Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Tetapi selama delapan tahun, Dimas bahkan tidak pernah benar-benar memperkenalkan Tira kepada keluarganya. Mereka tinggal di kota yang sama tapi sampai sekarang Tira nggak pernah tahu dimana rumah orangtuanya Dimas. Tira mengembuskan napas panjang. “Aku ini pacarnya atau apa?” tanyanya kepada diri sendiri.

Ia kemudian tertawa kecil, tetapi matanya justru panas. Bahkan setiap kali mereka bertemu, Dimas lebih sering menurunkannya di simpang rumah.

Dulu Tira tidak pernah menganggap itu masalah. Ia akan turun dari mobil, menutup pintu, lalu berjalan beberapa menit sampai rumah.

Kadang Dimas berkata, “Nanti kalau sudah menikah, aku antar sampai depan.”

Dulu kalimat itu terdengar manis. Sekarang terdengar seperti lelucon yang terlalu lama ia percaya. Tira memejamkan mata. Ayahnya ternyata melihat semua itu. Selama ini ia pikir Ayah tidak tahu. Ia pikir ia berhasil menyembunyikan hubungan mereka dengan baik. Ternyata seorang ayah memang punya cara sendiri untuk melihat anaknya. Mungkin Ayah tidak tahu siapa Dimas sepenuhnya. Mungkin Ayah tidak tahu apa saja yang terjadi selama delapan tahun. Tetapi Ayah tahu satu hal putrinya sering pulang sendirian dari simpang. Dan entah kenapa hal sederhana itu membuat Tira merasa sangat malu. Bukan kepada tetangga. Bukan kepada orang lain. Kepada ayahnya sendiri.

Ia teringat wajah Ayah ketika berkata, Kamu itu berharga, Nak. Air mata Tira kembali mengalir. Selama ini ia terlalu sibuk memperjuangkan cintanya sampai lupa bahwa ada seorang ayah yang diam-diam ikut menunggu.

Ayah tidak pernah memaksanya putus dengan Dimas. Tidak pernah menghina lelaki itu. Tidak pernah melarangnya bertemu. Ayah hanya menunggu Dimas datang. Menunggu seorang lelaki berdiri di depan rumah dan berkata, “Pak, saya mencintai Tira. Saya ingin menikahinya.”

Namun sampai delapan tahun berlalu, yang datang justru Fahri. Lelaki yang bahkan baru dikenalnya beberapa waktu lalu. Datang bersama keluarganya. Duduk di ruang tamu. Bicara dengan sopan. Menyampaikan niatnya. Dan sekarang sudah menyiapkan rumah untuk mereka. Tira memandang kunci di tangannya lagi. “Kenapa kamu baru datang sekarang, Bang?” bisiknya, entah kepada Fahri atau kepada takdir yang sedang membawanya ke arah berbeda.

Ia tahu hatinya belum kosong dari Dimas. Tidak mungkin kosong dalam semalam. Tetapi ada sesuatu yang mulai berubah. Selama ini Tira mengira ukuran cinta adalah seberapa lama seseorang bertahan.

Sekarang ia mulai memahami bahwa mungkin cinta juga diukur dari keberanian untuk bertanggung jawab. Dimas sudah delapan tahun bersamanya, tetapi tidak pernah berani datang kepada Ayah. Fahri belum genap lama mengenalnya, tetapi sudah berani datang membawa keluarganya dan menyiapkan tempat untuk kehidupan mereka. Perbandingan itu sebenarnya tidak adil. Fahri bukan Dimas. Mereka punya jalan masing-masing. Namun Tira tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada hal yang selama ini tidak ingin ia akui yaitu rasa lelah. Sangat lelah.

Lelah menunggu. Lelah menebak-nebak. Lelah membela seseorang yang bahkan tidak pernah memintanya secara resmi di hadapan keluarganya. Dan yang paling membuat dadanya sesak bukan karena Dimas tidak menikahinya. Yang paling ia sesali adalah dirinya sendiri. Ia merasa sudah membuat Ayah menunggu terlalu lama. Membuat lelaki yang paling menjaganya itu melihat putrinya diperlakukan seolah-olah tidak layak diperjuangkan.

Tira menutup wajah dengan kedua tangan. “Maaf, Yah.”

