Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motor yang mogok
Suatu Rabu sore yang berbeda dari biasanya, hujan turun cukup deras tepat ketika kelas privat Baska baru saja selesai, mengubah suasana Sport Padel yang biasanya ramai menjadi lebih sepi karena banyak pengunjung yang memutuskan untuk pulang lebih awal menghindari cuaca buruk tersebut. Zia, yang biasanya pulang menggunakan motor maticnya, mendapati kendaraan tersebut tiba-tiba tidak mau menyala ketika dia coba starter di tempat parkir.
"Duh, kenapa nih motornya," gumam Zia dengan wajah panik, mencoba starter berkali-kali namun mesin motor tersebut tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Baska, yang kebetulan baru keluar dari lapangan setelah selesai latihan dan hendak pulang, melihat Zia yang terlihat kesulitan tersebut dari kejauhan, segera menghampiri dengan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk membantu. "Mbak Zia, kenapa? Motornya mogok?"
"Iya nih, Mas Baska, nggak tau kenapa tiba-tiba mati aja," jawab Zia dengan nada frustrasi, mencoba starter sekali lagi meski hasilnya tetap sama.
Baska memeriksa motor tersebut sekilas, meski pengetahuannya soal mesin motor sebenarnya cukup terbatas mengingat dia sendiri lebih sering menggunakan jasa bengkel untuk urusan perawatan kendaraan. "Coba saya lihat dulu, Mbak. Tapi kayaknya ini bukan cuma aki doang deh."
Setelah beberapa menit mencoba berbagai cara tanpa hasil, mereka berdua menyadari bahwa motor tersebut membutuhkan penanganan bengkel yang lebih serius, sementara hujan di luar masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda dalam waktu dekat. "Gimana ya, Mbak, kayaknya harus dibawa ke bengkel deh ini," ujar Baska dengan nada khawatir, tidak tega meninggalkan Zia sendirian dalam situasi tersebut.
"Aduh, gimana ya, saya belum tau bengkel yang buka sampai malem di sekitar sini," ujar Zia dengan wajah bingung, mulai memikirkan berbagai opsi untuk pulang mengingat kondisi motornya yang tidak memungkinkan untuk digunakan sama sekali.
"Gini aja, Mbak, biar saya anter pulang dulu pake motor saya. Nanti besok saya bantu urus buat bawa motor Mbak ke bengkel," tawar Baska dengan penuh kesungguhan, sebuah tawaran yang meski sederhana, membuat jantung Zia berdebar lebih kencang dari biasanya.
Zia sempat ragu sejenak, mempertimbangkan tawaran tersebut dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya. "Tapi ngerepotin Mas Baska nggak sih?"
"Nggak sama sekali, Mbak. Lagian saya juga nggak enak kalau ninggalin Mbak sendirian di sini, apalagi hujan deres gini," jawab Baska dengan tulus, meyakinkan Zia bahwa tawarannya tersebut bukan sekadar basa-basi semata.
Akhirnya Zia menerima tawaran tersebut, mengenakan jas hujan cadangan yang kebetulan tersedia di lemari penyimpanan Sport Padel sebelum akhirnya naik ke motor Baska, duduk di jok belakang dengan sedikit jarak yang sopan, meski jantungnya berdebar tidak karuan sepanjang perjalanan tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Zia, mereka berdua tidak banyak bicara, hanya sesekali Baska bertanya arah jalan yang harus diambil, sementara hujan yang masih turun membuat suasana perjalanan tersebut terasa begitu intim meski dalam diam. Ketika akhirnya mereka tiba di depan rumah sederhana milik keluarga Zia, gadis tersebut turun dengan wajah yang masih sedikit memerah akibat kedekatan yang baru saja mereka alami tersebut.
"Makasih banyak ya, Mas Baska, udah mau nganterin. Maaf jadi ngerepotin," ujar Zia sambil melepas jas hujan pinjaman tersebut, mengembalikannya kepada Baska yang masih duduk di atas motor.
"Nggak ngerepotin kok, Mbak. Malah saya seneng bisa bantu," jawab Baska dengan senyum tulus, meski hujan masih membasahi wajahnya yang tidak terlindungi jas hujan tersebut mengingat dia memberikan satu-satunya jas hujan yang ada kepada Zia.
Melihat kondisi Baska yang basah kuyup tersebut, Zia merasa tidak enak hati membiarkan pemuda itu langsung pulang dalam keadaan seperti itu. "Mas, mampir dulu yuk, biar keringin badan sebentar sebelum lanjut pulang. Kasian kalau masuk angin."
Tawaran tersebut, yang datang secara spontan dari Zia, membuat Baska sedikit terkejut sekaligus bahagia, menyadari bahwa momen sederhana akibat motor mogok tersebut ternyata membuka kesempatan baginya untuk semakin dekat dengan gadis yang telah mengubah seluruh cara pandangnya terhadap hidup dalam beberapa minggu terakhir ini.
"Boleh nih, Mbak? Nggak ngerepotin keluarga Mbak Zia kan?" tanya Baska dengan sedikit ragu, meski dalam hatinya dia berharap besar Zia akan tetap pada tawarannya tersebut.
"Nggak kok, Mas. Kebetulan Ibu saya di rumah, pasti seneng ada tamu," jawab Zia sambil tersenyum, mengarahkan Baska untuk memarkirkan motornya di teras depan rumah yang cukup luas untuk melindungi kendaraan tersebut dari guyuran hujan.
Baska mengikuti Zia masuk ke dalam rumah sederhana namun terasa hangat tersebut, disambut aroma masakan yang mengingatkannya pada suasana rumah yang jarang sekali dia rasakan mengingat kesibukannya selama ini yang selalu berputar antara kantor dan kamar tidurnya sendiri. Bu Marlina, yang mendengar suara pintu terbuka, keluar dari dapur dengan wajah penasaran menyambut kedatangan tamu tak terduga tersebut.
"Bu, ini Mas Baska, yang tadi nganter Zia pulang karena motor Zia mogok," ujar Zia memperkenalkan Baska kepada ibunya, sebuah pengenalan sederhana yang menandai langkah pertama pemuda tersebut memasuki lingkaran keluarga gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka di lapangan padel beberapa minggu lalu.