Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
"Skandal perselingkuhan mengguncang Keluarga besar Dhanubrata Group."
Suara pembawa berita dari televisi membuat Viola yang sedang mengisi ulang cake dan roti di etalase mendadak terdiam. Tangannya masih memegang nampan berisi beberapa potong cake, sementara matanya fokus menatap televisi.
"CEO Dhanubrata Group, Han Seokjin, diduga memiliki hubungan khusus dengan sepupunya sendiri, Naraya Pramaswari Jayendra. Keduanya diduga berduaan di kamar pribadi Han Seokjin pada malam perayaan ulang tahun Perusahaan Dhanubrata Group."
Tubuh Viola bergetar keras, nampan di tangannya hampir terlepas.
"Pantas saja ...." Suara Rani membuat Viola dan Siska spontan menoleh.
"Kenapa?" tanya Siska. Dahinya berkerut kasar.
"Lihat saja foto mereka." Rani menunjuk ke arah televisi. "Bukankah semalam mereka terlihat sangat mesra saat berdansa?"
"Tuan Han dan Nara?" Suara Viola hampir tidak terdengar. Matanya terpaku pada layar.
Beberapa foto ditampilkan. Foto yang memperlihatkan Seokjin dan Nara masuk ke sebuah kamar. Wajah keduanya terlihat cukup jelas.
Viola menelan ludah. Ia mengenali tempat itu. Kamar yang semalam ia datangi saat mengantarkan ponsel Seokjin.
Ingatan tentang semalam kembali dengan begitu jelas. Nara keluar dari kamar sambil menangis, wajahnya pucat, langkahnya tergesa-gesa ketika berpapasan dengannya di lorong. Sementara Seokjin, pria itu juga tampak kacau, tidak setenang biasanya saat Viola menemuinya di kamar itu.
"Tidak mungkin ...," gumam Viola pelan. Ia segera meletakkan nampan yang masih dipegangnya. Pikirannya langsung tertuju pada Sagara. Viola bergegas mengambil ponselnya dan segera menghubungi Sagara.
Beberapa kali Viola berusaha menghubungi ponsel Sagara. Namun, pria itu tidak juga menjawab panggilannya. Rasa cemas mulai memenuhi dadanya. Ia kemudian mencoba menghubungi Nara, tetapi ponsel wanita itu juga tidak dapat dihubungi.
Viola menggigit bibir bawahnya. Sesuatu pasti telah terjadi. Ia tidak bisa hanya berdiri dan menunggu.
Melepas celemeknya, Viola lalu bergegas meraih tas yang tergantung di dekat meja kasir kemudian menghampiri Rani dan Siska.
"Aku harus pergi sebentar. Tolong kalian jaga toko. Pastikan semuanya berjalan seperti biasa."
Rani dan Siska mengangguk patuh.
"Jika ada masalah, segera hubungi aku." Setelah mengatakan itu, Viola mengambil kunci dan bergegas keluar.
Dengan menaiki motor maticnya, Viola berencana pergi menuju Mansion Jayendra. Ia ingin memastikan sendiri, pasangan suami istri yang sudah ia anggap sebagai adiknya dalam keadaan baik-baik saja.
****
Di Kantor Dhanubrata Group.
"Berita itu sudah menyebar ke banyak media, Tuan."
Seokjin tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada tablet yang disodorkan Asisten Kim. Satu demi satu judul berita terpampang di layar.
CEO Dhanubrata Group Diduga Berselingkuh dengan Sepupunya Sendiri.
Han Seokjin dan Naraya Parmeswari Jayendra Terlibat Skandal?
Malam Perayaan Berujung Isu Perselingkuhan Keluarga Dhanubrata.
Han Seokjin dan Sepupunya berada di kamar yang sama saat malam perayaan Dhanubrata Group.
Rahang Seokjin mengeras. Ia membaca seluruh artikel tanpa melewatkan satu halaman pun, termasuk menatap foto dirinya dan Nara.
