"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Suasana kafetaria elit yang terisolasi di kawasan bisnis teratas ibu kota terasa begitu tenang dan privat. Aroma samar biji kopi mahal berpadu dengan kehangatan ornamen kayu walnut serta pendar lampu gantung bergaya minimalis modern. Di sudut meja bundar paling tersembunyi, empat orang duduk mengelilingi cangkir-cangkir kopi yang berasap tipis.
Ada Matthias dan Aldrick—dua pria berpenampilan rapi dengan aura keturunan bangsawan yang kuat—serta seorang wanita dengan gaya busana sangat glamor bernama Razeena.
Ketiganya adalah sahabat dekat Arthur sejak masa kecil. Namun, lingkaran pertemanan mereka sebenarnya belum lengkap. Masih ada satu personil yang absen: Dixie Savea Lopez.
Sejak menikah dua tahun lalu, Savea secara perlahan menarik diri dan tidak pernah lagi terlihat hadir di tengah kumpul-kumpul rutin mereka.
Aldrick menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas tatakan porselen dengan gerakan berat. Sorot matanya menatap Arthur yang duduk terdiam di hadapannya.
"Demi Tuhan, Arthur... sampai detik ini aku masih tetap tidak percaya dengan keputusanmu untuk menikah dengannya," ucap Aldrick dengan nada suara murni penuh keheranan.
Matthias mengangguk setuju. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi beludru seraya menatap Arthur tajam. "Tindakan nekatmu tiga tahun lalu untuk mengumumkan pernikahan dengan Savea benar-benar di luar nalar kami. Kau selalu menolak wanita itu sejak kau berusia tiga belas tahun, Arthur. Kau lupa?"
Arthur tidak menjawab. Calon penguasa Blackwood itu hanya menatap cairan gelap di dalam cangkirnya. Jemari tangannya yang tegap meremas pelan pinggiran meja, membiarkan kesunyian menjadi perisai dari desakan pertanyaan para sahabatnya.
Razeena, yang duduk di samping Matthias, terkekeh tipis. Wanita anggun itu mengibaskan rambut bergelombang indahnya, lalu memajukan tubuhnya seraya mengedipkan sebelah matanya secara konyol ke arah Arthur.
"Jika kau akhirnya sadar dan memutuskan untuk menceraikannya, kau tahu kan aku masih setia menunggumu, Arthur?" goda Razeena dengan nada kelakar yang berniat mencairkan ketegangan.
Puk!
Sebuah lemparan tisu dapur melayang tepat mengenai dahi Razeena. Matthias melotot ke arah istrinya sendiri seraya mendesis tajam, "Ingat anak kita yang sedang menunggu di rumah, Razeena!"
Razeena tertawa lepas seraya mengusap dahinya, sementara Aldrick tidak ikut tertawa. Raut wajah Aldrick justru makin serius. Ia memiringkan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata kelabu milik Arthur.
"Serius, Arthur," potong Aldrick, mengubah topik pembicaraan kembali ke garis tegang. "Aku dari awal tidak pernah yakin alasanmu menikahinya—bahkan sampai menyetujui memiliki anak darinya—hanya karena dia selalu mengancam akan bunuh diri dan menyayat nadinya. Kau bukan pria yang mudah diintimidasi oleh gertakan murahan seperti itu. Katakan saja pada kami alasanmu yang sebenarnya."
Helaan napas berat dan panjang lolos dari celah bibir Arthur. Ruangan yang privat itu mendadak terasa makin menyempit. Rahasia yang selama ini ia kubur dalam-dalam di dasar jiwanya—kelemahan terbesar yang membuat sosok sang calon penguasa bertekuk lutut di bawah manipulasi Savea—kini mendesak untuk diakui.
Arthur menundukkan kepala, mengatupkan rahangnya rapat-rapat sebelum akhirnya bersuara rendah.
"Empat tahun lalu..." suara Arthur terdengar amat serak dan bergetar, "aku pernah menabrak seseorang... hingga tewas di tempat."
DUARRR!
Pernyataan dingin itu menghantam ketiga sahabatnya bagai dentuman petir di siang bolong. Matthias yang sedang memegang cangkirnya mematung seketika, sementara mata Razeena membelalak lebar. Aldrick bahkan hampir menegakkan tubuhnya secara refleks.
"Wah, sialan kau, Arthur!" maki Aldrick setengah berbisik, matanya menyalang tak percaya. "Hobi sekali kau buat ulah dengan mobil sport-mu!"
