih duduk di salah satu sudut bersama para komandan militer ibu kota lainnya.

Aku kemudian bertanya kepada Elisa,

"Seperti apa Kaisar?"

Elisa menjawab,

"Menurut informasi yang saya ketahui, Kaisar mungkin berusia sekitar 67 tahun, Tuan."

Aku mengangguk.

Aku hanya diam sambil memperhatikan suasana di sekitar.

Kemudian...

Seseorang menghampiriku.

Aku menoleh.

Mataku langsung membesar.

"Silvia?"

Ternyata wanita yang berdiri di depanku adalah Silvia, Paladin yang kutemui sebelumnya.

Kami kemudian berbasa-basi seperti biasa.

"Aku datang karena mendapat undangan langsung dari Kaisar," jelas Silvia.

"Oh, begitu."

Aku kemudian kembali memperhatikan para bangsawan di sekitar.

Aku diam-diam membuka sistem.

Waoo...

Aku melihat status beberapa bangsawan.

Sebagian besar dari mereka memiliki Rank S dan A dalam sistem Kekaisaran.

Aku memperhatikan level mereka.

Ternyata banyak di antara para bangsawan tersebut juga merupakan orang-orang kuat yang dimiliki Kekaisaran Varellion.

Tidak heran Kekaisaran sebesar ini bisa bertahan selama ratusan tahun.

---

Namun, suasana tenang itu tiba-tiba berubah.

Seseorang datang menghampiriku bersama beberapa orang lainnya.

"Hei, Jenderal Iyan!"

Aku menoleh.

Pria itu tersenyum seolah-olah kami sudah sangat akrab.

"Bagaimana hukumanmu?"

Ia tertawa.

"Apakah kau cukup tersiksa di wilayah timur sana?"

Aku hanya diam.

Aku tidak mengenal orang ini.

Siapa orang ini?

Aku berasumsi bahwa dia adalah kenalan dari pemilik tubuh sebelumnya.

Aku masih diam ketika pria tersebut melanjutkan perkataannya.

Elisa kemudian mendekat dan berbisik kepadaku.

"Tuan, mereka adalah Jonatan dan anak buahnya."

Aku sedikit menoleh.

"Siapa Jonatan?"

Elisa menjawab pelan,

"Dia adalah kakak laki-laki dari mantan tunangan Tuan."

Aku langsung menyipitkan mata.

Jadi dia kakak dari mantan tunanganku?

Jonatan tertawa.

"Bagaimana, Iyan?"

"Apakah kau masih trauma karena gagal menikah dengan adikku?"

Ia kemudian tertawa bersama kelompoknya.

"Atau jangan-jangan kau masih suka merengek di pelukan ibumu?"

"Hahahahahaha!"

Para bangsawan di sekitar mulai memperhatikan kami.

Beberapa bahkan mulai berbisik.

Aku tetap diam.

Elisa yang mendengar hinaan tersebut langsung membalas.

"Tutup mulutmu! Lancang sekali kau berbicara seperti itu di depan Tuan Iyan!"

Jonatan langsung menatap Elisa.

"Apa?"

Tanpa peringatan...

PLAK!

Ia menampar Elisa.

Aku langsung terdiam.

Jonatan menatap Elisa dengan jijik.

"Pelayan rendahan sepertimu berani menegurku?"

Ia kemudian menatapku.

"Lihat tuanmu."

"Dia bahkan hanya diam tanpa berani menjawab."

Aku mengepalkan tangan.

Sabar... sabar...

Mungkin pemilik tubuh ini memang dulu sangat kurang ajar sampai semua orang membencinya.

Aku mencoba menahan emosi.

Namun, ketika aku melirik ke samping...

Aku melihat Selena.

Aura di sekitar tubuhnya mulai berubah.

Udara terasa semakin berat.

Aku langsung panik.

Sialan... tahan, Selena.

Namun sudah terlambat.

Selena melangkah maju.

Tatapannya berubah dingin.

Aura membunuh mulai keluar dari tubuhnya.

"Beraninya kau menghina Rajaku dengan mulut kotormu itu."

WUSSSHHH!

Aura Selena menyebar ke seluruh ruangan.

Para bangsawan mulai bersiaga.

Para prajurit langsung mencabut pedang mereka.

Jonatan sendiri mulai berkeringat dingin.

Aku langsung menyadari sesuatu.

Kalau Selena benar-benar menyerangnya, anak ini bisa mati.

Sebelum Selena sempat melakukan sesuatu...

Aku bergerak lebih dulu.

DUAAARRR!

Tendanganku menghantam perut Jonatan.

Tubuhnya langsung terlempar jauh.

BRAK!

Ia menghantam dinding dengan keras.

Tubuhnya jatuh ke lantai.

Jonatan langsung tidak sadarkan diri.

Anak buahnya yang melihat kejadian tersebut langsung maju dan hendak menyerangku.

Aku hanya menatap mereka.

Namun, sebelum mereka sempat melakukan apa pun...aku menghajar mereka semua.

Silvia membeku di tempat.

Matanya melebar.

Ia melihat Jonatan yang tergeletak tidak sadarkan diri.

Dengan satu tendangan biasa...

Dia bisa membuat Jonatan yang memiliki Rank S terpental sejauh itu?

Silvia tidak mengatakan apa-apa.

Para bangsawan dan prajurit juga hanya terdiam menatapku.

Aku sama sekali tidak memperdulikan tatapan mereka.

Aku kemudian memegang punggung Elisa dan Selena.

"Tenang."

Aku menatap mereka berdua.

"Ini istana. Jangan membuat masalah lebih besar."

Selena perlahan menenangkan auranya.

Elisa masih terlihat terkejut.

Sementara Jaron yang berada di kejauhan hanya bisa menatapku dengan keringat dingin.

Ia bergumam pelan,

"Masalah apa lagi kali ini..."

Aku tidak sempat menjawab.

Karena tiba-tiba...

Pak...

Suara tepuk tangan terdengar dari arah atas.

Pak... pak... pak...

Semua orang langsung menoleh.

Aku juga ikut melihat ke atas.

Seseorang sedang berjalan turun bersama para kesatria pribadi dan pelayannya.

Aku langsung terdiam.

Jangan-jangan...

Pria tersebut mengenakan pakaian serba emas yang sangat megah.

Di tangannya terdapat sebuah tongkat kerajaan.

Aura dan wibawanya membuat seluruh ruangan langsung hening.

Ia kemudian tersenyum.

"Waoo..."

"Kekuatan fisik yang luar biasa."

Aku menatapnya dengan kagum.

Kaisar Kekaisaran Varellion akhirnya muncul.

Seluruh bangsawan dan prajurit langsung berdiri tegak.

Mereka menundukkan kepala.

"Hormat kepada Kaisar!"

Aku hanya berdiri diam.

Tatapanku terpaku pada sosok Kaisar yang baru saja tiba.

Jadi... ini Kaisar Varellion.

Untuk pertama kalinya...

Aku akhirnya berdiri di hadapan penguasa terbesar di negeri ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!