Tangan Seokjin mengepal, bukan karena takut pemberitaan tersebut akan menggoyahkan reputasi dan perusahaannya. Ia cukup percaya diri menangani semua itu. Yang justru ia pikirkan adalah Nara.
Perasaan wanita itu pasti hancur melihat semua pemberitaan media terhadapnya.
Bayangan wajah basah Nara oleh air mata, suara yang bergetar, dan tatapan kecewa yang wanita itu pancarkan terbayang jelas hingga saat ini.
Seokjin menghembuskan napas panjang. Ia mematikan layar tablet lalu menyerahkannya kembali pada Asisten Kim.
"Tutup semua jalur pemberitaan yang bisa kita hentikan. Hubungi pihak media yang bekerja sama dengan perusahaan. Aku tidak ingin berita ini terus berkembang."
"Baik, Tuan." Asisten Kim menerima tablet itu. "Lalu bagaimana dengan berita yang sudah terlanjur tersebar di media sosial?"
"Pantau semuanya. Aku ingin kau menyelidiki dari mana berita ini pertama kali muncul. Aku yakin seseorang sedang bermain di belakang berita ini."
"Baik, Tuan." Asisten Kim membungkuk kecil. Namun, sebelum ia berbalik meninggalkan ruangan. Di kepalanya terbesit sebuah pertanyaan besar. Semalam ia meminta Viola mengantarkan ponsel ke kamar atasannya, tapi kenapa yang muncul diberita justru Nara. Bukannya Viola.
Asisten Kim ingin menanyakan persoalan itu. Namun, ia memilih mengurungkannya. Ia sadar, ia tidak berhak mencampuri urusan pribadi atasannya.
Pintu tertutup. Kini hanya ada keheningan. Seokjin menyandarkan tubuhnya pada kursi. Kepalanya sedikit menengadah, matanya terpejam. Namun, bukannya merasa lega, dadanya justru terasa semakin sesak.
Bayangan semalam kembali muncul. Nara berdiri di hadapannya dengan mata penuh air mata. Dan dirinya justru semakin kehilangan kendali.
Seokjin membuka mata perlahan. "Bodoh!" bisiknya. Jarinya mengepal di atas sandaran kursi. Seharusnya ia tidak membiarkan rasa cemburu dan amarah menguasainya. Seharusnya, ia berhenti ketika melihat Nara menangis. Dan menyadari bahwa semua rasa kecewa yang selama ini dipendam tidak pernah memberinya hak untuk melampiaskannya pada Nara.
Kini semua terlambat. Nama Nara ikut terseret. Wanita itu dan suaminya pasti sudah melihat berita itu termasuk juga Dhanubrata dan Wirahadi.
Suara pintu yang didorong paksa membuyarkan lamunannya. Seokjin mengangkat wajah, tatapannya teralihkan pada pintu yang terbuka lebar.
"Sagara ...."
"Han Seokjin! Apa yang sudah kau lakukan pada istriku?!" Sagara melangkah cepat ke arah Seokjin.
Seokjin baru berdiri ketika sebuah pukulan langsung menghantam pipinya.
Dengan sekuat tenaga, Sagara kembali melayangkan pukulan keduanya hingga kepala Seokjin terlempar ke samping.
Rasa nyeri menjalar dari sudut bibir hingga rahangnya. Seokjin menyentuh bibirnya yang terasa perih. Ada sedikit darah di sana.
"Tuan!" Asisten Kim yang mendengar keributan itu buru-buru kembali ke ruangan itu dan langsung menghampiri Sagara. "Tenang, Tuan Sagara!"
"Lepaskan aku!" Sagara berusaha maju lagi, tetapi Asisten Kim menahan tubuhnya.
"Pria brengsek itu sudah melecehkan sekaligus mempermalukan istriku!" Dada Sagara naik turun, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Seokjin tidak membalas. Ia hanya berdiri diam dengan wajah datarnya. Merasa pantas mendapat pukulan itu.
"Aku sangat mempercayai istriku." Suara Sagara bergetar. Bukan karena takut, tetapi karena menahan amarah yang semakin memuncak.
