Indonesia
NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Pertemuan

🌥

Di bawah langit sore yang dihiasi gerimis tipis, kota ini menyimpan ribuan cerita. Namun, tak ada cerita yang lebih ajaib daripada takdir tiga orang yang sama-sama pandai berakting ini.

 

Papa Chiko.

Jika melihatnya di gedung pencakar langit berlantai enam puluh, ia adalah **Chiko Leonhart**—Presdir berwibawa dari *Leonhart Enterprises* yang ditakuti para pesaing bisnisnya. Namun, berada di puncak ternyata penuh ancaman. Saat beberapa direkturnya bersekongkol untuk menjatuhkannya, Chiko memilih trik paling nekat: menghilang dan menyamar menjadi orang biasa.

Ia melepas jas mewahnya, menggantinya dengan kemeja kotak-kotak kaku, dan memakai kacamata berbingkai tebal yang sedikit kebesaran. Di rumah sewaannya, Chiko berakting menjadi pria pemalu yang agak canggung.

Masalahnya, penyamaran itu belum sempurna. Musuh-musuhnya mulai curiga kenapa ada pria lajang yang mendadak hilang dari dunia bisnis. Untuk mematahkan kecurigaan itu, Chiko butuh satu hal: status sebagai seorang pria berkeluarga.

"Aku harus punya anak," bisik Chiko pada dirinya sendiri sambil membetulkan kacamatanya yang meluncur turun. "Siapa yang bakal curiga pada seorang ayah yang sibuk mengurus mainan di rumah?"

 

Bunda Mila.

Di dunia rahasia yang tak tersentuh hukum, namanya dipanggil ***Viper***—ketua tertinggi jaringan mafia *Black Crimson* yang sangat berwibawa. Mila adalah sosok yang anggun, tenang, tapi punya gerakan secepat kilat.

Saat ini, ia sedang menjalankan misi menyusup ke pemukiman kota untuk membongkar sindikat gelap. Agar keberadaannya tidak memicu rasa curiga para tetangga atau musuhnya, Mila butuh penyamaran yang paling hangat dan manis.

"Seorang wanita lajang yang tinggal sendirian pasti mengundang perhatian," gumam Mila pelan seraya membetulkan tali celemeknya. "Aku butuh identitas sebagai ibu rumah tangga biasa. Dan untuk itu, aku butuh seorang anak kecil."

 

Tokoh ketiga—yang paling menggemaskan sekaligus pusat dari segala kerusuhan lucu ini—adalah seorang bocah perempuan berusia empat tahun bernama Lala.

Di dalam laboratorium rahasia tempat ia dibesarkan, ia dipanggil **Subjek 04**. Lala adalah bocah jenius ber-IQ 210. Otaknya yang ajaib sanggup menghitung rumus rumit hanya dalam sekali kedipan mata.

Tapi, Lala sangat bosan hidup di dalam laboratorium yang dingin. Ia bosan dengan dinding putih dan instruksi para peneliti. Lala hanya menginginkan dua hal sederhana: kebebasan dan biskuit rasa cokelat sepuasnya!

Menggunakan kejeniusannya, Lala meretas sistem keamanan laboratorium, melumpuhkan sensor, lalu kabur ke kota. Agar para peneliti tidak menemukannya, Lala sengaja bersembunyi di Panti Asuhan *Kasih Bunda*.

Di sana, Lala menyembunyikan otak jeniusnya di balik tingkah konyol, tawa riang, dan kecintaannya pada segala hal yang berbentuk panda. Bagi Lala, biskuit panda adalah makanan para dewa! Kalau ada biskuit panda yang jatuh ke lantai, Lala akan dengan cepat menepuk-nepuknya sambil berkata, *"Belum lima menit, Pandanya cuma lagi rebahan!"* sebelum melahapnya lagi dengan cengiran tanpa dosa.

