Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Nyonya, ini tasnya..lain kali hati-hati..hari sial tak ada di kalender..”ucap pria itu..wanita paruh baya itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Aruna juga berpamitan pada wanita itu dan langsung pulang menuju kosanya.
_____________________
Saat di perjalanan pulang ponsel aruna berdering..disana tertera nama liam sebagai penelpon..tanpa ragu aruna langsung mengangkatnya.
“Dimana?..”tanya diseberang sana..aruna bahkan belum sempat berbicara.
“Ini mau pulang..”ucap aruna.
“Ga balik ke sekolah?..”tanya liam di seberang saja.
“Enggak..”jawab aruna.
“Oke, nanti gue kesana..”ucap liam
Tut..
Panggilan langsung dimatikan begitu saja..aruna hanya menghela nafas menghadapi pria datar itu.
.
.
“Luka lagi luka lagi..”kesal liam..sekarang pria itu sedang mengobati lutut dan siku aruna.
“Ya mau gimana, manusia..”ucap aruna santai..liam menatap gadis itu lekat.
“Sudah mulai berani bercanda ya lo sekarang..”ucap liam.
“Hmm, kamu rupanya ga nyeremin-nyeremin banget..”ucap aruna dengan mata bulat yang membalas tatapan liam..liam tersenyum tipis mendengar itu.
“Udah, ayo makan..lo pasti ga makan lagi kan siang ini..”ucap liam.
“Sarapan kan udah..biar hemat..”ucap aruna.
“Ntar kena asam lambung baru tau rasa lo..”ucap liam kesal dengan pola makan aruna yang tak teratur.
“Yaudah sih..gada yang peduli juga..”ucap aruna acuh.
“Nyebelin juga ya lo..”ucap liam menyentil kening aruna pelan, membuat gadis itu mengaduh sakit.
“Gue peduli..”sambung liam..aruna yang sedang mengusap keningnya seketika terdiam..keheningan menyelimuti dua orang itu beberapa detik.
“Aku lapar..”ucap aruna akhirnya memecahkan keheningan di antara mereka.
“Ayo makan..”liam berusaha bersikap cuek.
Akhirnya mereka makan bersama dengan damai..setelah makan, liam kembali ke rumahnya.
.
.
Aruna kembali berktivitas seperti biasa setelah lomba selesai di laksanakan..selama dekat dengan liam, aruna terus dijemput oleh pria itu..seperti saat ini..mereka berjalan beriringan menuju kelas masing masing..masih dengan teriakan dan rasa iri yang sama mengiringi langkah mereka.
“Lutut kamu kenapa..”tanya diana saat aruna duduk di bangkunya.
“Aku ga sengaja jatuh kemaren..”jawab aruna seadanya.
“Owh, kukura di pukul paman kamu..”ucap diana bernapas lega.
“Semua aman di..”jawab aruna sambil tersenyum manis.
.
.
Saat bel pulang sekolah, seperti biasa aruna menunggu seluruh siswa di kelasnya keluar..dan biasanya di jam segini liam sudah nangkring di depan kelasnya untuk menjemputnya, tapi hari ini tak kelihatan batang hidung pria itu.
“Pulang bareng liam kan?..”tanya diana.
“Entah..tadi sih bilanganya gitu..”ucap aruna tak yakin.
“Yaudah kita tunggu di parkiran saja..”ajak diana akhirnya.
“Boleh deh..”jawab aruna.
Akhirnya mereka memilih berpindah ke parkian..saat di koridor, aruna menerima pesan dari liam.
“Gue masih ada latihan basket..”isi pesan pertama liam.
“Mungkin selesai sekitar 15 menit lagi..lo tunggu di perpus atau kantin aja dulu..ntar gue bayar..”lanjutan pesan pria itu..aruna mengangguk singkat dan mulai mengetikan balasan.
“Oke..”hanya itu yang gadis itu balaskan.
Sedangkan di sisi lapangan, liam berdecak kesal melihat balasan aruna.
“Kenapa bro, pait bener tu muka..”ucap aiden merangkul pundak liam.
“Kepo..”ucap liam sambil menepis kasar rangkulan aiden, dan kemudian kembali bergabung bersama timnya.
“Sensi amat..”kesal aiden yang juga kembali bergabung bersama tim.
.
.
Aruna akhirnya memilih berjalan kearah perpustakaan..dari kejauhan olla dan dua antek-anteknya manatap sinis gadis itu.
“Girls..”ucap olla sambil memberi isyarat..vina dan sindy mengangguk paham.
Saat sekolah sudah mulai sepi..tiga orang itu masuk menuju perpustakaan..perpustakaan itu kosong..hanya ada aruna seorang..sedangkan di paling sudut perpustakaan terlihat penjaga perpus sedang sibuk menata buku yang di pinjang para murid.
“Good..” Ucap olla saat melihat situasi yang sangat pas.
Tiga orang itu berjalan pelan kearah aruna..aruna tak menyadari itu..tapi saat jarak mereka semakin dekat, aruna mulai merasa tak nyaman seperti di perhatikan..saat gadis itu hendak menoleh kebelakang, sindy dengan cepat memukul tengkuk aruna mengunakan buku yang tak jauh dari nya.
”nice shoot..”ucap olla dan vina tersenyum puas.
“Ehehe..kalau dia meninggal gimana?..”tanya sindy sambil menatap konyol kedua temannya.
“Ga semudah itu keless..”ucap vina sambil memutar matanya malas.
“Sudah..buruan bawa, sebelum penjaga perpus sadar..”ucap olla tak sabaran.
Akhirnya vina dan sindy kebagian tugas menggotong tubuh aruna, sedangkan olla menjadi pemandu yang memantau situasi.
.
.
Sampailah mereka di gudang belakang sekolah, tempat yang tak jauh dari tempat biasa aruna makan..gudang itu agak tertutup dan dipenuhi banyak barang milik sekolah yang sudah rusak atau tak terpakai..ruangan itu gelap, hanya ada satu lampu kecil yang menerangi gudang itu..dan baunya sangat apek, seperti bau kayu lama yang dibiarkan basah berbulan bahkan bertahun..ruangan itu juga dipenuhi debu karna tak pernah di bersihkan.
“Iyuhh..”ucap sindy dan vina berbarengan saat mereka memasuki gudang..mereka hendak menutup hidung tapi tangan mereka penuh memegang tubuh aruna..sedangkan olla berdiri dengan santai sambil menutup hidungnya.
“Taro aja disitu..”ucap olla sambil menunjuk kardus bekas yang tergeletak disana..vina dan sindy dengan cepat dan sedikit kasar membaringkan aruna disana.
“Pelan-pelan..nanti dia bisa bangun..”peringat olla..dua gadis itu hanya bisa menuruti dengan kesal.
Setelah selesai, dua gadis itu bergegas ingin keluar.
“Ayo keluar..disini sangat bau..”keluh sindy.
“Bener..mana banyak debu lagi..pasti banyak kumannya..”ucap vina sambil mengibas-ngibaskan seragamnya..hal sama juga dilakukan oleh sindy.
“Hmm..ambil kayu itu..kita bisa mengunci pintu dengan itu..”ucap olla..dengan sedikit malas dua gadis itu memunggut kayu yang ditunjuk olla.
Akhirnya mereka keluar dari gudang itu dengan wajah puas.
“Selamat menikmati malam indah lo bitch..”seru olla sambil melambaikan tangannya kearah gudang itu.
Akhirnya mereka pergi dari sana meninggalkan aruna seorang diri di dalam sana.
.
.
.
TO BE CONTINUE……