Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Kiriman Balik Sang Komandan

BAB 5: Kiriman Balik sang Komandan

Sore hari di Kompleks Batalyon selalu menyajikan pemandangan yang tenang. Angin sepoi-sepoi bertiup menggerakkan dedaunan pohon mahoni di sepanjang jalan.

Di teras rumah bernuansa krem, aku sedang duduk santai di atas kursi rotan sambil mengayun-ayunkan kaki. Tangan kananku memegang segelas es teh manis hangat, sementara mataku sibuk menatap jalanan kompleks.

Sejujurnya, pikiranku sedang melayang membayangkan bagaimana nasib bekal tumis ayam yang kuantar tadi pagi.

"Kira-kira dimakan tidak ya sama Mas Mayor? Atau jangan-jangan malah dibuang ke tempat sampah karena beliau gengsi?" batinku menerka-nerka dengan rasa penasaran yang membuncah.

Mbak Rina keluar dari pintu depan membawa nampan berisi pisang goreng hangat. Beliau menggeleng-gelengkan kepala melihat raut wajahku yang tampak memikirkan sesuatu.

"Nanti kalau tempat bekalmu tidak kembali atau malah dikembalikan oleh prajurit penjaga dengan surat teguran, jangan menangis ya, Mayang," goda Mbak Rina sambil meletakkan piring pisang goreng di atas meja rotan.

Aku cemberut tipis, membetulkan letak kacamata tebal di hidungku.

"Mbak Rina ini mendoakan yang tidak-tidak! Mas Mayor itu walau mukanya galak kayak macan lepas kandang, hatinya pasti lembut seperti bulu kucing! Masakan kita kan enak tiada tara, mana mungkin ditolak!"

"Iya, iya, terserah kamu," balas Mbak Rina tertawa kecil.

"Tapi ingat, beliau itu Komandan Batalyon. Punya tanggung jawab besar. Jangan sampai kehebohanmu malah mengganggu tugas negara."

"Siap, Mbak Rina Ku Sayang! Mayang ini tahu batasan, kok!" sahutku mantap.

Namun, baru saja kalimat itu meluncur dari mulutku, suara langkah kaki yang sangat teratur dan berat menapak jalan aspal di depan halaman rumah kami. Derap langkahnya begitu stabil, tegas, dan penuh wibawa.

Tuk. Tuk. Tuk.

Aku dan Mbak Rina kompak menoleh ke arah pagar depan.

Seketika, mataku membelalak lebar di balik kacamata tebal. Sosok pria bertubuh tinggi tegap berbalut seragam dinas loreng TNI baru saja membuka pintu pagar besi rumah kami.

Wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, serta tatapan mata hitam pekatnya yang dingin langsung menyapa pandangan kami.

Mayor Aris! Beliau datang sendiri secara langsung ke rumahku!

Di tangan kirinya, beliau memegang tas kain berenda milikku yang tadi pagi kubawa ke markas. Wadah bekal tiga tingkat merah muda di dalamnya sudah terbungkus rapi kembali.

Mbak Rina seketika berdiri dari kursinya, wajahnya tampak kaget dan panik luar biasa. "A-astaga... Komandan?"

Aku justru melompat dari kursi dengan mata berbinar-binar gembira, melupakan tatanan kerapian dan langsung berlari kecil menghampiri pagar teras.

"Mas Mayor Aris Ganteng!" seruku riang tanpa ada rasa canggung sedikit pun.

"Astaga, Mas Mayor datang sendiri ke rumahku! Mau melamar ya?"

Mbak Rina yang mendengar celotehanku refleks menepuk dahi dengan keras.

"Mayang! Bicara yang sopan!" tegurnya setengah berbisik dengan wajah memerah menahan malu.

Mayor Aris menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan teras. Alis tebalnya bertaut rapat mendengar candaan konyolku yang meluncur tanpa disaring.

Namun, aku sempat melihat adanya sedikit gerakan canggung di bahunya yang tegap. Beliau berdeham pelan untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

"Ehem. Selamat sore," suara bass Mayor Aris terdengar berat dan dalam, menggetarkan udara sore yang tenang. Beliau memberikan penghormatan singkat dan sopan kepada Mbak Rina.

"Saya Mayor Aris, Komandan Batalyon yang baru."

Mbak Rina menyambut hormat itu dengan membungkuk penuh keseganan.

"Selamat sore, Bapak Mayor. Saya Rina, kakak sepupunya Mayang. Mohon maaf kalau adik saya ini sudah membuat kekacauan atau mengganggu waktu dinas Bapak pagi tadi..."

"Tidak apa-apa," potong Aris dengan nada datar namun tidak sekaku saat di markas. Beliau mengangkat tas kain berenda di tangannya.

"Saya ke sini hanya ingin mengembalikan wadah bekal ini."

Aku menyunggingkan senyum paling lebar, melangkah mendekat dan menerima tas kain itu dari tangan kekarnya.

Jari-jari kami sempat bersentuhan sebentar, dan rasa hangat dari kulit tangannya membuat jantungku mendadak berdesir aneh.

