"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam yg cerah
Jarum jam sudah menunjuk tepat di angka delapan malam. Sebagai sepasang pemuda yang baru saja lulus SMK, gairah darah muda dan sedikit rasa gengsi tentu masih melekat erat. Karsa dan Budi malam itu tampil necis dengan pakaian terbaik mereka. Alih-alih berboncengan sepeda yang mungkin terasa kurang bergengsi di mata gadis pujaan, mereka memilih berjalan kaki dengan langkah tegap menuju titik pertemuan.
Di persimpangan jalan dekat warung, Ningsih dan Dewi ternyata sudah menunggu. Keduanya tampak manis dengan pakaian santai namun rapi khas remaja desa. Detak jantung Budi mendadak berpacu lebih cepat saat matanya bertatapan dengan Dewi, sementara Karsa mencoba tetap bersikap tenang meski ada debaran halus di dadanya saat melihat Ningsih tersenyum. Setelah saling melempar sapaan canggung, mereka berempat berjalan beriringan menuju lapangan desa.
Suara dentuman bas dari pengeras suara raksasa sudah terdengar dari jarak ratusan meter. Lapangan desa malam itu berubah total menjadi lautan manusia dan gemerlap cahaya lampu warna-warni. Suasana sangat meriah. Para pedagang musiman yang mencari rezeki dadakan sudah berjejer rapi di sepanjang pinggir lapangan, mulai dari penjual mainan, baju, hingga aneka jajanan pasar. Aroma harum makanan yang digoreng dan dibakar menguar di udara, memicu selera.
Melihat keramaian itu, Karsa berinisiatif untuk membeli bekal camilan agar suasana mengobrol mereka nanti lebih asyik. Dia melangkah mantap menuju salah satu gerobak yang dikerumuni pembeli.
"Pak, rujak dua bungkus," kata Karsa sembari meraba dompet di saku celananya, memastikan uang hasil penjualan gabah sore tadi aman di sana.
Penjual itu mengangguk cekatan, jemarinya dengan cepat memasukkan potongan buah berbumbu kacang tersebut ke dalam dua kantung plastik transparan.
Karsa menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Sih, minumnya apa?" tanya Karsa menawarkan.
Ningsih sempat tersipu kecil sebelum menjawab pelan, "Es coklat, Mas..."
Setelah merampungkan transaksi dan membawa bungkusan bekal di tangan, mereka berempat memutuskan untuk berjalan menyisir pinggiran lapangan yang agak renggang dari kerumunan padat, mencari tempat yang pas untuk menikmati acara. Budi dan Dewi berjalan mengekor di belakang, sesekali terlibat obrolan kecil yang diselingi tawa malu-malu.
Mereka akhirnya menemukan tempat yang dirasa cocok. Di atas rumput lapangan yang sedikit kering, mereka menggelar alas duduk seadanya—selembar koran bekas yang sempat dibawa Budi dari rumah. Mereka pun duduk bersama, bersiap menikmati panggung hiburan rakyat yang mulai menyajikan lagu-lagu berirama cepat.
Namun, di tengah keriuhan itu, ada sebuah detail kecil yang luput dari perhatian Karsa. Tanpa dia sadari, Dewi—yang sejak awal duduk berdampingan dengan Budi—sesekali melayangkan pandangan sembunyi-sembunyi ke arahnya. Tatapan gadis itu menyimpan arti yang sulit ditebak, melirik Karsa dalam diam sebelum cepat-cepat membuang muka saat Budi mengajaknya berbicara lagi.
Panggung mendadak riuh saat seorang penyanyi lokal naik ke atas pentas dengan aksi yang tidak biasa.
"Eh, lihat!" seru Karsa sambil menunjuk ke arah panggung, berusaha mengalihkan perhatian di tengah suara musik yang berdentum keras.
"Mana, mana?" sahut Ningsih ikut mencondongkan badannya, mencari arah yang dimaksud Karsa.
"Itu... lihat... Nyanyi kok sambil jungkir balik," timpal Budi yang langsung mengenali aksi panggung sang biduan.
Sontak saja, kepolosan ucapan Budi dan pemandangan menggelitik di atas panggung membuat mereka berempat langsung meledak dalam tawa bersama. Gengsi muda-mudi yang sempat terasa kaku di awal malam mendadak cair seketika.
"Yah, demi duit, Bud," kata Karsa sambil menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum geli melihat totalitas sang penghibur demi mencari nafkah.
"Haha, iya juga sih, Sa. Namanya juga cari makan," balas Budi setuju, masih menyisakan sisa tawa di wajah segarnya.
Malam minggu ini benar-benar menjadi berkah tersendiri bagi Karsa. Riuh rendah tawa sahabat, obrolan ringan, dan ramainya atmosfer lapangan perlahan-lahan mulai mengikis rasa kesepian yang hebat di dalam dadanya. Yah... semenjak ibunya meninggal dunia beberapa hari yang lalu, tiap malam Karsa hanya bisa terpaku seorang diri di dalam rumahnya yang sunyi dan gelap. Namun malam ini, untuk beberapa jam saja, luka itu sedikit terobati oleh kehangatan sebuah kebersamaan.