Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Terakhir
Ruang kerja Bapak Wibisono—yang jarang sekali digunakan untuk pertemuan keluarga di luar urusan bisnis—malam itu terasa berbeda. Raka duduk di salah satu kursi kulit yang menghadap meja kerja besar milik ayahnya, sementara Ibu Retno berdiri di samping suaminya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kamu tau kenapa Ibu panggil kamu ke sini?" tanya Ibu Retno, memulai tanpa basa-basi.
"Nggak, Ma. Ada apa?"
Ibu Retno meletakkan sebuah map di atas meja, mendorongnya perlahan ke arah Raka. "Buka."
Raka membuka map itu dengan perasaan tidak enak, dan begitu melihat isinya—foto-foto dirinya bersama Laras dalam berbagai kesempatan, mulai dari kedai kopi, taman kota, hingga rumah kontrakan sederhana milik keluarga Laras—wajahnya seketika memucat.
"Ma, ini—"
"Ibu tau semuanya, Raka." Suara Ibu Retno tegas, meski tidak sekeras yang Raka bayangkan. "Berapa lama kamu sudah berbohong sama Ibu?"
"Aku nggak berbohong, Ma. Aku cuma belum sempat cerita."
"Belum sempat, atau sengaja nggak mau cerita karena tau Ibu nggak akan setuju?"
Raka terdiam, tidak menemukan jawaban yang bisa membantah kebenaran di balik pertanyaan itu.
Ayahnya, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Raka, Ibu kamu cerita semuanya ke Ayah. Ayah nggak akan langsung menghakimi, tapi Ayah juga perlu tau, seserius apa hubungan ini buat kamu."
"Serius, Pa. Aku sayang sama Laras."
Ibu Retno menghela napas panjang, seperti sudah menduga jawaban itu akan muncul. "Raka, Ibu ngerti perasaan kamu. Tapi kamu harus mikir realistis. Kamu ini pewaris satu-satunya perusahaan keluarga ini. Masa depan kamu bukan cuma soal perasaan pribadi, tapi juga soal tanggung jawab besar yang harus kamu emban."
"Aku ngerti tanggung jawab itu, Ma. Tapi itu nggak ada hubungannya sama siapa yang aku cintai."
"Ada, Raka. Sangat ada." Ibu Retno melangkah mendekat, suaranya melembut namun tetap tegas. "Kalau kamu menikah dengan gadis dari keluarga biasa, tanpa koneksi, tanpa pemahaman soal dunia bisnis kita, kamu pikir dia bisa mendampingi kamu menghadapi tekanan-tekanan yang akan datang? Kamu pikir keluarga besar kita, kolega-kolega bisnis kita, akan menerima dia dengan mudah?"
"Aku nggak peduli apa kata orang, Ma."
"Tapi Ibu peduli!" Suara Ibu Retno meninggi sedikit, sebelum ia menarik napas untuk menenangkan diri sendiri. "Ibu peduli sama masa depan kamu, Raka. Ibu udah lihat banyak kasus kayak gini. Awalnya cinta-cintaan, romantis, penuh idealisme. Tapi begitu kenyataan datang—tekanan sosial, gosip, penilaian orang-orang di sekitar—yang ada malah kalian berdua yang menderita."
Raka menatap ibunya lama, mencoba mencari celah untuk membantah, namun setiap argumen yang muncul di kepalanya terasa terlalu lemah dihadapkan pada kekhawatiran ibunya yang terdengar begitu meyakinkan.
"Aku nggak akan ninggalin Laras, Ma," katanya akhirnya, meski suaranya tidak lagi seyakin sebelumnya.
Ibu Retno menatap putranya lama, lalu menghela napas berat. "Ibu nggak akan maksa kamu buat langsung mutusin dia sekarang. Tapi Ibu minta kamu mikir ulang, Raka. Bener-bener mikir, bukan cuma pakai perasaan."
"Aku udah mikir, Ma."
"Belum," Ibu Retno menjawab tegas. "Kamu baru mikir pakai hati. Coba mikir pakai kepala. Bayangin lima tahun ke depan, sepuluh tahun ke depan. Kamu harus mimpin perusahaan ini, menghadapi rapat-rapat penting, bertemu kolega-kolega dari kalangan atas. Apa Laras siap buat mendampingi kamu di semua itu?"