Tangisnya pecah. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat bahunya naik turun. Ia menangisi delapan tahun yang tidak bisa dikembalikan. Menangisi keputusan-keputusan yang dulu ia anggap benar. Menangisi dirinya yang begitu yakin bahwa cinta pasti berakhir bahagia selama ia cukup sabar.

Mungkin ia memang tidak bodoh karena pernah mencintai Dimas. Tetapi ia bodoh kalau masih memaksa dirinya menunggu seseorang yang tidak menunjukkan arah.

Tira mengambil ponsel. Nama Dimas masih ada di sana. Jarinya sempat bergerak hendak membuka percakapan mereka, tetapi berhenti. Tidak. Kali ini tidak. Ia meletakkan ponsel kembali. Dua hari lagi ia akan menjadi istri Fahri. Ia tidak tahu seperti apa kehidupan setelah akad. Tidak tahu apakah cinta akan tumbuh dalam satu bulan, satu tahun, atau bahkan lebih lama. Ia hanya tahu bahwa ia ingin memasuki pernikahan itu dengan satu keputusan, ia akan berhenti membandingkan Fahri dengan lelaki yang telah ia tunggu selama delapan tahun. Kalau Fahri datang dengan niat baik, Tira juga akan datang dengan niat baik.

Soal cinta, biarlah waktu yang bekerja. Malam semakin larut. Dari luar kamar terdengar suara ayah dan ibunya berbicara pelan. Tira tersenyum sambil menghapus air mata. Rumah ini sebentar lagi akan ia tinggalkan. Bukan karena diusir. Bukan karena tidak bahagia. Justru karena ayahnya ingin ia punya rumah sendiri. Tira memeluk bantal dan menarik napas panjang. “Semoga kali ini aku nggak salah pilih.” Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak sedang berdoa agar Dimas datang. Ia sedang berdoa agar dirinya cukup kuat untuk melangkah pergi.

Tira mengusap wajahnya sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa. Malam itu, ia merasa sudah terlalu lama hidup di antara harapan dan kenyataan.

Tira menarik napas panjang. “Terima kasih sudah pernah mencintaiku, Dim.” Ia tidak tahu apakah Dimas benar-benar mencintainya dengan cara yang ia harapkan. Mungkin iya. Mungkin juga tidak.

Tetapi delapan tahun itu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan Tira tidak ingin mengutuk masa lalu hanya karena akhirnya tidak sesuai dengan keinginannya. Ia pernah bahagia bersama Dimas. Itu cukup untuk disimpan sebagai kenangan. Selebihnya, biarlah selesai malam ini.

Tira mengambil kunci rumah yang diberikan Fahri sore tadi. Benda kecil itu kembali ia genggam. Besok atau lusa, ia akan memasuki rumah itu bukan sebagai perempuan yang sedang menunggu seseorang, melainkan sebagai istri. “Fahri...” Ia tersenyum kecil ketika mengucapkan nama itu.

Rasanya masih asing. Sangat asing. Tetapi mungkin memang begitulah awal sebuah kehidupan baru. Tidak semuanya harus dimulai dari rasa cinta yang besar. Kadang cukup dengan niat baik, rasa hormat, dan dua orang yang sama-sama mau belajar.

Tira tahu ia belum bisa memberikan cinta sebesar yang pernah ia berikan kepada Dimas. Ia tidak ingin berbohong soal itu. Tetapi ia juga tidak ingin terus hidup dengan hati yang tertinggal di belakang. “Aku akan coba, Bang,” ucapnya pelan, seolah Fahri ada di hadapannya. “Aku akan belajar menerima Abang. Aku akan belajar jadi istri yang baik.” Tira tersenyum. “Dan kalau nanti aku jatuh cinta sama Abang...” Ia tertawa kecil sendiri. “Ya, jangan geer dulu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya benar-benar terlihat. Ia kemudian mematikan lampu kamar dan berbaring. Matanya masih menyimpan sisa kesedihan, tetapi hatinya terasa sedikit lebih ringan. Delapan tahun bersama Dimas sudah selesai. Bukan karena semua kenangannya hilang, melainkan karena Tira akhirnya memilih untuk tidak hidup di dalamnya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!