Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Terjatuh Dalam Pelukan Pak Faizan

Ainun mempercepat langkahnya begitu memasuki gerbang taman kanak-kanak. Suasana sekolah masih lengang. Hanya beberapa guru yang tampak berjalan menuju ruang masing-masing, sementara suara tawa anak-anak belum terdengar.

Begitu tiba di ruang guru, ia meletakkan tas di atas meja, lalu menarik kursi dan duduk perlahan.

Perutnya kembali terasa perih.

Tanpa membuang waktu, Ainun membuka ritsleting tasnya. Jemarinya meraih sebungkus roti dan sekotak susu yang dibelinya di warung sebelum berangkat.

“Alhamdulillah,” gumamnya lirih.

Baru saja ia hendak membuka bungkus roti, sebuah suara menyapanya dari arah pintu.

“Pagi, Bu Ainun.”

Ainun mendongak. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya saat melihat Laras melangkah masuk sambil membawa beberapa buku.

“Pagi juga, Bu Laras,” balas Ainun ramah.

Laras menghampiri mejanya, lalu melirik roti dan susu yang berada di atas meja.

“Beli di luar lagi, Bu Ainun?” tanyanya heran. “Biasanya Ibu selalu bawa bekal dari rumah.”

Gerakan tangan Ainun sejenak terhenti.

Ia menatap roti di tangannya beberapa saat sebelum kembali mengangkat wajah. Senyum tipis dipaksakan nya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Iya,” jawabnya pelan. “Lagi pengin beli di luar saja.”

Laras mengangguk kecil. “Oh, begitu. Saya kira Ibu lagi buru-buru sampai nggak sempat masak.”

Ainun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

‘Mana mungkin aku menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Laras.’

‘Aku bahkan belum sanggup mengakui bahwa sekarang aku sudah menikah... dengan pria yang seharusnya menjadi suami Mbak Liona.’

“Assalamualaikum, Bu Ainun, Bu Laras.”

Suara salam itu membuat Ainun mengangkat kepalanya.

Di ambang pintu, Pak Faizan berdiri dengan senyum ramah. Kemeja biru muda yang dikenakannya tampak rapi, sementara sebuah map berada di tangan kirinya.

“Waalaikumsalam,” jawab Ainun dan Laras hampir bersamaan.

Tatapan Ainun sempat berhenti beberapa detik pada sosok pria itu.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

‘Pak Faizan... beliau salah satu guru di taman kanak-kanak ini. Usianya juga tidak jauh berbeda dengan Mas Sagara.’

Tanpa sadar, bibir Ainun mengatup rapat.

‘Seandainya saja...’

Kalimat itu menggantung begitu saja.

Perlahan ia mengalihkan pandangannya. Jemarinya meremas bungkus roti yang masih berada di tangannya.

‘Seandainya aku nggak terikat dengan pernikahan ini... mungkin aku masih punya kesempatan memilih pasangan hidupku sendiri.’

Namun, ia segera menggeleng pelan, guna menepis pikiran yang tak seharusnya muncul.

‘Enggak, Ainun. Bersabarlah. Tinggal menunggu Mbak Liona pulang. Setelah itu semuanya selesai, dan aku akan kembali bebas menjalani hidupku.’

Tin... tin...

Suara bel sekolah menggema di seluruh ruangan.

Ainun menoleh ke sekeliling ruang guru. Beberapa meja tampak masih kosong.

“Bu Laras,” panggilnya pelan, “kok masih ada beberapa guru yang belum datang?”

Laras mengikuti arah pandangan Ainun, lalu tersenyum tipis.

“Oh, Bu Melda sudah masuk ke kelas lebih dulu menemani anak-anak,” jelasnya. “Kalau Bu Een izin karena anaknya sedang sakit.”

Ainun mengangguk pelan.

“Kalau Pak Gama juga nggak masuk hari ini,” lanjut Laras. “Beliau sedang cuti. Istrinya baru saja melahirkan.”

