"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : MATA YANG TAK BISA BERBOHONG
Udara hangat dan sinar matahari siang menerobos masuk lewat celah tirai kamar perawatan, membiaskan suasana tenang yang menyejukkan. Setelah Dokter Anna keluar, suasana haru di antara mereka perlahan mencair.
Lulu menarik kursi plastik ke dekat ranjang merapikan selimut Lastri dengan telaten sambil terus mengungkit kenangan masa SMA mereka hanya untuk memancing tawa sahabatnya itu.
Lastri menanggapi cerita-cerita konyol itu dengan senyum tipis. Meski pikirannya masih dibayangi rasa takut yang mencekik akibat pesan ancaman di ponselnya, namun kehangatan sikap Lulu perlahan memberi sedikit kedamaian di hatinya. Ditengah perbincangan hangat tersebut mata Lulu tak sengaja melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.45 WIB, Lulu tersentak pelan.
"Ya ampun, Las...! Aku harus balik ke kantor sekarang. Tadi kan izinnya cuma setengah hari" Ucap Lulu panik halus sambil bergegas merapikan tas dan pakaiannya.
Lastri yang mendengar hal itu seketika menoleh dengan dahi berkerut heran.
"Lho? Minta izin setengah hari?"
Lastri menatap Lulu lekat-lekat, bertanya sekadarnya karena penasaran.
"Maksud kamu gimana, Lu? Bukannya tadi pagi kamu pamit berangkat kerja dari rumah sakit ini.. Dan Kalau kamu baru balik ke kantor jam segini... terus dari pagi tadi kamu ke mana aja?"
Lulu seketika mematung. Jantungnya berdebar canggung, ia mendadak sangat gugup karena kelakuannya sendiri yang keceplosan.
Lulu tentu tidak mungkin menceritakan pertemuannya yang penuh intimidasi dengan Riko di kafe tadi. Setiap kali mengingat bayangan pria angkuh itu, rasa kesal dan jengkel yang membara langsung memenuhi dadanya.
"E..eh... itu..." Jawab Lulu terbata-bata, berusaha memasang raut wajar sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Tadi pas di jalan mau ke kantor... macetnya parah banget! Angkutan yang aku tumpangi mandek total berjam-jam. Karena tau bakal telat parah, ya udah aku sekalian kirim pesan izin setengah hari ke SPV ku, terus balik lagi deh ke sini buat jenguk kamu sebentar..."
Lastri menatap Lulu sebentar. Meski agak heran, ia tidak berpikiran macam-macam dan mengangguk paham.
"Ya ampun, Lu... Kamu ini ada-ada aja deh..." desah Lastri mengalirkan rasa maklum.
"Ya udah, kamu langsung jalan sekarang, jangan sampai terlambat lagi dan makasih banyak ya.....Dari awal aku masuk rumah sakit, kamu selalu kerepotan ngurusin aku, bolak-balik kantor dan rumah sakit..." Lastri menatap wajah sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sama sekali nggak repot, kok !" potong Lulu cepat dengan raut tulus.
"Jangan ngomong gitu lagi. Kita udah berteman dari SMA, aku justru seneng banget bisa ada di samping kamu di saat-saat sulit kayak gini. Nggak ada kata kerepotan buat sahabat sendiri..."
Lastri menatap wajah sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Lu... Hati-hati di jalan ya.."
"Siap! Aku pamit ya, Las!" Ucap Lulu sembari merengkuh tubuh Lastri sekali lagi.
memberikannya sebuah pelukan hangat yang erat dimana sebuah pelukan khas dua sahabat sejati yang saling menguatkan. Setelah mengurai pelukannya dengan senyum terkembang, Lulu mengaitkan tasnya dan melangkah keluar dari kamar rawat.
Lulu bergegas menuju kantor dan siap menghadapi amukan Pak Angga, sembari berusaha menepis rasa kekesalannya pada Riko yang telah mengacaukan harinya.
...****************...
Tumpukan berkas laporan kinerja divisi terhampar di atas meja kayu mahoni milik Angga, namun tak satu pun baris kalimat di sana yang berhasil masuk ke dalam benaknya. Fokusnya berantakan total.
Angga melangkah bolak-balik di ruangannya seperti setrikaan, mondar-mandir tanpa arah yang jelas. Sesekali ia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya, namun hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali bangkit berdiri dengan napas terengah pelan.
Dihadanya dipenuhi rasa gelisah yang teramat sangat dan semuanya hanya karena satu nama yaitu Lulu.
Matanya melirik jam dinding berbingkai hitam di ruangannya. Detiknya terus berdetak mempertegas betapa lamanya waktu berlalu.
Angga kemudian menoleh ke luar pintu kaca buramnya lalu mengarahkan pandangan tepat ke kubikel kerja Lulu yang hingga saat ini masih kosong melompong.
Tanpa sadar jemari tangannya bergerak cepat menyambar ponsel di atas meja. Ia membuka daftar kontak lalu mencari nama stafnya itu. Namun, sebelum tombol panggil tertekan jemarinya terhenti kaku.Ego dan gengsinya mencengkeram erat.