"Aku yakin Nara-ku tidak mungkin berkhianat." Matanya menatap tajam Seokjin, seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup.
Pagi tadi, saat berita skandal itu muncul ke permukaan, Nara langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan derai air mata, wanita itu mengakui bahwa ia dan Seokjin masuk ke kamar yang sama. Tapi semua itu berawal dari ajakan Seokjin yang ingin memberitahu kebenaran tentang Viola.
Nara juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar itu pada Sagara. Tentang Seokjin yang mengungkapkan perasaannya dan menciumnya paksa. Wanita itu bersumpah bahwa ia tidak pernah menganggap Seokjin lebih dari seorang sepupu. Karena itu ia tidak mengerti, mengapa media masa justru mengunggah artikel skandal perselingkuhan.
"Selama ini aku menghormatimu karena kau bagian dari keluarga Nara. Aku tidak pernah mencampuri hubungan kalian sebagai saudara." Sagara menarik napas panjang.
"Tapi mulai sekarang, jangan pernah dekati istriku lagi!"
Seokjin menarik sudut bibirnya. Ia menatap Sagara tanpa rasa takut. "Nara adalah sepupuku. Kau tidak berhak melarangku dekat dengannya."
Rahang Sagara semakin mengeras. "Aku berhak melarangmu karena dia adalah istriku!" Suaranya menggema di ruangan.
Asisten Kim segera maju ketika melihat situasi semakin memanas. "Tuan Sagara. Sebaiknya Anda segera pergi."
Namun, Seokjin justru melangkah maju. "Sepertinya kau tidak tahu, jika akulah yang lebih dulu mencintainya."
Kalimat itu membuat emosi Sagara semakin tersulut. Sorot matanya berubah, ia mendorong Asisten Kim yang berdiri di hadapannya hingga hampir terjungkal lalu dengan cepat kembali melayangkan tinju yang ketiga kalinya ke arah wajah Seokjin.
Seokjin yang sebelumnya menahan diri untuk tidak melawan, akhirnya mendorong tubuh Sagara menjauh.
"Akulah yang lebih dulu mencintainya! Kau hanya orang asing yang datang di antara kami!" Seokjin melayangkan tinjunya ke arah wajah Sagara.
Keduanya saling serang. Sementara Asisten Kim sibuk memisahkan keduanya. "Tuan Han! Tuan Sagara! Tolong berhenti!" teriak Asisten Kim.
"Berhenti!" Suara keras terdengar dari ambang pintu.
Baik Seokjin maupun Sagara menghentikan aksinya. Keduanya berdiri membeku dengan napas memburu.
Dhanubrata berdiri di sana dengan wajah penuh amarah. Pria tua itu melangkah mendekati kedua cucunya. Sorot matanya tajam menatap kedua pria yang sedang berselisih itu.
"Kim. Bawa cucu menantuku pergi," titahnya tanpa mengalihkan pandangan.
Asisten Kim mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Setelah itu ia mengalihkan pandangan pada Sagara. "Tuan Sagara, sebaiknya kita pergi sekarang."
Sagara tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekati Dhanubrata yang berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya memang masih dipenuhi amarah, tetapi suaranya kali ini lebih terkendali. "Kakek ...."
Dhanubrata menatapnya.
"Selama ini saya selalu menghormati seluruh keluarga Nara. Saya tidak pernah ikut campur terlalu jauh dalam urusan keluarga." Sagara menarik napas.
"Tapi kali ini saya tidak bisa tinggal diam." Tangannya mengepal, mengingat wajah Nara yang harus menanggung semua rasa sakit dari perlakuan Seokjin dan pemberitaan itu.
"Saya berharap Kakek juga tidak membiarkan Nara sendirian menghadapi semua ini."
Dhanubrata hanya terdiam.
Sagara menundukkan kepala sekilas. "Saya pergi." Ia kemudian meninggalkan ruangan tanpa sedikit pun menghiraukan Asisten Kim.
