Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Pengepungan di Balik Hujan
Lampu alarm berwarna merah berkedip menyapu seluruh koridor markas medis rahasia Phantom Vanguard. Suara sirene yang melengking rendah memecah keheningan malam, sementara layar radar di ruang komando terus menampilkan titik-titik merah yang mendekat dengan kecepatan tinggi dari tiga arah yang berbeda.
Silas Mercer, dengan wajah tegang namun tetap terkendali, memperbesar tangkapan kamera keamanan luar.
"Jenderal," lapor Silas dengan nada serius. "Armada kendaraan taktis lapis baja baru saja menembus perimeter luar kita. Mereka menggunakan seragam Black Vipers pasukan tentara bayaran elit yang biasa disewa oleh para konglomerat ibu kota. Dugaan saya, Paman Reginald yang menyewa mereka."
Arthur Summers menatap layar monitor dengan tatapan tajam. Matanya menyipit saat menangkap detail pada persenjataan yang dibawa oleh pasukan tersebut. "Itu bukan sekadar tentara bayaran lokal, Silas. Lihat senapan serbu dan peluncur granat termal yang mereka bawa. Itu adalah persenjataan standar militer dari Kekaisaran Utara. Reginald Zimmer telah menjual jiwanya kepada musuh negara hanya demi mengamankan takhta keluarganya."
Di sudut ruangan, Mia Zimmer yang sedang menemani ayahnya yang berbaring di ranjang medis, menutup mulutnya karena terkejut. "Paman Reginald... dia bekerja sama dengan pihak asing yang membunuh kakek? Dia benar-benar mengkhianati darahnya sendiri demi kekuasaan?"
Mendengar keputusasaan dalam suara Mia, Arthur membalikkan badannya dan melangkah mendekati gadis itu. Melihat penderitaan Mia, memori kelam masa lalu kembali berkelebat di benak sang Jenderal. Enam tahun yang lalu, Arthur juga diusir dari kediaman keluarganya dan dibiarkan begitu saja berkeliaran di jalanan tanpa arah. Dikhianati oleh darah daging sendiri adalah racun yang membunuh jiwa secara perlahan.
Namun, pengusiran itulah yang menempanya menjadi baja.
"Mia," Arthur memegang kedua bahu gadis itu dengan lembut, mengabaikan rasa perih di lengan kirinya yang masih terbalut perban. "Aku tahu bagaimana rasanya saat duniamu dihancurkan oleh keluargamu sendiri. Tapi malam ini, aku berjanji padamu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhmu atau ayahmu."
Mia menatap mata Arthur yang dalam dan penuh keyakinan. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia mengangguk mantap. Kehadiran pria ini yang menahannya dari badai keputusasaan.
"Zain, Clark," panggil Arthur, mengubah nada suaranya menjadi berat yang menggelegar dan penuh otoritas. "Tetap di sini dan lindungi ruangan ini dengan nyawa kalian. Silas, Maya, ikut aku ke ruang kendali depan. Kita akan menyambut tamu kita."
"Siap, Jenderal!" jawab mereka serempak.
Di luar fasilitas medis yang disamarkan sebagai pabrik tekstil tua itu, hujan badai masih turun dengan deras. Puluhan tentara bayaran Black Vipers telah turun dari truk lapis baja mereka, mengepung pintu masuk utama.
Komandan tentara bayaran itu melangkah maju, memegang pelantang suara.
"Kami tahu kalian ada di dalam!" teriak sang komandan menembus derai hujan. "Serahkan Thomas Zimmer, Mia Zimmer, dan gulungan kuno itu sekarang juga! Jika kalian menyerah, Tuan Reginald menjanjikan kematian yang cepat. Jika tidak, kami akan meratakan bangunan ini dengan tanah!"
Pintu gerbang besi pabrik tua itu tiba-tiba berderit dan terbuka secara otomatis.
Dari dalam kegelapan, Arthur Summers melangkah keluar sendirian. Jas hitam panjangnya berkibar ditiup angin badai. Ia tidak membawa senjata, namun aura penindasan yang memancar dari tubuhnya membuat langkah beberapa tentara bayaran di barisan depan terhenti secara naluriah.
"Kau pasti komandan yang sangat bodoh jika mengira bisa meratakan tempat ini," ucap Arthur dengan suara yang entah bagaimana mampu mengalahkan suara guruh di langit, menggema di telinga setiap musuh yang hadir.
