Indonesia
NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

📖 BAB 30: RASA IRI DARI DEKAT

(

Pesta syukuran peresmian cabang baru perusahaan Dika digelar di aula restoran termewah di kota itu. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menyinari meja-meja yang tertata rapi dengan taplak sutra putih dan hiasan bunga segar. Aroma masakan lezat berpadu dengan wangi bunga melati yang menyebar perlahan, menciptakan suasana yang seharusnya penuh kebahagiaan dan kehangatan.

Dika berdiri tegak di samping Raina, tangan kanannya melingkar erat di pinggang istrinya, seolah tak ingin terpisah sedetik pun. Senyumnya lebar, matanya berbinar bangga, namun tatapan itu selalu kembali berlabuh pada sosok wanita yang berdiri di sebelahnya. Raina mengenakan gaun berwarna krem yang pas di badan, rambutnya disusun rapi dengan sedikit hiasan bunga melati sederhana. Ia tidak berusaha tampil mencolok, namun keanggunan dan ketenangan yang ia pancarkan justru membuatnya terlihat paling indah di antara semua tamu yang hadir.

Selama ini, orang-orang hanya melihat Dika yang bekerja keras, yang berjuang mendirikan usaha dari nol, yang berani mengambil risiko besar demi masa depan. Namun hanya mereka berdua yang tahu, bahwa di balik setiap keputusan besar, di balik setiap langkah yang diambil, ada dukungan tak terhingga dari Raina. Saat Dika lelah hingga tak sanggup berbicara, Raina yang menyiapkan teh hangat dan tempat beristirahatnya. Saat Dika ragu akan kemampuannya sendiri, Raina yang meyakinkan bahwa ia mampu. Saat dunia seolah berpaling, Raina lah yang tetap berdiri tegak di sisinya, menjadi rumah tempat ia pulang.

Namun di tengah tepuk tangan dan ucapan selamat yang berdatangan, ada pasang mata yang tidak memancarkan senyum tulus.

Di sudut ruangan, sekelompok kerabat jauh sedang berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah mereka. Ada Bibi Ratna, wanita yang selalu merasa dirinya lebih mulia dan berhak mendapatkan segala hal yang baik; ada Paman Surya yang dulu sering meremehkan usaha kecil Dika; serta beberapa orang lain yang dulu tidak pernah sekalipun menawarkan bantuan saat mereka masih kesulitan.

"Lihatlah mereka," bisik Bibi Ratna sambil menyesap minumannya dengan nada meremehkan. "Berlagak seperti bangsawan saja. Padahal belum lama ini mereka masih menumpang di rumah orang lain, kan?"

"Benar itu," sahut Paman Surya dengan senyum miring. "Entah bagaimana caranya Dika bisa seberhasil ini sekarang. Padahal dulu dia hanya anak muda yang nekat saja. Pasti ada yang dibantu, atau mungkin ada cara yang tidak benar."

"Dan lihat istrinya itu," tambah wanita lain sambil menyeringai. "Dulu dia dianggap tidak layak untuk keluarga kita. Sekarang berjalan dengan kepala tegak seolah dia pemilik segalanya. Lucu sekali."

Bisik-bisik itu perlahan terdengar samar-samar oleh telinga Raina. Ia merasakan dada sedikit sesak, namun ia tetap tersenyum lembut, berusaha mengabaikannya. Ia tahu, mereka tidak tahu apa yang mereka katakan. Mereka tidak tahu berapa banyak air mata yang telah jatuh, berapa banyak malam yang terjaga, berapa banyak doa yang terucap di sepertiga malam. Mereka hanya melihat hasilnya, tanpa pernah mau tahu perjuangannya.

Namun Dika yang peka langsung merasakan perubahan kecil pada sikap istrinya. Ia merasakan tangan Raina yang tadi meremas lengannya dengan lembut, kini sedikit mengendur. Ia menoleh perlahan, menatap mata istrinya yang berusaha menyembunyikan rasa sakit itu. Tanpa ragu sedikit pun, Dika mengeratkan pelukannya di pinggang Raina, lalu dengan suara yang cukup terdengar oleh orang-orang di sekitarnya, ia berkata dengan lembut namun tegas:

"Sayang, terima kasih. Tanpa kamu, semua pencapaian ini tidak akan ada artinya. Kamu adalah alasan kenapa aku terus berjalan."

Kata-kata itu sederhana, namun maknanya begitu dalam. Seluruh ruangan seolah hening sejenak, lalu kembali bergema dengan tepuk tangan yang lebih hangat. Namun bagi kelompok kerabat yang tadi berbisik, kata-kata itu bagaikan teguran yang tak terucapkan. Wajah mereka memerah, malu sekaligus kesal karena pujian yang seharusnya mereka berikan, justru menjadi bukti betapa besarnya peran Raina yang selama ini mereka remehkan.

Namun rasa iri itu tidak berhenti begitu saja.

