Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Tamparan Keras Untuk Zidan

Selesai membersihkan tubuhnya, Zidan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya dan rambut yang masih basah.

Langkah kakinya membawa pria itu menuju ruang ganti.

Disana, setelan pakaian kerja lengkap dengan dasi dan jam tangannya sudah tertata rapi. Humaira, seperti biasa, selalu menyiapkan segala kebutuhannya tanpa pernah terlewat satu pun.

Zidan mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh permukaan kain kemeja yang halus itu. Saat bersiap untuk mengenakannya, bayangan Melodi melintas di benaknya.

Sean berpikir, seandainya waktu itu dia jadi menikah dengan Melodi, apa wanita itu juga akan mau menyiapkan pakaiannya seperti yang dilakukan Humaira selama menjadi istrinya?

Mengingat tabiat Melodi yang egois dan selalu mementingkan diri sendiri, Zidan mendadak merasa ragu. Pria itu sama sekali tidak yakin Melodi mampu bersikap layaknya seorang istri yang penuh perhatian.

Meskipun Humaira dingin dan datar. Tapi istrinya itu tidak pernah mengabaikan semua kebutuhannya, termasuk juga menyemir sepatunya dan menyimpan jam tangannya di tempat seharusnya, karena Zidan terkadang suka membuka jam tangan dan meletakkan di berbagai tempat.

Tapi istrinya itu selalu sigap melakukan semuanya tanpa pamrih. Kamar juga selalu bersih dan harum. Semenjak menikah dengan Humaira, para pembantu tidak pernah lagi masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan.

Meskipun sibuk di rumah sakit, tapi Humaira tetap menyempatkan waktu untuk mengurus suami beserta kamar dan tidak membiarkan pembantu yang mengambil alih.

Sikap Humaira yang sangat keibuan, membuat Zidan perlahan merasakan perasaan berbeda pada Humaira. Meski di awal hanya istri pengganti, tapi dia sangat nyaman dengan istri penggantinya itu.

Zidan buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis pemikiran yang kian melenceng jauh itu. Ia merasa tidak pantas membanding-bandingkan kedua wanita tersebut. Pemikiran seperti itu rasanya sangat tidak adil.

Biar bagaimanapun, Melodi itu kekasihku, batin Zidan berusaha membela Melodi dalam pikirannya sendiri, meski jauh di dalam lubuk hatinya, keraguan itu sudah terlanjur menanam akar.

Setelah selesai mengenakan setelan yang rapi. Zidan melangkah turun kelantai bawah.

Pria itu berjalan lurus menuju area dapur untuk sarapan. Namun, setibanya dimeja makan, ia justru melihat meja makan yang kosong—tak ada satu pun sarapan yang tersaji.

Pandangannya teralih ke arah dalam dapur. Di sana, tampak Humaira sedang berdiri sendirian di depan kompor yang menyala, mengaduk adonan di wajan.

Pria itu menyipitkan mata, melihat sang istri.

"Bi Ina! Bi Ina!" panggil Zidan beberapa kali.

Tapi sunyi...

Tak ada sahutan.

Humaira yang mendengar suara tegas suaminya hanya diam membisu, jemarinya terus menggerakkan spatula.

Tak berapa lama, Siska berjalan santai mendekati meja makan dengan kedua tangan terlipat di dada. "Bi Ina enggak ada, Kak. Katanya kemarin mau izin pulang kampung," celetuk Siska berbohong.

"Pulang kampung?" Zidan berbalik menatap adiknya dengan selidik, keningnya berkerut. "Lalu siapa yang menyiapkan makanan di rumah kalau Bi Ina tidak ada?"

"Ya enggak ada. Itu istri Kakak yang lagi sibuk bikin sarapan di dapur," sahut Siska acuh tak acuh, melirik sinis ke arah Humaira.

Raut wajah Zidan berubah. "Kenapa harus istriku yang membuat makanan di rumah ini?!" Tanya Zidan dengan nada penekanan.

"Kalau tidak ada makanan, bisa pesan dari luar!" Lanjutnya.

"Ada apa ini? Pagi-pagi kok sudah ribut-ribut?" Elisa baru saja melangkah masuk ke area dapur dengan daster mewahnya.

"Enggak tahu tuh Kak Zidan, Bun!" adu Siska cepat, "Orang istrinya sendiri yang mau ke dapur buat sarapan, dianya malah marah-marah enggak jelas!"

"Aku tidak marah! Aku cuma bertanya, kenapa harus istriku yang menyiapkan semua makanan di rumah ini?!" bentak Zidan, suaranya naik beberapa oktaf.

Membuat Siska menelan saliva tak menyangka kakaknya akan marah melihat istrinya menggantikan pembantu.

Elisa ikut meninggikan nada suara. "Lho, kamu kok malah membentak adikmu, Zidan? Humaira kan istrimu, apa salahnya sih kalau dia menyiapkan makanan untuk kita semua? Itu kan tugas seorang istri!"

"Tugas seorang istri?" Rahang pria itu justru semakin mengeras.