“Oh, begitu.”

“Baik, Bapak dan Ibu Guru. Bel sudah berbunyi,” ujarnya sambil tersenyum. “Ayo kita bersiap menyambut anak-anak.”

“Iya, Pak,” sahut Ainun.

Sebelum meninggalkan ruang guru, Ainun meraih roti dan susu yang sudah disentuhnya. Ia memasukkan keduanya ke dalam tas agar bisa dimakan lagi saat ada waktu luang.

Baru saja ia hendak melangkah, suara Pak Faizan kembali terdengar.

“Bu Ainun, ayo bareng. Kelas kita searah, kan?”

Langkah Ainun terhenti. Ia menoleh sekilas ke arah pria itu, lalu menganggukkan kepala pelan.

“Iya, Pak.”

“Kalau begitu saya duluan, Pak Faizan, Bu Ainun,” pamit Laras sambil meraih beberapa buku di mejanya.

“Iya, Bu Laras,” sahut Ainun.

Tak lama kemudian, Laras berjalan keluar lebih dahulu hingga meninggalkan mereka berdua di dalam ruang guru.

Suasana mendadak terasa canggung bagi Ainun.

“Silakan duluan, Bu Ainun,” ujar Pak Faizan sambil mempersilakan dengan tangan kanannya.

Ainun refleks menggenggam tali tasnya lebih erat.

“Eh... i-iya, Pak.”

Ia segera melangkah keluar.

Sementara itu, Pak Faizan berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Koridor sekolah yang tadi terasa biasa saja kini mendadak membuat Ainun salah tingkah.

‘Kenapa aku jadi gugup begini?’

Ainun menundukkan kepala sedikit.

Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin ia menyadari sesuatu yang selama ini berusaha diabaikannya.

Pak Faizan adalah sosok pria yang ramah.

Tidak dingin.

Tidak kasar.

Tidak pernah memandang rendah orang lain.

Berbeda dengan seseorang yang kini berstatus sebagai suaminya.

Pikiran itu membuat langkah Ainun perlahan melambat.

‘Andai saja hidupku nggak serumit ini...’

Ia segera menggigit bibir bawahnya pelan.

‘Astaghfirullah. Aku gak boleh berpikir seperti itu.’

Lorong sekolah mulai ramai dipenuhi anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Tawa mereka berpadu dengan langkah-langkah kecil yang memenuhi koridor.

Ainun berjalan pelan di tengah keramaian itu.

Kedua tangannya meremas tali tas selempang yang menggantung di bahunya. Kepalanya sedikit tertunduk, berusaha agar tidak menghalangi anak-anak yang berlarian.

“Bu Ainun.”

Suara Pak Faizan membuat Ainun spontan mengangkat kepala.

“Eh... i-iya, Pak Faizan?” sahutnya sedikit terkejut. “Ada apa, Pak?”

Pak Faizan tersenyum tipis.

“Di pertigaan depan ada warung bakso baru,” ujarnya. “Nanti siang, setelah pulang sekolah, kita mampir, ya?”

Ainun berkedip pelan.

Ajakan itu membuatnya sesaat kehilangan kata-kata.

Melihatnya hanya diam, Pak Faizan kembali membuka suara.

“Tenang saja, Bu. Nanti Bu Laras juga ikut, kok. Jadi tidak akan canggung.”

Ainun menundukkan kepala sejenak. Namun, bayangan Sagara dan statusnya sebagai istri pria itu kembali memenuhi pikirannya.

Perlahan ia mengangkat wajah. “Nanti saya pikirkan dulu, ya, Pak.”

Pak Faizan mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, Bu. Tidak apa-apa.”

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh...

“Awas, Bu Ainun!”

Suara itu terdengar begitu dekat.

Ainun refleks menoleh.

Sebuah bola meluncur cepat ke arahnya.

Sebelum sempat menghindar, seseorang tiba-tiba menarik lengannya.

“Ah!”

Tubuh Ainun kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, tubuhnya menabrak dada Pak Faizan.