*‘Kalau aku berakting jadi anak kecil yang konyol dan menggemaskan, mereka tidak akan pernah curiga kalau aku ini jenius!’* batin Lala sambil mengunyah biskuitnya sampai pipi tembamnya mengembung seperti marmut.

 

Sore itu, suasana panti asuhan terasa hangat. Aroma kue bolu memenuhi lorong.

Chiko melangkah masuk dengan canggung, membawa tas punggung besar yang membuatnya terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir. Di saat yang sama, Mila masuk dari pintu samping membawa tas belanjaan sederhana.

Kedua orang dewasa itu tidak sengaja berpapasan di ruang tamu panti.

*‘Wah, wanita ini jalan tanpa suara... seperti kucing,’* batin Chiko terkejut. Namun, ia cepat-cepat tersenyum canggung ala pria pemalu.

*‘Pria ini... bahunya tegap tapi pura-pura bungkuk. Aneh sekali,’* batin Mila menilai. Tapi ia langsung membalas dengan senyuman paling manis dan lembut.

Pengurus panti menghampiri mereka dengan ramah. "Selamat sore! Ada yang bisa dibantu? Apakah Bapak dan Ibu mau mengadopsi anak?"

Chiko garuk-garuk kepala. "A-anu... iya. Saya cari anak untuk diadopsi."

"Saya juga!" timpal Mila cepat. "Saya ingin merawat seorang anak."

Pengurus panti tersenyum prihatin. "Wah, sayang sekali. Kalau belum menikah atau datang sendiri-sendiri, proses adopsinya bisa lama sekali karena prosedurnya rumit. Kami lebih mengutamakan pasangan suami-istri yang sah demi kebahagiaan si kecil."

Chiko dan Mila seketika mematung di tempat.

*‘Proses lama? Duh, musuh bisnisku bisa menemukanku duluan!’* jerit Chiko dalam hati.

*‘Kalau nunggu berbulan-bulan, misiku keburu gagal!’* bisik Mila gemas.

Sementara itu, di sudut ruangan, Lala yang sedang duduk bersila di atas karpet permainan mendengar seluruh percakapan itu. Pendengarannya yang tajam dan otaknya yang cerdas langsung bekerja.

*‘Pria berkacamata itu membawa laptop super canggih di tasnya... dia pasti bos besar yang sedang menyamar!’* analisis Lala dalam hati.

*‘Dan wanita cantik itu punya refleks luar biasa... dia pasti ahli beladiri tingkat tinggi!’*

Mata bulat Lala mendadak berbinar riang. *‘Dua orang hebat yang sama-sama butuh identitas keluarga? Wah, ini kesempatan emas! Kalau aku ikut mereka, aku bakal punya rumah yang aman, Papa dan Bunda baru, plus biskuit gratis tiap hari!’*

Lala langsung bangkit, berlari-lari kecil dengan kaki pendeknya yang menggemaskan. *Puk-puk-puk!* Suara langkah kakinya menepuk lantai kayu.

Di tengah jalan, Lala sengaja tersandung kakinya sendiri demi efek dramatis. *Gubrak!*

Ia berguling satu kali seperti bola bulu yang menggemaskan, lalu langsung bangkit berdiri seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan gaya melompat bagaikan kelinci, Lala menubrukkan tubuh mungilnya tepat di antara kaki Chiko dan Mila, memeluk lutut mereka berdua erat-erat.

"Papaaa! Bundaaa!" seru Lala dengan suara serak-serak basah khas anak kecil yang baru bangun tidur.

Lala mendongak, memperlihatkan pipi tembamnya yang sedikit bersemu merah, matanya yang bulat besar berkedip-kedip polos.

"Lala capek tunggu Papa sama Bunda dari tadi! Kenapa lama sekali? Lala sampai hampir ketiduran sambil makan biskuit!" ucap Lala konyol sambil mengusapkan hidung mungilnya yang agak belepotan cokelat ke celana Chiko dan rok Mila.

Chiko dan Mila terperanjat kaget, hampir saja melompat mundur karena terkejut.