Saat aku mengintip ke dalam tas kain, mataku melotot kaget. Kotak bekal tiga tingkat merah muda itu tidak hanya sudah dicuci bersih hingga mengilap, tetapi di bagian atasnya kini terdapat sebuah kotak wadah baru berwarna hijau militer yang diikat rapi dengan pita hitam!

"Lho? Mas Mayor, ini kotak apa? Kok ada bonusnya?" tanyaku polos sambil mendongak menatap wajah tampannya.

Mayor Aris mengalihkan pandangannya ke samping, berpura-pura menatap pohon mangga di halaman rumahku.

Ujung telinganya seperti biasa mulai menunjukkan rona kemerahan yang terlihat sangat menggemaskan.

"Itu... kue martabak manis dari kantin Batalyon," jawab Aris kaku dengan suara pelan.

"Sebagai ucapan terima kasih karena makananmu tadi pagi... tidak buruk. Dan sebagai ganti rugi karena anak buah saya sempat membuatmu kaget kemarin."

Aku terperangah. Mbak Rina pun ikut melongo tidak percaya.

Seorang Komandan Batalyon yang terkenal galak dan dingin seperti es ini, bela-belain jalan kaki dari markas ke rumah warga hanya untuk mengembalikan tempat bekal dan memberikan martabak manis sebagai balasannya?!

"Wah! Mas Mayor manis banget deh! Bilang saja kalau masakan aku enak banget sampai ketagihan, tidak usah malu-malu gitu!" ucapku sambil terkekeh gembira.

Mayor Aris kembali berdeham keras, berusaha mengembalikan raut wajah galaknya yang sempat luntur.

"Jaga bicaramu, Mayang. Makanan itu hanya sebagai bentuk apresiasi antar tetangga."

"Iya, iya, apresiasi dari calon suami ke calon istri ya?" celotehku jujur tanpa rasa takut sedikit pun.

"Mayang!" tegur Mbak Rina dengan suara tertahan, wajahnya sudah pasrah total menghadapi adik sepupunya yang tidak punya rem di otak ini.

"Pak Mayor, mohon maaf sekali lagi atas kelakuan Mayang ini..."

Mayor Aris menarik napas panjang, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan perpaduan antara pusing, heran, tetapi juga ada sedikit pendar kehangatan yang tersembunyi jauh di dalam matanya.

"Tidak masalah," ujar Aris pelan. Beliau lalu membetulkan letak baret di kepalanya dan menatapku lurus.

"Dengar, Mayang. Besok pagi saya dan seluruh pasukan Batalyon harus memimpin latihan taktis di dalam hutan selama seminggu penuh. Kawasan markas akan sepi."

Aku menaikkan sebelah alisku, memiringkan kepala.

"Latihan di hutan? Tanpa sinyal dan jauh dari mana-mana?"

"Ya. Lokasinya terisolasi," jawab Aris tegas.

"Jadi... jangan datang mengantarkan bekal lagi ke gerbang markas selama seminggu ke depan. Kamu tidak akan menemukan saya di sana."

Pernyataan itu membuat dadaku mendadak merasa ada yang hilang. Seminggu tanpa melihat wajah galak tapi tampan milik sang Mayor? Wah, hidupku di kompleks ini pasti akan terasa agak sepi.

"Yah... bakal kangen dong aku sama Mas Mayor Galak," ujarku dengan raut wajah cemberut yang dibuat-buat namun sejujurnya ada rasa kehilangan.

Mayor Aris tertegun sejenak menatap wajah cemberutku. Tatapannya melunak selama beberapa detik sebelum kembali menjadi kaku.

"Fokus saja pada pekerjaanmu," balas Aris singkat. Beliau lalu berbalik badan, siap melangkah pergi.

"Saya permisi dulu, Mbak Rina, Mayang."

"Terima kasih banyak martabaknya, Pak Mayor! Hati-hati latihan di hutannya!" seru Mbak Rina ramah.

"Mas Mayor! Hati-hati di hutan ya! Jangan sampai digigit nyamuk, nanti nyamuknya yang pingsan kena galaknya Mas Mayor!" teriakku nyaring sambil melambaikan tangan heboh dari depan pagar.

Mayor Aris yang sedang berjalan membelakangi kami sempat menghentikan langkahnya sebentar.

Bahunya tampak sedikit naik-turun menahan tawa atau helaan napas pasrah, sebelum akhirnya melanjutkan langkah tegapnya kembali menuju markas tanpa menoleh lagi.

Malamnya, di dalam kamar, aku membuka kotak hijau militer pemberian Mayor Aris. Martabak manis cokelat keju yang masih hangat terpampang anggun di dalamnya.

Namun yang membuat mataku berbinar terang adalah selembar kertas memo kecil yang terselip di bawah tutup kotak:

"Terima kasih bekalnya. Tumis ayamnya cukup enak. Jangan bikin heboh selama saya latihan di hutan.

Mayor Aris"

Aku memeluk memo kertas itu di dada sambil tertawa geli sendiri di atas kasur.

"Lihat saja, Mas Mayor Galak... seminggu di hutan tanpa aku, pasti Mas Mayor yang bakal ketagihan kangen sama kehebohanku!" gumamku mantap dengan tekad membara untuk menyusun kejutan berikutnya saat beliau pulang latihan nanti.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!