Mata Ainun membelalak.

Jantungnya berdetak semakin kencang ketika aroma parfum pria itu samar-samar tercium.

Beberapa anak yang bermain bola langsung berhenti.

“Maaf, Bu Guru!” seru salah satu anak dengan wajah panik.

Pak Faizan melepaskan pegangan di lengan Ainun, lalu menoleh kepada anak-anak itu.

 “Lain kali main bolanya di lapangan, ya. Sekarang ayo masuk kelas.”

“Iya, Pak Guru,” jawab anak-anak itu serempak sebelum berlarian menuju kelas masing-masing.

Suasana kembali tenang.

“Bu Ainun tidak kenapa-kenapa?”

Ainun masih terpaku beberapa saat sebelum akhirnya tersadar.

Ia buru-buru mundur selangkah, menjaga jarak.

“E-enggak apa-apa, Pak Faizan,” ucapnya gugup. “Terima kasih... sudah menolong saya.”

Pak Faizan mengangguk pelan.

“Sama-sama, Bu Ainun. Yang penting Ibu tidak terluka.”

Ainun membalas dengan senyum tipis.

“Kalau begitu... saya masuk kelas dulu, Pak.”

“Iya. Semangat mengajarnya, Bu.”

“Terima kasih, Pak.”

Ainun memberanikan diri untuk kembali menatap wajah Pak Faizan sedikit lebih lama.

Ia membalas senyum pria itu, lalu segera berbalik melangkah memasuki ruang kelas.

Begitu berdiri di depan kelas, napas Ainun masih terasa belum teratur. Tanpa sadar, pandangannya beralih ke arah pintu.

Pak Faizan ternyata masih berdiri di depan kelas. Seketika Ainun kembali menundukkan kepala.

Pipi hangatnya mulai memerah. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan.

Bayangan ketika tubuhnya tanpa sengaja menabrak dada Pak Faizan terus berputar di dalam benaknya.

‘Astaghfirullah... kenapa aku terus mengingatnya?’

Ainun mengembuskan napas pelan.

Ia menggeleng kecil, berusaha mengusir pikiran yang semakin membuat hatinya gelisah.

Kling.

Suara notifikasi memecah lamunannya.

Pandangan Ainun beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja guru. Layar yang semula redup kembali menyala.

Ia meraih ponsel itu, lalu membuka pesan yang baru masuk.

Nama pengirimnya membuat jemarinya seketika berhenti.

Ibu.

{Nanti malam ajak Sagara ke rumah. Ibu sama Ayah mau makan malam bareng kalian.}

Tatapan Ainun terpaku pada layar.

‘Mas Sagara... apa beliau mau datang?’

Ia menggigit bibir bawahnya pelan.

Perlahan, jemarinya membuka ruang obrolan dengan Sagara.

Kursor berkedip di layar.

Dengan ragu, ia mulai mengetik.

{Mas, malam ini Ibu mengajak kita makan malam di rumah.}

Jemarinya berhenti tepat di atas tombol kirim.

Beberapa saat ia hanya menatap pesan itu dalam diam.

Kemudian...

Ainun menghapus satu per satu kalimat yang baru saja ditulisnya.

Tak lama, layar obrolan kembali kosong.

‘Mas Sagara pasti menolak.’

Ia mengembuskan napas panjang.

‘Lebih baik aku datang sendiri. Paling-paling aku hanya dimarahi atau kembali direndahkan seperti biasanya.’

Perlahan Ainun mengunci layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

“Bu Guru...”

Suara mungil seorang murid membuat Ainun tersadar dari lamunannya.

Ia segera mengangkat kepala dan kembali memasang senyum hangat.

“Iya, Sayang?” tanyanya lembut.

“Aku sudah selesai mewarnainya.”

Ainun segera mengembuskan napas pelan, lalu berjalan berkeliling kelas, memperhatikan satu per satu muridnya yang sibuk mewarnai.

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!