Pintu tertutup. Menyisakan Dhanubrata dan Seokjin yang masih berdiri di tempatnya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian pria tua itu berjalan mendekati Seokjin. "Han Seokjin!"
Seokjin mengangkat wajah.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Seokjin.
Seokjin terdiam. Pipinya tampak memerah.
Dhanubrata menatap cucunya dengan mata yang dipenuhi kekecewaan. "Pukulan Sagara tadi adalah pukulan seorang suami yang ingin melindungi istrinya."
Ia menurunkan tangannya perlahan. "Tapi tamparan dariku tadi sebagai bentuk kekecewaanku padamu."
Pria tua itu sudah mendengar penjelasan Nara tentang perlakuan Seokjin semalam.
Seokjin menundukkan kepala.
"Sebagai seorang Kakak. Seharusnya kau melindungi adikmu, bukan malah melecehkannya dan membuatnya terseret masalah!" Suara Dhanubrata terdengar berat.
"Minta maaflah pada adikmu! lupakan perasaan yang seharusnya bisa kau kendalikan itu!" Suara Dhanubrata terdengar tegas.
Seokjin mengepalkan tangan. Dadanya masih naik turun. Semua ucapan yang didengarnya terasa seperti menekan luka yang belum sempat tertutup. "Aku ... masih sangat mencintainya, Kakek."
Plak!
Tamparan Dhanubrata kembali mendarat di pipinya.
Seokjin terdiam.
"Beraninya kau mengatakan itu untuk adikmu sendiri!" Suara Dhanubrata meninggi. Tatapannya penuh kemarahan sekaligus kekecewaan.
"Nara sudah memiliki suami. Dia sudah memiliki kehidupannya sendiri. Kau seharusnya menjadi orang pertama yang menjaga batas, bukan orang yang justru membuatnya terluka."
Jemari Seokjin semakin mengepal erat.
Dhanubrata menarik napas panjang, berusaha meredakan amarahnya.
"Perasaanmu mungkin tidak bisa hilang dalam satu malam. Aku tidak memintamu berhenti mencintainya dalam sekejap." Ia menatap Seokjin lekat-lekat.
"Tapi kau bisa memilih untuk tidak menghancurkan hidupnya karena perasaanmu."
Kalimat itu membuat kepala Seokjin tertunduk.
"Sekarang dengarkan baik-baik. Datangi Nara. Minta maaf atas apa yang kau lakukan padanya semalam. Setelah itu, selesaikan pemberitaan yang menyeret namanya."
Seokjin mengangguk pelan.
"Cari tahu dari mana foto itu berasal. Aku yakin seseorang sedang bermain dengan semua kecerobohanmu itu. Jelaskan pada publik tanpa membuat Nara terpojok." Dhanubrata berhenti sejenak.
"Dan yang paling penting, pastikan masalah ini tidak mempengaruhi perusahaan."
Seokjin mengangkat wajah.
"Dhanubrata Group tidak boleh kehilangan kepercayaan hanya karena kesalahan pribadi seorang CEO. Besok lakukan rapat dengan jajaran direksi. Jangan sampai mereka meragukan kepemimpinanmu."
Seokjin menarik napas panjang. "Aku akan bertanggung jawab untuk semua kekacauan ini. Aku juga akan memastikan perusahaan tidak ikut terdampak."
Dhanubrata masih menatap cucunya dengan tatapan kecewa. "Bertanggung jawablah juga pada Nara."
Seokjin terdiam sejenak. Bayangan wajah Nara yang basah oleh air mata kembali muncul di kepalanya.
"Aku akan menyelesaikan semuanya," ucap Seokjin penuh keyakinan.
Dhanubrata mengangguk kecil. "Bagus. Segera lakukan itu." Ia kemudian berbalik meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup perlahan.
Seokjin tetap berdiri di tempatnya. Wajahnya kembali datar, tangannya terangkat menyentuh pipi yang masih terasa panas.
"Aku harus segera menyelesaikan semua kekacauan ini."
*** Bersambung.