Beberapa hari kemudian, kabar yang tidak benar mulai menyebar perlahan. Ada yang bilang bahwa uang yang dimiliki Dika adalah hasil pinjaman besar yang tidak akan sanggup dibayar. Ada yang menyebarkan berita bahwa Raina sebenarnya mengatur segala hal di belakang layar, sehingga Dika tidak berkuasa apa-apa. Ada juga yang menyebarkan fitnah bahwa kesuksesan ini hanya sementara, dan sebentar lagi mereka akan jatuh menderita lebih parah dari sebelumnya.

Berita-berita itu sampai ke telinga rekan bisnis, tetangga, bahkan hingga ke teman-teman lama mereka. Beberapa orang mulai menatap dengan pandangan ragu, ada yang menjauh perlahan, ada pula yang datang mendekat hanya untuk memastikan kebenaran kabar itu.

Suatu sore, saat Dika sedang bekerja di ruang kerjanya, seorang kerabat jauh datang berkunjung. Ia berlagak ramah, namun perkataannya penuh dengan sindiran halus dan pertanyaan yang menjebak.

"Dik, sukses sekali kamu sekarang ya," ucapnya sambil melihat sekeliling ruangan yang nyaman itu. "Tapi hati-hati lho, banyak orang yang bilang kalau bisnis yang tumbuh terlalu cepat biasanya cepat runtuh juga. Jangan sampai kamu terlena, nanti malah rugi besar."

Dika tersenyum tenang, tidak tersinggung sedikit pun. Ia tahu dari mana arah pembicaraan itu.

"Terima kasih atas perhatiannya, Paman," jawab Dika dengan sopan namun tegas. "Kami tidak tumbuh secara tiba-tiba. Kami membangunnya perlahan, satu per satu, dengan kerja keras, kejujuran, dan perhitungan yang matang. Apa yang kami miliki saat ini adalah hasil dari keringat kami sendiri, dan restu Tuhan. Jadi kami tidak perlu takut."

Kerabat itu terdiam sejenak, tidak menyangka Dika akan menjawab sejelas itu. Ia mencoba mencari celah lain.

"Bagus kalau begitu. Tapi ingat, Dik, jangan sampai istrimu terlalu mengatur segalanya. Seorang suami harus tetap menjadi kepala keluarga yang sesungguhnya, jangan sampai terbalik."

Kali ini senyum Dika perlahan hilang, digantikan dengan tatapan tajam namun tenang.

"Raina tidak mengaturku, Paman," ucapnya perlahan. "Ia mendukungku. Ia adalah mitra hidupku, sahabat terbaikku, dan ibu dari anak-anakku. Segala keputusan yang aku ambil selalu kami bahas bersama. Tanpa nasihatnya, kesabarannya, dan doanya, aku tidak akan menjadi orang yang berdiri di hadapan Paman sekarang. Jika Paman menganggap dukungan istri adalah sebuah kesalahan, maka saya rasa Paman tidak pernah memahami arti sebuah pernikahan yang sejati."

Perkataan itu begitu tegas dan penuh keyakinan, membuat kerabat itu tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk kaku, lalu berpamitan dengan perasaan yang campur aduk.

Saat kerabat itu pergi, Raina yang sejak tadi berdiri diam di ambang pintu masuk menghampiri suaminya. Matanya berkaca-kaca, namun senyumnya begitu tulus dan penuh cinta.

"Kamu tidak perlu membelaku sekuat itu, Mas," ucapnya pelan. "Aku sudah terbiasa dengan perkataan mereka."

Dika segera memeluk istrinya erat, mencium ubun-ubunnya dengan penuh kasih sayang.

"Justru karena aku tahu kamu sudah banyak bersabar, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," bisiknya. "Kamu adalah wanita yang paling mulia yang pernah aku kenal. Mereka boleh iri, mereka boleh berbicara apa saja, tapi mereka tidak akan pernah bisa merusak apa yang sudah kita bangun bersama dengan cinta dan kejujuran. Kejahatan mereka akan sirna sendiri, sementara cinta kita akan semakin kuat."

Malam itu, mereka duduk bersama di teras rumah, memandangi langit yang penuh bintang. Kabar buruk dan rasa iri itu masih ada di luar sana, namun bagi mereka, itu hanyalah angin yang lewat. Tidak mampu menggoyahkan pondasi rumah tangga yang dibangun di atas kasih sayang, rasa saling percaya, dan keteguhan hati.

Setiap fitnah yang datang justru semakin mengikat hati mereka. Setiap sindiran yang terucap justru semakin membuktikan betapa berharganya hubungan yang mereka miliki. Mereka sadar, rasa iri itu muncul bukan karena kesalahan mereka, melainkan karena orang lain tidak mampu membangun kebahagiaan seperti yang mereka miliki.

Dan di bawah langit yang tenang itu, Dika menggenggam tangan Raina, berjanji dalam hati untuk selalu menjadi perisai bagi wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya menjadi lebih indah. Biarlah dunia bicara apa saja, selama mereka berdua tetap bersatu, tidak ada badai yang sanggup merobohkan mereka.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!