"Bunuh dia!" raung komandan bayaran itu, merasa terhina.
Namun, sebelum satu pun pelatuk sempat ditarik, Arthur mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya.
BIP!
Seketika itu juga, lampu-lampu jalan di seluruh blok tersebut meledak, memadamkan seluruh sumber cahaya. Sebelum kepanikan sempat menyebar di antara pasukan Black Vipers, rentetan ledakan taktis terjadi di bawah tanah tepat di bawah konvoi truk lapis baja mereka.
BOOOM! BOOOM! BOOOM!
Bukan ledakan mematikan, melainkan ranjau EMP (Electromagnetic Pulse) tingkat militer dan gas air mata berkonsentrasi tinggi. Seluruh sistem komunikasi, pelontar granat elektronik, dan kacamata penglihatan malam milik pasukan bayaran itu mati total. Asap putih tebal seketika menelan mereka, membuat puluhan tentara itu terbatuk-batuk, buta, dan kehilangan arah.
Di tengah kekacauan dan asap tebal itu, Arthur berjalan dengan santai, layaknya dewa kematian yang turun ke bumi. Bayangan para penembak runduk (sniper) dari Istana Phantom mulai bermunculan di atap-atap gedung sekitarnya, menjatuhkan para komandan musuh satu per satu menggunakan peluru bius tanpa suara.
Hanya dalam waktu lima menit, pengepungan berskala besar itu dipatahkan tanpa baku tembak yang berarti. Komandan Black Vipers jatuh berlutut di aspal yang basah, muntah-muntah akibat gas, sementara ujung sepatu kulit Arthur berhenti tepat di depan wajahnya.
"Sampaikan pesan ini pada majikanmu, Reginald Zimmer," bisik Arthur sedingin es, menatap pria yang meringkuk ketakutan di bawahnya. "Katakan padanya, Ghost of Karakum akan datang menagih nyawanya besok pagi."
Arthur berbalik dan kembali masuk ke dalam fasilitas medis. Pengepungan fisik telah berhasil diatasi dengan brilian. Sekarang, saatnya mengeksekusi strategi penyerangan langkah pertama: menghancurkan Reginald secara finansial.
Di ruang kendali, Maya Lin sedang mengetik dengan kecepatan kilat di atas keyboard-nya, terhubung dengan jaringan konsorsium Drake Tucker di kota metropolis untuk memutus seluruh akses perbankan Reginald Zimmer.
"Bagaimana status pemblokiran finansialnya, Maya?" tanya Arthur sambil membersihkan sisa debu dari jasnya.
Maya tidak menjawab. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Wajah gadis cerdas itu memucat pasi saat ia menatap rentetan angka di layar monitor utamanya.
"Ada apa?" Silas mendekat, merasakan firasat buruk.
"Bos..." suara Maya bergetar. Ia menoleh menatap Arthur dengan pandangan penuh kengerian. "Langkah pertama kita... gagal."
Arthur menyipitkan matanya. "Jelaskan."
"Lima menit yang lalu, tepat saat pasukan bayaran menyerang kita, Paman Reginald seharusnya sudah menyatakan kebangkrutan karena Drake Tucker menarik semua dananya," jelas Maya, menelan ludah. "Namun... tiba-tiba ada suntikan dana asing yang masuk ke rekening Keluarga Utama Zimmer. Bukan jutaan, bukan miliaran... tapi satu triliun dolar."
Seluruh ruangan terdiam. Angka satu triliun dolar dalam bentuk likuiditas tunai adalah sesuatu yang hanya bisa digerakkan oleh perbendaharaan sebuah negara, bukan sekadar perusahaan swasta.
"Dana itu berasal dari sekumpulan perusahaan cangkang di perbatasan utara," lanjut Maya, layar monitornya memantulkan grafik merah yang mendominasi. "Dan bukan hanya itu, Bos. Sosok misterius ini baru saja membeli seluruh hutang media massa, kepolisian, dan politisi ibu kota. Malam ini, Reginald Zimmer tidak bangkrut. Dia baru saja dibeli dan dijadikan boneka oleh Kekaisaran Utara untuk menguasai ibu kota sepenuhnya."
Mata Arthur berkilat tajam..
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...