Raka terdiam, tidak menjawab.
"Ibu nggak minta kamu langsung setuju sama Melati," lanjut Ibu Retno, nadanya sedikit melunak. "Ibu cuma minta kamu kasih waktu buat mikir ulang. Jangan buru-buru ambil keputusan yang bisa kamu sesali seumur hidup."
Ayah Raka menambahkan, suaranya lebih tenang. "Nak, Ayah nggak akan pernah maksa kamu soal siapa yang harus kamu cintai. Tapi pertimbangkan baik-baik semua konsekuensinya. Keputusan besar butuh pemikiran yang matang, bukan cuma emosi sesaat."
Raka mengangguk pelan, meski hatinya penuh dengan keraguan dan kebingungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku... aku butuh waktu buat mikir."
"Ambil waktu yang kamu perlukan," jawab Ibu Retno. "Tapi ingat, Raka, keputusan kamu nggak cuma mempengaruhi diri kamu sendiri. Ada banyak orang yang bergantung pada masa depan perusahaan ini—karyawan, keluarga besar, bahkan reputasi yang udah Ayah kamu bangun puluhan tahun."
Pertemuan itu berakhir dengan Raka yang kembali ke kamarnya dengan pikiran kalut, jauh lebih berat dari saat ia masuk ke ruang kerja ayahnya beberapa jam sebelumnya. Begitu sampai di kamar, ia baru menyadari ponselnya bergetar terus-menerus, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dan pesan dari Laras.
"Raka, aku perlu bicara. Penting banget."
"Raka, tolong angkat teleponnya."
"Raka, please, aku takut."
Raka segera menelepon balik, jantungnya berdebar cemas. Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
"Laras? Maaf, tadi aku—"
"Raka," suara Laras terdengar bergetar di seberang telepon, campuran antara marah dan sedih. "Ibumu nyuruh orang buat nawarin uang ke keluargaku. Supaya aku ninggalin kamu."
Raka terdiam, jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. "Apa? Kapan ini terjadi?"
"Sore tadi. Ada perempuan yang dateng ke rumahku, ngasih tau ibuku soal hubungan kita, terus nawarin uang gede supaya aku pergi dari hidup kamu."
"Laras, aku nggak tau soal itu. Aku sumpah, aku nggak tau."
"Aku percaya kamu nggak tau," Laras menjawab, suaranya mulai pecah menahan tangis. "Tapi ini nyata, Raka. Keluargamu udah tau soal kita, dan mereka udah mulai ngambil langkah buat misahin kita."
Raka menutup matanya, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi—pertemuan dengan orang tuanya, dan sekarang kabar dari Laras yang semakin memperjelas betapa seriusnya ibunya dalam menghalangi hubungan mereka.
"Aku bakal bicara sama Ibu," katanya tegas. "Aku nggak akan biarin dia ngelakuin ini lagi."
"Raka, aku takut," Laras berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku takut ini baru permulaan."
"Aku janji, aku bakal lindungin kamu. Apa pun yang terjadi."
Mereka melanjutkan percakapan itu hingga larut malam, saling menguatkan meski ketakutan yang sama menyelimuti keduanya. Namun jauh di lantai bawah rumah besar keluarga Wibisono, Ibu Retno berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap kegelapan malam dengan ekspresi tenang yang menyembunyikan tekad yang jauh lebih kuat dari yang ditunjukkan dalam pertemuan keluarga tadi.
Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat kepada Bu Marlina.
"Rencana pertama gagal. Waktunya masuk ke tahap berikutnya. Jangan lagi coba-coba dengan cara halus."
Balasan datang tidak lama kemudian: "Baik, Bu. Saya akan siapkan langkah yang lebih tegas."
Ibu Retno mengunci ponselnya, menatap keluar jendela sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan kegelapan malam yang menyimpan rencana kelam yang akan segera terungkap—rencana yang, tanpa disadari oleh Raka maupun Laras, akan menjadi malam terakhir mereka menjalani hubungan tanpa bayang-bayang perpisahan yang mengintai di setiap langkah mereka selanjutnya.