"Bukan Mobilku, Tapi Mobil Milik Savea. Rem mobil sport-nya blong malam itu," potong Arthur cepat, menyandarkan siku di atas meja dengan jemari yang saling bertaut erat.
Napasnya memburu saat memori kelam itu kembali berputar di kepalanya. "Dan aku... aku berada di bawah pengaruh obat perangsang kimia karena ulah Savea. Demi Tuhan, Savea ada di sebelahku saat itu. Dia berada di dalam mobil yang sama."
Arthur memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan kembali kepanikan dan rasa bersalah yang menusuk jiwanya.
"Kalian tahu bagaimana akibatnya jika berita itu tersebar saat itu? Nama baik kerajaan akan hancur total," lanjut Arthur, suaranya makin merendah, sarat akan penyesalan. "Aku sama sekali tidak terluka akibat tabrakan itu. Tapi orang yang kuhantam... dia tewas seketika di jalanan. Oh, Tuhan... Aku ingin bertanggung jawab malam itu. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak berniat lari dari hukum! Tapi Savea..."
Arthur mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Savea menukar posisinya. Dia memindahkan tubuhku ke kursi penumpang, mengaku sebagai pengemudi, menyerahkan dirinya ke polisi malam itu, dan membiarkan aku bebas begitu saja. Kalian tahu sendiri bagaimana kekuatan Keluarga Lopez—keluarga pengacara terbaik di negeri ini. Savea dibebaskan hanya dalam waktu tiga bulan. Tidak ada satu pun media yang memuat kabar penabrakan malam itu. Bahkan keluargaku sendiri tidak tahu-menahu tentang kejadian tersebut."
Arthur mengangkat pandangannya, menatap ketiga sahabatnya dengan sorot mata yang hampa dan penuh dengan luka.
"Seandainya publik atau media mengetahui bahwa calon penguasa tunggal Blackwood adalah seorang pembunuh yang menewaskan rakyatnya sendiri di bawah pengaruh obat-obatan, nama besar Istana Blackwood akan hancur berantakan. Kerajaan akan terguncang hebat," desis Arthur pahit. "Itulah kenapa aku merasa sangat bersalah. Aku berhutang nyawa dan nama baik padanya. Soal ancaman bunuh dirinya tiga tahun lalu... aku bahkan tidak punya daya untuk menolaknya. Savea memegang rahasia terbesarku."
Deg.
Deg.
Deg.
Keheningan yang mencekik menyergap meja mereka. Ketiga sahabat Arthur membeku, lidah mereka terasa kelu. Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa di balik sikap dingin dan keanggunan sang Duke muda, tersembunyi sebuah dosa besar yang membelenggunya.
Bagi seorang bangsawan atau prajurit, membunuh musuh dalam medan pertempuran adalah hal biasa. Namun menewaskan rakyat biasa dalam kecelakaan lalu lintas di bawah pengaruh zat kimia? Itu adalah skandal mengerikan yang sanggup meruntuhkan dinasti.
Razeena membetulkan posisi duduknya. Raut wajah glamornya kini sepenuhnya lenyap, berganti dengan ekspresi amat serius. "Lalu... kenapa kau tidak mengaku saja pada keluargamu, Arthur? Kenapa kau tidak memberitahu Raja Alistair atau Ratu Baxeena?"
Arthur tersenyum sinis, menatap pantulan dirinya pada cangkir kopi. "Aku sungguh malu untuk mengakuinya pada Ayah dan Ibu. Aku pengecut, Razeena. Aku pria brengsek yang membiarkan orang lain menanggung dosa yang kubuat sendiri."
Matthias menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya yang tegang. "Lalu bagaimana dengan keluarga korban, Arthur? Siapa orang yang kau tabrak malam itu?"
"Dia hanya seorang pelayan yatim piatu di kediaman Keluarga Hawthorne," jawab Arthur pelan, menyebutkan salah satu nama keluarga bangsawan lama yang tinggal di wilayah luar kota. "Tuan Hawthorne bahkan tidak mengajukan tuntutan apa pun saat kematian pelayannya diumumkan. Kasus itu ditutup begitu saja oleh pengaruh hukum Keluarga Lopez."
Arthur menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, memalingkan pandangan ke luar jendela kafetaria.
Di dalam dadanya, benang-benang takdir dari masa lalu bertaut makin rumit. Pria itu sama sekali belum menyadari bahwa dosa masa lalu yang ia tangisi malam ini memiliki hubungan langsung dengan sosok ibu susu yang kini memegang bayinya di dalam Istana Blackwood.