Mau beralasan apa kalau menelponnya sekarang? Angga merasa sangat gengsi dan malu jika sampai tertangkap basah terlalu mencemaskannya. Ia sempat berpikir untuk beralasan ada tugas mendesak yang harus segera diselesaikan. Tapi... ia kembali mengacak rambutnya secara frustrasi.
Pekerjaan hari ini tidak begitu banyak, alasan itu terlalu mengada-ada!
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di kepalanya. Pertemuan dengan jajaran pimpinan kemarin!
Saat rapat itu, Angga sempat meminta izin untuk menambahkan Vika dan dua orang staf lainnya ke dalam tim proyek terbarunya selain Indah. Sebuah ukiran senyum puas perlahan terbit di bibirnya. Ini alasan yang sempurna! Ia bisa memanggil Lulu untuk memberitahukan penugasan baru ini tanpa membuat gadis itu curiga.
Namun, baru saja jemarinya hendak menekan tombol hijau di layar ponselnya...
Dari balik dinding kaca, bayangan sosok yang sedari tadi mengacaukan pikirannya muncul dari arah pintu masuk kantor.
Ya...Lulu telah kembali. Angga mematung melihat Lulu berhenti sejenak di meja Vika. Tampak Vika membisikkan atau menyampaikan sesuatu yang seketika membuat Lulu menoleh kaget dan melirik lurus ke arah ruangannya.
"Deg!"
Dengan gerakan refleks secepat kilat, Angga membalikkan badannya membelakangi pintu. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia berjalan cepat menuju kursi kerjanya, mendudukkan diri lalu dengan cepat menyambar salah satu lembaran berkas agar dapat terlihat sibuk dan tenggelam dalam pekerjaannya.
Dari balik sudut matanya, Angga melirik pintu kaca. Lulu tampak berjalan tergesa-gesa dengan raut wajah cemas yang amat jelas.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pelan di pintunya terdengar.
Angga berdeham tipis, menetralkan nada suaranya agar terdengar sedingin dan seformal mungkin sembari matanya tetap berpura-pura meneliti dokumen di tangannya padahal berkas itu sudah ia periksa berulang kali sejak pagi.
"Masuk" Ujar Angga datar, menanti langkah kaki gadis yang telah membuat harinya kacau balau.
Pintu kaca buram itu terdorong pelan. Lulu melangkah masuk dengan hati-hati, memegang erat tali tasnya sembari menundukkan kepala.
Suasana di dalam ruangan terasa begitu dingin dan pekat oleh ketegangan sehingga membuat setiap langkah kakinya terasa amat berat.
Di balik meja mahoni besarnya, Angga masih berpura-pura tenggelam dalam tumpukan dokumen. Wajahnya dipasang sedatar mungkin dan sama sekali tidak menoleh walau ia tahu pasti siapa yang baru saja berdiri di hadapannya.
"P.. Pak Angga..." cicit Lulu pelan, memecah keheningan ruangan.
"Saya... saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan saya hari ini" Ucap Lulu dengan suara yang sedikit bergetar.
Angga tidak langsung menjawab. Ia perlahan merapikan lembaran kertas di tangannya, sengaja memberi jeda beberapa detik hanya untuk membiarkan ketegangan makin menyiksa Lulu sebelum akhirnya mengangkat pandangan dan menatap lurus ke arah mata gadis berkacamata itu.
"Kamu tahu jam berapa sekarang, Lulu?" tanya Angga dengan intonasi rendah, dingin, dan menuntut.
Lulu menelan ludahnya payah tak berani menatap balik sorot mata tajam atasan dan pria yang diam-diam mengisi hatinya itu.
"Saya tahu saya salah, Pak... Keterlambatan saya murni karena jalanan macet parah di jalan tadi.." Ujar Lulu dengan nada penuh penyesalan.
Dalam hatinya, dada Lulu berdegup kencang karena rasa bersalah. Ia terpaksa berbohong, Lulu memilih menghentikan kalimatnya di sana dan menyembunyikan kenyataan pahit bahwa alasan utamanya terlambat adalah karena pertemuan mendadak yang penuh intimidasi dengan Riko saudara tirinya yang amat ia benci.
Lulu tak ingin mengungkit nama pria itu apalagi membawa masalah pribadinya ke dalam area kantor.
Angga menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, mengamati raut wajah cemas dan gerak-gerik canggung Lulu yang terus memilin ujung bajunya. Sebagai pria yang diam-diam selalu memperhatikan detail sekecil apa pun tentang Lulu, Angga bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu di balik alasan "macet" yang klise.
Angga kembali menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Ia memajukan tubuhnya perlahan lalu bertumpu pada kedua siku di atas meja. Pandangannya mengunci Lulu tanpa berkedip sedikit pun layaknya tatapan tajam khas seorang manajer yang sanggup menembus pertahanan siapa saja.
"Macet?" Bisik Angga dingin, Sebuah senyum miring nan skeptis terukir tipis di bibirnya.
"Jam sepuluh pagi di jalur utama kota itu jalur lengang, Lulu....Kamu pikir saya baru sehari dua hari tinggal di kota ini?"
Jantung Lulu rasanya mau melompat keluar dari dada. Ia mendadak panik hingga tak sadar meremas tali tasnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ma...maksud saya... tadi ada sedikit kendala di jalan, Pak... Saya benar-benar minta maaf...."