Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Segalon

Cinta Segalon

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan yang tidak bisa ditolak

Setelah mendengar kabar mengenai kunjungan Nindi ke depot air minum tersebut dari salah satu pekerja rumah tangga yang kebetulan mengetahui rencana tersebut, Om Hensa merasa perlu untuk segera mengambil tindakan lebih tegas guna mempercepat rencana perjodohan yang selama ini dia susun dengan begitu hati-hati.

Dia memutuskan untuk mengadakan pertemuan langsung dengan Broto, ayah Nindi, guna membahas perkembangan rencana bisnis sekaligus menyisipkan agenda tersembunyi mengenai hubungan Nindi dan Rafael. "Broto, gimana kabar rencana merger kita sama perusahaan keluarga Wicaksana? Sudah waktunya kita percepat prosesnya."

Broto, yang selama ini terlalu sibuk dengan berbagai urusan bisnis hingga jarang memperhatikan kehidupan pribadi putrinya, mengangguk setuju tanpa banyak pertimbangan. "Iya, memang sudah waktunya. Kamu yang urus detailnya ya, Hensa. Aku percaya penuh sama kamu."

Kepercayaan buta tersebut, yang selama bertahun-tahun diberikan Broto kepada adik iparnya itu, menjadi celah yang terus dimanfaatkan Om Hensa untuk menjalankan berbagai rencana liciknya tanpa pernah dicurigai. "Kalau begitu, aku rasa sudah waktunya kita bikin acara resmi buat mempertemukan Nindi dan Rafael secara lebih intens. Mungkin acara makan malam keluarga, biar terkesan natural."

"Ide bagus itu. Nanti aku suruh sekretarisku atur jadwalnya," jawab Broto, sama sekali tidak menyadari bahwa persetujuannya tersebut sedang digunakan sebagai bagian dari rencana besar yang jauh lebih gelap dari sekadar mempertemukan kedua anak muda tersebut.

Beberapa hari kemudian, Nindi menerima kabar mengenai rencana makan malam keluarga tersebut melalui pesan singkat dari ayahnya sendiri, sebuah undangan yang meski terkesan sederhana, membawa beban tersendiri baginya. "Nindi, Sabtu depan ada makan malam keluarga di rumah, kamu harus hadir. Rafael dan keluarganya juga akan datang."

Membaca pesan tersebut, Nindi merasakan campuran perasaan antara kewajiban dan keengganan yang cukup besar. Dia tahu betul, penolakan terhadap undangan keluarga semacam itu bukanlah pilihan yang mudah, mengingat pentingnya menjaga hubungan baik dengan mitra bisnis keluarga dalam budaya yang selama ini membesarkannya.

"Rin, gimana ya, aku harus dateng ke makan malam sama Rafael lagi minggu depan," ujar Nindi kepada Karin melalui telepon malam itu, suaranya menunjukkan keresahan yang cukup jelas.

"Kamu nggak bisa nolak ya?" tanya Karin dengan nada khawatir, memahami betul beratnya tekanan yang harus dihadapi sahabatnya tersebut.

"Susah, Rin. Ini kan acara keluarga, kalau aku nolak, bisa jadi masalah besar buat hubungan bisnis Papa," jawab Nindi dengan nada pasrah, meski dalam hatinya dia merasa semakin tidak nyaman dengan arah yang mulai terlihat jelas dari berbagai pertemuan yang sengaja diatur tersebut.

"Kamu harus hati-hati, Nin. Kayaknya ini bukan sekadar acara keluarga biasa. Aku denger-denger dari beberapa temen, Om Hensa emang lagi getol banget ngedeketin kamu sama Rafael," ujar Karin, menyampaikan kekhawatiran yang sudah lama dia simpan namun belum berani diungkapkan secara terbuka.

Kata-kata tersebut membuat Nindi semakin waspada, mulai mempertanyakan motif sesungguhnya di balik berbagai pertemuan yang selama ini terkesan kebetulan namun ternyata direncanakan dengan begitu rapi. "Menurut kamu, kenapa ya Om Hensa segitu ngototnya pengen aku deket sama Rafael?"

"Aku juga belum tau pasti, Nin. Tapi feeling aku bilang, ini nggak sesederhana soal jodoh doang," jawab Karin dengan nada serius, menabur benih kecurigaan yang akan terus berkembang dalam benak Nindi menjelang pertemuan yang sudah dijadwalkan tersebut.

Malam sebelum acara makan malam tersebut, Nindi duduk termenung di kamarnya, memikirkan bagaimana cara menghadapi situasi yang semakin rumit tersebut, sambil sesekali teringat kembali pada kehangatan sederhana yang dia rasakan setiap kali berbincang dengan Gilang. Perbandingan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa apa yang dia rasakan terhadap Rafael hanyalah kewajiban sosial semata, jauh berbeda dengan ketulusan yang mulai tumbuh dalam hatinya terhadap sosok tukang galon sederhana tersebut.

Dia mengirim pesan singkat kepada Gilang malam itu, sekadar untuk mengalihkan pikirannya dari beban yang menghimpit. "Mas Gilang, lagi ngapain?"

"Lagi belajar buat ujian besok, Mbak. Kenapa?" balas Gilang tidak lama kemudian.

"Nggak apa-apa, cuma pengen ngobrol aja," jawab Nindi, menemukan sedikit ketenangan dalam percakapan singkat tersebut, tanpa menyadari bahwa pertemuan yang akan segera dia hadapi bersama Rafael esok lusa, akan menjadi awal dari serangkaian tekanan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya.

Mereka melanjutkan percakapan ringan tersebut selama beberapa saat, membahas hal-hal sederhana seperti ujian yang sedang dipersiapkan Gilang dan rencana Nindi untuk minggu depan, tanpa Nindi menyinggung sedikit pun mengenai acara makan malam yang membebani pikirannya. Dia sengaja tidak ingin membebani Gilang dengan masalah keluarganya yang rumit, terlebih mengingat mereka berdua belum benar-benar mendefinisikan hubungan yang sedang mereka jalani tersebut.

"Semangat ujiannya ya, Mas. Aku yakin Mas Gilang pasti bisa," tulis Nindi menjelang tengah malam, sebelum akhirnya mengucapkan selamat malam dan menutup percakapan tersebut.

"Makasih, Mbak. Semoga harinya juga menyenangkan," balas Gilang, tidak menyadari beban yang sedang dipikul lawan bicaranya tersebut.

Setelah menutup ponselnya, Nindi menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa nyaman dan tenang setiap kali berkomunikasi dengan Gilang, namun di sisi lain, bayang-bayang acara makan malam bersama Rafael terus menghantui pikirannya, membuatnya semakin cemas menghadapi hari yang akan datang, sebuah kecemasan yang belum sepenuhnya dia pahami akan berujung pada konflik yang jauh lebih besar dari sekadar acara makan malam keluarga biasa.

1
Dewi Kasinji
ijin baca kaj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!