"Lalu Bunda sama Siska cuma berdiri di sini doang sambil melipat tangan?! Tanpa ada niat sedikit pun untuk bantu istriku di dapur? Begitu?"

"Bunda, tugas seorang istri itu melayani suaminya, bukan melayani ibu mertua, atau adik iparnya!" Lanjut Zidan.

"Lho, Siska kan punya anak kecil yang harus diurus! Kamu harusnya paham dong, jangan egois!" elak Elisa berapi-api membela putri kesayangannya.

Ucapannya itu justru menjadi pemantik yang membakar habis sisa kesabaran Zidan.

Elisa yang menyadari tatapan mata putranya yang memerah mendadak merinding.

Wanita paruh baya itu menyenggol lengan Siska seraya berbisik panik, "Sudah Bunda bilang, kamu sih enggak mau dengar!"

"Apa sih, Bunda. Kok malah nyalahin Siska!" Siska yang egois tentu saja tidak terima di salahkan.

Zidan tak peduli. Pria itu memutar tubuhnya, melangkah lebar menerobos masuk ke dapur.

Jemari kokohnya langsung meraih dan memegang pergelangan tangan Humaira yang sedang memegang spatula.

Humaira tersentak kaget. "Ada apa?" tanya Humaira heran, melihat raut wajah Zidan yang tampak tak baik-baik saja.

Zidan tak menjawab. Pria itu justru menarik dan menyeret tubuh Humaira keluar dari dapur, membawanya berdiri tepat di hadapan Elisa dan Siska.

"Dengar baik-baik!" Ucap Zidan dengan nada penuh tekanan, menatap ibu dan adiknya bergantian. "Kalau Bunda dan Siska tidak bisa membantu istriku untuk pekerjaan dapur saat Bi Ina tidak ada, lebih baik kalian pesan makanan sendiri! Jangan pernah berani-berani menyuruh istriku mengerjakan pekerjaan rumah. Istriku bukan pembantu di rumah ini!"

Siska yang merasa gengsinya diinjak-injak ikut tersulut emosi. Ia memajukan tubuhnya, menunjuk Humaira dengan berani.

"Kakak kok belain cewek ini sampai segitunya sih?! Lagian kerjanya di rumah sakit juga enggak keras-keras amat, cuma jadi perawat!"

"Kau pikir istriku di rumah sakit cuma goyang kaki?!" potong Zidan dengan dentuman suara yang menggelegar, membuat Siska dan Elisa terlonjak kaget. "Cuma baringan?! Cuma rebahan?! Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya bertaruh nyawa dan lelahnya bekerja seharian?!"

"Apa sih kamu ini, Zidan?!" bentak Elisa. "Kamu marah-marah cuma gara-gara urusan sepele?! Lagian Humaira kan tinggal di sini gratis! Ya tidak apa-apa lah bantu-bantu kita! Bi Ina libur itu justru bisa menghemat pengeluaran rumah tangga!"

"Menghemat pengeluaran, Bun?!" Zidan menatap ibunya. "Di rumah ini aku yang kerja! Aku yang banting tulang cari uang! Kenapa aku harus membiarkan istriku dijadikan pembantu hanya untuk berhemat?! Kalau Bunda dan Siska cuma mau enaknya dan tidak mau bantu istriku di dapur, lebih baik tidak usah makan sekalian kalau tidak mau pesan dari luar!"

Dapur itu mendadak hening seketika. Tak ada satu pun yang berani memotong.

Pria itu mengalihkan pandangannya pada Humaira yang berdiri diam disampingnya.

"Ayo kita pergi!" Ajak Zidan.

Zidan langsung menarik lengan Humaira keluar dari rumah.

Meninggalkan Siska dan Elisa yang terdiam seribu bahasa tak percaya Zidan membela istrinya sampai segitunya.

Zidan segera memutar kemudi, meninggalkan pekarangan rumah.

Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan manis di antara mereka. Humaira hanya diam menatap kosong ke luar jendela mobil, sementara Zidan sesekali mencuri pandang ke arah wanita itu.

Pria itu menghela napas. Sikap Humaira yang semakin dingin membuat Zidan terkadang bingung menghadapinya.

Kalau dulu Melodi yang ngambek, dia sangat mudah membujuknya hanya dengan uang dengan cara mengajak Melodi belanja.

Tapi Humaira? Zidan sendiri bahkan tidak mengerti apa yang wanita itu inginkan. Soalnya Humaira tidak tergiur dengan hartanya.

"Aku minta maaf soal sikap Bunda dan Siska tadi," ujar Zidan tiba-tiba memecah keheningan.

"Tidak masalah," jawab Humaira lirih. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah bentakan dan pembelaan Zidan di rumah tadi tak akan pernah mampu menyentuh dinginnya hatinya.

Tiba-tiba, Zidan menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah restoran yang cukup tenang.

"Buat apa kemari?" tanya Humaira heran, beralih melihat Zidan.

"Kita sarapan dulu." sahut Zidan tanpa menunggu jawaban, lalu mengajak Humaira masuk.