"Eh? A-anak manis... Papa... maksud saya..." Chiko gugup setengah mati sampai kacamatanya makin meluncur ke ujung hidung.

"Dek, kamu salah orang... Bunda kan..." Mila ikut salah tingkah, tangannya bingung harus menaruh tas belanjaan di mana.

Namun, pengurus panti yang melihat pemandangan itu malah menangkupkan kedua tangan di dada, matanya berbinar terharu. "Luar biasa! Lala itu biasanya sangat pemalu dan suka sembunyi di bawah meja kalau ada orang asing. Tapi begitu lihat Bapak dan Ibu, dia langsung lari, berguling manis, dan memeluk kalian! Ini pasti takdir ikatan batin!"

Chiko dan Mila saling pandang di atas kepala Lala yang berambut gelombang.

Dalam tatapan dua detik itu, percikan ide gila yang sama muncul di kepala mereka.

*‘Bagaimana kalau aku ajak wanita ini menikah formalitas saja?’* pikir Chiko. *‘Biar proses adopsi selesai hari ini dan aku langsung punya status berkeluarga!’*

*‘Bagaimana kalau aku ajak pria lugu ini kerja sama?’* pikir Mila. *‘Dia kelihatannya penurut. Aku bisa dapat status ibu rumah tangga dalam sekejap!’*

Chiko berdeham canggung, wajahnya memerah. "A-anu... Mbak Mila... bisa bicara sebentar di luar?"

Mila tersenyum sangat manis. "Tentu, Mas Chiko. Ada hal penting yang harus kita sepakati."

Di bawah, Lala berpura-pura sibuk menyedot sisa biskuit di jarinya sambil menyembunyikan cengiran liciknya di balik boneka panda kusam yang ia peluk erat. *‘Yes! Umpannya dimakan 100 persen!’*

 

Tiga jam kemudian, sebuah surat perjanjian sederhana—namun kocak—resmi ditandatangani. Chiko dan Mila sepakat berpura-pura menjadi pasangan suami-istri demi mengadopsi Lala, dengan aturan utama: tidak boleh mencampuri urusan rahasia masing-masing!

Sore harinya, sebuah taksi berhenti di depan rumah sewaan nomor 12B yang mungil dan asri.

Chiko mengangkut koper-koper sambil berpura-pura ngos-ngosan dan hampir jatuh karena keberatan. Mila berjalan anggun di sampingnya membawa tas plastik berisi sayuran, berpura-pura menjadi istri yang lembut dan penuh perhatian.

Dan di antara mereka berdua, Lala melompat-lompat riang bagaikan kelinci kecil. Tangan kirinya menggenggam erat kotak biskuit panda baru dari minimarket, sementara tangan kanannya mengayun - ayun kan boneka pandanya ke udara.

"Panda, lihat! Rumah baru kita punya pintu warna hijau!" cerocos Lala polos pada boneka matinya. "Nanti Panda tidur di sebelah Lala, tapi jangan ngorok ya!"

Lala menatap rumah kecil dengan pagar cat putih itu, lalu melirik dua "orang tua" barunya.

Seorang CEO kaya raya yang berakting jadi pria pemalu.

Seorang Ratu Mafia mematikan yang berakting jadi ibu rumah tangga manis.

Dan seorang bocah jenius ber-IQ 210 yang berakting jadi anak konyol yang super menggemaskan.

Lala menggigit biskuit pandanya sampai berbunyi *klik*, lalu tertawa lebar sampai matanya menyipit berbentuk bulan sabit, memperlihatkan deretan gigi susunya yang baru tumbuh.

"Hore! Kita sampai di rumah Papa Panda dan Bunda Panda!" seru Lala riang sambil menari-nari kecil di halaman.

Kisah keluarga Leonhart yang penuh dengan kepura-puraan konyol, rahasia lucu, dan kehangatan yang tak disangka-sangka... resmi dimulai!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!