perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang berubah
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Aku yang masih belum tidur dan masih berada di kamar anak-anak, mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Itu pasti Mas Rama. Karena aku mengenali suara mesin mobil itu dengan sangat baik.
Perlahan aku bangkit dari sisi tempat tidur. Sebelum membukakan pintu untuk Mas Rama, aku justru berjalan menuju kamar ku. Karena malam ini aku sudah membuat sebuah rencana. Aku tidak ingin menyambutnya dengam wajah penuh kesedihan seperti biasanya. Kali ini aku ingin menjadi sosok yang berbeda di hadapan Mas Rama.
Setelah sampai di dalam kamar, kemudian aku membuka lemari dan mengambil parfum yang baru saja kubeli tadi. Beberapa semprotan kusemprotkan ke belakang telinga dan pergelangan tanganku. Aroma lembut langsung memenuhi udara.
Kemudian aku berdiri di depan cermin sejenak
Memandang pantulan diriku. Rambut baruku yang sebahu kugerai begitu saja. Aku mengenakan dress selutut tanpa lengan yang kubeli siang tadi.
Setelah merasa cukup siap, aku berjalan menuju pintu utama. Kemudian perlahan aku membuka pintu dengan senyuman di bibirku. Senyum yang sebenarnya terasa begitu berat dan terpaksa kulakukan. Semua ini demi misi yang harus berhasil malam ini.
Saat membuka pintu, Mas Rama sudah berdiri di depan pintu. Mas Rama terlihat terpaku melihat penampilanku malam ini. Mulutnya bahkan sempat menganga, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Aku justru semakin melebarkan senyuman yang sejak tadi kupaksakan. Dalam hati, aku merasa geli melihat reaksinya.
" Kok malam sekali pulangnya, Mas?" Tanya ku basa-basi.
" Iya, ada banyak pekerjaan dikantor." Jawab Mas Rama singkat.
Aku hanya mengangguk. Tidak perlu bertanya lebih jauh. Karena aku sudah tahu ke mana dia pergi.
" Mas mau mandi atau makan malam dulu?"
" Mau mandi dulu saja. Badanku terasa gatal." Ucap Mas Rama.
Aku hampir saja tertawa mendengar jawaban Mas Rama. Ya tentu saja merasa gatal. Pastinya habis bergumul dengan wanita jalang itu.
" Ya sudah. Air panas sudah kusiapkan. Mas tinggal mandi saja. Terus nanti Mas bisa makan sendiri,kan? Di atas meja makan sudah aku siapkan, nanti tinggal ambil piring lalu buka tudung saji nya. Aku mau siapkan pakaian gantimu kalau gitu." Kataku, sambil berjalan menuju ke arah kamar.
Saat melewati Mas Rama, dengan sengaja kusibakkan rambutku perlahan. Aku sempat melirik ke arah Mas Rama. Tatapannya tertuju kepadaku, terlihat jelas ada kekaguman di matanya.
Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Mas Rama, akupun keluar dari kamar. Namun, langkahku terhenti ketika melihat Mas Rama masih duduk di ruang tamu sambil membuka sepatunya.
Lalu aku berjalan menghampirinya. Kemudian berjongkok di hadapannya. Tanpa banyak bicara, kubantu melepaskan sepatunya satu persatu. Sesekali, rambutku yang tergerai ku sibakkan. Aku tahu Mas Rama sedang memperhatikanku. Dari sudut mataku, terlihat beberapa kali Mas rama menelan ludah. Aku tersenyum tipis. Bukan senyum seorang istri yang sedang dimabuk cinta. Melainkan aku sedang memainkan peran. Malam ini aku ingin tahu sejauh mana perubahan penampilanku bisa membuat Mas Rama bereaksi. Bukan karena aku ingin kembali mengejarnya, melainkan aku mempunyai tujuan yang sudah aku rencanakan.
" Sudah, Mas. Buruan mandi sana. Aku mau melihat anak-anak dulu di kamarnya." Ucapku sambil berdiri.
Aku berjalan meninggalkannya. Langkahku menuju kamar anak-anak. Ku buka pintu perlahan, kulihat Aldi dan Aira tertidur sangat lelap. Wajah keduanya tampak begitu polos, seolah tidak tahu bahwa kehidupan rumah tangga orang tuanya sedang berada di ujung tanduk. Kemudian aku mendekati tempat tidur mereka. Aira tidur sambil memeluk boneka kesayangannya. Sementara Aldi tidur telentang dengan selimut yang sudah tersibak. Kutarik selimut Aldi lalu menyelimutinya kembali hingga sebatas dada. Tanganku mengusap rambut kedua anakku bergantian. Melihat mereka, hatiku terasa tenang.
Setelah memastikan kedua anakku tidur dengan nyenyak, aku pun kembali menuju kamar. Begitu masuk kamar, kulihat Mas Rama sudah selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah. Ia berdiri di depan lemari sambil sibuk mencari sesuatu.
" Cari apa, Mas?" Tanyaku.
" Celana dalamku mana? Kenapa tidak kamu siapkan sekalian." Jawab Mas Rama.
" Maaf mas, aku lupa. Sini, biar aku ambilkan. Jangan buat berantakan pakaian yang sudah kutata rapi di dalam lemari." Ujarku.
Aku pun berjalan mendekati lemari dan membuka bagian bawah. Badan ku membungkuk saat mengambilnya. Sengaja aku menggoda Mas Rama dengan membungkuk agak lama dan membiarkan Mas Rama menatapku. Dan benar saja, tanpa menunggu aba-aba Mas Rama langsung menerkamku dari belakang kemudian langsung mengangkatku ke atas tempat tidur. Kulitnya terasa panas karena bergairah. langsung pakaianku di lucutinya , kemudian menciumi ku dengan sangat bergairah. Meninggalkan tanda merah di beberapa tempat.
Aku semakin bersemangat menggodanya. Sekarang giliranku yang berada di posisi atas. Tangan dan lidahku ku mainkan. suara rintihan dan desahan nya membuktikan kalau aku berhasil. Dengan perasan jijik yang coba kutepis, dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.
Mas Rama membalikkan posisi. Dia berada di atasku. Siap menyerangku. Kali ini permainannya begitu panas dan bergairah. Tak henti-henti nya desahan keluar dari bibir Mas Rama.
" Mas... , terus mas . Aku suka." Ucapku di telinganya ,membuatnya semakin bergairah.
Ada rasa jijik yang benar-benar aku tahan.
" kamu luar biasa, yang. Aku mencintaimu." Bisiknya dalam keadaan yang sedang tinggi.
Permainan berakhir. Kulihat Mas Rama langsung terbaring lemah disampingku sambil memeluk ku erat. Namun tak henti-hentinya dia terus menciumi bibir dan leherku. Masih panas yang kurasakan di kulitnya.
Dan tanpa menunggu aba-aba lagi Mas Rama langsung menindihku lagi. Mencium bibirku dengan begitu bergairah. Puas dengan bibirku, Mas Rama berpindah mencium dan menjilati leherku. Kemudian berpindah ke buah dadaku yang sudah banyak tanda merah dari ronde pertama tadi.
Kali ini aku siap melayani nya lagi dan berhasil mengimbanginya lagi. Kali ini tanpa ampun, aku memimpin permainan. Tak kubiarkan ia memimpin sedikitpun. Permainan ronde kedua pun berakhir.
Malam ini, untuk pertama kali nya aku bisa meluluhkan dan mengalahkan Mas Rama.
Misi ku berhasil. Setelah ini aku akan mendapatkan apa yang menjadi tujuanku.
...****************...
Terimakasih sudah membaca 🙏😘