Humaira hanya diam dan ikut saja. Tak ada bantahan, mungkin karena dia sudah terlalu lelah menghadapi keluarga Zidan.

Di dalam restoran, Zidan memesankan beberapa menu makanan hangat yang tidak terlalu berat, dan tentunya sehat.

Saat makanan tersaji, Zidan meminta wanita itu untuk makan.

Humaira patuh, menyantap hidangannya dengan tenang—tetap hemat bicara dan menjaga jarak yang teramat lebar di antara mereka.

Zidan memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya.

Dulu, wanita di hadapannya itu adalah perawat yang sangat cekatan dan cerdas di ruang operasi dan sering mendampinginya. Tapi sudah hampir 3 bulan. Gadis itu tampak sedikit lalai dan suka termenung seperti tak ada gairah hidup.

"Humaira..." panggil Zidan perlahan.

Humaira hanya mendongak sekilas, tanpa mengeluarkan suara.

"Apa kau tidak berniat untuk menjadi seorang dokter?" tanya Zidan menunggu responnya.

Humaira menggeleng tanpa mendongak. "Aku tidak punya uang untuk itu," jujur, menjawab seadanya tetap pokus pada makanan di piringnya.

"Kamu punya kemampuan. Kalau kamu mau, ambil fakultas kedokteran. Aku yang akan membiayai semua kuliahmu sampai selesai." Zidan memberi penawarannya padanya.

Humaira meletakkan sendoknya dengan pelan. Ia mendongak dan kemudian menggeleng tanpa keraguan sedikit pun di matanya.

"Aku tidak mau berutang pada siapa pun."

"Ini bukan utang, Humaira. Aku suamimu, aku wajib—"

"Aku tidak butuh itu, Dokter Zidan," potong Humaira cepat, matanya penuh tuntutan menatap Zidan.

"Aku hanya butuh ke pengadilan, dan kita usai!" lanjut Humaira.

Jakun Zidan terlihat naik turun. Ia menatap kedalam mata Humaira. "Beri aku alasan, Kenapa?"

"Aku benci orang KAYA."

DEG!

1
bunda n3
kamu salah pilih lawan zidan
Miranti Husna💥
pokoknya, mereka harus segera bercerai. aku nggk mau tahu. alva ama humaira harus nikah
Miranti Husna💥
arkhhhhhhhhb sumpah, satu cowok ini bener² bukin kesal baget zidannnnnnn alva rebut aja tu isterinya 😡
Miranti Husna💥
kak, kenapa ini barusan pendk banget updt bab nya kak.
Miranti Husna💥
🤣ngaku qja va, bilang kalau itu ankmu, biat dia bggk dpt apa² dasar pak direktor bikin Gemas....!!!
bunda n3
semoga aja Alva mengakui kalau itu anaknya😄
Miranti Husna💥
waduh. bakal ketahuan ni humaira sama zidan kalo lagi berbadan 2
Miranti Husna💥
Kayaknya alva itu serius suka sama humaira.
bunda n3
alamat Zidan tahu nih
Syakirah Dzaky
Alva kayakx emang mencintai Humairah dgn tulus , ayolah Humairah terima pak Alva , aku suka keluarga nya
bunda n3
Humaira terlalu overthinking
Miranti Husna💥
🤣 kocak! ternyata keluarga alva itu nggk semenyeramkan yg di luar 🤣 mereka itu sangat humoris, udah lengkap. astaga... tidak sabar menanti moment pernikahan mrka. semoga cepat bersatu ya🤭
Miranti Husna💥
cemburu, marah dan kecewa. hanya sebatas itu sj kemampuan mu zidan. tk punya perjuangan sm sekali 🤦
bunda n3
Mungkin dimata kamu Humaira itu ga berarti Zidan, tapi dimata orang lain dia sangat istimewa
bunda Qamariah: bener banget say
total 1 replies
partini
pacar setingan lah,
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂
bunda Qamariah: iya, emg. sekarang kebanyakan author2 baru say
total 5 replies
Syakirah Dzaky
Aduh tdk sabar liat Humairah cerai dan zidan trus nikah dgn pak Alva , pasti Humairah akan di ratukan dan sangat di syg di keluarga nya Alva . Tp ngomong2 apa judul novel org tua nya Alva Thor?
bunda Qamariah: aku tidak ada buat kak🤭 tapi kalo banyak yang mau, bisa kok dibuatkan
total 1 replies
Miranti Husna💥
noh, liat zidan, kamu sendiri kan yg kenak batunya. awalnya kamu membiarkan melodi untuk ngaku² hubungan kalian..sekgg alva gunakan itu sebagai umpan untuk membungkam mu
Miranti Husna💥
Dasar para manusia munafik dan toxic 😤 enak aja mau manfaatin humaira setelah berpikr humaira dkat sama org kaya😡 emang ibu sama anak sama saja! gila harta
bunda Qamariah: bener kak🤧
total 1 replies
bunda n3
Zidan secara tidak langsung menghina ibunya Humaira
bunda n3
nah Zidan, orang yang akan merebut istrimu ada di depanmu, blak-blakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!